Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2011

Sitor Situmorang: Hanyut dalam Arus Waktu

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Kebisuan adalah unsur vital dari setiap sajak. Pesan, komunikasi atau pengaruh batin yang ingin diwujudkan melalui puisi berwadah kebisuan. Lubuk hati dan rasa adalah dasar yang ingin dicapai dengan kata-kata puisi, dengan sarana bahasa. Kepekaan akan puisi adalah kepekaan akan kebisuan…

–SITOR SITUMORANG, 1978

Sitor adalah penyair Indonesia sesudah Chairil Anwar yang paling produktif menghasilkan sajak dengan pengucapan prosa yang khas. Setiap tahun sajak-sajaknya muncul bagaikan luncuran waktu yang tak terbendung. Pada awal 1950-an, mungkin hanya Sitor penyair Indonesia yang paling banyak menerbitkan puisi. Pada era ini, Sitor menyebut proses kreatifnya sebagai arus waktu yang bergemuruh dan bergaung, yang bagaikan “tanggul jebol yang tak mampu dibendung”.

Untuk meminjam perumpamaan dari Takdir Alisjahbana dalam konteks lain, Sitor juga ibarat pohon beringin dengan tunas yang tumbah rimbun dengan akar yang meruah ke pantai kesadaran kemaknaan di …

Bukavu, Cerpen-cerpen Puitis Helvy Tiana Rosa

Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/Republika

Cerpen tak sanggup membatalkan Helvy Tiana Rosa dari seorang penyair.
Komentar pendek (endorsement) Putu Wijaya itu memang tidak tepat benar, tapi cukup mewakili gaya beberapa cerpen Helvy Tiana Rosa yang terkumpul dalam buku kumpulan cerpen terbarunya, Bukavu: puitis. Helvy tentu tidak bermaksud menulis puisi dalam Bukavu, tapi citarasa bahasanya sebagai penyair cukup mempengaruhinya dalam menuliskan cerpen-cerpennya, sehingga hasilnya adalah narasi-narasi puitis, yang kadang simbolik, konotatif, dan bermajas, layaknya baris-baris puisi.

Buku kumpulan cerpen Bukavu (Forum Lingkar Pena Publishing House, Depok, 2008) pun dibuka dengan cerpen yang di dalamnya ada kutipan puisi, yakni Pertemuan di Taman Hening, dan ditutup dengan cerpen, Jaring-jaring Merah, dengan narasi-narasi yang sangat puitis. Kutipan pada sampul Bukavu (dari cerpen Kivu Bukavu, hlm 193) juga berupa baris-baris yang sangat puitis:

Kivu, kau yang terindah
Bisik heming…

Anak Betawi Sebagai Sastrawan

JJ Rizal *
http://www.ruangbaca.com/

Betul juga Zefry Alkatiri, yang bilang dalam sajaknya, "Anda Memasuki Wilayah...", bahwa masuk wilayah Jakarta itu ada saja syaratnya. Disebutnya rupa-rupa tempat di Jakarta yang mesti dimasuki dengan rupa-rupa syarat. Kalau tidak, bakal ketiban pulung. Tetapi, dalam sajak itu Zefry tak menyebutkan kalau Jakarta pun menuntut syarat kepada teman-teman atau pendahulunya sesama sastrawan ketika mau masuk.

Jakarta, yang dianggap sastrawan seantero Tanah Air sebagai ikon modernitas, mensyaratkan mereka sebelum masuk untuk mencopot tradisi dan masa lalu yang dibawa dari kampung halaman. Tengoklah pengakuan Goenawan Mohamad. Ketika masuk Jakarta di tahun 1960, sebagai seorang penyair "kemarin sore" dengan segerobak ambisi sastra, ia mengaku mesti menggosok-gosokkan punggungnya hingga beberapa sisa masa lalu yang melekat seperti daki itu kikis, makin pudar.

Asrul Sani menghardik orang kampungnya supaya meninggalkan ia sendiri di Jakarta dan…

Wanita Jawa dan Bali, Konon dan Kini

Sal Murgiyanto
http://majalah.tempointeraktif.com/

Tirai tipis membelah ke samping panggung Gedung Kesenian Jakarta. Di belakangnya para pemusik gamelan Jawa dan Bali duduk berjajar, sementara di belahan depan 18 wanita penari beraksi mengisahkan kembali legenda-tragis Calonarang penuh percaya diri. Dua penari-penata tari wanita Indonesia, Retno Maruti dan Ayu Bulantrisna, berkolaborasi mengusung dua genre tari klasik: bedaya Jawa dan legong Bali, yang masing-masing merupakan representasi kecantikan wanita tradisi di kedua wilayah budaya.

