Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2009

ANALITIK ANATOMI KESADARAN

Nurel Javissyarqi*
http://www.sastra-indonesia.com/

Gagasan kata ibarat ruang dan esensi kedalaman kalimah bagi masanya. Sama dengan penciptaan insan dalam rahim, yang terjadi segumpal daging lalu disusul tertiupnya ruh. Maka kesadaran awal dari sebuah gagasan ialah kata, bermakna tempat serta sadar ruangan.

Pengisian-pengisian ruang menggunakan masa, mencipta ruh manfaat atas kebertemuan ruang-waktu atau penciptaan yang bergerak masanya. Tubuh-tubuh, fenomena, peredaran, tampakan dari perubahan embrio menuju gagasan gemilang.

Semacam ide takkan lahir sebelum datangnya pandangan suatu hal. Kabut pengalaman, terik dan dingin perjalanan, menentukan watak penciptaan sebuah benua lebih tinggi; drajat ide.

Posisi terbangun dari kesadaran ruangan, diteruskan dalam logika rasa, lalu menjelma muatan ruh manfaat, sebagai padanan langit-bumi selalu mencari pembicaraan alam rasa kehidupan.

Sekilat tampak pandangan di atas tidak bersesuaian dengan awal pencipaan yang berangkat dari anganan cita. Tapi s…

Filosofis Kekuasaan dalam Fiksi Epik yang Eksotik

http://www.lampungpost.com/
Judul Buku : The Road To The Empire
Penulis : Sinta Yudisia
Penerbit : PT Lingkar Pena Kreativa
Cetakan : I/Desember 2008
Tebal : 586 hlm.
Peresensi : Umi Laila Sari

DALAM kata pengantar buku Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern, Maman S. Mahayana mengungkapkan bahwa dalam konteks kehidupan berbangsa, selayaknya jika para novelis atau sastrawan pada umumnya ditempatkan sebagai “pejuang moral”. Dengan keluasan wawasan, mereka–para novelis tersebut–berjuang terus demi mengangkat moral bangsa dan harkat manusia. Aspek pesan moral yang ingin disampaikan novelis lewat karyanya adalah kontribusi yang dimaksudkan tersebut.

Pada khazanah kesusastraan Indonesia, cukup banyak karya novel yang begitu sarat pesan moral khususnya pada periode awal perkembangan sastra. Sebut saja novel Azab dan Sengsara (1920) karya Merari Siregar yang ditempatkan sebagai novel pertama kesusastraan Indonesia modern. Meski pada perkembangan selanjutnya, muncul pula novel yang hanya mementi…

Dari Sastra ke Rupa ke Sastra

Sjifa Amori
http://jurnalnasional.com/

Seni rupa dan sastra bergulat mengemukakan pemaknaannya atas perang.
Perang menjadi titik perjalinan antara puisi, lukisan, dan instalasi dalam pameran Festival Salihara tahun ini. Pameran yang bertajuk Perang, Kata, dan Rupa ini memilih beberapa karya teks puisi dengan tema “perang” sebagai pusat perbincangannya. “Perang” ini akan dimulai dari pertempuran dalam makna sebenarnya hingga perang yang memuat pertikaian dengan diri sendiri. Seperti yang diutarakan penyair kenamaan Chairil Anwar dalam puisinya, Malam.

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
(Zaman Baru, No. 11-12, 20-30 Agustus 1957)

Perupa Putu Sutawijaya mereinterpretasi puisi ini sebagai bentuk sisi peperangan Chairil melawan sisi gelap ke-preman-annya. Putu menganggap bahwa peperangan selalu terjadi pada diri setiap orang. Energi peperangan pribadi inilah yang diangkatnya dengan men…

KEPADA YANG MELUPAKAN*

:Pengantar Antologi Puisi Penyair Perempuan Asas “Sihir Terakhir” (diterbitkan PUstaka puJAngga 2009)

Nenden Lilis A.**

Membuka lembar demi lembar antologi puisi yang ditulis para perempuan yang tergabung dalam komunitas ASAS dan menghikmatinya satu demi satu, saya seperti membuka lembar demi lembar album kenangan sekaligus sejarah perjalanan sastra perempuan kita. Dari tiap lembar album yang terbuka menganga itu seolah menjerit suara tentang perempuan, yang dalam sejarah atau segala hal lainnya selalu di “sunyi”-kan dan ditinggalkan waktu; dimarjinalkan dan didiskriminasi.

