Kekalahan Kita terhadap 'Post-Modernism'

Hardi Hamzah
http://www.lampungpost.com/

"Ada yang tertinggal di dalam dunia post-modernism," ujar David Legman (2003). Artikel yang ditulisnya pada News Week edisi Maret tahun yang sama semakin mengingatkan kita tahu bahwa post-modernism yang diusung secara kultural oleh agamawan, politisi, dan cendekiawan ternyata melahirkan bangsa yang rendah. Indonesia-lah yang mungkin terakhir kali sebagai suatu bangsa dikoloni oleh bangsa-bangsa lain.

Hal tersebut sebagai preseden buruk dari ketidakberhasilan post-modernism dan korelasinya terhadap pemimpin di negeri ini. Setiap orang kemudian menjatahkan dirinya pada "jatah hidup" yang tidak jelas. Miskin kota bertambah 27%, di desa hampir 2 kali lipatnya. Sementara itu, pemimpin kita yang mendambakan post-modernism dengan tidak berbuat apa-apa kecuali menulis, menjadi staf pengajar, pelaku budaya, birokrat gagal, seniman tanggung, dan wartawan bodrek.

Alkisah, post-modernism lahir di Indonesia pada era non-violent movement (gerakan antikekerasan). Ia lahir dari mahasiswa yang disosialisasi oleh Amien Rais, Gus Dur, Nurcholis Madjid, Goenawan Mohamad, Jacoeb Utama, dan sederet nama personel birokrat lainnya. Inilah produk post-modernism yang paling mutakhir. Rahim yang melahirkannya kini berdarah-darah, bukan kanker, tidak juga tumor. Inilah bangsa yang dilahirkan oleh pengagum post-modernism yang dilatarbelakangi katub agama, budaya, pers, dan birokrasi. Pertanyaannya kemudian, apa yang bisa kita daulat untuk para tokoh itu. Sebab, setidaknya mereka telah mempunyai ikon hidup sendiri-sendiri. Perubahan yang gradual akibat post-modernism kemudian melahirkan peran-peran abstrak.

Hampir terefleksi bahwa post-modernism agama, budaya, pers, dan para pemimpin kita tergerus oleh perilaku post-modernism, yang pada gilirannya menghadapkan kita pada dikotomi sosial dan struktural. Dikotomi sosial menunjuk pada proses apa yang dilakukan oleh setiap individu terhadap dirinya sendiri, tanpa harus berpikir ada manusia di sekitarnya (baca: konsumerisme). Pada dikotomi struktural, kita melihat dua wajah eksekutif dan legislatif yang bopeng. Dan, terkadang digarap habis oleh para pelaku yudikatif. Dikotomi itu menggiring kita berbaris dalam kata-kata, seringkali kita lahir sebagai generasi lebih banyak membangun arti daripada makna.

Makna hidup hanya dilihat sebagai suatu proses sosial biasa, sehingga kita menjadi zombi-zombi, tapi rakus dalam artian finansial. Kendati, kita tidak tahu apakah itu "rakus" atau "keharusan"? Demikianlah, kita melihat sebuah jurang besar yang menganga. Meski tetap kita pahami bersama bahwa kekuatan yang utuh hanya lewat nelangsa dan sabar. Memang, nelangsa dan sabar itulah yang masih kita miliki. Ini gejala psikis normal dari kekalahan agamawan, budayawan, dan politisi kita terhadap post-modernism.

Dalam rajutan lain, kita melihat post-modernism telah "menyembelih" dan "memerawani" seluruh kisi-kisi hidup kita. Kini kita hanya tengah menunggu residu post-modernisme di tengah kultur yang tidak menentu. Meski resminya kita masih punya martabat. Kita masih punya sejarah adi luhung, kawah candradimuka (SDA), serat-serat dan kidung-kidung yang mengharuskan kita harus menjustifikasi seluruh peradaban hidup. Pada titik inilah, kebangkitan di antara dua dikotomi di atas dapat dibangun.

Saya teringat pemikir besar seperti Al Farabi, Hasan Al Banna, Ibnu Sina, sampai Cak Nur. Sesungguhnya, orientasi mereka melebihi para futurolog, jauh di atas Nostradamus. Namun kenyataannya, masyarakat yang lemah ekonominya hanya membangun optimitis lewat berani, kilah Amien Rais ketika saya mendatangi rumahnya (2003). Berani, dalam konteks dikotomi mampu menghasilkan sesuatu, manakala ia dibangun oleh kekuatan spiritualitas, dan visi.

