Langsung ke konten utama

‘Renaissance’ Kesusastraan

Prof Dr Faisal Ismail MA*
http://www.kr.co.id/

SALAH satu ciri khas Yogyakarta adalah sebagai kota budaya. Antara tahun 1960-an sampai 1980-an, Yogya dihuni seniman, sastrawan dan budayawan yang mempunyai reputasi yang sangat baik dan menonjol di pentas nasional karena bobot kreativitas dan ajang aktivitasnya yang berkualitas tinggi.

Di bidang sastra, nama-nama sastrawan yang patut disebut antara lain: Motinggo Boesye (novelis), WS Rendra (penyair), Darmanto Jatman (penyair), Kuntowijoyo (novelis), Rahmat Djoko Pradopo (penyair), Umbu Landu Paranggi (penyair), Abdul Hadi WM (penyair), Emha Ainun Najib (penyair), Linus Suryadi AG (penyair) dan Korrie Layun Lampan (penyair dan novelis).

Di bidang teater, nama-nama mereka yang menghiasi kerja seni antara lain WS Rendra, Chaerul Umam dan Syu’bah Asa, Arifin C Noor, Azwar AN, dan Masbuchin. Dengan Bengkel Teater Rendra antara lain mementaskan ‘Menunggu Godot’ dan ‘Kasidah Barzanji’, sementara Teater Muslim menggelar ‘Prabu Salya’.

Selanjutnya, Bagong Kussudiardja sangat terkenal di bidang seni tari Jawa dengan olah improvisasinya yang sangat menarik dan mengesankan. Beliau berimprovisasi dengan mengawinkan unsur tradisionalitas dan modernitas dalam olah seni tari. Beliau memiliki padepokan tersendiri untuk mengembangkan kreativitas seni tarinya.

Di bidang seni lukis, nama-nama seperti Amri Yahya (dengan Sanggar Putihnya), Fajar Sidik dan kawan-kawannya mengharumi dunia seni lukis. Perlu juga dicatat nama Dick Hartoko, seorang penulis kebudayaan yang kreatif dan terkenal serta mengasuh secara tekun majalah kebudayaan Basis yang berkantor di Jalan Abu Bakar Ali.

Demikianlah perkembangan sastra, seni dan budaya di Yogya antara 1960-an sampai 1980-an. Setelah itu, perkembangannya menunjukkan arah yang menurun. Bahkan di mata orang yang pesimis, perkembangan sastra, seni dan budaya di Yogya mengalami kelesuan. Rendra, Chaerul Umam, Syu’bah Asa, Arifin C Noor, Masbuchin dan Korrie hijrah ke Jakarta. Darmanto Jatman jadi dosen di Undip Semarang. Umbu Landu Paranggi memilih tinggal di Bali. Bagong dan Amri Yahya wafat.

Kesenian dan kebudayaan di Yogya mulai mengendor. Para pekerja seni seperti Emha Ainun Najib, Butet Kertaradjasa, dan kawan-kawan yang lain tetap melanjutkan kerja-kerja seni mereka di Yogya.
***

KHUSUS tentang perkembangan sastra di Yogya pada masa 1960-an sampai 1980-an, keadaannya sangat mengesankan. Rendra, Darmanto Jatman, Kuntowijoyo, Abdul Hadi dan Umbu Landu Paranggi sangat aktif menyelenggarakan diskusi puisi. Karya-karya mereka sering muncul di majalah Sastra dan Horison. Mereka membaca puisi di Malioboro di bawah pohon asam dalam rangka memperingati Hari Chairil Anwar. Mereka menggelar poetry reading di kampus-kampus universitas.

Penerbitan kumpulan puisi, baik yang diusahakan sendiri dalam bentuk stensilan maupun yang diterbitkan oleh penerbit profesional, bermunculan dari waktu ke waktu. Yogya menjadi lahan subur yang banyak memberikan inspirasi kepada sastrawan. Karya-karya Motinggo Boesye dalam bentuk novel dan roman dengan mutu sastra yang tinggi dihasilkan di Yogya.

Begitu pula, puisi-puisi Rendra dan sajak-sajak Abdul Hadi WM yang berkualitas tinggi digubah ketika mereka berdua tinggal di Yogya. Para sastrawan Yogya berhasil mengupayakan antologi sajak berjudul Tugu, sementara Linus Suryadi AG menerbitkan buku antologi puisi bertajuk Tonggak (diterbitkan oleh Gramedia Jakarta dalam beberapa jilid).

Nama yang secara khusus patut disebut dalam menyemarakkan kegiatan dan apresiasi sastra di Yogya adalah Umbu Landu Paranggi. Dia adalah pengasuh lembaran sastra di koran Pelopor Minggu yang berkantor di Jalan Malioboro 175A. Umbu sangat sederhana, santun, arif dan bijak. Dia adalah penggagas berdirinya Persada Studi Klub (PSK), suatu wadah yang menghimpun para pengarang muda Yogya.

Secara reguler, setiap hari Minggu, Umbu mengundang para sastrawan muda Yogya untuk bertemu di kantor Pelopor Minggu. Para pengarang muda yang terhimpun dalam PSK antara lain Teguh Ranusastra Asmara, Iman Budhi Santoso, Suwarno Pragolapati, Ahmad Munif, Soeparno S Adhy, Faisal Ismail, Jihaad Hisyam, Linus Suryadi AG, dan Emha Ainun Nadjib. Kami berdiskusi tentang puisi dan sastra pada umumnya.

Tidak hanya tentang proses penciptaan puisi, imajinasi dan kreativitas. Tetapi kadang-kadang juga kami berdialog tentang Tuhan, manusia dan kemanusiaan. Umbu juga pernah menbawa kami melakukan camping ke tempat-tempat tertentu atau ke pantai yang bernuansa imajinatif, inspiratif dan puitik guna mengasah kreativitas kami dalam proses penciptaan puisi. Setelah diseleksi, Umbu memuat sajak di lembaran Persada Pelopor Yogya bagi penyair pemula, dan mempublikasikan puisi di lembaran Sabana bagi penyair yang dianggap mulai ‘matang’. Demikian Umbu membimbing kami untuk menjadi penyair dan sastrawan yang kreatif.

Sebagai alumnus Yogya, saya menyambut baik ide untuk menggalakkan kembali kegiatan sastra di Yogya. Langkah-langkah yang hendak ditempuh oleh Dewan Kesenian Kota Yogyakarta (DKK) bekerja sama dengan Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga patut diapresiasi karena langkah demikian dapat mendobrak kelesuan kegiatan sastra di Yogya selama ini.

Mari kita lakukan revitalisasi dan refungsionalisasi kegiatan sastra di Yogya untuk mengembalikan kota ini sebagai kota seni, sastra dan budaya. Jika penggalakan ini sukses, citra Yogya sebagai penghasil seniman, sastrawan dan budayawan yang berkualitas tinggi dapat dipertahankan dan ditingkatkan ke depan. ‘Renaissance’ kesusastraan dan kebudayaan di Yogya hendaknya dirintis, diraih dan ditingkatkan.

*)Sejarawan dan budayawan, Dubes RI di Kuwait.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com