Langsung ke konten utama

SAHABATKU LORENZO

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Ada nan taklebur dikubur umur
Ada nan takgugur disapur uzur
Ada nan terngiang selarut zaman
Sedayung Kasih di arus kenangan.

Sahabatku Lorenzo!
Puji Tuhan! Semoga kaujabat tanganku pagi ini. Semoga hatimu pun kembali hangat, setelah persahabatan yang hampir setengah abad ini dapat kita abadikan. Mungkin sekali, bukan pahatan-pahatan apik di tugu marmer nan menjulang di tengah kota. Namun, jelas-jelas dia rekaman dari sudut, pertigaan dan perempatan yang menghiasi kota ini, lewat aneka cuaca, lewat aneka musim. Kukira, hanya dalam gumpalan karya sastra, yang dalam hal ini prosa berirama, dapatlah segalanya abadi di ingatan, lestari di benak, muda senantiasa dalam dada kita.

Lorenzo yang pendiam!
Di pondok bambumu yang bersahaja, senantiasa kudengar suara air mendidih dalam ceret, atau bau nasi yang sangit di dalam kendil di atas anglo. Ah, kau masih juga teledor di hari tua, sahabat. Aku tiada menyalahkanmu. Isterimu sakit-sakitan, semenjak jatuh dari anaktangga pertama, sewaktu sepekan menjelang Natal, dia berusaha mengecat tembok atas yang sudah melupur warnanya, dan karena dia dikejutkan seekor kucing yang melompat dari loteng, maka dia jatuh.

Sungguh, saya merasa amat kasihan waktu itu. Apa boleh buat, segalanya terbatas. Termasuk dokter dan obat-obatan. Kukira, kau yang lebih terpukul. Setelah duapuluh tahun perkawinanmu, barulah hadir seorang anak perempuan. Dia pun lemah, lahir sebelum saatnya. (Lagi-lagi kau ungkapkan kecewamu dengan terus-menerus menyanyikan lagu-lagu rohani, memaksakan tidur tengah malam di gereja alit di ujung desa itu. Ah, kau cukup bersabar untuk menunggu kelahiran anak, dan tiada hentinya berharap agar Tuhan mengurniai seorang bayi lelaki. Tetapi jika Dia telah berikan sesuatu yang lain, mestikah dirimu masih meratap jua, sahabatku?) – dan aku kini mengenang wajahmu yang hitam penuh gurat-gurat kepahitan, kerasnya hidup, duka dan kemiskinan.

Lorenzo yang baik.
Isterimu telah tidur pada jam delapan malam (karena begitulah dokter menasehati), sedangkan anakmu kini sudah memasuki Taman Kanak-kanak, kelihatan teramat manis, mungil, ceria dan dapat merebut seluruh perhatianmu, selama tinggal di permukiman sepi. Apapun soalnya, sahabat, teruslah berdoa pada-Nya, kapanpun seperti dulu ketika kita masih sama-sama muda dan nakal, sama-sama menjalani pendidikan sebagai calon pendeta di Kliaborong. Aku percaya, kendatipun aku tidak menjadi seorang pendeta seperti rencana semula, sedangkan Tulus dan Andri telah lebih dulu kabur dari asrama (lantaran tidak kuat melawan keinginan untuk menjadi kerani di perkebunan Sumurtujuh) – aku mungkin satu-satunya sahabatmu yang menyesal, karena derajat mulia itu taksanggup kudekap. Aku sungguh gembira berbahagia, mendengar dan (kemudian menyaksikan dengan mata kepala sendiri) dirimu menjadi seorang Domine di pedusunan ini.

Bahagia, sahabat – karena ketekunanmu telah berbuah. Keprihatinan, sikap pasrah, dan kesederhanaan hidup puluhan tahun menempa pribadimu. Hari-hari bocah di permukiman kumuh telah membuatmu dewasa – lebih daripada siapapun yang pernah menduga. Karena dengan pembajakan hidup yang keras ulang-berulang, kauperoleh makna gumolong. Hari-harimu sekarang diliputi pengabdian, Kasih ketegaran Iman. Bapakmu yang tua berwajah sendu, yang mewedarkan sikap teguh dalam satu kesujudan, ternyata telah berhasil mencetak dirimu seperti yang kusaksikan ini.