Saya ingin membuka sedikit gambaran itu dari pengalaman personal saya sebagai penyair yang berjenis kelamin perempuan. Kalau kemudian saya bercerita tentang hal itu dari kondisi kepenyairan di Jawa Barat, itu karena kebetulan saja saya berdomisili di Jawa Barat. Tetapi, saya yakin, bahwa gambaran ini adalah juga representasi kondisi perempuan di wilayah-wilayah lainnya.

Di Jawa Barat, baik dengan diam-diam, maupun deng…

Hudan Hidayat: Penyair Gita Pratama -misalkan Kita

Hudan Hidayat
http://ruangbelajar-crystalistgita.blogspot.com/

Andai-Andai

Anak Pedagang remote:

Jika nanti aku besar
Kujual sebuah remote warna perak
Hentikan lalu lalang manusiamanusia hilang

Agar tak lagi sibuk merubah channel
Kejar tayangan tivi warna suram terang
Lantas menggambar saja sendiri, mimpi

Anak Pedagang Bakso:

Jika nanti aku besar
Kubuat bakso raksasa mengganti bumi
Yang kata orang sebulat mataku

Dengan kuah pekat, mie lembut
Kaldunya berkelip serupa bintang
Di mangkok bergambar peri, ibu

Anak pedagang Jagung Bakar:

Jika nanti aku besar
Akan kupasang arang, fondasi gedung jagung raksasa
Tinggi, menjulang menikam-nikam langit

Asap bakar aroma magis
Kuhipnotis para penikmat jagung
Sabut dijadikan rambut, tubuhnya kaku
Umpati bonggol-bonggol sepi

Anak Pedagang Kopi :

Jika nanti aku besar
Akan kutumbuk biji kopi sendiri, balurkan di tiap jengkal tubuh
Agar samar di antara remang gelap

Diam-diam menyelinap di halaman buku bersampul putih
Di sana, aku menjadi kata-kata pengganti tinta

Sby, Maret-Mei 2009

d…

Darah Trah Dewata (Krisandi Dewi) Dan Perlawanan Cinta Perempuan Bali

Dino Umahuk*
http://perkosakata2009.wordpress.com/

Bukan maksud menyandingkan Novel “Tarian Bumi” karya Oka Rusmini dengan Puisi “Darah Trah Dewata” karya R. Mega Ayu Krisandi Dewi (Chaa) karena pada dasarnya keduanya berbeda. Yang satu novel yang satunya teks puisi. Yang satunya ditulis oleh sastrawan terkenal Oka Rusmini yang satu lagi ditulis oleh penyair pemula Chaa. Yang satu sudah sangat terkenal di ranah sastra yang satu sedang belajar menggeliat.

Lalu kenapa aku memaksakan diri untuk menautkan dua karya ini ke dalam tulisan yang kacau balau ini? Aku tentu punya alasan yan mungkin subyektif. Seperti kasta, dua karya ini ditulis oleh penulis dengan kelas yang berbeda. Namun menarik bagi aku karena kedua karya ini sama-sama ditulis oleh dua perempuan Bali. Nafas kedua karya ini pun sama yakni pemberontakan.
**

Novel Tarian Bumi bercerita tentang Luh Sekar dan Telaga. Dua tokoh, ibu dan anak yang berbeda pandangan tentang arti sebuah kebahagiaan. Luh Sekar adalah seorang perempuan dari…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com