Rabu, 22 Oktober 2014

Sastra Indonesia Mutakhir: Jejak Historis dan Kecenderungan Estetiknya

Jamal T. Suryanata
http://tuasmedia-2.blogspot.com/

/ 1 /

Memperbincangkan ihwal sastra Indonesia mutakhir, sebagai suatu tema besar, tentu saja bukan sebuah persoalan yang tanpa risiko. Di samping karena begitu luasnya cakupan pengertian “sastra Indonesia” itu sendiri, juga dilantarankan oleh ketakrifan istilah “mutakhir” yang digunakan dalam judul tulisan ini memang cenderung bermakna bias (baca: bersifat deiktis). Oleh karena itu, sekadar upaya penyederhanaan konseptual, istilah “sastra Indonesia” dalam konteks ini hanya akan merujuk pada karya-karya sastra yang ditulis dalam bahasa Indonesia; sedangkan istilah “mutakhir” lebih dimaksudkan untuk menunjuk perkembangan sastra Indonesia sepanjang lebih-kurang sepuluh tahun terakhir, sejak memasuki tahun 2000 hingga sekarang (dekade pertama abad ke-21).[1]

Tradisi dan Bakat Individu

Saut Situmorang
http://boemipoetra.wordpress.com/

Seorang komentator sastra dari Jakarta, Nirwan Dewanto, pernah membuat pernyataan asersif bahwa novelis Ayu Utami tidak terlahir dari sejarah sastra Indonesia. Latar-belakang pembuatan klaim ini, mudah kita duga, adalah reaksi luar biasa yang timbul dalam sastra Indonesia setelah publikasi novel pertama Ayu, Saman, dari kalangan “kritikus” sastra di Indonesia, yang dalam komentar mereka rata-rata memakai istilah-istilah superlatif seperti “dahsyat”, “kata-kata…bercahaya seperti kristal”, “tak ada novel yang sekaya novel ini”, “superb, splendid”, dan “susah ditandingi penulis-penulis muda sekarang”, dalam mempromosikan apa yang mereka anggap sebagai “pencapaian” artistik Saman, seperti yang dicantumkan pada blurb di sampul belakang novel tersebut.

Kritik dari Para Komentator Sastra

Budi P. Hatees
Mimbar Umum, 20 April 2013

ACAP saya baca tulisan dari para akademisi sastra di Kota Medan yang dihasratkan sebagai kritik sastra. Mereka bicara, terutama, tentang cerpen-cerpen yang muncul secara kontinyu di ruang-ruang sastra media massa. Namun, setiap kali membacanya, mendadak saya merasa disedot ke dalam ruang kelas (kuliah) saat pelajaran sastra berlangsung.

Narsisme Kritik(us) Kritis Sastra Indonesia

Okta Adetya *
http://preteers.wordpress.com

Kritik sastra dewasa ini menemui titik fleksibilitas, artinya kegiatan kritik sastra mampu mempu mengekor perubahan dalam masyarakat. Lampau, kritik sastra identik dengan terbitnya sebuah buku kritik. Kemudian seiring mencuatnya geliat media massa, muncul kritik sastra dalam koran Minggu, majalah, atau media lain. Era digital tak pelak meniupkan ruh baru, terkait perkembangan pesat internet yang memunculan kritik sastra cyber. Meski demikian, nyatanya kritikus sastra kehilangan taring, sehingga dirasa masih sangat tidak memuaskan. Hal ini terjadi, kemungkinan besar ada korelasinya dengan ruang media. Sebuah buku berkaitan dnegan kritik sastra pasti akan mampu mengulas lebih banyak dan lebih mendalam mengenai karya sastra yang dikritik, dibandingkan beberapa kolom dalam media massa. Ketajaman dan kedalaman kritikus pun seakan terlibas oleh ruang. Sehingga kritik yang mereka lontarkan, tak lebih dari sekadar penceritaan kembali sebuah karya sastra.

Pascakolonialitas Katrin Bandel *

Ahda Imran **
http://boemipoetra.wordpress.com

/1/
Pascakolonialisme bukan sekadar sebuah deskripsi keadaan, tapi sebentuk perlawanan

BEGITU tulis Katrin Bandel. Perempuan kulit putih yang suatu hari membaca anekdot Gayatri Spivak tentang lelaki borjuis kulit putih yang tak mau bicara sebab sterotip yang telah dilekatkan padanya sebagai keturunan bangsa penjajah. Katrin Bandel, perempuan kulit putih kelas menengah Eropa itu, tiba-tiba merasa menjadi orang yang oleh Spivak diseru, “Kenapa Anda tidak mencoba untuk, sampai tingkat tertentu, menumbuhkan kemurkaan dalam diri Anda terhadap sejarah yang telah menuliskan naskah yang begitu keji, sehingga Anda tidak dapat bicara?”

Pengikut