Penghasilan yang serba sedikit dan tangis istrimu yang sering merasakan kenyerian tulang di tengah malam-malam dingin, tak pernah membuat dirimu mundur sejengkah. Cintamu terhadap penduduk desa yang lugu dan miskin ini, membuat siapa pun menaruh hormat. Akupun kini merasa bukan satu-satunya penghibur yang membuat dirimu betah berada di tengah kebun palma dan zaitun ini adalah senyum tawa si kecil Patricia, putri tunggalmu. Menyaksikan kelincahannya menyanyikan lagu-lagu kelucuan kanak-kanak, bahkan tatkala ia menyanyikan senandung lagu rohani dengan iringan kulintang, sebenar-benarnya membuat siapapun bangga, serta mengingatkan akan bakatnya yang besar di kemudian hari.

Kau sungguh seorang bapak yang amat berbahagia, sahabat. Malahan bukan hanya sangat bahagia, melainkan kudu merasakan kebahagiaan ini sebagai karya puncak dari ujud baktimu yang cukup panjang di Dunia Timur. Jangan cemas dengan haritua yang merayap menyeringai. Jangan risau dengan umpatan-umpatan wargadesa yang belum sadar akan panggilan murni dari abdi-abdi kebenaran yang banyak berkorban di kawasan ini.

Lorenzo yang tegar hati.
Karena di depan telah kusebutkan, bahwa sekalipun aku telah meninggalkan panggilan suci ini, aku toh tidak jauh dari langkah-langkah nan laju. Aku takkan berpaling dari Sabda Tuhan, bahwa pengabdian bisa dilaksanakan di manapun, di bawah naungan sinar mentari. Bila kuambil ketegasan, dengan menjadi seorang jurnalis – kendatipun aku bekerja pada sebuah suratkabar yang didirikan oleh sekelompok orang asing yang dewasa itu masih mencengkeramkan kuku-kukunya di pulau rempah-rempah ini! – kuharaplah dikau dapat memaafkan, memahami, kemudian menganggapnya wajar semata.

Maklumlah, kawan. Tatkala Si Anneke, putri bupati yang kaya dan congkak itu berusaha untuk merebut seluruh perhatian cintaku, terusterang aku belum punya kemapanan hidup. Aku nyaris tak punya sesuatu yang dapat kubanggakan selain ketampanan wajah (kuharap ini hanya sekadar ungkapan rendah diriku, bukan kebanggan diri!) – dan sebagai seorang lelaki, kurasa lebih berharga bila menjadi kerbau pembajak sawah (yang bisa memperlihatkan kenapa keringatnya harus mengucur, kenapa tenaga mesti terkuras) katimbang menjadi seorang ‘pejantan’ yang dibonekakan oleh lingkungan barunya.

Menjadi jurnalis karena terpaksa, karena harus sanggup mencari nafkah untuk anak-orang, dan bukan malah mentelantarkan setelah kejantanannya terkuras. Ya, sahabatku. Iparku seorang yang berpengaruh. Pada pemilik modal yang mengelola suratkabar itu, aku diajaknya melamar kerja. Mungkin nasib baik yang melindungi, hingga akupun diterima!

Lorenzo yang budiman!
Nasib kita mungkin sama, tapi juga mungkin berbeda. Sama, karena kita punya pengabdian buat membukakan mata ratusan orang untuk mengakui Keberadaan Diri dan Keadilan. Mengulang firman bakti yang terindah, untuk membangkitkan daya juang kalangan jelata. Berbeda karena dirimu kini sudah secara utuh memiliki keluargamu yang tercinta, tanpa campurtangan pihak lain.

Sedangkan diriku? Tak lebih seperti musafir yang menitipkan hidup, hargadiri serta kebebasanku kepada orang yang berkuasa, yang mampu membeli tenagaku, mengusikku dengan deretan tugas yang sangat panjang. Ah, entah sampai kapan, sahabat. Biarlah, tangan nasib akan dapat menyampaikan kabar dan pilihannya. Tapi marilah kita ucapkan syukur, bahwa dalam umur menjelang senjahari, kita masih mampu berbincang, serta mempertemukan kembali cita-mulia yang pernah kita gayuh dahulu.

Malam ini, sahabat, aku menyelesaikan paruh kedua dari rangkuman sanjakku, yang melukiskan sebuah parade panjang dari sikap, getaran, gugusan yang pernah kita lakukan pada masamuda. Aku teringat, sepekan sebelum Natal tahun silam, aku pergi ke desa Margarulit, untuk menaburkan kembang di makam orangtuaku. Tapi aku juga menyempatkan diri menyekar di makam Pa Ambalu, bapakmu yang baik hati itu, tak jauh dari pekuburan Goem di pinggir kali Liwa yang gemericik bening.

