Jumat, 29 Januari 2010

Charles Baudelaire (1821-1867)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=380

MABUKLAH!
Charles Baudelaire

Meski selalu mabuk. Terang sudah: itulah masalah satu-satunya. Agar tidak merasakan beban ngeri Sang Waktu yang meremukkan bahu serta merundukkan tubuhmu ke bumi, mestilah kau bermabuk-mabuk terus-terusan. Tetapi dengan apa? Dengan anggur, dengan puisi, dengan kebajikan, sesuka hatimu. Tetapi mabuklah!
Dan jika sembarang waktu, di tangga istana, di rumput hijau kamalir, dalam kesepian guram kamarmu, kau tersadar dan merasakan mabukmu sudah berkurang atau menghilang, tanyakanlah pada angin, pada gelombang, pada bintang, pada burung, pada jam, pada segala yang lari, pada segala yang merintih, pada segala yang berputar, pada segala yang bernyanyi, pada segala yang bicara, tanyakan jam berapa hari, dan angin, gelombang, bintang, burung, jam bakal menjawab: “Inilah saatnya untuk mabuk! Untuk tidak menjadi budak siksaan Sang Waktu, mabuklah; bermabuk-mabuklah tanpa henti-hentinya! Dengan anggur, dengan puisi atau kebajikan, sesuka hatimu-”
*

Puisi modern Prancis dapat dibilang berawal dari Charles Baudelaire atas kumpulan sajaknya “Les Fleurs du Mal” yang merupakan sumber inspirasi puisi masa kini, telah melahirkan dua aliran kepenyairan; para seniman dan para terus mata, yang satu mengalir ke Mallarme menuju Valery, satunya lagi menelusup pada Rimbaud menukik ke avontir, kaum surrealis (Marcel Raymond “De Baudelaire au Surrealisme”, Jose Corti 1963, dikutip Wing Kardjo).
Wing Kardjo sendiri mengatakan “Alam semacam alegori mistik, sejenis perangsang imajinasi. Walau begitu Baudelaire tetap menyatakan bahwa ilham ialah ganjaran usaha sehari-hari, bukan semata-mata turun begitu saja.”
Charles Pierre Baudelaire, lahir di Paris 19 April 1821, meninggal 31 Agus 1867, adalah Raja Para Penyair (ungkapan Rimbaud), pengkritik serta penerjemah berpengaruh abad sembilan belas. Ayahnya pegawai negeri juga seniman, meninggal ketika Baudelaire masih kecil 1827. Tahun berikutnya, ibunya Caroline, 34 tahun lebih muda dari ayahnya, menikahi Letnan Kolonel Jacques Aupick, kemudian menjabat duta besar Perancis untuk berbagai kerajaan. {dari buku Sajak-Sajak Modern Perancis Dalam Dua Bahasa, disusun Wing Kardjo, PUstaka Jaya, Cetakan II, 1975}.
**

Tahun 1841 orangtua Baudelaire mengirimnya ke India, agar berhenti dari kecenderungan hidup bohemian, tapi setahun kemudian balik ke Prancis menerima warisan. Pada 1844 telah kehilangan separuh uang warisan atas gaya berfoya-foya. Demi menunjang hidupnya menulis kritik seni, esai, serta resensi di berbagai jurnal, puisi-puisinya mulai bermunculan sejak 1840-an. Di tahun 1847, menerbitkan autobiografis, La Fanfarlo. 1854-1855, menerbitkan karya Edgar Allan Poe. 1857 Les Fleurs du Mal (Bunga-bunga Iblis) terbit, antologi puisi yang kental muatan seksualnya, Gustave Flaubert dan Victor Hugo menulis pujian atas capaiannya. Puisi prosais yang baru diterbitkan setelah kematiannya bertitel “Petits poemes en prose” 1869. {dari Ensiklopedia Sastra Dunia, disusun Anton Kurnia, i:boekoe, 2006}.
***

Aku saksikan Baudelaire sesosok penyair yang getol mencari formula kimiawi kata-kata, demi kesegaran terutama pada puisi-puisinya.

Pergulatan jiwa mengawang di antara hidup bohemian, menempa bathin penggerus waktu melewati peristiwa, sebugaran tampak terjaga.

Memukul dinding perpuisian lama, menghempas ke dalam kawah candradimuka pergulatan sukma, tak menghamba bayang-bayang sejarah.

Tapi melintasi warna abad lalu di tempatkan pada posisi telah bergumulan setubuhan kata, atas sikap karyanya.

Sebab detak-detik waktu tempat kejadian membebani kesadaran, diselesaikan dengan getol menulis sayap-sayap tetingkah terolah perasaan.

Nyata bau-bau harum merangsang dirinya mendaki tapak-tapak pencapaian, melahirkan pandangan matang, menaburkan deburan ombak kekhusyukan.

Sesampai takaran tertentu terhempas ke pantai keyakinan menjadi faham menggasing sekeliling, menjelajahi pengertian orang sesudahnya, atas nalar kritis menelisik mengembang dedahan pengetahuan.

Dari bacaan juga pertikaian masa menentukan terpojok di ruangan, memasuki atmosfir gelegak kepala memaksanya mengaduk relung terdalam, sampai temukan keleluasaan gerak penciptaan.

Keliaran hidup menyamping miring kadang jalan serong, naik-turun pada hiburan malam gemerlap teka-teki lampu, juga firasat-firasat menerobos padang sahara pemikiran.

Menembus bingkai aliran menerabas seperti bintang berekor menyepyurkan bintik-bintik cahaya di kegelapan malam, atas kecantikan bulan selalu edarkan kebaharuan.

Tekanan hayat rasa bersalah atau tengah lupa lenyap dari taksiran sebelumnya, pun kantuk memperjelas bacaan, mendorong masuk ke lorong tak terkira.

Entah keseimbangan atau lacur, tatkala insan pencari diayun gelombang melahirkan buih dari dinaya angin kenangan serta pegunungan jauh.

Ada tekanan kuat hawa menjelma musim di alam bathin bergantian, berkembang rontok berputar, sedang penanda jam demi kejadian peperangan tak henti bercampur pemahaman kental.

Bahwa nasib harus diteruskan pada rentangan masa-masa, jarak pertimbangan kehakikian memeluk kesendirian, seakan langitan hayati memberi restu meski kesilapan dilalui.

Entah ganjaran atau dosa manakala perbuatan terbuhul dalam buku pencapaian, jasad utusan atau menggila di jalan lusuh yang jauh jangkauan cahaya.

Perenungan mengelus dada wengi, menghaluskan panorama rahayu, sesempurna kembang berwarna di taman-taman kesejatian menempa.

Sementara kabut kegelisahan semega ketakutan menjatuhkan tangis hujan deras tiada tertahan, menggigil demam gejala keabadian sepanjang jaman.

Dan puisinya di atas pun, Baudelaire sandarkan segala dalam kesibukan, hantu-hantu hawatir dilenyapkan lewat sabetan parang telanjang penciptaan.

Tebasan kemungkinan ayunan diyakini menutup cela-cela ganjil tak beralasan, jantung berdebar memompa otaknya belajar dalam kegelisahan.

Laksana babak-babak kesintingan tak pernah berhenti menggayuh cakrawala dari harapan tertinggal.

Ada wujud tenaga kegaiban, manakala dirinya menyodok persoalan jenis huru-hara tetapi tak mencederai luka-luka lama.

Namun semakin banyak derita, manakala tiada ditemukan jawaban, umpama berjalan terlebih dulu, menunggu ketertinggalan lain.

Denyut penantian itu lebih menakutkan sedari kegagalan menyerupai wajah penghancur masa depan.

Tapi dirinya menjajaki yang menjegal kemungkinan gelap pemahaman menerus, bahwa persoalan kudu dihadapi.

Meski rerintangan bermata kelicikan, hingga tarian jemari memantul karang membentur tebing menjulang.

Menggemakan kehadiran yang jadi cencangan ruhaniah, demi budak takdirnya semata.

Novel Perjuangan Kemerdekaan

Sunaryono Basuki Ks
http://www.sinarharapan.co.id/

Perang Kemerdekaan 1945-1949 banyak diungkap oleh para sastrawan yang sering digolongkan sebagai Angkatan 45. Mereka mengungkapkan gejolak perjuangan itu sebab mereka memang terlibat dalam peristiwa tersebut. Mochtar Lubis menulis novel Jalan Tak Ada Ujung yang berkisah tentang sepak terjang pejuang di sekitar Jakarta. Pramoedya Ananta Toer juga menulis Perburuan, Mereka yang Dilumpuhkan,dll.

Yang menarik perhatian kita justru sejumlah novel yang menggambarkan kiprah para pejuang yang ditulis oleh seorang yang sebelumnya tak dikenal sebagai sastrawan, apalagi sebagai novelis. Namun, ternyata karya-karyanya mencengangkan, bukan lantaran deskripsinya yang jelas tetapi karena pengarang ini menulis sejumlah novel yang satu dengan yang lain saling kait-berkait.

Dia adalah Pandir Kelana, seorang pelaku Perang Kemerdekaan yang meniti karier militernya sampai berpangkat Mayor Jenderal. Nama aslinya RM Slamet Danusudirdjo adalah bekas pejuang yang kemudian menerima pendidikan militer di Eropa |Barat, Negeri Belanda dan Belgia, serta di Eropa Timur di Uni Sovyet. Jabatan non militer yang pernah diembannya adalah deputy Ketua BAPPENAS, Dirjen Bea dan Cukai, anggota DPA RI, dan rektor IKJ. Bayangkan saja, IKJ yang lembaga pendidikan kesenian, dipimpin oleh seorang jenderal tapi yang seniman.

Lantaran Pandir Kelana, nama yang dipilih RM Slamet Danusudirdjo untuk merendahkan dirinya, tak dikenal sebagai sastrawan, maka ketika novel-novelnya terbit silih berganti pada tahun 1991 dan 1992, publik pembaca dibuat terperangah. Ibu Sinder (1991), Kereta ApiTerakhir (1991), Bara Bola Api (1992), Rintihan Burung Kedasih (1992), Merah Putih Golek Kencana (1992), lalu Kadarwati Wanita dengan Lima Nama.

Novel-novel tersebut berketebalan antara 210 sampai 400 halaman, yang menunjukkan pengarangnya tidak main-main.. Novel-novel jenis lain, yakni novel sejarah, juga sudah terbit, antara lain Tusuk Sanggul Pudak Wangi (berlatar tahun 1291-1630) dan Subang Zamrud Nurhayati (berlatar tahun 1620-1630).

Waktu novel-novel tersebut terbit, Pandir Kelana berusia 66 tahun dan masih merencanakan untuk menulis beberapa novel lagi yakni Huru Hara di kaki Gunung Slamet, Quo Vadis, Di Sepanjang Garis Demarkasi, dan Madiun,Madiun!

Ciri Khas
Tema Perang Kemerdekaan menjadi salah satu ciri khas novelis gaek Pandir Kelana ini. Ciri yang kedua adalah, novel-novelnya saling terkait satu sama lain.

Dalam sejumlah novelnya, untuk menambah kejelasan wilayah kisahnya, Pandir Kelana menyertakan pula peta, seperti Peta Karesidenan Pati dan sekitarnya lengkap dengan gambaran mengenai Garis Demarkasi, Serangan Belanda, Kantong Gerilya, Jalur Komunikasi Gerilya, Serangan Balas TNI ke Semarang, dan Kedudukan Belanda. Peta ini disertakan dalam novel Rintihan Burung Kedasih. Pembaca mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai gerakan para pelaku dalam novel itu bilamana novelis menyebut nama suatu tempat.

Novel Merah Putih Golek Kencana bahkan menyertakan dua buah peta, yakni, peta Pelayaran Andi Ra’uf di sekitar Riau dan Peta Wilayah Semarang.

Ciri kedua justru yang sangat jarang dilakukan oleh pengarang lain, yakni, tokoh dalam sebuah novel muncul dalam novel yang lain. Tokoh Suro Buldog muncul dalam novel Ibu Sinder, serta novel Bola Bara Api.

Tokoh Bargowo dalam Bara Bola Api muncul pula dalam Kadarwati:Wanita dengan Lima Nama dan Rintihan Burung Kedasih. Tokoh Herman dalam Kereta ApiTerakhir muncul juga dalam novel Ibu Sinder, Kadarwati, dan Rintihan Burung Kedasih.

Sejumlah novel karya Pandir Kelana sudah difilmkan atau ditelesinemakan, antara lain Suro Buldog (telesinema), Kadarwati (film).

Tema Perang Kemerdekaan sudah jarang ditulis, apalagi oleh pengarang yang lebih muda. Dari sedikit nama, tentu kita dapat menyebut Suparto Brata (lahir 27 Februari 1932), novelis yang banyak menulis kisah perjuangan dalam Bahasa Jawa, tetapi kemudian juga dalam bahasa Indonesia. Dia terkenal dengan novel perangnya antara lain Lara-lapane Kaum Republik, Kadurakan ing Kidul Dringu, juga sejumlah novelnya yang disiarkan dalam Bahasa Indonesia. Tahun 2005 ini novelnya Mencari Sarang Angin (726 halaman) diterbitkan oleh Grasindo. Ceritanya bergerak sejak masa sebelum Perang Kemerdekaan, masuk ke Masa Pendudukan jepang sampai ke Masa Perang Kemerdekaan. Rata-rata novel karya Suparto Brata, baik yang berupa novel berbahasa Jawa maupun bahasa Indonesia mempunyai ketebalan luar biasa. Novel berbahasa Jawa Dongane Wong Culika ( Doa Orang Culas) setebal 535 hal ( 35 baris per halaman) diterbitkan oleh Penerbit Narasi, Yogyakarta tahun 2004.
Sunaryono Basuki Ks (lahir th 1941) menulis Bumi Hangus dan Budiman Benggol (cerber Republika 1995-1996).

Tahun ini pula Budiman Benggol diterbitkan oleh Mizan dengan judul baru Maling Republik. Pengarang lain tentu saja YB Mangunwijaya dengan Burung-burung Manyar.

Seorang sastrawan eksil yang juga pelukis, Kuslan Budiman (lahir tahun 1933, mantan guru Sekolah rakyat di Pacitan) melontarkan novelnya Bendera Itu Masih Berkibar ( Penerbit Suara Bebas, Mei 2005). Novel setebal 308 halaman ini terbagi dalam tiga bagian: Benderra Itu Masih Berkibar, Malam berbintang, dan Pekarangan Rumah Wedana. Seluruh novel berkisah tentang Perang Kemerdekaan dengan suka dan dukanya.

Dalam merenungkan makna Hari Kemerdekaan serta mengenang jasa para pahlawan kita, sebaiknya kita membuka-buka novel-novel dengan latar Perang Kemerdekaan dan menaruh simpati dan terimakasih pada mereka yang telah memberikan segalanya untuk kemerdekaan yang sangat berharga ini.**

*) Penulis adalah novelis, dan Guru Besar Bahasa dan Seni, IKIP Negeri Singaraja.