Sementara itu, dalam masyarakat kelaparan seperti kita, kita hanya berani karena takut dan takut karena berani. Ini yang dilukiskan oleh The Satanic Verses (Ayat-Ayat Setan) karya Salman Rusdi. Keberanian kita hanya mampu karena diremas, ditekuk, dan dililit oleh ketakutan, dus demikian pula sebaliknya. Orang yang kemudian dimusuhi oleh hampir seluruh umat Islam itu mempersilakan kita untuk bicara bahwa post-modernism sebagaimana yang ditulis oleh Jasman Al Kindi (1979) dan beberapa tokoh Islam lainnya, bahwa kita adalah bangsa yang consumer dan tidak beradab. Kita adalah bangsa yang tidak mempunyai perilaku hidup lewat fakta.

Mungkin kita hanya mampu membuka data tanpa harus membacanya. Data hidup, sebagaimana dilukiskan oleh para filsuf dan teolog modern bahwa setiap orang harus memaknai sejarahnya, bahwa setiap orang harus memaknai hidudnya. Plato, misalnya, menggambarkan kehidupan di gua bagaikan bayang-bayang. Bahkan, Ibnu Sina telah melihat bahwa makna hidup adalah menghidupi orang lain. Namun, lipat dua (dikotomi sosial dan struktural) yang penulis singgung di muka memberi makna hidup sebagai sesuatu kekuatan semu.

Dalam proses sosial, dari rahim yang berdarah-darah itu lahir kultur sinis sedikit skeptis dan apatis. Secara struktural, dari rahimnya, lahir impulsifisme, degradasi moral, dan patung-patung (berhala) tak bermoral. Lalu, apa makna kita sebagai bangsa? Apa makna kita sebagai manusia? Dan, apa makna kita sebagai makhluk Tuhan? Kita sangat tahu bahwa Al Quran berkata, Injil dan beberapa kitab lainnya berucap tentang kesadaran terhadap makna hidup. Namun, kita sebagai bangsa tidak memaknainya secara realis.

Dalam konteks di atas, hemat saya, kita harus memperlakukan makna hidup sebagai suatu cagar budaya nilai dari berbagai dimensi. Kita adalah keturunan Adam dan Hawa, keturunan raja-raja mataram dan keturunan pounding father yang melawan kolonial.

Saya teringat apa yang ditulis oleh penulis Belanda Bernard Dahm, dalam buku biografi politik Bung Karno Bung Karno, a Political Biography (1997). Dahm mengingatkan kepada kita bahwa budaya adi luhung dalam kesejahteraan nusantara tak terlepas dari keberanian moral memaknai hidup. Dalam bangsa yang optimis, sebagai mana yang terjadi di Meksiko, Brasil, dan Amerika lainnya. Dari kemiskinan, Brazil menjual sepak bola. Dari disintegrasi, Nelson Mandela menjual kebersamaan. Seharusnya, kita memaknai hidup dengan keberanian di tengah keberanian itu sendiri, dus bukan di tengah ketakutan. Seperti yang digaungkan post-modernism.

Agaknya, kita harus disadari betul bahwa post-modernism dan anasir-anasirnya telah menguatkan molekul agama, budaya, dan politik. Inilah seharusnya yang kita tolak. Kita berani menghadapi impitan dengan leluasa. Sebagai bangsa, kita mampu mandiri karena SDA. Sebagai bangsa kita mampu memaknai realitas adalah fakta, dus bukan data yang pada gilirannya kita jauh dari personel yang antisosial. Dalam Abad Makro Kosmos yang kerap digemakan para penganut post-modernism bahwa hidup adalah individual, bahwa hidup adalah kompetisi, bahwa hidup adalah finansial. Ini bisa benar apabila kita tidak salah menyenyawakannya dengan politik, agama, dan budaya. Namun, ia akan menjadi nilai yang amburadul, manakala kita salah menerjemahkannya.

Dalam skala yang lebih mikro, post-modernism akan mengejawantahkan menjadi dua kutub, yang kalau salah arah membuka peluang untuk terjadinya revolusi sosial di negeri ini. Masya Allah.***

*) Pemerhati kebudayaan, tinggal di Bandar Lampung

Komentar