Dalam pentas di Gedung Kesenian Jakarta, 18-19 November 2009, untuk Festival Schouwburg VIII, Maruti berperan sebagai Bahula, murid setia Empu Barada, dan Bulantrisna sebagai Mangali, putri cantik janda Dirah yang dalam dogeng dikenal sebagai Calonarang, sang juru tenung. Setia pada tradisi bedaya dan legong, tak seorang pria pun tampak di panggung depan. Semua peran-baik pria maupun wanita, baik saleh maupun bengis-dimainkan oleh wanita.

Tontonan tari s…

Teater Satu Tampil di Art Summit

Jodhi Yudono
http://oase.kompas.com/

Teater Satu Lampung terpilih mewakili Indonesia untuk mementaskan karya mereka dalam ajang Art Summit VI pada Oktober 2010 di Jakarta.

Manager Pertunjukan Teater Satu Lampung Imas Sobariah, di Bandarlampung, Rabu, mengungkapkan Teater Satu akan tampil membawakan naskah "Kisah-kisah yang Mengingatkan" karya Iswadi Pratama, dan mendapatkan jadwal pementasan pada 11-12 Oktober 2010.

"Ini adalah karya kotemporer terbaru Teater Satu, mengingat pada ajang itu semua grup teater diminta menampilkan karya kotemporer mereka," kata dia.

Imas menceritakan, sebelumnya pihaknya menawarkan sejumlah karya untuk dipentaskan di ajang Art Summit 2010, diantaranya "Aruk Gugat" dan "Kisah-kisah Yang Mengingatkan", namun pilihan akhirnya jatuh pada kisah tersebut.

Sementara itu, penulis naskah dan sutradara "Kisah-kisah yang mengingatkan", Iswadi Pratama, mengatakan karya tersebut merupakan karya kotemporer terbaru yang mulai…

9 dari Leila

9 dari Nadira
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), 2009
Tebal: 282 halaman
Peresensi: Budi Darma
http://majalah.tempointeraktif.com/

Ketika pada akhir tahun 1990-an Anwar Ridhwan, sastrawan Malaysia, menerbitkan Naratif Ogonshoto, publik sastra bertanya-tanya, apakah buku ini sebuah kumpulan cerpen atau novel. Kalau buku ini dianggap sebagai sebuah kumpulan cerpen pasti tidak keliru, sebab dalam buku ini ada 10 cerpen. Tapi, karena ternyata semua cerpen diikat oleh benang merah yang sangat mencolok, tidak keliru manakala buku ini dianggap sebagai novel.

Selaku pengarang, Leila S. Chudori pun boleh-boleh saja menganggap buku ini sebagai kumpulan 9 cerpen, namun pembaca mempunyai hak untuk menganggap buku ini sebuah novel. Dianggap sebagai kumpulan cerpen, karena masing-masing bagian dalam 9 dari Nadira seolah-olah berdiri sendiri. Jeda antara penulisan satu cerpen dan cerpen lainnya pun makan waktu panjang. Ada bagian yang ditulis pada 19…

Pentas Puitis Teater Satu

Ags. Arya Dipayana
http://majalah.tempointeraktif.com/

Kalau saja jalanan itu tak pernah ada, mungkin
kau tak akan melintas di sana dan bertemu aku. Tetapi jalanan itu terlanjur ada, maka bermulalah semuanya-kisah-kisah itu: harapan dan kecemasan itu....

Teater bisa dibicarakan melalui dua pendekatan, yaitu sebagai gagasan dan sebagai tontonan. Gagasan-yang dalam hal ini bisa berupa naskah atau tafsir atas naskah-merupakan desain atau rancangan dari titik mana seorang sutradara memulai kerjanya dalam suatu proses produksi. Tontonan merupakan penuangan atas rancangan, yang hasil akhirnya dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Tempat penyelenggaraan, materi yang tersedia, atau waktu pengerjaan menjadi unsur penting dalam pelaksanaannya.