Nyai Ontosoroh: Hikayat Perlawanan Sanikem

dari novel BUMI MANUSIA karya Pramoedya Ananta Toer
Rakhmat Giryadi
http://teaterapakah.blogspot.com/

BABAK I

Setting : Dekat Pabrik Gula Tulangan

ADEGAN 1
Orang-orang sedang bekerja, hilir mudik, membawa karung-karung (gula) dan juga batangan tebu dengan geledekan. Mereka bertelanjang dada. Tubuhnya hitam. Ada yang kekar. Tetapi ada juga yang kurus kering.

ADEGAN 2
Seorang Juragan (Mandor), dikawal oleh dua budaknya. Dengan berkacak pinggang, Mandor itu menuding-nuding, bahkan terkadang menendang para budak. Sementara di tempat yang berbeda anak-anak perempuan yang masih remaja, berlarian. Ibunya, mengikuti dengan isak tangisnya. Seorang laki-laki dengan kasar menangkap satu di antara mereka yang melarikan diri. Anak itu meronta-ronta. Tak ada yang berani melawan. Mereka hanya bisa menyaksikan dengan sedih. Laki-laki kasar itu itu menyerahkan anak itu kepada seorang Mandor. Dengan imbalan seketip dua ketip, mereka melepaskan anak itu dibawa Mandor, entah kemana?

ADEGAN 3
Upacara menjadi dewasa. Sanikem meronta-ronta, ketika Sastrotomo, menyeretnya.

1. Sastrotomo
(Menyeret Sanikem) Kamu sekarang sudah dewasa, sudah saatnya nasibmu berubah. Hari ini akan datang orang yang membawa nasibmu lebih baik dari sekarang. Maka bersucilah, agar kemelaratanmu menjadi cambuk masa depanmu.

Ibunya Sanikem hanya bisa tersedu. Ia menggayung air bercampur bunga tujuh macam, dari genthong. Sanikem diam terpaku ketika air bunga tujuh macam mulai membasahi tubuhnya.

2. Sanikem
Sejak saat itu, nama Sanikem, sedikit-demi sedikit luntur oleh kemauan keras orang tuanya.

Dua orang datang membawa pakaian dan tikar pandan. Sanikem telah berganti ujud menjadi perawan. Kemudian dia tidur terlentang di atas tikar pandan. Ibunya kemudian melangkahinya tiga kali.

3. Istri Sastrotomo
Tabahkan hatimu, Nak. Usiamu sudah 14 tahun. Kau sudah haid. Tidak baik kau dikatakan perawan kaseb. Maka relakan hari mudamu ini.
4. Sanikem
Betul, saya sudah dewasa, tetapi saya punya hak untuk menentukan pilihan.

5. Sastrotomo
Tak ada kata pilihan! Pemuda-pemuda melarat dan kampungan, tak patut untuk dipilih. Yang ada sekarang kau dipilih untuk menjadi istri seorang yang kaya raya. Siapapun orangnya!

Sastrotomo menyeret Sanikem. Sanikem meronta. Ibunya membuntut dengan hati yang meronta. Ia membawa sekopor pakaian anaknya yang kumal. Sementara di tempat lain para budak menerima upah, Sastrotomo muncul dengan hati riang. Di belakangnya ada Sanikem. Ibunya yang kelihatan renta, hanya bisa tertunduk lesu meratapi nasib anaknya. Di sudut lain, Tuan Besar Mellema berdiri tegak, angkuh dan sombong.

6. Sastrotomo
Betul, saya akan jadi Juru Bayar, Tuan? Ah, saya senang sekali. Juru Bayar adalah pekerjaan yang sudah sayaimpikan bertahun-tahun. Bertahun-tahun! Sebagai penggantinya, terimalah persembahan saya. Ini anak saya, Tuan Besar Mellema. Terimalah. (Kepada Sanikem) Sanikem, mendekatlah, Nak. Dia adalah Tuan Besar.

7. Istri Sastrotomo
Jangan, Pak, jangan! Kenapa Ikem, kau serahkan kepada laki-laki raksasa itu? Oh, Pak, Pak. Kenapa kau tega, Pak?

8. Tuan Besar Mellema
Jadi ini anakmu? Bagus, bagus. Kowe, pintar… (Tertawa).

Tuan Besar Mellema pergi bersama dua pengawalnya, membawa Sanikem tanpa perlawanan. Sementara Istri Sastrotomo, terisak melihat anaknya dibawa Tuan Besar Mellema.

9. Sastrotomo
(Tertawa girang) Akhirnya saya jadi Juru Bayar!

10. Istri Sastrotomo
Sampeyan menjadi Juru Bayar, tetepi sampeyan harus membayar mahal, dengan mengorbankan masa depan Sanikem. Dia darah daging kita. Tetapi sampeyan tega menjual untuk menjadi gundik, demi ambisi sampeyan, Pak.

11. Sastrotomo
Kamu jangan banyak omong. Saya telah memperjuangkan anak saya untuk menjadi wanita terhormat. Istri Tuan Besar. Tuan Besar di Tulangan yang sangat kaya raya dan terhormat. Sanikem akan terhormat. Dan kita akan terhormat, karena Sanikem akan menjadi kaya raya dan tidak menjadi gelandangan bersama pemuda-pemuda kampung yang tidak berpendidikan.

12. Istri Sastrotomo
Buat apa harta benda, kalau hatinya terpenjara. Hidupnya terkerangkeng dalam genggaman, seorang laki-laki. Kita sudah kehilangan segalanya, Pak. Kamu lebih memilih sekeping Golden dan jabatan palsu. Tetapi sampeyan telah mengorbankan segalanya yang telah kita miliki dan telah kita rawat bertahun-tahun.

Anak-anak kampung yang dengan tulus memberikan cintanya, tetapi sampeyan tolak. Sementara dia yang datang dengan membawa segerobak kepalsuan sampeyan terima dengan tangan terbuka. Sampeyan telah mengadu nasib itu menjadi tidak menentu, Pak…

13. Sastrotomo
Diamlah. Saya punya rencana lain untuk Ikem. Rencana ini pasti akan mengubah hidup kita. Dan tidak ada urusannya dengan lamaran pemuda-pemuda kampung yang pada gudhikan itu. Apa mau kamu hidup melarat, dan hanya mengandalkan dari penghasilan saya sebagai Juru Tulis? Saya ini, sebentar lagi akan naik pangkat jadi Juru Bayar. Kedudukan yang lebih tinggi dari sekedar Juru Tulis. Jabatan lebih tinggi akan lebih memudahkan segala urusan. Apalagi Juru Bayar.

Ikem telah mendapatkan laki-laki yang pantas. Mulai saat ini Sanikem tidak boleh keluar rumah. Tidak boleh memandang ke laki-laki yang berkeliaran dan tidak jelas itu. Ah, saya senang sekali. Juru Bayar adalah pekerjaan yang sudah saya impikan bertahun-tahun. Bertahun-tahun!

Hehe..he..he..Juru Bayar. Saya akan jadi Juru Bayar. Semua orang di Pabrik Gula itu akan tunggu saya berderet-deret. Harus tunggu uang dari tangan saya. He..he…he..Saya akan jadi kasir. Bertumpuk-tumpuk uang di jari-jari saya. Semua orang akan berurusan dengan saya, Si Juru Bayar! Mereka harus datang ke saya. Harus ambil uang dari tangan saya dengan membubuhkan cap jempol. Para buruh, pedagang, akan bungkuk-bungkuk di depan saya. Tuan Totok, Peranakan, akan beri tabik pada saya. Guratan pena saya berarti uang. Saya akan masuk golongan penguasa di pabrik. Mereka harus dengar kata-kata saya : ‘Hei! Tunggu kau, disitu! Tunggu kau, disitu! He..he…Kalian akan berderet antri tunggu uang dari tangan saya…!’

Kemarilah istriku. Kau harus ikut senang, suamimu ini akan jadi Juru Bayar! Berpakaianlah yang pantas, selayaknya istri orang terpandang. Kamu jangan bersedih. Ikem akan lebih terhormat kawin dengan laki-laki kaya. Dia akan menghuni rumah besar. Kita bisa diundang ke sana sewaktu-waktu. Ayo istriku kita songsong kehidupan yang lebih baik.

Istri Sastrotomo terpaku. Ligting meremang. Out Stage. Disudut lain, Mellema sedang memandang Sanikem yang bongsor dan kelihatan cantik. Beberapa pembantu jalan jongkok, menyediakan minum dan buah-buahan. Sanikem hanya berdiri terpaku di pojok ruang, Tuan Besar Mellema.

14. Tuan Besar Mellema
Kowe sudah 14. Kowe sudah besar dan cantik, seperti bunga di Tulangan atau seperti mawar dari Surabaya. Kowe jangan takut dengan saya. (Kepada Sastrotomo). Sastrotomo! Ini berisi 25 golden. Kelak, setelah kowe lulus dalam pemagangan selama dua tahun, kowe akan jadi Juru Bayar.

15. Sastrotomo
(On stage) Terimakasih Tuan Besar. Saya jamin Ikem sangat penurut. (Kepada Sanikem) Ikem anggap saja ini rumahmu yang baru. Kau tidak boleh keluar rumah ini tanpa ijin Tuan Besar Kuasa. Kau juga tidak boleh kembali ke rumah tanpa seijin Tuan dan seijin Bapakmu.

Sastrotomo meninggalkan panggung. Lighting meremang biru. Tirai menurun pelan-pelan. Percintaan di balik tirai. Dua penari karonsih/tayub menari dengan lembut. Tetapi isak tangis jelas terdengar dari ibu Sanikem. Lighting semakin temaram. Penari karonsih menghilang di balik tirai. Di sudut yang lain, Nyai Ontosoroh berdiri kokoh.

16. Nyai Ontosoroh
Kini, Sanikem telah lenyap. Hilang untuk selama-lamanya. Sekarang, saya adalah Nyai Boerderij Buiternzorg. Orang-orang memanggil saya Nyai Ontosoroh. Hidup menjadi Nyai terlalu sulit. Dia Cuma seorang budak belian yang kewajibannya hanya memuaskan tuannya. Dalam segala hal!

Sewaktu-waktu Nyai harus siap dengan kemungkinan Tuannya sudah mersa bosan, untuk dicampakan kembali, menjadi kere, tanpa hak perlawanan sedikitpun. Salah-salah, bisa badan diusir dengan semu anak-anaknya sendiri. Atau bahkan dengan tangan kosong. Ya, mereka telah membikin saya jadi Nyai begini. Maka saya harus jadi Nyai, jadi budak belian yang baik, Nyai yang sebaik-baiknya.

Mang, Mbok, ke sini kalian semua. (4 pelayan laki-laki dan 3 pelayan perempuan on stage). Dengar mulai saat ini kalian tidak usah kerja di sini. Kalian pasti sudah tahu saya adalah Nyai rumah ini sekarang. Saya tidak ingin ada saksi atas kehidupan saya sebagai Nyai di rumah ini. Kalian lebih berharga dari pada saya. Kalian kerja di sini, sedangkan saya, hina dina tanpa harga, tanpa kemauan sendiri berada di rumah ini.

Semua pekerjaan rumah biar saya kerjakan sendiri. Tetapi jangan kuatir, kalian akan pergi dengan membawa bekal. Lagi pula, di lain tempat pasti kalian akan bisa memburuh atau apa saja, karena kalian merdeka. Kecuali kau Darsam, tetaplah di sini. Jagalah saya!

Baiklah kalian berkemas, beresi barang-barang kalian. Kau Darsam, siapkan bekal secukupnya buat mereka.

Mereka out stage. Tuan Mellema on stage.

17. Tuan Besar Mellema
Nyai, kenapa kau mengusir semua Bujang dan Mbok? Pekerja-pekerja itu harus disewa untuk menjalakan usaha susu ternak rumah ini. Mulai saat ini kaupun harus mulai mengurusi semua urusan usaha. Satu hal yang harus kau ingat, majikan mereka adalah penghidupan mereka. Majikan penghidupan mereka adalah kau! Jadi kau harus jadi majikan yang baik, yang tahu bagaimana mengurus pekerjaannya.

Nyai, bacalah majalah-majalah itu selalu. Juga buku-buku itu akan membawamu kepada dunia yang maha luas. Dengan begitupun, bahasa melayu dan Belandamu akan terus maju dan Nyai akan semakin menguasai berbagai bidang dan pengetahuan.

18. Nyai Ontosoroh
Ya, saya akan menjalankan semua tugas sebaik-baiknya. Akan saya kerahkan seluruh tenaga dan perasaan yang ada di diri saya untuk Tuan. Sebaik-baiknya. Karena itulah tugas saya, sebagai Nyai Tuan. Apakah wanita Eropa diajar sebagaimana saya diajar sekarang ini, Tuan? Sudahkan saya seperti wanita Belanda?

19. Tuan Besar Mellema
Ha..ha..ha..tak mungkin kau seperti wanita Belanda. Juga tidak perlu. Kau cukup seperti sekarang. Kau lebih mampu dari rata-rata mereka, apalagi yang peranakan. Kau lebih cerdas dan lebih baik dari mereka semua. Tapi kau juga harus selalu kelihatan cantik, Nyai. Muka yang kusut dan pakaian yang berantakan juga pencerminan perusahaan yang kusut dan berantakan….

Darsam, masuk panggung (on stage) bersama Sastrotomo dan Istrinya datang dengan berjalan jongkok.

20. Darsam
Tuan, maaf Tuan, ada orang tua Nyai datang, Tuan. Mereka menunggu di depan.

21. Nyai Ontosoroh
Katakan kepada mereka, bahwa Sanikem tidak ada sekarang.

22. Tuan Besar Mellema
Temuilah…

23. Nyai Ontosoroh
Kalau saya menemuinya, berarti Tuan telah mengembalikan saya kepada pemiliknya semula. Apakah saya harus pergi dari sini? Bakal jadi apa kalau saya tidak sanggup bersikap keras. Luka terhadap kebanggaan dan harga diri tak jua mau menghilang. Bila teringat kembali bagaimana terhinannya saya dijual kepada Tuan. Saya tak mampu mengampuni kerakusan Ayah saya dan kelemahan Ibu saya. Sekali dalam hidup kita meski menentukan sikap. Sudahlah, biar semua putus sudah terhadap masa lalu. Itu sudah sebaik-baiknya yang saya bisa lakukan. Suruh mereka pulang atau Tuan akan kehilangan sapi-sapi dan pabrik susu itu…? Saya telah menjadi telor yang jatuh dari petarangan. Pecah. Bukan telor yang salah.

24. Tuan Besar Mellema
(Pause) Kau terlalu keras Nyai…Temui Ayahmu!

25. Nyai Ontosoroh
Saya memang ada ayah, dulu. Sekarang tidak. Kalau dia bukan tamu Tuan, sudah saya usir!

26. Tuan Besar Mellema
Jangan…!(Memberi kode pada Darsam). Darsam beritahu mereka…

27. Darsam
Nyai bilang…Di rumah ini tidak ada orang bernama Sanikem. Pergilah!

Suasana hening. Sastrotomo dan istinya beringsut pergi. Wajahnya penuh duka. Sastrotomo beringsut terus, seperti menapaki nasibnya yang tak berujung.

ADEGAN 4
Orang-orang sedang mengusung karung. Ada juga yang mengusungnya dengan gledekan. Suasana begitu sibuk. Nyai Ontosoroh, Tuan Besar Mellema, Annelise, Robert Mellema, dan Darsam, seperti bersiap-siap hendak mau pergi.