Entah kenapa, ketrenyuhanku timbul demi teringat kekerasan hatinya, yang berusaha membesarkan anak-anaknya dengan satu pembantingan tulang yang total. Kunjungan ke makam itu barangkali dapat kuanggap sebagai ‘uluk-salam’ pada almarhum. Selepas Maghrib, aku rampung berdoa dan tiba-tiba saja jurukunci pekuburan, Pa Solake datang tergopoh menyalamiku. Bukankah sore tadi aku bingung mencarinya? Aku sampai berpesan pada seorang bocah lanang cilik penjual bunga di Pasar Sore, untuk memanggil Pa Solake.

Dia bekas sersan jaman gerilya, yang pantas juga namanya kucatat dengan aksara emas. Usai masa revolusi, dia benar-benar terjun sebagai pengelola kuburan rakyat di dusun berlembah sana, total membaktikan dirinya sebagai penyelenggara upacara di kompleks makam, meladeni peziarah dan sebagainya. Lebih dari itu, dia masih berhubungan kerabat denganmu.

“Aduh, Nico…” dia menyapa, halus. Kujabat tangannya yang berkudis dan terasa kasar. Maklum, dia juga petani yang rajin. “Maafkan Pa Solake. Hampir dua Natal, aku tak singgah di desa tua ini. maklum, tugas-tugas…”

Pa Solake ketawa, seperti menyeringai. Gigi-gigi emasnya nampak berkilatan. “Aku juga memaklumi, Gus Nico. Apalagi, anda adalah Tuan Bupati. Kaya, beristri rupawan. Kabarnya, putra anda yang sulung, tahun ini sudah lepas Sekolah Lanjutan Atas, melanjutkan ke sebuah Universitas di mancanegara?” Ah, sapaan begini kurang menyenangkan bagiku. Selalu itu-itu juga yang disebut orang. Kalau saja mereka tahu, betapa aku telah menggadaikan hargadiri. Menjadi ‘orang besar’ bukanlah suatu peristiwa menyenangkan agaknya. Kendatipun yang diintip para tetangga cuma kelimpahan harta benda, atau sinar-sinar di sana-sini yang menyorot dari sisi nan gelap.

“Gus Nico, tadi bapa lihat mobil sedan merah tua diparkir di pelataran rumah Kepala Desa. Aku tanya kepada seorang kerabatnya, ternyata tuanlah pemiliknya. Sudah likuran tahun tuan tak singgah kemari. Dan jika warga sini melihat kegigihan tuan dalam hidup, kami bangga sekali. Suatu tanda, ada yang berangkat makmur, raharja dan teguh.”

Tidak, tidak, dan kupikir mereka salah tebak. Mereka tak tahu penderitaanku. Tiga anak yang kuperoleh dari perkawinan yang lebih merupakan ‘penjara’ ini sungguhlah pahit. Si sulung, yang gagah dan tampan, kini memasuki bangku perguruan tinggi, nyaris mengikuti tradisi keluarga pihak ibunya. Anak kedua, seorang perempuan, yang masih di sekolah lanjutan atas. Ayu seperti ibunya, berpribadi angkuh. Tak kuduga kalau ia menjadi semacam itu.

Untungnya, si bungsu, juga seorang perempuan— tapi ia lebih dekat dengan diriku: bapaknya. Ia lemah, ringkih, dan lebih daripada itu, mengakui hak-hak kaum kecil, berani berbicara ketimpangan sosial yang ada di sekeliling. Kendati masih di kelas pertama sekolah lanjutan pertama, bakat-bakatnya sebagai sastrawati mulai nampak. Ia mulai menulis syair-syair bernada protes kepada tatacara yang menjadi milik masa lampau leluhurnya. Aku terkadang terharu membaca tulisan dari si bungsu, yang teramat menyentuh kalbu.

“Kukira saatnya sudah tiba, Gus Nico” – jurukunci berkata lirih. “Kukira, makam keluarga harus diperbaiki. Dihias dengan batu marmer; kalau hanya berupa nisan dari batu alam, cepat retak, cepat hancur…” Aku menelan ludah. Tak tahu apa yang musti kuucapkan. Di benakku sudah siap himpunan prosa berirama untuk mengekalkan nama orang-orang tercinta di sini.
---
*) Tanggung jawab penulisan pada PuJa

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com