Langsung ke konten utama

Anarkis itu Mati Secara Tak Kebetulan

Sitok Srengenge
http://majalah.tempointeraktif.com/
ANARKIS ITU MATI KEBETULAN
Karya : Dario Fo
Produksi : Actors Unlimited
Sutradara : Yayat Hendayana
Pemain : Yayat Hendayana, Mohamad Sunjaya, Fathul A. Husein
Tempat : Pusat Kebudayaan Prancis Bandung

Pada 1969 sebuah bom meledak. Kantor cabang Banca Nazionalle dell’ Agricoltura di Milan, Italia, porak-poranda. Giuseppe Pinelli, seorang buruh kereta api, ditangkap sebagai tersangka peledakan bom itu. Dalam proses interogasi Pinelli (di)jatuh(kan) dari jendela lantai tiga markas kepolisian Milan hingga tewas. Penyidikan lanjutan yang melibatkan para petugas hanya menghasilkan pernyataan polisi di pelbagai media massa dan laporan akhir yang diwarnai beragam kontradiksi dan inkonsistensi yang mengundang tanda tanya.

Setahun kemudian, 1970, Dario Fo, seorang aktor dan dramawan satiris-radikal, menulis lakon Anarkis itu Mati Kebetulan, yang merupakan refleksi transparan atas peristiwa itu. Dengan tokoh sentral “orang gila” yang menyaru sebagai Hakim Agung, Kepala Laboratorium Kriminal, dan Uskup Agung Vatikan, lakon ini menjadi sarana yang efektif untuk melakukan penelanjangan terhadap pernyataan polisi, membongkar praktek kolusi antara para jaksa, hakim, wartawan, dan pemuka agama, yang secara bersama-sama telah menjadi semacam sindikat yang menutup rapat kebenaran peristiwa itu. Lakon ini dinilai berhasil mengungkap kesewenangan dan ketidakadilan di masyarakat. Saratnya aspek politik lakon ini telah menjadi salah satu acuan Akademi Swedia dalam memenangkan Dario Fo sebagai penerima Hadiah Nobel Sastra 1997.

Akhir Februari silam, kelompok Actors Unlimited memanggungkan naskah tersebut berdasarkan terjemahan Antonia Soriente dan Prasetyohadi yang diterbitkan jurnal kebudayaan Kalam edisi 12, 1998. Pementasan yang berlangsung di Pusat Kebudayaan Prancis Bandung itu juga didukung Institut Kebudayaan Italia Jakarta.

Di luar problem klasik pementasan teater yang berangkat dari karya terjemahan, seperti ketidaksesuaian antara konteks cerita dan bahasa, kostum dan set, pelaku dan sosok para aktor, lakon ini tak diragukan lagi menyimpan potensi besar untuk tampil sebagai sajian yang memikat. Kelompok Actors Unlimited, melalui pentas berdurasi 2,5 jam (sungguh terasa lamban), boleh dibilang gagal atau kurang berhasil menggali seluruh potensi daya pikat itu. Kegagalan itu disebabkan oleh pilihan strategi pemanggungan mereka yang 100 persen ingkar terhadap pola artistik Dario Fo, yang menjadi syarat bagi upaya penghidupan lakon-lakonnya.

Tradisi teater Dario Fo merupakan aktualisasi dari commedia dell’arte, sejenis teater rakyat keliling yang berkembang di Italia dan menyebar ke segenap dataran Eropa selama kurun dua abad, pada paruh kedua abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18. Teater komedi ini hadir sebagai perlawanan terhadap commedia de corte, teater “resmi” yang direstui penguasa dan senantiasa pentas di gedung-gedung permanen. Panggung teater Fo adalah tempat-tempat publik, piazza, sehingga hampir tak ada jarak kognisi antara pemain dan penonton. Karakter Orang Gila dalam Anarkis itu Mati Kebetulan tidak lain adalah perwujudan roh tradisi giullare dari abad pertengahan, yakni sosok badut yang selalu meledek penuh parodi. Perwujudan itu nyata hadir lewat penampilan Fo yang hanya berdasar cerita berplot longgar, mengandalkan hafalan dan daya improvisasi, tanpa kostum, musik, maupun aneka mise-on-scene yang mewarnai teater gedongan. Dengan demikian, daya satiris, keluguan, dan kelucuan serta semua kemungkinan dinamika peristiwa teater berpeluang untuk mengemuka secara tak terduga.

Namun, pada pentas kelompok Actors Unlimited itu, bahkan jejak Dario Fo seakan lenyap tanpa bekas. Kesan yang hadir justru kemapanan Studiklub Teater Bandung: steril, setia pada naskah tapi kaku, set dan kostum yang realis, panggung prosenium yang berjarak dengan pengunjung.

Maklum, sebagian besar pendukung pentas itu, antara lain Yayat Hendayana (sutradara dan pemeran Orang Gila), Mohamad Sunjaya (Inspektur Kepala), dan Fathul A. Husein (Inspektur Bertozzo) adalah aktor Studiklub. Gaya pemanggungan seperti itu, akhirnya, seakan hanya melontarkan sederet hafalan, suasana yang mampat, dan kehilangan unsur komikal, serba tertib dan menjemukan.

Pentas bukannya menjadi medan penghidupan, melainkan pembunuhan karakter beserta sejarah sosialnya. Di sana para tokohnya mati, secara tidak kebetulan. Yang berharga dari pentas ini adalah upaya menghadirkan dan memperkenalkan suatu tradisi yang berbeda, di samping proses pemaknaan yang penting bagi para pendukungnya.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com