28. Nyai Ontosoroh
Kami harus pindah ke Wonokromo, karena kontrak perusahaan gula tidak memperpanjang jabatan Tuan Besar. Kami pindah ke Surabaya. TB Mellema membeli tanah luas di Wonokromo, penuh semak belukar dan dekat rumpun-rumpun hutan muda. Sapi yang dibeli dari Australia dipindahkan kemari.

Segala yang saya pelajari selama hidup bersama TB Mellema, telah sedikit mengembalikan harga diri saya. Tetapi sikap saya tetap, mempersiapkan diri untuk tidak akan lagi tergantung pada siapapun. Tentu saja sangat berlebihan seorang perempuan Jawa bicara tentang harga diri, apalagi, orang seperti saya yang masih begitu muda untuk berkeluarga.

Begitulah akhirnya saya mengerti, saya tidak tergantung pada TB Mellema. Sebaliknya dia sangat tergantung pada saya. Saya telah bisa mengambil sikap untuk ikut menentukan perkara. Tuan tidak pernah menolak. Bahkan ia sangat memaksa saya untuk terus belajar. Dalam hal ini ia seorang guru yang keras tetapi baik, saya seorang murid yang taat dan juga baik. Saya tahu, apa yang diajarkan oleh TB Mellema kelak akan berguna bagi diri saya dan anak-anak saya, kalau TB pulang ke Nederland.

Para buruh bergerak bersama-sama, mengikuti tuan mereka. Mereka membawa barang-barang pindahan. Darsam berjalan di depan. Musik. Lighting fide out.

Mencari Bangsa di Dalam Sastra

Manneke Budiman
http://www.pikiran-rakyat.com/

Dalam berbagai diskusi dan perdebatan tentang sastra dan kebangsaan, kerap terbentuk opini atau kesan bahwa dalam khazanah sastra Indonesia modern, novel-novel Pramoedya Ananta Toer adalah contoh terbaik sekaligus klasik karya sastra yang berbicara tentang kebangsaan. Lebih jauh lagi, “derajat” kebangsaan karya-karya lain yang lahir pasca-Pram pun diukur dengan tetralogi Pram untuk dinilai kekentalan minat kebangsaannya.

Ini tentu saja bukan fenomena khas Indonesia. Dalam kancah sastra dunia, Salman Rushdie nyaris menjadi ikon bagi sastra tentang bangsa, dan ini dapat dimengerti mengingat kisah-kisah Rushdie kerap menjadi alegori bagi kisah-kisah tentang lahir dan matinya suatu bangsa. Dalam Midnight`s Children (1981), misalnya, kisah hidup tokoh utamanya yang sureal berlangsung paralel dengan kisah terpecahnya India menjadi dua bangsa.

Uncle Tom`s Cabin (1852), karya Harriet Beecher Stowe, meski bertutur tentang nasib para budak kulit hitam, tak urung bisa dibaca sebagai narasi perjalanan bangsa Amerika yang terbelah. Novel itu adalah juga kisah kaum kulit putih AS walau fokusnya adalah penderitaan para budak kulit hitam di perkebunan-perkebunan di selatan tanpa penulisnya harus berpretensi bahwa ia sedang mengguratkan kisah hidup suatu bangsa atau mempersoalkan kebangsaan di AS.

Novel D.H. Lawrence ternama yang menggegerkan, Lady Chatterley`s Lover (1928), memang merupakan kisah roman percintaan antara seorang perempuan aristokrat Inggris dan tukang kebunnya yang berasal dari kelas pekerja. Namun, siapa yang dapat menyangkali bahwa lewat novel itu pembaca secara gamblang bisa melihat benturan antarkelas sosial dalam masyarakat Inggris awal abad ke-20? Karya ini bagaikan kisah tentang dua “bangsa” yang hidup di satu negeri, masing-masing dengan sistem nilai dan prasangkanya sendiri tetapi mencoba untuk bersatu.

Karya sastra, agar sah disebut sebagai karya yang berbicara tentang bangsa, tak perlu harus secara eksplisit dan spesifik membedah isu-isu kebangsaan, seperti tetralogi Pram atau novel-novel historis Mangunwijaya, atau sajak-sajak perlawanan Chairil Anwar. Bangsa adalah sebentuk “kenyataan” yang mengendap di bawah kesadaran seorang individu yang menjadi warga bangsa tersebut, walaupun Benedict Anderson menyebutnya sebagai bayang-bayang, jika bukan angan-angan. Sadar atau tidak, langsung atau tak langsung, seorang penulis warga suatu bangsa sedang bercerita tentang bangsanya ketika ia menorehkan tinta kreatifnya.

Sebagian pengamat dan kritikus di negeri ini mencemooh karya-karya para penulis kontemporer karena mereka sepertinya tak punya minat dan keprihatinan pada urusan kebangsaan. Konon, di era ketika dunia jadi mengglobal dan batas-batas kebangsaan meluntur, berbicara tentang bangsa tak lagi menjadi tren seksi, dan banalitas hidup sehari-hari yang individualistik pun jadi topik baru yang laku, meski ada juga pendapat bahwa globalisasi justru menyebabkan isu negara bangsa — bahkan politik identitas — kembali mengemuka. Namun, benarkah sinyalemen tentang miskinnya penggalian kebangsaan dalam karya-karya penulis generasi masa kini itu?

Dewi Lestari lewat trilogi Supernova secara mendalam menyajikan alternatif-alternatif kebangsaan yang, mungkin saking intens dan progresifnya, malah membuat kita gagal menangkapnya. Perbincangan tentang novel-novel Dee itu lebih banyak berkisar pada kontroversi “pseudo-saintisme” atau kecenderungan homoseksual para tokoh lelakinya. Padahal, tokoh-tokoh dalam Supernova adalah sosok-sosok yang senantiasa mencoba merentang, meluaskan, dan mencairkan batas-batas kebangsaan lewat pengembaraan mereka di negeri-negeri asing, serta interaksi dengan bangsa-bangsa dan budaya asing. Di mana pun mereka berada, mereka merasa “di rumah”.

Sajak-sajak Dorothea Rosa Herliany tak pernah berhenti menggugat kebangsaan yang ditelikung oleh kekuasaan, meski gaya bertuturnya tidak mudah untuk diiikuti dan imaji-imajinya tak jarang terasa personal dan asing. Dalam “Perempuan itu Bernama Ibu”, misalnya, hadir imaji bangsa yang kuat tapi subtil, “Kupanggil ia ibu seluruh waktu, perempuan dengan kebayanya di ladang… ia sendiri membajak sawah, menyebar benih dan menuai kesunyian.” Seorang perempuan sederhana yang tak punya tempat dalam kisah kolosal kebangsaan, “Ibu yang tak membaca buku-buku dan tak menonton iklan layanan. Berdiri di luar gedung pertemuan dan tak terlihat di antara kerumunan unjuk rasa.” Rosa berbicara tentang bangsa-tentang masyarakat kebanyakan yang disebut dengan “rakyat”, tanpa perlu memakai kata “bangsa” di dalam syairnya.

Sastra kerap dikatakan “menciptakan” bangsa lewat narasi dan cakapan. Disengaja atau tidak, narasi dan cakapan itulah yang menghubungkan pengarang dan pembaca, serta pembaca satu dan pembaca lain yang sedang membaca karya yang sama, bersama-sama, mereka merenungi gagasan yang sama dan menggeluti pertanyaan yang sama yang dilontarkan oleh karya. Pada momen seperti itulah kolektivitas terbangun, baik dalam bayang maupun angan.***

*) Penulis, pengajar di Universitas Indonesia.

YANG LIAN: Puisi adalah Kampung Halaman Saya

Pewawancara: Luky Setyarini
http://www.ruangbaca.com/

Ketika Revolusi Budaya dilancarkan di Cina antara 1966-1976, ada sekelompok penyair yang karena gaya puisinya yang sulit dipahami, seperti berkabut, disebut sebagai Misty Poets. Salah satu dari para penyair kritis yang aktif menulis di majalah Jintian (Today) itu adalah Yang Lian.

Lahir di Swiss pada 1955, ayah Yang seorang diplomat. Ketika keluarganya pulang kampung, Yang muda dikirim ke pedesaan Changping dekat Beijing, untuk mengikuti program reedukasi. Seorang putra diplomat yang berpendidikan tinggi memang diwajibkan belajar dari petani. Metode ini digunakan di masa Mao Zedong pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Selama tinggal di pedesaan, Yang mulai menulis puisi.

Sekembalinya ke Beijing, Yang bekerja di stasiun pemancar radio pemerintah. Pada 1979, Yang bergabung dengan kelompok penyair yang menulis untuk Jintian. Gaya puisi pria berusia 54 tahun ini berubah menjadi modern, eksperimental, yang jamak dipraktekkan para penyair Misty Poets. Pada 1983, karyanya berjudul Norlang (nama suatu air terjun di Tibet) membuat gusar pemerintah Cina. Surat penangkapan untuk Yang dikeluarkan, namun Yang berhasil lolos.

Ketika militer Cina menumpas demonstrasi di Lapangan Tiananmen dengan kekerasan –dikenal sebagai Peristiwa 4 Juni 1989 — Yang berada di Selandia Baru dan ikut menggelar aksi protes terhadap kekerasan oleh pemerintah Cina. Karya-karyanya kemudian dilarang beredar di Cina, termasuk dua calon buku yang akan diterbitkan waktu itu. Tak lama kemudian, kewarganegaraannya pun dicabut dan dia memohon suaka di Selandia Baru. Pada 2008, dia terpilih sebagai salah satu anggota Dewan PEN Internasional, perhimpunan penyair, esais, dan novelis. Sejak 1993, dia bermukim di London.

Pada pertengahan Oktober lalu, Yang hadir di Pameran Buku Frankfurt. Reporter Tempo Luky Setyarini berkesempatan mewawancarainya. Berikut petikannya.

Kenapa Anda hadir di pameran ini?

Titik perhatian dari pameran ini adalah seluruhnya mengenai Cina, tentang sastranya, politiknya. Dalam hal ini, membawa Cina menjadi fokus masyarakat internasional. Karena itu, diskusinya mengenai apa pun, politiknya, atau sastra, linguistik. Saya pikir ini sangat penting bagi pernyataan mengenai perubahan Cina dari versi lama era Perang Dingin hingga bergerak menjadi — yang saya harap –sedikit menjadi versi baru. Makanya saya tertarik untuk datang.

Pemerintah Cina juga hadir. Anda tidak merasa khawatir, takut, atau terancam dengan melontarkan pendapat Anda?

Tidak. Saya memang sudah beberapa kali ke Cina. Namun setelah peristiwa Tiananmen saya tidak pernah kembali menjadi bagian dari Republik Rakyat Cina. Pertama kali saya kembali ke Cina pada 1995, ketika saya mengganti kewarganegaraan Selandia Baru. Cina menjadi negara asing bagi saya, tapi saya menulis dalam bahasa ibu. Saya tidak mengakui badan politiknya, tapi saya mengakui bahasa dan tradisinya. Ya, saya tahu mereka di sini. Lalu mengapa? Mereka ada di mana saja.

Cina saat ini ibarat memiliki wajah ganda. Satu wajah kapitalis, satu lagi komunis. Menurut Anda?

Istilah yang tepat adalah Cina merupakan komunis terburuk dan kapitalis terburuk. Inilah yang paling tepat untuk menggambarkan Cina, karena saya dapat kembali ke Cina dan melihat Cina dari dalam, sejauh ini. Ada beberapa bagian, seperti menteri propaganda, yang menjadi mitra langsung penyelenggara Pameran Buku Frankfurt. Mereka adalah bagian dari Cina dan pemerintah Cina yang paling, paling buruk. Mereka tidak membawa tanggung jawab yang nyata ke dunia nyata. Mereka hanya bertanggung jawab supaya mesin ideologi tetap berfungsi, bertanggung jawab hanya terhadap pemimpin mereka, dan tidak terhadap rakyat.

Banyak penulis dan seniman Cina dipenjara karena pemikiran vokal dan bebas mereka. Bagaimana menurut Anda?

Memang, sayang sekali. Sekali lagi, secara linguistik, ini merupakan bagian terburuk dari yang terburuk dari Cina, yaitu sensor tegas terhadap pendapat dan pemikiran bebas, dan mereka sangat takut terhadap kata-kata. Di titik ini, tidak disangkal lagi, kita harus berjuang demi pembebasan para penulis itu. Kita harus berbicara untuk mereka, kita harus berjuang sebisa mungkin untuk mereka. Makanya, ketika tahun lalu saya dipilih menjadi anggota Dewan PEN Internasional, saya juga mendorong perubahan di lapisan lain, tapi fokusnya terutama pada para penulis yang ditahan. Kami mempublikasikan daftar penulis yang berada di penjara ke hadapan internasional. Ini merupakan hal yang menyedihkan.

Anda kan dapat mengunjungi Cina. Bisa diceritakan bagaimana situasi kesusastraannya saat ini?

Inilah masalah terbesarnya. Karena kontrol politik dan sensor di satu sisi, dan pasar yang sangat besar di sisi lain, para penulis yang sebenarnya pemikir independen ditekan dari dua sisi, kekuasaan dan uang.

Jadi, ada dua kemungkinan. Pertama, penulis menjadi seseorang yang punya pemikiran kuat, memiliki pemahaman yang jernih mengenai dirinya, tulisan apa yang ingin dibuat, makanya peganglah prinsip itu, jangan peduli akan dipublikasikan atau tidak, penulis itu akan menjelma dengan jiwa tradisi klasik yang luar biasa dan menjadi penulis besar internasional.

Tapi, sayangnya, hanya sedikit penulis Cina yang ingin melakukannya. Sebagian besar lebih suka menjadi pemain, terikat pada pohon sensor, tapi bergegas ke pihak komersial dan menulis hal seperti makanan instan, seperti McDonald’s. Karena mereka ingin menulis hari ini, menjualnya besok, dan mendapat banyak uang besok lusanya. Dalam kasus ini, pasar bukanlah pasar yang sebenarnya. Ini sebenarnya pasar yang tidak sehat dengan kontrol ideologi.

Saya sudah membaca puisi Anda dan saya pikir karya Anda tidak ’berbahaya’. Apakah puisi Anda masih dilarang diterbitkan di Cina?

Puisi punya gerakan yang menarik. Kami untungnya menulis puisi yang tak mudah dipahami. Sejak kami mulai menulis, sejak kami meninggalkan dunia yang besar dan palsu seperti sosialisme, kapitalisme, kami menggunakan bahasa yang murni dan klasik, serta menggunakan matahari, bulan, air, kegelapan, kehidupan, ajal. Makanya, puisi-puisi kami disebut misty poems atau puisi yang diselubungi kabut. Karena, itu tadi, puisi kami tidak mudah dipahami, dan diasosiasikan dengan slogan politik.

Jadi, puisi-puisi kami tak hanya bercerita mengenai perlawanan terhadap propaganda politik, tapi juga menunjukkan hasrat puitis, melalui bahasa, juga mempertanyakan diri sendiri sedalam mungkin. Makanya tidak hanya mengenai hitam dan putih, tapi penuh dengan kompleksitas, kekayaan, perasaan diri yang kontradiktif, tapi pada akhirnya bentuk yang kreatif.

