Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2010

Charles Baudelaire (1821-1867)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=380

MABUKLAH!
Charles Baudelaire

Meski selalu mabuk. Terang sudah: itulah masalah satu-satunya. Agar tidak merasakan beban ngeri Sang Waktu yang meremukkan bahu serta merundukkan tubuhmu ke bumi, mestilah kau bermabuk-mabuk terus-terusan. Tetapi dengan apa? Dengan anggur, dengan puisi, dengan kebajikan, sesuka hatimu. Tetapi mabuklah!
Dan jika sembarang waktu, di tangga istana, di rumput hijau kamalir, dalam kesepian guram kamarmu, kau tersadar dan merasakan mabukmu sudah berkurang atau menghilang, tanyakanlah pada angin, pada gelombang, pada bintang, pada burung, pada jam, pada segala yang lari, pada segala yang merintih, pada segala yang berputar, pada segala yang bernyanyi, pada segala yang bicara, tanyakan jam berapa hari, dan angin, gelombang, bintang, burung, jam bakal menjawab: “Inilah saatnya untuk mabuk! Untuk tidak menjadi budak siksaan Sang Waktu, mabuklah; bermabuk-mabuklah tanpa henti-hentinya! Dengan anggur, dengan puisi atau ke…

Novel Perjuangan Kemerdekaan

Sunaryono Basuki Ks
http://www.sinarharapan.co.id/

Perang Kemerdekaan 1945-1949 banyak diungkap oleh para sastrawan yang sering digolongkan sebagai Angkatan 45. Mereka mengungkapkan gejolak perjuangan itu sebab mereka memang terlibat dalam peristiwa tersebut. Mochtar Lubis menulis novel Jalan Tak Ada Ujung yang berkisah tentang sepak terjang pejuang di sekitar Jakarta. Pramoedya Ananta Toer juga menulis Perburuan, Mereka yang Dilumpuhkan,dll.

Yang menarik perhatian kita justru sejumlah novel yang menggambarkan kiprah para pejuang yang ditulis oleh seorang yang sebelumnya tak dikenal sebagai sastrawan, apalagi sebagai novelis. Namun, ternyata karya-karyanya mencengangkan, bukan lantaran deskripsinya yang jelas tetapi karena pengarang ini menulis sejumlah novel yang satu dengan yang lain saling kait-berkait.

Dia adalah Pandir Kelana, seorang pelaku Perang Kemerdekaan yang meniti karier militernya sampai berpangkat Mayor Jenderal. Nama aslinya RM Slamet Danusudirdjo adalah bekas pejuang yang…

Nyai Ontosoroh: Hikayat Perlawanan Sanikem

dari novel BUMI MANUSIA karya Pramoedya Ananta Toer
Rakhmat Giryadi
http://teaterapakah.blogspot.com/

BABAK I

Setting : Dekat Pabrik Gula Tulangan

ADEGAN 1
Orang-orang sedang bekerja, hilir mudik, membawa karung-karung (gula) dan juga batangan tebu dengan geledekan. Mereka bertelanjang dada. Tubuhnya hitam. Ada yang kekar. Tetapi ada juga yang kurus kering.

ADEGAN 2
Seorang Juragan (Mandor), dikawal oleh dua budaknya. Dengan berkacak pinggang, Mandor itu menuding-nuding, bahkan terkadang menendang para budak. Sementara di tempat yang berbeda anak-anak perempuan yang masih remaja, berlarian. Ibunya, mengikuti dengan isak tangisnya. Seorang laki-laki dengan kasar menangkap satu di antara mereka yang melarikan diri. Anak itu meronta-ronta. Tak ada yang berani melawan. Mereka hanya bisa menyaksikan dengan sedih. Laki-laki kasar itu itu menyerahkan anak itu kepada seorang Mandor. Dengan imbalan seketip dua ketip, mereka melepaskan anak itu dibawa Mandor, entah kemana?

ADEGAN 3
Upacara menjadi dewasa…

Mencari Bangsa di Dalam Sastra

Manneke Budiman
http://www.pikiran-rakyat.com/

Dalam berbagai diskusi dan perdebatan tentang sastra dan kebangsaan, kerap terbentuk opini atau kesan bahwa dalam khazanah sastra Indonesia modern, novel-novel Pramoedya Ananta Toer adalah contoh terbaik sekaligus klasik karya sastra yang berbicara tentang kebangsaan. Lebih jauh lagi, “derajat” kebangsaan karya-karya lain yang lahir pasca-Pram pun diukur dengan tetralogi Pram untuk dinilai kekentalan minat kebangsaannya.