Pertunjukan Teater Satu Lampung bertajuk Kisah-kisah yang Mengingatkan�90 Menit yang Hilang Darimu, yang dipergelarkan di Salihara, 20-21 November 2009, menarik dibicarakan dengan kedua pendekatan itu. Justru karena Iswadi Pratama, sutradaranya, adalah sekaligus p…

Ada Apa dengan Para Sastrawan Lampung?

Dahta Gautama*
http://www.lampungpost.com/

PERKEMBANGAN dunia sastra di Lampung memasuki tahun 2000 hingga 2005 begitu gegap gempita. Setidaknya, ada 8 penyair dan cerpenis yang lahir pada rentang waktu itu. Untuk sekadar menyebut beberapa nama antara lain Jimmy Maruli Alfian, Inggit Putria Marga, M. Arman. AZ, Dyah Indra Mertawirana, Ardiansyah dan Alex R. Nainggolan. Memasuki tahun 2004 tiba-tiba ‘menohok’ seorang Lupita Lukman. Penyair perempuan ini begitu tiba-tiba langsung ‘bermain’ di koran nasional. Ada juga Y. Wobowo penyair asal Yogya yang kembali ke kampung halaman (Lampung) dan konsisten menyajikan suasana lokal dalam sajak-sajaknya.

Para sastrawan Lampung terkini itu lahir setelah era Iswadi Pratama, Ahmad Julden Erwin, Panji Utama, Budi P. Hatees, dan Udo Z. Karzi. Sempat ada kevakuman setelah era Iswadi dkk. Kevakuman itu sempat menjadi semacam kekhawatiran para pelaku sastra sebelum era Iswadi. Rentang tahun 1992–1996 Iswadi dkk begitu produktif menulis dan mempublikasikan…

Ketika Musik Melawan Narkoba

Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/Republika

Musik, di kalangan anak muda perkotaan, kerap tak terpisahkan dari miras dan narkoba. Tapi, kali ini benar-benar beda: musik justru dijadikan media untuk melawan miras dan narkoba. Inilah yang dilakukan oleh Himpunan Musisi Jakarta (HMJ).

Berkolaborasi dengan Creative Writing Institute (CWI) dan Majelis Dzikir Nurul Mustofa, mereka menggelar pertunjukan spektakuler di Plasa Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenegpora), Senayan, Jakarta. Menegpora Adhyaksa Dault, yang melihat gerakan anak-anak muda itu sejalan dengan program lembaga yang dipimpinnya, mendukung penuh gerakan tersebut.

Adalah Ketua HMJ Romi Kurniawan, Leader HMJ Mey Suyana, dan Direktur CWI Hudan Hidayat yang memotori pertunjukan itu, dengan dukungan penuh Menegpora Adhyaksa Dault dan pimpinan Majelis Dzikir Nurul Mustofa Habib Hasan bin Dja’far Assegaff. Mereka memanfaatkan even tahunan, Festival Kreativitas Pemuda 2006, yang digelar oleh Kementerian Negara Pem…

Afrizal Malna: Puisi dan Geometri Ruang Imajiner

Asarpin
http://asarpin.blogspot.com/

Setiap yang saya lakukan harus ada rasionalisasinya… Sebab saya tak mau terombang-ambing dalam wilayah yang cenderung tak bertuan.
–AFRIZAL MALNA, dalam esai ”Proses Kreatif”, dimuat dalam bagian akhir buku himpunan puisi Kalung dari Teman.

Dan waktu adalah air
–AFRIZAL MALNA, fragmen puisi ”Fanta Merah untuk Dewa-dewa”

Untuk membuat sebuah lukisan, tak perlu harus menggunakan kuas dengan cat aneka warna. Penyair bisa melukis lewat sajak ke dalam benak pembacanya melalui perkakas bernama kata-kata. Ia bisa memvisualkan kata-kata sambil menyuguhkan gambar dalam pikiran pembaca.

Afrizal Malna, penyair yang muncul pada awal 1980-an ini, termasuk salah satu penyair yang dengan intens membuat puisi bagaikan melukis dengan kata-kata. Ia berusaha menyuguhkan puisi kepada pembaca dengan memvisualkan dan menggambarkan kata-kata dengan merdeka, atau kata-kata sengaja dihadirkan sebagai gambar-gambar.

Sejak buku himpunan puisi Arsitektur Hujan, sudah tampak k…