Pada dasawarsa 1980-an, ketika gerakan politik dibungkam, karya saya dilarang, lalu ketika demonstrasi Tiananmenn dirusak, buku-buku dimusnahkan. Itu bukan karena mereka memahami puisi saya. Mereka melarang karya saya, bukan karena puisinya, tapi mereka ingin menghancurkan saya. Jadi, sebetulnya, sang penyairlah alasannya. Jadi, puisi mati mengatasnamakan penyairnya.

Sekarang, ketika seluruh Cina menjadi komersial, masalahnya bukan lagi sensor dan melarang puisi karena politis. Puisi itu sendiri disensor secara komersial, alasan komersial. Para penerbit hampir begitu saja berhenti mencetak puisi apa pun. Karena tidak menjual. Karena itu bukanlah bisnis budaya, melainkan sekedar bisnis. Mereka tidak peduli pada gelombang budaya. Sangat menyedihkan bagi Cina, negara yang memiliki tradisi besar dalam puisi klasik. Tapi saya tetap melanjutkan menulis puisi. Tak peduli apa mereka mau menerbitkannya atau tidak, atau mereka bilang bagus atau tidak. Saya pikir, puisi itu sangat penting bagi saya sendiri.

Anda tinggal di London, Anda juga berkeliling dunia. Apakah Anda merasa bagian dari masyarakat penulis dan seniman dunia?

London adalah tempat pertemuan yang besar. Bukan karena begitu banyaknya komunitas, tapi sebenarnya karena kedalaman, sejarah, dan tradisi Inggris Raya itu sendiri sebagai lapangan pemikiran terbuka. Namun saya tidak menempatkan diri saya dalam panggung besar itu. Saya juga menciptakan London versi sendiri. Buku yang Anda miliki, Lee Valley Poems, adalah puisi-puisi London versi saya. Ini bukanlah puisipuisi London, tapi puisi-puisi London kepunyaan Yang Lian. Lee Valley adalah lembah dekat rumah saya di London, tempat saya jalan-jalan.

Apakah dengan begitu, London menjadi kampung halaman Anda? Atau masihkah Cina menjadi kampung halaman Anda? Ataukah dunia adalah tanah air Anda?

Puisi adalah kampung halaman saya. Itulah yang selalu saya gapai melalui pemikiran kaya saya. Itu tidak dibatasi oleh batas negara, abadi dan tanpa batas.

Tembang Kesetiaan Ilalang

Judul Karya Resensi : “Tembang Kesetiaan Ilalang”
Judul Buku : “Tembang Ilalang”
Penulis : MD. Aminudin
Penerbit : Semesta (Kelompok ProU Media)
Harga : Rp. 52.000,-
Tebal : 509 halaman
Tahun terbit : 2008
Peresensi: Siti Irni Nidya Nurfitri S. Hum.
http://oase.kompas.com/

Tembang Ilalang merupakan novel berlatar belakang sejarah perjuangan bangsa Indonesia, yang mengisahkan tentang perjalanan cinta, Asroel dan Roekmini, yang selama belasan tahun terpisahkan oleh jarak. Perpisahan mereka disebabkan oleh situasi dan kondisi bangsa yang tidak menentu, yang memaksa mereka untuk menjalani jalan terjal kehidupan masing-masing.

Rangkaian kisah ini dimulai pada saat Asroel harus berpisah dari Istrinya, Roekmini, dan Ismail, anaknya, yang baru saja lahir. Asroel tersangkut masalah pelik. Ia terjebak pada fitnah pembunuhan istri dari seorang tangan kanan Belanda. Tentu, hal ini bukanlah suatu kasus sepele, yang segera dapat diredam dengan sekali penjelasan mengenai kronologis peristiwa.

Masa silam Asroel lah, yang membuat kasus ini seolah tidak akan menemui titik terang. Asroel bukanlah seorang kampung biasa, meski kondisinya sama dengan penduduk setempat, yang pada saat itu ditindas secara fisik maupun moral, oleh kaum penjajah. Asroel adalah seorang mantan anggota ’kelompok merah’ yang sangat diandalkan. Namun, bergabung dengan ’kelompok merah’ sudah menjadi bagian dari masa lalunya yang kelam, yang sesegera mungkin ingin dibuang jauh-jauh oleh Asroel. Ideologi yang tidak lagi sejalan, juga pada akhirnya membuat Asroel, berputar arah, dan tidak lagi bekerjasama dengan kelompok ini. Ia keluar bukan tanpa resiko. Ia sadar pelarian dirinya akan membawanya pada sebuah masalah besar yang secara langsung ataupun tidak, akan berdampak besar bagi keselamatan keluarganya, dan otomatis menjadikan mereka ’tumbal’ bagi para antek-antek ’kelompok merah’ ataupun para penjajah. Asroel pun mengetahui, pimpinan ’kelompok merah’ tidak begitu saja merelakan kepergian seorang anggotanya, yang sudah bisa dimasukkan ke dalam kategori anggota terbaik. Ada banyak cara yang ditempuh oleh ’kelompok merah’, untuk seorang ’pengkhianat’ seperti Asroel, diantaranya adalah mencari dan membawanya hidup-hidup untuk bergabung kembali, atau membunuhnya akibat ’pengkhianatan’ yang telah diwujudkannya.
***

Perjalanan selama belasan tahun, terpisah oleh jarak yang sulit diukur, serta ruang tidak mudah untuk ditemui, bukanlah hal yang mudah dihadapi bagi Asroel dan Roekmini untuk menemukan satu akhir yang bahagia.

Banyak aral melintang yang menambah liku-liku perjuangan Asroel dalam petualangannya menemukan Roekmini. Perjuangannya melawan penjajahan pengkhianatan dan penindasan, membuatnya tidak jarang bertemu dengan rasa takut, gamang, terombang-ambing oleh nasib yang tidak menentu, hingga ancaman kematian. Namun, jalan ini ditempuhnya, dengan tegar, berserah diri, dan keyakinan penuh padaNya bahwa kebahagiaan akan ditemui di ujung perjalanannya, demi bertemu kembali dengan keluarganya.

Tidak jarang perasaan rindu di antara keduanya menyeruak, membuat perjalanannya menjadi semakin terasa getir, panjang dan seolah tak berujung. Sehingga menimbulkan kelimbungan dan kegalauan, seperti ilalang yang hanyut terombang-ambing oleh tiupan angin di tengah padang. Mereka hanya mampu berusaha, berdo’a, serta berpasrah pada skenario hidup, yang sudah jauh-jauh hari ditulis oleh Sang penguasa alam semesta, Allah SWT.

Akankah perjalanan panjang untuk pulang akan mereka temukan kembali? Apakah mereka akan berjumpa kembali pada satu akhir yang bahagia? Ataukah tidak akan pernah terbayar kerinduan yang terpendam selama belasan tahun itu? Dan apakah kesetiaan mereka akan sampai pada ujung perjalanannya?
***

Tiga karya sastra berhasil dirangkum oleh MD. Aminudin dalam satu novel bertajuk ”Tembang Ilalang”. Hal yang tidak mudah untuk diwujudkan dan membutuhkan wawasan, serta ketajaman analisa, untuk melahirkan karya semacam ini.

Karya sastra yang mengisahkan sebuah cerita berlatar belakang masa penjajahan Belanda dan Jepang hingga pasca kemerdekaan Indonesia yang penuh dengan perlawanan, ketegangan, ketakutan, kesedihan dan ketertindasan rakyat saat itu, yang mengajak pembaca semakin hanyut dan terlibat dalam suasana heroisme pada masa itu. Kehadiran tokoh-tokoh yang memberi efek religius melalui karakter yang dimiliki, seperti teguh dalam bertauhid serta berprinsip bahwa yang berhak mereka abdikan hanyalah Sang Khalik, meski banyak aral melintang yang harus dihadapi dan tak jarang menimbulkan perlawanan dan membutuhkan bayaran yang tidak hanya sekadar fisik, tetapi juga nyawa, dan mereka menggadaikannya atas satu kata fii sabilillah.

Tak terlewatkan pula, nuansa romantisme klasik yang senantiasa ditawarkan pada alur cerita novel ”Tembang Ilalang”, melalui dialog dan narasi yang dituturkan secara melankolis oleh MD. Aminudin, semakin menenggelamkan pembaca dalam suasana cerita yang ingin disampaikan penulis tentang pengorbanan dan kesetiaan cinta dua insan karena Allah swt. Sehingga mampu memberi nilai lebih pada novel ini, dan membuatnya jauh dari kesan bahwa kisah percintaan pada novel ini hanyalah pemanis ataupun jatuh pada kesimpulan romantisme picisan kepada pembacanya.

Tidak berlebihan, jika novel ini disebut sebagai rangkuman dari tiga karya sastra. Sebab, tidak hanya menawarkan kisah tentang pengorbanan dan kesetiaan cinta antara dua insan. Tetapi juga, sarat akan nilai dan pengetahuan sejarah melalui miniatur perjalanan sejarah bangsa di masa silam dalam melawan tirani dan penjajah, yang coba dipaparkan oleh penulis, sekaligus menawarkan pemahaman keislaman terutama tentang makna tawakal dan ikhlas dalam menerima ujian dan takdir hidup, yang sudah menjadi ketetapanNya. Materi tersebut disampaikan secara ringan, tanpa mengurangi maknanya dan tidak terkesan mendakwahi pembaca.
***

Cara MD. Aminudin dalam memaparkan cerita, tidak membosankan. Potongan-potongan kisah disampaikan dengan caranya yang khas dan lugas. Penulis menyampaikan cerita langsung pada inti persoalan, tanpa pemaparan yang panjang atau bertele-tele, yang membuat pembaca bosan atau harus berpikir rumit untuk menelaah alur berpikir dari si penulis.

Selain khas dan lugas dalam menyampaikan narasi cerita, dari segi isi ataupun maknanya, ada hal lain yang patut untuk dinilai. Tidak jarang MD. Aminudin mendeskripsikan satu tokoh dalam cerita dengan pemaparan yang unik. Misalnya, pada bab ’Mata Satu’. Penulis memunculkan kembali tokoh Darsono (tokoh antagonis), dimana pada bab sebelumnya telah diceritakan bahwa Darsono sudah mati. Pemunculan kembali tokoh ini, dipaparkan dengan ciri-ciri si tokoh, seperti ”DENGAN SEBATANG tongkat di tangan kanannya seorang lelaki melangkah terpincang-pincang…” (halaman 322-324) kemudian rasa penasaran pembaca, dijawab dengan cara berbeda di halaman lain, yang tiba-tiba tokoh lain muncul dengan memangil namanya ”Bung Darsono…?” (halaman 325), hal ini yang memberi kesan dramatis dan membuat pembaca penasaran dan ingin terus mengikuti alur cerita tersebut.

Variasi lain yang menjadi daya tarik novel ini adalah pertama, dari gaya bahasa si penulis, yang mudah dimengerti dan runtut. Penggunaan kata asing dan ejaan lama yang disertakan dalam dialog, semakin menegaskan aksen masa silam dan menarik pembaca ke dalam dimensi waktu dalam kisah ini. Seperti, simplex, onderneeming, opzieener, balasting, dsb.

Kemudian, adanya catatan kaki yang disertakan, dapat menambah pengetahuan dan perbendaharaan kata bagi si pembaca. Namun, kadang kala dalam suatu bab, catatan kaki, lupa disertakan oleh penulis, meskipun sudah ditulis dengan huruf cetak miring, sebagai bentuk penekanan pada istilah tersebut. Sehingga dapat membuat pembaca sedikit kehilangan ’jejak’ dari cerita. Kedua, dari segi tokoh dan karakter yang dimunculkan. Tokoh-tokoh dalam novel ini, secara keseluruhan, ikut berperan aktif membangun tema dan nilai-nilai yang ingin disampaikan kepada pembaca. Seperti tokoh Kyai; Kjai Makoen, Kjai Achmad, dll, tokoh dari ’kelompok merah’; Darsono, Moeso, dll.

Pesan moral yang dapat menjadi bahan perenungan; bahwa islam merupakan agama yang akrab dengan kedamaian, dan islam mengatur seluruh aspek kehidupan umat manusia. Tidak terkecuali, dalam hal pembelaan negara, yang harus menuju pada satu tujuan yaitu fii sabilillah. Serta sebagai hambaNya, kita harus bertawakal dan ikhlas atas segala ketetapanNya, serta yakin bahwa Allah akan senantiasa memberikan jalan terbaik untuk hidup kita, meski terhampar ’onak dan duri’ ditengah perjalanannya.

Semua aspek terangkum dalam novel ini, selain sarat akan pengetahuan sejarah, nilai moral, sosial dan agama. Ada pula hikmah serta pesan moral yang dapat dipetik untuk dijadikan pelajaran hidup, yang pada akhirnya menjadikan novel ini layak untuk dibaca oleh siapa pun, dan dari kalangan manapun. Karena novel ini juga mampu memberikan ”warna” lain bagi dunia sastra islami serta makna lain dari cinta dan perjuangan yang hakiki.

*) Alumnus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

Satu Wajah, Dua Muka…

Damhuri Muhammad*
http://cetak.kompas.com/

Pekanbaru, Riau, 1954. Menteri Pendidikan dan Perkembangan Kebudayaan Mohammad Yamin berpidato. Tak lama selepas pidato itu, seorang lelaki naik panggung. Tanpa sungkan, ia menyanggah bahwa dalam urusan pendidikan, masyarakat Riau dianggap ”anak tiri” oleh pemerintah pusat. Buktinya, di Riau belum ada SMA negeri. Yamin tersinggung. Tergesa ia kembali ke Jakarta, tanpa sepatah kata pun. Beberapa hari kemudian, ia menyurati Gubernur Sumatera Tengah Marah Ruslan, sebagai pegawai pemerintah, tidak semestinya orang itu menggunakan istilah ’anak tiri’. Yamin meminta Marah Ruslan menyampaikan teguran itu.

Orang yang telah membuat Menteri Pendidikan (kabinet Ali Sastroamidjojo, 1953-1955) itu marah adalah Soeman Hs (1904-1999), pengarang dua roman penting; Kasih Tak Terlerai (1930) dan Mencari Pencuri Anak Perawan (1932). Tak banyak yang tahu, novelis kelahiran Tapanuli Selatan (kemudian menetap di Riau) itu juga pejuang pendidikan yang gigih. Di Riau, ia mendirikan SMA Setia Dharma, sekolah menengah atas pertama, sebelum SMA negeri berdiri di sana. Tak hanya itu, pada tahun 1961 ia mendirikan Universitas Islam Riau (UIR), perguruan tinggi pertama di Riau.