Ini tentu saja bukan fenomena khas Indonesia. Dalam kancah sastra dunia, Salman Rushdie nyaris menjadi ikon bagi sastra tentang bangsa, dan ini dapat dimengerti mengingat kisah-kisah Rushdie kerap menjadi alegori bagi kisah-kisah tentang lahir dan matinya suatu bangsa. Dalam Midnight`s Children (1981), misalnya, kisah hidup tokoh utamanya yang sureal berlangsung paralel dengan kisah terpecahnya India menjadi dua bangsa.

Uncle Tom`s Cabin (1852), karya Harriet Beecher Stowe, meski bertutur tentang nasib para budak kulit hitam,…

YANG LIAN: Puisi adalah Kampung Halaman Saya

Pewawancara: Luky Setyarini
http://www.ruangbaca.com/

Ketika Revolusi Budaya dilancarkan di Cina antara 1966-1976, ada sekelompok penyair yang karena gaya puisinya yang sulit dipahami, seperti berkabut, disebut sebagai Misty Poets. Salah satu dari para penyair kritis yang aktif menulis di majalah Jintian (Today) itu adalah Yang Lian.

Lahir di Swiss pada 1955, ayah Yang seorang diplomat. Ketika keluarganya pulang kampung, Yang muda dikirim ke pedesaan Changping dekat Beijing, untuk mengikuti program reedukasi. Seorang putra diplomat yang berpendidikan tinggi memang diwajibkan belajar dari petani. Metode ini digunakan di masa Mao Zedong pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Selama tinggal di pedesaan, Yang mulai menulis puisi.

Sekembalinya ke Beijing, Yang bekerja di stasiun pemancar radio pemerintah. Pada 1979, Yang bergabung dengan kelompok penyair yang menulis untuk Jintian. Gaya puisi pria berusia 54 tahun ini berubah menjadi modern, eksperimental, yang jamak dipraktekkan para penyair…

Tembang Kesetiaan Ilalang

Judul Karya Resensi : “Tembang Kesetiaan Ilalang”
Judul Buku : “Tembang Ilalang”
Penulis : MD. Aminudin
Penerbit : Semesta (Kelompok ProU Media)
Harga : Rp. 52.000,-
Tebal : 509 halaman
Tahun terbit : 2008
Peresensi: Siti Irni Nidya Nurfitri S. Hum.
http://oase.kompas.com/

Tembang Ilalang merupakan novel berlatar belakang sejarah perjuangan bangsa Indonesia, yang mengisahkan tentang perjalanan cinta, Asroel dan Roekmini, yang selama belasan tahun terpisahkan oleh jarak. Perpisahan mereka disebabkan oleh situasi dan kondisi bangsa yang tidak menentu, yang memaksa mereka untuk menjalani jalan terjal kehidupan masing-masing.

Rangkaian kisah ini dimulai pada saat Asroel harus berpisah dari Istrinya, Roekmini, dan Ismail, anaknya, yang baru saja lahir. Asroel tersangkut masalah pelik. Ia terjebak pada fitnah pembunuhan istri dari seorang tangan kanan Belanda. Tentu, hal ini bukanlah suatu kasus sepele, yang segera dapat diredam dengan sekali penjelasan mengenai kronologis peristiwa.

Masa silam Asroel…

Satu Wajah, Dua Muka…

Damhuri Muhammad*
http://cetak.kompas.com/

Pekanbaru, Riau, 1954. Menteri Pendidikan dan Perkembangan Kebudayaan Mohammad Yamin berpidato. Tak lama selepas pidato itu, seorang lelaki naik panggung. Tanpa sungkan, ia menyanggah bahwa dalam urusan pendidikan, masyarakat Riau dianggap ”anak tiri” oleh pemerintah pusat. Buktinya, di Riau belum ada SMA negeri. Yamin tersinggung. Tergesa ia kembali ke Jakarta, tanpa sepatah kata pun. Beberapa hari kemudian, ia menyurati Gubernur Sumatera Tengah Marah Ruslan, sebagai pegawai pemerintah, tidak semestinya orang itu menggunakan istilah ’anak tiri’. Yamin meminta Marah Ruslan menyampaikan teguran itu.

