Jumat, 13 Januari 2012

Menjewer Kuping Taufiq Ismail

Membaca ‘kedangkalan’ logika Dr. Ignas Kleden? (bagian X kupasan ketiga dari paragraf keduanya)
Nurel Javissyarqi
http://sastra-indonesia.com/

Sebelum masuk bagian ini, izinkan menulis perihal keheranan saya pada penyair atau yang mengakuinya, namun ungkapannya telah melampaui batas sejarah kodrat iradat insani. Oleh sangking keterlaluan menggumuli kata, seakan ‘kata’ menjelma sekutu terbaik, seolah gerak hasratnya mampu memerintah kalimat, bahasa sedari kekuasaan hidup dengan pandangan sebelah mata, tidak menengok profesi lain juga memakainya. Atau hilaf tak merasai gerakan terlembut kehidupan dari Sang Maha Hidup yang senantiasa mengatur segenap indra, mengurus planet-planet beserta peredaranya, tak terkecuali menghadiahi nafas bagi tukang-tukang syair.

Sanktuari: Syarah atas Caping

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Stephen Hirtenstein, yang sangat mengagumi Ibn Arabi, menyebut pemikiran sebagai “tamu dari langit yang melintasi ladang hati”. Dalam hal ini, pemikiran tak cuma mengacu kepada proses otak, atau sesuatu yang dapat kita pikirkan, atau kita renungkan. Pemikiran mengindikasikan sesuatu yang muncul dari keheningan batin, setiap saat dalam diri kita, di dalam kesadaran batin kita.

Buku Raja Tebalek Diluncurkan untuk 18 Tahun Teater O

Ekky Siwabessy
http://www.insidesumatera.com/

Untuk menyambut kelahiran Teater O yang selama ini telah memberikan warna dan gairah teater, utamanya dalam lakon komedi satire di Medan khususnya, dan Sumatera Utara pada umumnya, maka pada Sabtu, 24 Oktober 2009, diluncurkanlah buku kumpulan naskah berjudul “Raja Tebalek”. Peluncuran tersebut bertempat di Ruang Serba Guna Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.

Ironi Barat dan Islam

Hasnan Bachtiar *
__Shohifah SM Edisi 1 – 2012

ISLAM itu adalah dua hal. Pertama, adalah agama, sedang maknanya yang lain adalah ilmu. Dua kesimpulan ini terangkum jelas dalam ayat-ayat al-Qur’an, maupun Sunnah Rasulullah sebagai cahaya-cahaya yang menerangi.

Namun sayang, sebagian golongan tidak pernah mengakui bahwa Islam itu adalah ilmu yang mulia. Bahkan, pengetahuan mereka hanya sebatas bahwa Islam hanyalah citra kebengisan, kepentingan politik dan iman masyarakat tribal, seolah belum pernah meraih peradaban. Itulah ironi, dari arogansi pengetahuan sebagian ummat. Suatu bentuk pengingkaran yang nyata.

Sajak-Sajak Nurul Hadi Koclok

http://sastra-indonesia.com/
HAMPA

Masih juga hampa
Nyala matamu dusta
Tapi segala gerak peristiwa
Lebih suka memperkosa;
Menelanjang hatiku:
UntukMu

Pengikut