Di ranah sastra, penelitian terbaru tentang karya-karya Soeman Hs dilakukan oleh Eko Sugiarto—dibukukan dengan tajuk Melayu di Mata Soeman Hs (Yogyakarta, Adicita, 2007)—membuka jalan untuk lebih jauh membincang roman-roman karya Soeman Hs yang telah menikam jejak selama puluhan tahun. Eko melakukan pembacaan sintagmatik-paradigmatik terhadap roman Kasih Tak Terlerai (KTT) guna melacak jejak perlawanan Soeman Hs terhadap eksklusivisme adat melayu yang pada masanya dianggap kolot. Eko berhasil menggambarkan masa pancaroba budaya melayu di awal persinggungannya dengan budaya Arab-Islam di kawasan pesisir Riau yang dipasang sebagai latar roman ini. Menurut dia, roman itu, lewat karakter tokoh-tokohnya, berhasil mendedahkan kiasan perihal jurang pemisah antara ”orang asli” dan ”orang di pinggang” dalam konstelasi adat melayu masa itu, juga membangun pengamsalan perihal bangsa ”loyang” yang mustahil bersekutu dengan bangsa ”emas”. Tapi, sesederhana itukah pencapaian estetis roman itu?

Semula Eko telah meneruka jalan untuk menguliti perwatakan si Taram, Nurhaida, Encik Abbas, dan Syekh Wahab dengan mencincang roman itu menjadi beberapa fase penceritaan. Tapi, lantaran dibebani oleh tantangan pengujian hipotesis (apakah KTT benar-benar kritis terhadap adat melayu?), hal-ihwal yang kompleks dalam struktur roman itu terabaikan sehingga hasil penelitian itu terjebak pada legitimasi akademik bahwa upaya kreatif Soeman Hs dalam KTT itu masih dalam laku ”menyalin rupa” realitas. Padahal, KTT mendobrak realitas kebekuan adat, dan lewat perwatakan si Taram yang bersusah payah menghadang kekolotan, Soeman sedang menawarkan sebuah kemungkinan baru dalam menegakkan etos egalitarianisme dalam situasi yang seterkungkung apa pun.

Lelaku penceritaan Soeman berada di luar langgam roman-roman Balai Pustaka yang sarat keberpihakan pada kepentingan kolonial di satu sisi, dan sinis pada perlawanan kaum terjajah di sisi lain, sebagaimana tergambar dalam Adab dan Sengsara ((1920), Siti Nurbaya (1922). KTT memang tidak mengembuskan denyut perlawanan terhadap kaum penjajah, tapi menghadang kebobrokan dan pembusukan yang berlangsung dalam ranah adat melayu masa itu. Berkisah tentang si Taram, anak angkat seorang batin (pemangku adat) yang jatuh hati kepada Nurhaida, anak orang terpandang, Encik Abbas. Lamaran ditolak karena si Taram hanya anak pungut, derajatnya sebatas ”orang di pinggang”, orang datang, yang tak tumbuh dan berakar dalam struktur adat setempat. Pada suatu kesempatan, si Taram dan Nurhaida melarikan diri, berlayar ke Singapura, menikah di sana. Sementara itu, keluarga Encik Abbas terus melacak jejak si Taram yang telah berani melarikan anak gadisnya itu. Utusan Encik Abbas berhasil membujuk, lalu memboyong Nurhaida kembali pulang. Kepergian Nurhaida tidak diketahui si Taram, suaminya, karena pada waktu itu ia sedang bepergian ke Johor.

Sampai di sini, kisah seolah-olah bersudah, tapi ternyata pengarang memulai kisah baru. Diceritakan tentang sebuah kapal dagang yang merapat di pantai, kampung Nurhaida. Syekh Wahab nama nakhodanya. Lelaki berperawakan Arab, jenggotnya lebat, lengkap dengan jubah dan sorban. Selama kapalnya merapat, beberapa kali Syekh Wahab tampil sebagai khatib Jumat di masjid kampung itu, bahkan sampai diangkat menjadi guru mengaji. Tak hanya itu, saking mulianya orang Arab di mata penduduk kampung itu, lamaran Syekh Wahab untuk mempersunting janda kembang, Nurhaida, pun diterima dengan senang hati. Orangtua si Taram (yang dulu pernah melarikan Nurhaida) paling banyak menyumbang dalam kenduri pernikahan Syekh Wahab dan Nurhaida.

Dua penggal kisah ini seperti tiada berhubungan, apalagi ketika pengarang menyudahi cerita perihal perkawinan agung itu dengan berlayarnya pasangan pengantin menuju Singapura. Kalaupun ada, itu hanya soal pelayaran Nurhaida yang kedua ke tanah seberang itu. Bila dulu kepergian Nurhaida dan si Taram dicerca-dimaki orang sekampung, pada pelayaran ini ia dilepas dengan doa dan sukaria. Ia digandeng suami yang sah. Orang Arab, guru mengaji, saudagar kaya, pula. Pembaca lagi-lagi mengira roman ini sudah khatam. Tapi, Soeman masih menyisakan sepenggal kisah lagi. Diceritakan perihal kepulangan Syekh Wahab dan istrinya pada Lebaran Idul Fitri. Syekh Wahab didaulat menjadi khatib pada shalat id. Inilah puncak pengisahannya. Pada khotbah kali ini, Syekh Wahab digambarkan begitu berbeda dari biasanya. Jenggotnya dicukur gundul, sorbannya dilepas, ia tidak seperti orang Arab lagi sebab Syekh Wahab yang selama ini dipuja-puja orang sekampung tak lain adalah si Taram yang sedang menyamar, untuk kembali mendapatkan Nurhaida. Orang-orang terperangah, ternyata si Taram yang telah mereka campakkan adalah orang yang dalam sekali pengetahuan ilmu agamanya, dan telah berjasa membuat anak- anak di kampung itu pandai mengaji.

Double casting ala Soeman Hs ibarat perbedaan ”loyang” dan ”emas”. Satu muka mencerminkan sosok pembangkang, muka yang lain harus menampilkan sosok lelaki santun, lemah lembut, dan karena ia mubalig tentu harus cermat menjaga tindak-tanduk. Soeman tidak lengah ketika dua muka pada satu wajah itu menjadi protagonis sekaligus antagonis. Memang ada beberapa kejanggalan, misalnya ciri fisik Syekh Wahab yang tidak lagi dirinci sebagaimana rincinya penggambaran fisik si Taram yang bertampang melayu. Bagaimana mungkin Nurhaida bisa lupa pada ciri fisik dan kebiasaan suaminya? Fisik boleh berubah, tapi bagaimana dengan perasaan seorang istri kepada suami? Begitu pula kejanggalan pada orangtua angkat si Taram yang bulat-bulat tertipu oleh penyamaran itu. Anehnya, kejanggalan-kejanggalan itu kiat mempertajam pencitraan betapa memukaunya sosok Syekh Wahab, yang Arab, padahal, setiap yang bulat belum tentu telur, meski setiap telur sudah barang tentu bulat….

*) Cerpenis, Bermukim di Jakarta.

Selasa, 05 Januari 2010

TSUNAMI DALAM PUISI PENYAIR ACEH

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Masa Lalu yang Agung

Aceh, pasca-tsunami adalah sebuah dunia baru. Paling tidak, ia mesti menjadi sebuah awal yang coba lahir kembali lewat serpihan dan serakan masa lalu yang mengagumkan dan sekaligus juga mengenaskan. Masa lalu Aceh yang mengagumkan tentu saja lantaran pada masa awal kedatangan Islam di Nusantara, Aceh menyimpan beragam peristiwa sejarah yang agung. Sebutlah beberapa nama di antaranya, seperti Hamzah Fansuri, Abdul Rauf Singkel dan Nurrudin Ar-Raniri. Bukankah mereka telah menjadi sebuah mitos dan ikon tentang perdebatan intelektual yang bersumber pada ideologi agama. Perbedaan tafsir dan pemahaman mengenai konsep Tuhan dan keberadaan-Nya sesungguhnya tidak lain sekadar usaha manusia untuk coba memahami Sesuatu yang berada di luar batas rasio. Tuhan bermukim entah di mana dan manusia bersikeras masuk ke wilayah metarasional itu. Maka, tafsir pun datang bersama perbedaan makna dan keyakinan. Dalam konteks itu, Aceh telah memberi sumbangan penting bagi pergulatan pemikiran Islam yang kemudian mempengaruhi perkembangan Islam di Nusantara. Di sanalah tempat Hamzah Fansuri berdiri sebagai tokoh pembaharu spiritualisme Islam. Lewat karya-karyanya yang simbolik dan puitis Hamzah Fansuri berhasil membuat tonggak sendiri bagi kepenyairan Melayu, dan belakangan, kepenyairan Indonesia.[1]

Pada masa itu, keharuman Aceh sebagai salah satu pusat pertumbuhan dan perkembangan intelektual telah merebak jauh melewati batas wilayah Nusantara. Ia lalu menjadi sihir bagi para intelektual mancanegara. Sejak itu, kesultanan Aceh seperti terus berkelanjutan mengibarkan panji-panji keagungannya.

Ketika sejarah pergerakan bangsa mengisahkan kepahlawanan Teuku Umar dan pejuang Aceh lainnya, kita makin yakin bahwa Aceh tidak dapat melepaskan dirinya dari keindonesiaan. Ia bagian dari riwayat hidup Indonesia. Itulah salah satu ikon heroisme dan patriotisme keindonesiaan Aceh dalam perlawanan menentang penjajah (: Belanda). Bukankah perang terbesar yang memakan waktu paling lama dan biaya begitu besar bagi Belanda, terjadi justru lantaran Perang Aceh? Setelah itu, Perang Jawa berada di urutan kedua dengan Pangeran Diponegoro sebagai tokoh sentralnya.

Teuku Umar tak melangkah sendirian. Sang istri melanjutkan perjuangannya: Cut Nyak Dhien menjadi simbol perlawanan dan tampil sebagai representasi wanita-pejuang Aceh, wanita pejuang Indonesia. Aceh ternyata juga tidak hanya punya Cut Nyak Dhien. Pada zamannya dan berlanjut ke depan masih ada Cut Nyak Meutia, Pocut Baren, dan Pocut Meurah Intan. Ke belakang, tak dapat pula kita melewatkan Ratu Nur Ilah, Ratu Nahrasiyah, Laksamana Keumalahayati, Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah, sampai Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah, Ratu Inayat Zakiatuddin Syah, Ratu Kamalat Zainatuddin Syah.[2]

Niscaya masih ada nama-nama lain di antara itu. Setidaknya, Aceh mempunyai sejarah yang tidak hanya membanggakan warga puaknya, melainkan juga warga bangsa. Aceh telah mengajarkan makna perlawanan—perjuangan bagi sebuah bangsa bernama Indonesia. Nama-nama itu, niscaya tidak lahir tanpa makna. Di sana, ada semangat, élan, dan keyakinan yang teguh tentang pentingnya mempertahankan harga diri dan martabat sebuah bangsa. Aceh telah menggoreskan garis-garis tinta emas yang membanggakan Indonesia dan memancarkan pujian bangsa-bangsa di belahan bumi yang lain.

Masa Lalu yang Layu

Ketika tak ada musuh bersama yang bernama bangsa asing dan para founding fathers merumuskan sendiri bentuk negara dan pemerintahannya, konon, Aceh masih sempat memberi tanda mata berupa sebuah pesawat. Lalu selepas itu, minyak bumi dan kekayaan alam lainnya mengucur ke Jakarta. Aceh dibiarkan menjadi penonton pasif yang harus menerima begitu saja “belas kasihan” Jakarta. Mulailah muncul gumpalan pertanyaan yang lalu meneteskan benih luka yang barangkali masih dapat ditahan sambil berharap ada perbaikan.[3]

Tetapi mengapa heroisme dan patriotisme Aceh harus dicurigai sebagai keinginan untuk mendirikan sebuah negara (Islam)? Lalu dijalankanlah apa yang disebut Daerah Operasi Militer (DOM). Mengapa DOM harus terjadi di Aceh, wilayah yang warga puaknya sudah dikenal sejak lama mempunyai integritas, kesetiaan dan loyalitas terhadap Indonesia. Luka itu seperti makin lebar ketika tak ada usaha (dari pemerintah) untuk menuntaskan duduk perkara peristiwa hitam itu. Lalu muncul Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang tiba-tiba terjebak pada peristiwa saling membunuh dengan tentara dan polisi? Apa dan bagaimana sesungguhnya yang melatarbelakangi dan yang melatardepani peristiwa berdarah itu? Mengapa sesama saudara harus saling mengeluarkan darah? Sejarah keagungan Aceh, perdebatan intelektual tentang Islam, semangat patriotisme dan heroisme Teuka Umar dan pejuang Aceh lainnya, seketika seperti masa lalu yang beku. Aceh menjadi sebuah kawasan yang di sana, harga nyawa manusia tiada bermakna.

Sungai-sungai seketika juga berubah menjadi aliran yang membawa bau busuk entah mayat-mayat siapa.[4] Tempat-tempat pengungsian menjadi pemandangan kesengsaraan orang-orang yang tak berdosa. Hidup bertetangga di tengah warga tiba-tiba berubah menjadi kegiatan saling mencuri nyawa. Aceh menjelma kengerian dengan desing peluru entah dari moncong senjata siapa, mengoyak dada saudara sendiri. Inikah Aceh yang telah mengajari Indonesia dengan patriotisme dan heroisme?[5]

Ketika warga Aceh dihinggapi tanda tanya, saat kata damai makin jauh dari bumi Serambi Mekah, seketika itulah bencana datang: tsunami! Di manakah Aceh sekarang?

Sihir Tsunami

Ziarah Ombak[6] adalah sebuah persaksian tentang bencana mahadahsyat itu. Ia seperti sebuah klimaks dari rentetan segala luka. Tsunami telah mencatatkan dirinya sebagai bencana paling dahsyat dari semua bencana apa pun yang terjadi di muka bumi pada abad ini. Dan pada saat tak ada lagi kata yang dapat melukiskan kemahadahsyatan musibah itu –yang dikatakan Anton Kieting, kehabisan kertas dan tinta untuk bercerita atau dalam pandangan Asa Gayo, tak ada lagi yang bisa berkata-kata/semua diam membisu/berdzikir dalam air mata atau juga seperti dikatakan Deddy Satria: kupahatkan tanpa kata-kata//—Aceh menjadi pusat simpatik dan empati segenap bangsa di dunia. Tsunami telah menyihir umat manusia dalam hamparan kedukaan yang meluas. Aceh menjadi sebuah ikon yang tiba-tiba saja merampas empati siapa pun. Ia seperti menjadi alat yang dapat mempersatukan berbagai perbedaan ras, suku, agama, politik, dan kultur. Ia serempak lebur dalam perasaan yang sama: duka umat sejagat!