Orang yang telah membuat Menteri Pendidikan (kabinet Ali Sastroamidjojo, 1953-1955) itu marah adalah Soeman Hs (1904-1999), pengarang dua roman penting; Kasih Tak Terlerai (1930) dan Mencari Pencuri Anak Perawan (1932). Tak banyak yang tahu, novelis kelahiran Tapanuli Selatan (kemudian menetap di Riau) itu juga pejuang pendidikan yang gigih. Di Riau, …

TSUNAMI DALAM PUISI PENYAIR ACEH

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Masa Lalu yang Agung

Aceh, pasca-tsunami adalah sebuah dunia baru. Paling tidak, ia mesti menjadi sebuah awal yang coba lahir kembali lewat serpihan dan serakan masa lalu yang mengagumkan dan sekaligus juga mengenaskan. Masa lalu Aceh yang mengagumkan tentu saja lantaran pada masa awal kedatangan Islam di Nusantara, Aceh menyimpan beragam peristiwa sejarah yang agung. Sebutlah beberapa nama di antaranya, seperti Hamzah Fansuri, Abdul Rauf Singkel dan Nurrudin Ar-Raniri. Bukankah mereka telah menjadi sebuah mitos dan ikon tentang perdebatan intelektual yang bersumber pada ideologi agama. Perbedaan tafsir dan pemahaman mengenai konsep Tuhan dan keberadaan-Nya sesungguhnya tidak lain sekadar usaha manusia untuk coba memahami Sesuatu yang berada di luar batas rasio. Tuhan bermukim entah di mana dan manusia bersikeras masuk ke wilayah metarasional itu. Maka, tafsir pun datang bersama perbedaan makna dan keyakinan. Dalam konteks itu, Aceh telah m…

Robert Desnos (1900-1945)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=359

SAJAK TERAKHIR
Robert Desnos

Begitu keras kau kumimpikan
Begitu banyak aku berjalan, begitu rupa bicara
Begitu kucinta bayang-bayangmu
Hingga bagiku dirimu tiada lagi tersisa
Tinggallah bagiku jadi bayang-bayang di antara bayang-bayang
Jadi seratus kali lebih bayang-bayang dari bayang-bayang
Jadi bayang-bayang yang datang dan datang berulang-ulang
Dalam hidupmu yang bersinarkan matahari.

{dari buku Sajak-Sajak Modern Perancis Dalam Dua Bahasa, disusun Wing Kardjo, Pustaka Jaya, cetakan II, 1975}

Robert Desnos (4 Juli 1900 - 8 Juni 1945), penyair Prancis berperan penting pergerakan surealistik di jamannya. Lahir di Paris putra pemilik kafe, kolumnis sastra surat kabar Paris soir.
Puisinya pertama muncul di media tahun 1917 di La Tribune des Jeunes, 1919 di avant-garde review dan Le Ciri d’serikat. Pada 1922 terbit buku pertamanya, koleksi surealistik aforisme berjudul Rrose Selavy.

1919 bertemu Benjamin Péret yang memperkenalkan kelompok Dada Paris …

Sastra dan Pembentukan Identitas Bangsa

Harfiyah Widiawati*
http://www.pikiran-rakyat.com/

Perbincangan mengenai sastra dan kebangsaan bukanlah hal yang baru. Kedua entitas tersebut memang terkait erat. Beberapa topik yang sering dibahas di antaranya adalah peran serta sastra dalam membentuk gagasan tentang sebuah bangsa. Peran serta sastra atau lebih luasnya lagi tulisan-tulisan cetak, dalam membentuk nasionalisme negara-bangsa Asia dan Afrika, misalnya telah dibahas oleh Benedict Anderson dalam Imagined Communities. Dalam konteks Indonesia, munculnya majalah dan koran terbitan Sino-Cina dan Indo-Eropa di akhir abad ke-19 membantu menyebarluaskan gagasan-gagasan revolusi di Eropa, yang akhirnya menjadi cikal bakal munculnya semangat persatuan dan perlawanan terhadap pemerintah kolonial. Tulisan Teeuw dan Goenawan Mohamad membahas betapa lembaga penerbitan, Balai Poestaka, dirintis pemerintah kolonial Belanda untuk membudayakan nilai modern ke dalam masyarakat Indonesia tradisional. Nilai-nilai modern disebarluaskan dan dikem…