Dalam konteks keindonesiaan, Aceh dan tsunami telah membukakan mata dan hati warga bangsa ini memasuki babak penyadaran, bahwa segala konflik berdarah dengan latar belakang berbagai kepentingannya, harus segera dihentikan. Tentara, polisi, GAM, guru, penyair, pegawai negeri, atau apapun sesungguhnya sekadar label profesi. Ia melekat pada diri manusia Aceh, manusia Indonesia, yang hendak menjalankan hidup sebagai manusia bermartabat—berbudaya. Label itu sekadar alat mencari penghidupan dan menunjukkan tanggung jawabnya sebagai Manusia (dengan M besar). Lalu, mengapa pula label itu dimaknai sebagai sumber perbedaan yang kemudian berujung pada pertumpahan darah? Aceh, kini, bukan lagi milik aku atau engkau, kami atau mereka. Aceh adalah kita, dan kita bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Aceh.[7]

Sebuah peristiwa absurd dan irasional. Ketika tanah Aceh dibanjiri darah penduduk tak berdosa, darah anggota GAM, tentara atau polisi, tiba-tiba semua menjadi kita selepas tsunami meninggalkan duka yang tak terperikan. Dalam sekejap, batas tegas antara aku dan engkau, kami dan mereka, serta-merta lebur menjadi kita. Inilah sebuah rekonsialiasi paling menakjubkan yang menghancurkan segala sekat perbedaan atas nama berbagai kepentingan. Semua tumpah dalam perasaan yang sama: duka Aceh adalah kita.[8] Pertanyaannya kini: bagaimanakah model persaksian para penyair Aceh sendiri tentang tsunami itu sebagaimana yang terungkap dalam Ziarah Ombak? Bagaimana pula mereka menyikapi musibah itu dan merefleksikannya dalam puisi?

Tsunami: Sebuah Peringatan

Ziarah Ombak yang diawali tegur-sapa semangat penyadaran Helmi Hass dan kemudian Kata Pengantar Ahmadun Y. Herfanda, penyair, cerpenis, dan redaktur budaya harian Republika. Buku ini memuat 130 puisi karya 48 penyair. Dengan melakukan tiga pembagian, yaitu Ziarah (Bagian Satu), Makam (Bagian Dua) dan Membaca Tanda-Tanda (Bagian Tiga), editor –D. Kemalawati dan Sulaiman Tripa—tampaknya hendak membuat tanggapan evaluatif atas musibah mahadahsyat itu.

Bagian Pertama bolehlah dimaknai sebagai sikap keprihatinan para penyair Aceh yang selamat dari prahara tsunami. Pada bagian ini ada 85 puisi karya 38 penyair Aceh. Mereka seperti bermaksud melakukan semacam ziarah kepada segenap korban, mewartakan persaksian, dan sekaligus menyatakan kedukaannya yang mendalam. Bagian Kedua yang bertajuk Makam memuat 26 puisi karya tiga penyair Aceh –Nurgani Asyik, Maskirbi, dan Mustiar AR—yang diyakini termasuk korban dari sekitar 200-an ribu korban lainnya. Ketiga penyair Aceh itu hingga kini tidak jelas di mana jasadnya. Jadi, tentulah karya ketiga penyair itu ditulis sebelum dating bencana dahsyat itu. Bagian Ketiga (Membaca Tanda-Tanda) memuat 19 puisi karya tujuh penyair Indonesia dan Malaysia –yang entah mengapa, biodatanya tak ada di sana. Bagian ketiga ini, bolehlah dipandang sebagai bentuk empati penyair di luar Aceh yang hendak berbagi duka atau pemberi semangat untuk tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.

Bagian Ketiga itu, niscaya belum dapat dikatakan merepresentasikan tanggapan keseluruhan penyair Indonesia dan Malaysia, meskipun di sana disebutkan “sangat dekat dengan Aceh.” Editor tentu punya alasan sendiri atas pilihan itu yang duduk perkaranya sering jatuh pada masalah teknis. Dalam hal ini, sepatutnya kita memberi apresiasi atas usaha dan kerja keras editor buku ini. Terlepas dari persoalan teknis itu, mari kita coba menelusuri, bagaimana para penyair Aceh memandang, menempatkan, dan memaknai tragedi mahadahsyat itu.

Puisi karya Anton Kieting (“Sajak kepada Penyair”) dan Armiati Langsa (“Bangkitlah”) cenderung merupakan seruan kepada Aceh untuk mengubur tsunami sebagai catatan hitam dan menatap masa depan sebagai langkah yang sudah semestinya dijalankan. Meski begitu, ada hal menarik yang terungkap di sana. Pada “Sajak kepada Penyair” Kieting seolah-olah hendak bertegur-sapa dengan penyair Maskirbi yang menempatkan tugas kepenyairan sebagai bilal –sebuah profesi yang tak populis, jauh dari keuntungan materi, dianggap pekerjaan tak bermakna dan cenderung dipandang tak punya fungsi sosial. Bilal –pengumandang azan—memang dapat dilakukan sesiapa pun. Tetapi siapakah yang punya kesadaran bahwa tugas bilal adalah titik berangkat menuju kemenangan, menjauhkan kemungkaran, dan mendekatkan kebaikan? Maskirbi telah melakukan itu dan hendak dilanjutkan oleh si aku liris: Aku akan tetap menjadi penyair yang mengabarkan kesaksian/pada setiap perjanjian/Karena kau pinta aku menjadi bilal/Yang selalu mengabarkan setiap perjanjian// Jadi, di sana ada persaksian dan sekaligus juga perjanjian.

Bahwa kemudian tsunami datang dan menggerus segalanya sebagai pertanda, sang penyair melihatnya dari dua sisi. Pertama, sebagai musibah yang tak terperikan sehingga ia tak mampu mengungkapkannya dengan kata apa pun. Kedua, sebagai bagian yang tak terlepas dari masa lalu. Tsunami dipandang sebagai buah dari serangkaian kealpaan yang dilakukan entah oleh siapa pada masa lalu. Inilah yang dikatakan Sigmund Freud sebagai ketaksadaran traumatik.[9] Kecemasan yang bersumber dari tindakan masa lalu: … buta mata hatinya/mencuri perut saudara-saudaranya/menzalimi anak yatim// Sebuah seruan introspektif untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.

Cara pandang seperti itu juga ternyata tampak pada puisi Armiati Langsa yang melihat Aceh dalam tiga dimensi waktu: masa lalu, kini, masa depan. Maka, ia melihat tsunami sebagai peringatan dan sekaligus awal untuk memulai kebangkitan kembali keagungan Aceh. Ketika ranting cabang dan pohonnya dicabik peringatan/Allah yang Maha Punya…/Pemilik tangan pengatur jagat raya// Jadi, bagi Armiati Langsa, tsunami sebagai representasi tangan Tuhan, agar bangsanya tak lalai menjalankan kewajibannya sebagai manusia. Kelalaian itulah yang sesungguhnya “telah mengundang bencana.”

Begitulah Langsa melihat tsunami tak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian masa lalu yang penuh kelalaian: hura-hura, pesta pora, gelimang dosa, narkoba, dan syahwat yang secara metaforis dikatakannya sebagai paha yang tak lebih mahal dari kaki rusa// Maka, tak ada pilihan lain bagi rakyat Aceh, kecuali bangkit membangun kembali Aceh Raya, sambil bertaubat, bertasbih, dan berdoa. Atau, bagi Rianda Asriani: … bertafakur/ mengaca dari segala dosa, dengan kaca mata batin yang/bersih//. Ajakan Asriani tentu tidak datang secara serta-merta. Ia juga melihat masa lalu: Anak, anak yang dulu terlahir suci/yang dulu juga pernah diyatimkan oleh gemuruh senapan …. Bagaimanapun, bagi Asriani tsunami mesti dimaknai sebagai peringatan yang dikataknnya sebagai dian di kegelapan. Jadi, masih ada titik harapan untuk menatap masa depan. Biarlah masa lalu tentang tanah yang penuh sengketa/… yang diredam gelombang senjata/… dan penuh air mata (Syarifuddin Abe, “Air Tanah”) tetap sebagai masa lalu, dan tsunami menjadi batas tegas yang memisahkan masa lalu dan masa depan.

Pada diri penyair Mh Agam Fawirsa, tsunami telah meninggalkan pekuburan massal yang justru melengkapi kepedihan dan catatan kelam Tanah Rencong. Di depan makam massal ini/air mata memang telah terlalu banyak tumpah/membasuh jejak-jejak kaki yang terkubur/dalam catatan sejarah paling kelam/di bumi tanah rencong// Bagi Fawirsa, meski banyak orang menebarkan empatinya, ia masih belum yakin benar, bahwa catatan hitam itu akan berhenti di sana yang dikatakannya: bersama badai belum pasti berlalu/dalam derap langkah anak negeri ini/menyongsong masa depan yang tak pasti// (“Catatan Malam”). Sebuah masa lalu yang juga dirasakan Reza Idria (“Luruh”):

Belati menghujam berkali-kali

kami tak menangkis

kami tak menangis

maut terus-menerus mengerus takut

Di sini

Lelaki lama telah menyendiri

lalu anak dan perempuan pergi

lalu harapan

lalu ingatan

lalu mati

lalu sunyi

Apalagi yang masih tersisa selain sunyi? Sebuah pesimisme yang lahir dari serangkaian pengalaman traumatik yang tak gampang terkubur, meski tsunami telah menguburnya. Bagi Fawirsa {“Cerita Nenek kepada Cucunya”) yang masih mungkin dilakukan adalah membuat monumen peringatan bagi generasi yang akan datang tentang gejala tsunami dan tentang pengharapan terbesar dalam hidup di dunia ini: Tuhan. Ingatlah cucuku/Jangan lupa pesan dan cerita nenekmu ini/jangan lupa kepada Allah//

Begitulah, musibah dahsyat itu ternyata disikapi sebagai kepedihan yang tidak berdiri sendiri. Mohd. Harun Al-Rasyid, Reza Idria, Rianda Asriani, Sukran Daudy, Syarifuddin Abe, dan Win Ruhdi Bathin, misalnya, melihat tsunami sebagai sebuah klimaks dari rangkaian kepedihan yang dialami Aceh. Maka, kembali, di satu sisi, tsunami bagi korban hadir sebagai semacam katarsis, pelepasan dari kedukaan yang bertumpuk-tumpuk, dan di sisi yang lain, bagi mereka yang selamat, tsunami menambah kisah duka tentang sanak keluarga, tetangga, dan orang-orang tercinta. Jadi, dari satu titik harapan terkecil, sebagai bentuk apologia bagi para korban itu, tsunami laksana langkah berangkat menuju Tuhan. Para korban diyakini pula mencapai kebahagiaan di dunia sana. Bukankah mereka sudah sekian lama menahan sabar, menunggu Tuhan mencipratkan kebahagiaannya. Perhatikan kepedihan yang tak terucapkan di balik larik-larik berikut:

Tuhan

Sebagai ayah, aku hanya ingin bertanya

Karena kutahu anakku yang belia

Belum tahu apa-apa dengan kemunafikan

Belum kenal aneka kemusyrikan

Belum tahu mengenai bibit-bibit dendam

Apalagi dengan nafsu angkara murka (“Aku Bertanya Pada-Mu”)

Anakku, damailah ruhmu dalam kebahagiaan

Selamat berdandan di sisi Tuhan

Memilih gaun ulang tahun di almari

Dan merebahkan jasad di ranjang dambaan

Andai engkau telah pergi berkelana di taman Tuhan

Ayah ucapkan selamat jalan ananda tersayang

Jangan lagi berpaling ke belakang

Karena ayah telah ikhlaskan

Kita bertemu di yaumil mahsyar (“Kenangan dalam Keikhlasan”)

Sungguh, larik-larik tadi secara tekstual menyampaikan sebuah pertanyaan retoris: mengapa Tuhan membawa orang-orang tercinta yang tak berdosa (“Aku Bertanya Pada-Mu”) dan di bagian lain (“Kenangan dalam Keikhlasan”) menyampaikan pewartaan seorang ayah tentang anaknya. Tetapi di balik itu ada gugatan yang datang dari segumpal kepedihan yang tak tertahankan. Di sana, ada tangis yang kehabisan air mata. Inilah yang dalam konteks teologis disebut mysterium tremendum et fascinans: misteri yang menakjubkan sekaligus juga menakutkan. Bukankah kuasa Tuhan itu penuh misteri yang berada di luar batas logika. Oleh karena itu, di balik ketidakpahaman tentang kuasa Tuhan, manusia sering merasa takjub dan sekaligus takut. Dalam tarik-menarik –takjub dan takut itu, kabar tentang “Kenangan dalam Keikhlasan” menegaskan sikap keberimanannya yang kukuh dan tak tergoyahkan. Hanya dengan kekuatan iman itulah si aku lirik (ayah) masih menyimpan setitik harapan dapat jumpa di Yaumil Mahsyar. Yang dalam bahasa Muhammad Irvan: menanti … di tempat yang dekat.

Demikian, sejumlah besar puisi karya penyair Aceh yang terhimpun dalam antologi ini memperlihatkan, betapa mereka tidak dapat begitu saja melupakan masa lalu, meski telah datang malapekata yang jauh lebih dahsyat: tsunami. Dalam hal ini, kebesaran masa lalu tentang dinamika intelektual Hamzah Fansuri atau Nurrudin, panji-panji keagungan para sultannya, dan heroisme Teuku Umar dan sederet panjang nama lainnya, seolah-olah tenggelam huru-hara konflik berdarah sesama saudara. Maka, tsunami disikapi sebagai peringatan atas sejumlah kelalaian itu.

Tsunami: Sebuah Persaksian

Selain sebagai “peringatan”, tsunami bagi sejumlah penyair Aceh lainnya –yang puisi-puisinya terhimpun dalam buku ini—merupakan peristiwa yang kedatangannya penuh dengan misteri yang dengan cara apapun tidak dapat dicari jawabannya. Jadi, di antara serangkaian pertanyaan yang justru malah menciptakan spiral pertanyaan, sejumlah penyair itu coba melakukan semacam persaksian. Maka, meski di sana-sini muncul hasrat melakukan refleksi evaluatif, mereka berusaha menangkap momentum tsunami sebagai bagian dari tanggung jawab sosialnya. Mereka berusaha merefleksikan persaksiannya, meski di belakang itu, ada sejumlah pertanyaan yang tak dapat mereka jawab: pertanyaan yang berada di luar batas logika; pertanyaan yang dapat digolongkan sebagai pertanyaan metarasional. Di situlah, puisi (: sastra) dapat ditempatkan sebagai potret sosial zamannya. Ia akan menjadi catatan sejarah yang sekaligus mengungkapkan berbagai akibatnya serta makna di balik peristiwa itu. Tentu saja sikap itu merupakan pilihan penyairnya sendiri. Bukankah setiap penyair (: sastrawan) kerap tidak dapat melepaskan dirinya dari fungsinya sebagai suara zaman?

Lihatlah sejumlah besar puisi Audi Nugraha, Arafat Nur, Azhari, D. Kemalawati, Deny Pasla, Deddy Satria, Dhe’na, Doel CP Allisah, Faridah, Fikar W. Eda, Fozan Santa, Jingga Gemilang, LK Ara, Mustafa Ismail, Mustika Ajerso, Nurdin F Joes, Ridwan Amran, Rosni Idham, Saifullah Thahir, Salman Yoga S. Sujiman A. Musa, Sukran Daudy, Sulaiman Juned, Sulaiman Tripa, Wina SW1, Win Ruhdi Bathin, Wiratmadinata, Yun Casalona.

Audi Nugraha dalam “Ada Apa Saat Itu” misalnya, menempatkan tsunami yang hanya dalam sesaat tiba-tiba menghancurkan segalanya. Ia seperti memotret hiruk-pikuk ketika gelombang tsunami bergulung-gulung di hadapan matanya. Ia takjub, sekaligus takut atas kedahsyatannya. Maka, tidak saat itu saja/manusia tetap ingat akan saat itu/ setiap saat pasti terjadi seperti saat itu/karena saat itu adalah milik-Nya//.

Dalam puisi “Jadi, Maka Jadilah” Audi Nugraha melihat tsunami sebagai fenomena alam yang di belakangnya, bisa saja tangan Tuhan ikut bermain. Ketika manusia melakukan eksploitasi dan eksplorasi alam, menguras kekayaannya tanpa mempertimbangkan ekosistem, dan membiarkan kerusakannya terjadi di mana-mana, ketika itulah alam tidak lagi diperlakukan sebagai “sahabat—saudara”. Alam menjadi sebuah kata benda yang dapat diperlakukan seenaknya. Maka, ketika ia memperlihatkan kekuasaan-Nya, segalanya sudah terlambat. Nugraha lalu mengajak kita melakukan perenungan: Sadarkah manusia bahwa alam bisa marah?/ Maka bersahabatlah dengan alam/karena manusia bukan makhluk bumi/kita diterima di alam ini karena titipan sementara dari Maha Pencipta//

Kesadaran manusia sebagai homo religius akan memperlihatkan intensitasnya ketika sesuatu yang mahadahsyat –kuasa alam—tiba-tiba datang serempak seperti hendak menyergapnya. Pada saat itulah manusia cenderung berlari atau mencari perlindungan pada sesuatu kuasa yang lain yang diyakini dapat menolongnya. Bagi umat beragama, sesuatu itu tidak lain adalah Tuhan. Inilah yang terjadi pada diri Asa Gayo yang diungkapkannya dalam puisinya yang berjudul “Baitur Rahman.” Maka ketika ia melihat kedahsyatan tsunami, secara instingtif ia serta-merta menempatkan Baitur Rahman sebagai “tempat berlindung.” Ya Rabbi/Izinkan kami bersujud/Di rumah-Mu yang suci/Izinkan/Izinkanlah kami yang hina ini/Bertaubat pada-Mu/Ya Rabbi//[10] Hal itu pula yang dirasakan Arafat Nur (“Tsunami 3) yang menempatkan tsunami bukan sebagai “bencana” melainkan sebagai uluran tangan Tuhan berkat dzikir dan sembahyang, akan membawanya pada perjumpaan dengan Tuhan.

Dalam “Alia, Gadis Kecilku” si aku liris meyakini bahwa perpisahannya dengan sang bidadari itu sesungguhnya merupakan perjalan baginya untuk sampai pada Tuhan. Jadi, meski metafora yang dibangunnya begitu tenang, mengalun, seperti sebuah rintih kecil yang tak menggugat, ada kegetiran yang tak terucapkan di sebaliknya. Ia pun menempatkannya sebagai sebuah perjalanan untuk kelak jumpa kembali di Surga. … mungkin besok/atau lusa/kita bertemu juga/di surga//

Peristiwa perpisahan itu pula yang juga dirasakan Azhari (“Ibuku Bersayap Merah”) ketika orang-orang tercintanya tak ia jumpai di kampungnya. Meski begitu, Azhari pun berkeyakinan bahwa Tuhan tak akan membiarkannya berpisah tanpa arti. Malaikatlah yang akan membawa mereka berkumpul kembali.

D. Kemalawati dalam “Kita tak Belajar Membaca Tanda-Tanda” dan “Dahaga Laut” membuat persaksian atas kegalauan yang terjadi saat tsunami memperlihatkan tanda-tanda kedatangannya yang kemudian disusul dengan bertumpuk-tumpuk kegalauan lain yang tak terperikan. Sebuah potret metaforis yang seperti hendak menyihir kita (pembaca) untuk coba melihat dan merasakan sendiri peristiwa itu. Kedua puisi itu laksana pewartaan yang disuarakan melalui dunia batin yang ikut goncang. Berbagai cemas, takut, ngeri, sesal, dan entah segala rasa apa lagi seperti meluncur begitu saja menciptakan potret hitam yang garis-garis gambarnya masih dapat kita cermati. Kemalawati seperti hendak bercerita panjang dalam setiap lariknya yang padat. Hampir setiap lariknya membangun peristiwa yang mengajak kita untuk membayangkan kembali peritiwa 26 Desember itu.

Sebagai penyair (: sastrawan), Kemalawati telah menjalankan tugasnya menyampaikan kesaksian sebuah peristiwa yang terjadi pada zamannya. Tak ada air mata di sana, tetapi kita ikut hanyut dalam galau yang disampaikannya. Lalu, bagaimana ia menyikapi peristiwa itu? Pada larik terakhir kedua puisi itu jawabannya. … mengapa berlari dari masjid yang mengisyaratkan pentingnya kembali menghidupi masjid. Sementara dalam “Dahaga Laut,” Kemalawati masih menyimpan optimisme untuk membangun kembali Aceh dari sisa semangat yang berserakan: memungut kayu-kayu yang berserakan/untuk tiang gubuk kami yang baru//

Doel CP Allisah (“Ingatan”) juga menyampaikan persaksiannya atas musibah itu. Baginya, segenap korban adalah syuhada. Bagaimanapun, hanya kerelaan yang dapat ia lakukan sambil menyampaikan doa yang tak pernah putus. Di balik itu, tsunami makin meneguhkan keyakinannya pada kuasa Sang Khalik yang tak terbatas.

Persaksian yang lain disampaikan Rosni Idham yang keterkejutannya cukup ia katakana: Aku terperangah. Sebuah gebalau psikologis yang berada dalam batas tipis antara percaya dan tidak percaya, antara mimpi buruk dan realitas. Sebuah ekspresi psikis yang sebenarnya tidak mewakili apa-apa, tetapi sekaligus mewakili seluruh goncangan jiwanya yang dahsyat. Bagaimana ketika tiba-tiba jerit histeris, kekacauan, hiruk-pikuk, dan gelombangan tangis menghancurkan ketenangan? … aku terperangah/Aku tak mengerti maknanya/Aku terpajak kehilangan kata//

Sejumlah besar puisi dalam antologi ini sesungguhnya menyimpan begitu banyak peristiwa. Semuanya bersumber dan bermuara pada satu kata: tsunami! Pembicaraan ini jelas sama sekali tidak mengungkapkan keseluruhan persaksian yang disampaikan para penyair Aceh. Dengan demikian, pilihan puisi yang diambil sebagai contoh kasus pembicaraan ini pun, sekadar hendak menegaskan bahwa penyair Aceh, dengan caranya sendiri dan dalam suasana ketercekamannya, masih dapat membuat persaksian tentang musibah mahadahsyat itu. Maka, yang dapat kita tangkap dari persaksian itu adalah usaha mereka untuk menempatkan dan memaknai tsunami sebagai (1) peristiwa yang tidak berdiri sendiri mengingat ada persoalan lain di belakangnya, dan (2) peristiwa yang harus diterima sebagai sebuah hukum alam yang memang sudah terjadi. Maka, menerima dengan ikhlas dan menatap kembali masa depan adalah tindakan yang lebih bertanggung jawab. Bagaimanapun juga, Aceh harus bangkit kembali mengibarkan panji-panji keagungannya.

Makam: Melupakan Potret Buram

Bagian Dua yang bertajuk “Makam” menghimpun sejumlah puisi karya tiga penyair yang menjadi korban tsunami.[11] Sebagai korban, pastilah ketiganya tidak berkesempatan memahami dan menempatkan tsunami. Mari kita coba melihatnya:

Ada 26 puisi dalam bagian ini. Lengkapnya: 10 puisi karya M. Nurgani Asyik, 11 puisi karya Maskirbi, dan lima puisi karya Mustiar AR. Dari ke-26 puisi itu, kita dapat merasakan bahwa jeritan paling kuat dari ketiga penyair ini bukanlah kerinduannya pada Sang Khalik, melainkan kecemasannya menyaksikan konflik berdarah yang tak kunjung selesai. Mereka bersaksi tentang Aceh yang terluka oleh tembakan, seorang anak yang membawa lukanya ke surga, anak negeri yang diperkosa kezaliman, rektor yang tak membayangkan kematiannya melalui pintu yang mana, dan serentetan peristiwa berdarah lainnya. Segalanya ingin dikisahkan, sebagaimana yang dikatakan Maskirbi: Banyak yang ingin kutulis/tapi tak tertulis/kata-kata sudah tak lagi sebagai kata// (“Gagap”). Apa maknanya bagi kita ketika persaksian ketiga penyair itu berkisah tentang Aceh yang luka oleh tembakan? Mustiar AR coba mengingatkan kita:

Ya Allah

Engkau Yang Maha Kuasa

damaikan hati saudaraku yang bertikai

tunjuki mereka ke jalan yang Kau ridhai

Amin Ya Rabbal Alamin

Maka, Aceh pascatsunami adalah Aceh yang …memungut kayu yang berserakan/ untuk tiang gubuk kami yang baru// Atau, dalam bahasa Helmi Hass: Menatap esok pagi dengan penuh semangat/Di sanalah ada iman!

***

Ziarah Ombak sungguh mewartakan banyak hal tentang tragedi mahadahsyat. Dalam kegetiran itu, para penyair Aceh mencoba membuat persaksian atas peristiwa itu menurut persepsi dan gebalau kegelisahannya masing-masing. Di belakang gebalau itu, kita seperti menemukan lubang kecil yang dari lubang itulah, terhampar begitu banyak kisah yang tak terucapkan. Ia menyimpan trauma yang bertumpuk-tumpuk. Dan dalam setiap tumpukannya, terpendam keagungan masa lalu Aceh yang dibalut oleh selimut luka berdarah. Lalu datang tsunami sebagai klimaksnya. Jangan ada lagi klimaks yang lain. Cukup sampai di sana. Maka, kinilah saatnya kita melangkah menuju babak baru yang lebih cerah dan bermartabat. Semoga!

ó Pengantar Diskusi Buku Ziarah Ombak (Editor D. Kemalawati dan Sulaiman Tripa), Banda Aceh: Lapena, 2005, 235 halaman. Diselenggarakan di Banda Aceh, 22 Oktober 2005.

ð Maman S. Mahayana, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

[1] Periksa sejumlah tulisan Abdul Hadi WM, antara lain, Sastra Sufi: Sebuah Antologi (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985), Kembali ke Akar kembali ke Sumber (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya (Bandung: Mizan, 1995), Islam Cakarawala Estetik dan Budaya (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), dan Tasawuf yang Tertindas (Jakarta: Paramadina, 2001).

[2] Mengenai riwayat tokoh-tokoh wanita Aceh itu, lihat Ismail Sofyan, M. Hasan Basry, dan T. Ibrahim Alfian (Ed.), Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah, (Jakarta, 1994).

[3] Konflik Aceh dengan Pemerintah Pusat dimulai dari ketidakpuasan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang coba menerapkan syariat (Islam) di Aceh. Ketakutan yang berlebihan dari Pemerintah Pusat telah menyebabkan konflik itu berkelanjutan, hingga terbentuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang memicu pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh.

[4] Azhari dengan sangat bagus menggambarkan traged berdarah itu dalam cerpen “Yang Dibalut Lumut” (Perempuan Pala, Yogyakarta: Akademi Kebudayaan Yogyakarta, 2004).

[5] Hampir semua karya yang mengangkat kegetiran rakyat Aceh mewartakan trauma atas konflik berdarah itu. Sekadar menyebut beberapa di antaranya, periksa Alia: Luka Serambi Mekah karya Ratna Sarumpaet (Jakarta: Metafor Publishing, 2003), Aceh Mendesah dalam Nafasku (ed. Abdul Wahid BS, Fikar W. Eda, dan Lian Sahar, Banda Aceh: KaSUHA, 1999), Aceh dalam Puisi (Ed. LK Ara, Bandung: Syaamil Cipta Media, 2003), Rencong karya Fikar W. Eda (Bekasi: KaSuha dan SAJAK, 2003, Cet. II, 2005).

[6]D. Kemalawati dan Sulaiman Tripa (Ed.), Ziarah Ombak: Sebuah Antologi Puisi (Banda Aceh: Lapena, 2005, 235 halaman).

[7]Sebagai wujud keprihatinan dan empati bahwa duka Aceh atas tragedi tsunami itu adalah duka kita, duka Indonesia, tampak dari gelombang solidaritas yang muncul secara spontan dari berbagai kalangan, usia, agama, organisasi dan entah apa lagi. Musibah itu sungguh telah menyentuh rasa kemanusiaan segenap bangsa di dunia. Lalu, seketika itu pula, tiba-tiba setiap orang merasa harus berbuat sesuatu untuk meringankan kedukaan rakyat Aceh. Sejumlah buku tentang ekspresi solidaritas itu, juga diterbitkan, tiga di antaranya, Maha Duka Aceh (Jakarta: PDS HB Jassin, 2005), Duka Atjeh Duka Bersama (Yogyakarta: Logung Pustaka, 2005), dan Amuk Gelombang (Medan, Star Indonesia, 2005). Buku-buku lain pasti masih akan terus bermunculan. Semua menunjukkan ekspresi solidaritas bahwa duka Aceh adalah duka kita, duka Indonesia, duka umat manusia.

[8] Dalam politik identitas, konsep “Kita” dan “Mereka” penting artinya untuk memberi kesadaran tentang jatidiri sebuah bangsa atau komunitas. Aceh dalam konteks keindonesiaan adalah bagian dari diri “Kita” yang ditandai berdasarkan kesamaan sejarah perjuangan, afiliasi kultural, sistem pemerintahan, wilayah teritorial (space), dan kewarganegaraan (nationality). Meskipun demikian, sikap chauvinistik yang berlebihan atau ketidakpercayaan pada pemerintah dapat melahirkan ketidaksetiaan yang kemudian berujung pada usaha merumuskan identitas sendiri. Maka, sangat mungkin warga Aceh melihat warga di luar Aceh atau sebaliknya membuat semacam garis pembatas identitas yang ditandai dengan penyebutan “kita” dan “mereka”. Masalah Aceh dalam konteks keindonesiaan itu, tidak dapat lain, kecuali menempatkannya sebagai “Kita” yang didasarkan oleh sejumlah kesamaan yang disebutkan di atas.

[9] Mencermati sejumlah besar puisi penyair Aceh sebelum terjadi tsunami, kita akan mendapati ekspresi mereka yang cenderung didominasi oleh trauma konflik bersenjata itu. Trauma psikologis itu tidak lagi menjadi milik orang per orang, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan keseharian masyarakat. Inilah yang psikoanalisa disebut sebagai ketaksadaran traumatic kolektif. Artinya, kegetiran itu sudah menjadi ketakutan massal. Penyembuhannya hanya mungkin dapat dilakukan jika konflik bersenjata itu sudah benar-benar tidak lagi terjadi di Aceh.

[10] Lihat Sigmund Freud, The Future of an Illusion, London: Hogarth Press, 1961. Meskipun Freud menyebutnya sebagai frustasi karena alam, dalam konteks tsunami sebagai fenomena alam, penyair Aceh ini melihat tsunami justru bukan lantaran sikap frustasi, melainkan kesadaran instintif atas keakrabannya dengan Tuhan. Masjid Baitur Rahman kemudian menjadi simbol tempat “bersemayam” Tuhan.

[11] Pemuatan karya tiga penyair yang menjadi korban tsunami tentulah dimaksudkan oleh editor buku ini sebagai penghargaan dan penghormatan atas kiprah kepenyairannya.

Robert Desnos (1900-1945)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=359

SAJAK TERAKHIR
Robert Desnos

Begitu keras kau kumimpikan
Begitu banyak aku berjalan, begitu rupa bicara
Begitu kucinta bayang-bayangmu
Hingga bagiku dirimu tiada lagi tersisa
Tinggallah bagiku jadi bayang-bayang di antara bayang-bayang
Jadi seratus kali lebih bayang-bayang dari bayang-bayang
Jadi bayang-bayang yang datang dan datang berulang-ulang
Dalam hidupmu yang bersinarkan matahari.

{dari buku Sajak-Sajak Modern Perancis Dalam Dua Bahasa, disusun Wing Kardjo, Pustaka Jaya, cetakan II, 1975}

Robert Desnos (4 Juli 1900 - 8 Juni 1945), penyair Prancis berperan penting pergerakan surealistik di jamannya. Lahir di Paris putra pemilik kafe, kolumnis sastra surat kabar Paris soir.
Puisinya pertama muncul di media tahun 1917 di La Tribune des Jeunes, 1919 di avant-garde review dan Le Ciri d’serikat. Pada 1922 terbit buku pertamanya, koleksi surealistik aforisme berjudul Rrose Selavy.

1919 bertemu Benjamin Péret yang memperkenalkan kelompok Dada Paris dan André Breton. Bersama Louis Aragon, Paul Éluard membentuk barisan depan sastra surealisme.

1926 menulis The Night of Loveless Nights; puisi liris dalam kuatrain klasik. Jatuh cinta dengan penyanyi Yvonne George, mempersembahkan beberapa puisi baginya serta novel surealis La liberté ou l’amour!

Menulis artikel Perumpamaan Modern, Avant-garde Cinema (1929), Pygmalion, Sphinx (1930). Kariernya di radio tahun 1932, acara yang didedikasikan Fantomas. Selama itu berjumpa Picasso, Hemingway, Artaud, John Dos Passos.

Menulis di majalah Litterature, La Révolution surréaliste dan Variétés. Menerbitkan tiga novel, Deuil pour deuil (1924), La Liberté ou l’amour! (1927), Le vin est ban (1943); drama La Place De La ‘Etoile, (1928; direvisi 1944) skrip film, L’ Etoile de mer (1928) disutradarai Man Ray.

Dalam Perang Dunia II, anggota aktif Perlawanan Perancis dengan berbagai nama samaran, ditahan Gestapo 22 Feb 1944. Pertama dideportasi ke kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz Polandia, Buchenwald, Flossenburg Jerman, akhirnya Terezín, wilayah pendudukan Cekoslowakia 1945, di mana Desnos meninggal (dalam “Malá pevnost” tahanan politik).

Menikahi Youki Desnos, sebelumnya Lucie Badoud, dijuluki Youki artinya salju oleh kekasihnya Tsuguharu Foujita, sebelum meninggalkan suaminya demi Desnos. Menggurat beberapa puisi baginya, yang terkenal Surat untuk Youki, ditulis setelah penangkapan. Dimakamkan di Montparnasse Paris. {ringkasan terjemahan dari //en.wikipedia.org/).
***

Desnos dijebloskan ke kamp konsentrasi Nazi atas corak tulisannya membahaya, dan bergonta-ganti nama serupa bayang dipengaruhi cahaya perlawanan.

Atau dengan bayang-bayang dirinya ingin lepas dari ikatan kesadaran yang berkecamuk dalam peperangan.

Dapat dibilang nalar surealis mampu bertahan sedari keriuhan intrik politik, fitnah kebencian antara sesama.

Nalarnya mencipta dalam kondisi kemerah menelisik bagai bara tidak tertangkap, namun menentukan suhu udara sekitarnya.

Yang bertumpuk sengkarut diluruskan dengan tekukan mengagumkan perasaan pun menggugah fikiran tegak antara terpaan badai hayat melantakkan kemanusiaan.

Aliran surealis angkat kenyataan ke panggung tak terpecah oleh keterkejutan datangnya mimpi tidak tersangka.

Dalam tidur atau setengah, dialognya mengguna alat indrawi pun non indrawi, dibuhul ke sebuah karya menembus kelanggengan yang masih diselimuti kabut kehidupan.

Bukan mengada-ada tampilan berangkat dari dasar terdalam bersatunya nalar-hati akal-perasaan, wataknya selalu mewarnai perubahan bergolak menggelinding setiap jaman.

I
Kini kumulai tafsirkan puisi Desnos dua baris dua baris, semoga berkenan: kerasnya hidup dipenuhi keganjilan nyata, yang bersulaman benang sulit ditangkap secara cermat.

Hanya perkiraan menggapai realitas, meski sampai tetap bersimpan anomali. Betapa keras perjuangan menuju impian di ujungnya lelah istirah membuyar, menggayuh usaha mendapati kehadiran.

Rasa nikmat pengertian masih dihantui perasaan lain mencari, betapa jalanan dilalui naik-turun menikung-mendaki, kaki-kaki membatu tetap tergoda angan jauh.

Mengejar suara berpantulan ke tebing-tebing jurang tiada tertangkap jasad. Begitulah mengada, memetik hayat satu persatu dengan rupa selagi bicara tetapi masih tertutupi kebodohan, kepicikan pula kesilapan.

Desnos berusaha mengangkat batu tinggi-tinggi mengharap jawaban tubuh juga orang lewat. Di kedalaman dirinya memanggul daya yang kadang sirna lantas kemuncul.

Kesadaran dan angan jauh ke batas diimpian, bimbang menelusup pelahan, keraguan suatu saat jadi musuh bebuyutan bagi tak tega memenggal pahit perpisahan.

II
Meski bersahabat Picasso telisiknya tetap surealis, bukan bentukan kubisme di mana sajak menjelma pahatan kata tentukan irama makna.

Ruh ruhaniah puitika dikejarnya, warna mengambang sebayangan awan ikuti gairah kesemangatan gagasan.

Kecintaan pada sosok wanita kesetiaan jalan pencarian pribadi, leburkan diri tak tersisa. Bukan kesungguhan lagi tapi kepasrahan bergelayut prosesi persembahan.

Bayang-bayang hasil kebendaan ditimpa cahaya dan tetap hidup meski tiada perhatikan, getar lembutnya atas tiupan bayu. Maka selain cahya, hasrat tentukan membayang atau menyuntuki ketenangan.

Tempat lain bayang-bayang berarti angan dikehendaki, kedekatan kasih memungkinkan berpadu seirama yang diharap mendekat sendiri, dalam pergumulan mesra jiwa-jiwa mengeja demi terejawantah.

Umpama pertemuan awal keberuntungan tengah terjadi. Desnos menukar tubuh dengan bayangan pengertian dan pemahaman jadi mengetahui yang digayuh melestarikan nilai.

III
Desnos menjelma pergerakan, ketentuan sikap perjelas faham dijalur sesak pandangan kawan maupun lawan. Sedesas-desus menanjak sekasuistik tebarkan polemik.

Hidup sebayang-bayang nilai antara nilai, buku-buku tertata rapi di perpustakaan nalar manusia bergerilya fikirannya dalam kancah perubahan.

Membiak kesatuan pergerakan surealis, memberontak nalar profan menghapus jejak mental korup bersegala jiwa sepaduan warna senja pun fajar kemerah.

Mungkin sajak tersebut selepas penangkapan, dijebloskan di penjara dikurung masa tak tentu bebasnya.

Tubuh terkucil pengaruhi bayang keabadian sederajat nalar mendidih sebara api revolusi terombang-ambing angin realitas serta impian jauh.

Perjuangan kehendak total segairah bathin menentukan nilai tetap ada, seperti bayang mewangi atas kehadiran malam bersedekap hangat.

Dan pengertian ribuan kali perjuangan digasak realitas kian nanar, menghujam pedas menghuni keyakinan.

IV
Kehadirannya menyerupai bayang-bayang niscaya, tatkala masih menggunakan indra perasa pun mata.

Wujudnya mengikuti benda atau niatan kuat mandek menstupa, sedari segugus pemahaman silih berganti atas empunya, bisa juga keduanya berpengaruh.

Jikalau diambil garis pintas, Desnos leburkan diri dalam kuasa matahari, keseluruhannya menghidupi bayangan di bumi.

Inilah makna balik kesungguhan mendekap bayang berkehendak menjelma bayangan terus menghidupi makna kehadiran cahaya.

Demikian kutafsir, andai ada yang lewar (keluar) kuharap bukan kekenesan, tapi usaha merangkul pengertian guna tiada luput pengamatan, syukur bila dapat memberi kesegaran dalam menggumuli hayat.

Sastra dan Pembentukan Identitas Bangsa

Harfiyah Widiawati*
http://www.pikiran-rakyat.com/

Perbincangan mengenai sastra dan kebangsaan bukanlah hal yang baru. Kedua entitas tersebut memang terkait erat. Beberapa topik yang sering dibahas di antaranya adalah peran serta sastra dalam membentuk gagasan tentang sebuah bangsa. Peran serta sastra atau lebih luasnya lagi tulisan-tulisan cetak, dalam membentuk nasionalisme negara-bangsa Asia dan Afrika, misalnya telah dibahas oleh Benedict Anderson dalam Imagined Communities. Dalam konteks Indonesia, munculnya majalah dan koran terbitan Sino-Cina dan Indo-Eropa di akhir abad ke-19 membantu menyebarluaskan gagasan-gagasan revolusi di Eropa, yang akhirnya menjadi cikal bakal munculnya semangat persatuan dan perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Tulisan Teeuw dan Goenawan Mohamad membahas betapa lembaga penerbitan, Balai Poestaka, dirintis pemerintah kolonial Belanda untuk membudayakan nilai modern ke dalam masyarakat Indonesia tradisional. Nilai-nilai modern disebarluaskan dan dikemas dalam bentuk bacaan yang “menghibur” dan “mendidik” pembacanya. Penyensoran dilakukan oleh Balai Poestaka untuk menyeleksi bacaan yang layak terbit dan dibaca di tanah Hindia. Maka tak heran bila karya-karya sastra terbitan Balai Poestaka memiliki tendensi untuk tidak kritis terhadap kolonialisme Belanda.

Begitulah bahasa yang mengejawantah dalam karya-karya sastra selalu mempunyai dua sisi. Pada masa kolonial ia bisa digunakan oleh orang-orang pribumi untuk membentuk nasionalisme, tetapi pada saat yang sama juga bisa digunakan oleh pemerintah kolonial untuk melanggengkan penjajahan. Bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia dianggap dapat mempersatukan para pemuda yang berjuang di tanah yang sama. Dengan menggunakan bahasa Melayu Indonesia ini, para sastrawan dari berbagai pulau dapat berbagi perasan ketertindasan, yang mereka alami, secara nasional. Namun, bahasa tersebut memiliki keterbatasan karena tidak bisa mewadahi perasaan-perasaan intim lokal yang hanya dimungkinkan oleh bahasa daerah.

Pada masa pascakemerdekaan karya sastra yang muncul dilihat oleh Maier (dalam Foulcher dan Day, 2002) merepresentasikan kecemasan pascakolonial. Transisi ke modernitas dan ke identitas negara bangsa menimbulkan kegamangan. Makna dari kemerdekaan tersebut dipertanyakan. Apakah artinya Indonesia? Bila sebelumnya nasionalisme dilihat dalam kerangka patriotisme atau narasi besar lainnya, kini nasionalisme dilihat dari kacamata yang lebih sehari-hari, banal. Hal ini tercermin dalam bahasa karya-karya sastra yang lebih eksperimental. Bila dalam karya Balai Poestaka bahasanya lebih teratur, kaku, dan seragam, dalam karya pascakemerdekaan bahasanya lebih longgar, terpecah, dan inkonsisten karena sedang mencari akar budaya dan kenyamanan yang nanti menjadi identitasnya.

Banyak persoalan yang dapat dibahas mengenai kesusastraan modern pascakemerdekaan. Misalnya kritikus sastra dapat menggarisbawahi pembentukan kanon sastra (canon formation) dalam hubungannya dengan pembangunan bangsa (nation building). Karya-karya yang menjadi kanon, dipelajari dan dibahas di institusi akademis, pembahasannya diterbitkan di media nasional seringkali paralel perkembangannya dengan projek pembangunan bangsa. Karya sastra yang dapat bertahan bukan saja karya yang memiliki kualitas formal sastra yang tinggi, melainkan juga karya yang dapat bersaing secara ekonomi, politis, dan sosial. Ambilah contoh kanonisasi pada masa Lekra. Karya sastra yang dapat bertahan adalah karya yang mengusung gagasan sosialisme, yang berbentuk realisme sosial; sastra menjadi alat propaganda politik. Munculnya manikebu sebagai reaksi atas politisasi sastra ini dapat dilihat sebagai upaya kontestasi terhadap definisi kebangsaan yang dibangun oleh Lekra.

Demikian pula dalam kondisi sastra kontemporer Indonesia. Munculnya kontestasi terhadap sastra Utan Kayu, sastra wangi, sastra pesantren, chicklit, dan teenlit, dapat dilihat sebagai beragamnya cara memaknai dominasi, cara memaknai normalitas, cara memaknai diri, cara memahami semesta yang ditempati oleh diri. Pada akhirnya “cara memahami” ini tidak bisa dilepaskan dari konteks kebangsaan karena bangsa merupakan elemen yang beranggotakan individu; identitas bangsa adalah identitas kelompok yang terbentuk dari jalinan identitas individu.

Dengan demikian, banyaknya individu yang menulis tema tertentu, menunjukkan kondisi bangsa pada masa tersebut. Bila banyak sastrawan yang menulis tema mesianisme maka dapat dilihat kerinduan sekaligus ketidakmampuan anak bangsa untuk menciptakan kondisi ideal; bila banyak penyair menulis dengan menggunakan genre tertentu, puisi romantik misalnya, terlihat pula pengharapan penyair tersebut akan transendensi melalui mediasi alam. Dominasi sastra kanon dari latar budaya tertentu juga membangun sikap bangsa tertentu. Dominasi budaya Hindu-Jawa dalam karya-karya sastra Orde Baru, misalnya, membangun sikap-sikap patuh terhadap penguasa, pasrah (nrimo) terhadap takdir.

Demikianlah sastra bukan hanya menjadi representasi dari semangat zamannya, sastra dapat menjadi alternatif untuk memahami kondisi suatu bangsa. Sejarah suatu bangsa tidak hanya dapat dilihat dari buku sejarahnya, atau dari tulisan-tulisan di jurnal, koran dan majalah nasional. Sastra mengungkapkan hal-hal banal yang tidak bisa diungkapkan oleh buku sejarah ataupun undang-undang dasar sebuah bangsa. Sastra menampakkan yang oleh Williams disebut sebagai structure of feeling suatu bangsa. Oleh karena itu, untuk memahami identitas bangsa, bacalah karya sastra yang diproduksi oleh bangsa tersebut.***

*) Penulis, pengajar pada Program Studi Sastra Inggris Universitas Padjadjaran.

Pengikut