Mementaskan Perlawanan

Amanda Stevi
http://mediaindonesia.com/

Jika ada yang bertanya teater itu apa, banyak jawaban yang akan muncul. Teater adalah seni peran. Teater adalah seni artistik. Teater adalah tempat menyalurkan aspirasi dalam bentuk lakon dan sebagainya. Bagi Teater UI, teater adalah perlawanan.

Sastra dan perlawanan. Dua hal tersebut tampaknya berbeda, tapi ternyata memiliki hubungan yang erat. Hubungan itu terutama tampak dalam dua abad terakhir. Beberapa karya sastra dalam kurun waktu tersebut memuat ide perlawanan penggagasnya, diilhami kondisi dan situasi sosial di sekelilingnya.

Salah satu karya sastra lama yang memuat unsur perlawanan adalah Max Havelaar karya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker, seorang pria berdarah Belanda. Max Havelaar atau Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda berkisah Max Havelaar, seorang idealis yang sempat menjadi asisten residen di Lebak. Novel tersebut begitu fenomenal sehingga mengguncang dunia saat itu. Max Havelaar pun membangunkan kesadaran manusia dan beberapa tahun kemudian menjadi alasan bagi kaum terpelajar Indonesia, salah satunya tokoh pergerakan Agus Salim, untuk bangkit dan berjuang melawan penjajahan.

Saya teringat sebuah karya lain yang juga mengusung tema perlawanan. Novel itu berjudul The Color Purple yang ditulis Alice Walker, seorang aktivis perempuan pada 1982. Novel pemenang Pulitzer untuk karya fiksi dan penghargaan buku nasional (keduanya pada 1983) tersebut telah diangkat ke layar lebar oleh Steven Spielberg pada 1985. The Color Purple berkisah Celie, seorang perempuan kulit hitam yang keceriaannya terenggut di usia yang begitu muda.

The Color Purple, seperti Max Havelaar, menunjukkan sastra merupakan media perlawanan bagi golongan tertentu, terutama kaum minoritas. Walker melukiskan hasrat perlawanannya sebagai perempuan kulit hitam yang berada di posisi minoritas dengan adegan peralihan sikap Celie.

Max Havelaar dan The Colour Purple merupakan dua contoh baik karya sastra perlawanan. Meski begitu, perlawanan dengan sastra sebagai media tidak hanya dituangkan melalui tulisan. Teater merupakan media populer lain yang menjadi sarana perlawanan rakyat terhadap isu-isu sosial, politik, budaya, maupun ekonomi yang ada.

Teater UI pun menyambut baik hal tersebut. Sebagai mahasiswa yang peka akan situasi yang beredar di sekelilingnya, warga Teater UI memiliki pemikiran dan idealisme sendiri mengenai isu-isu sosial yang ada di Indonesia. Imbasnya, sebagian besar pertunjukan Teater UI mengusung tema perlawanan.

Seperti yang disajikan dalam salah satu adegan dalam pementasan kolaborasi lima unit kegiatan mahasiswa bidang seni Universitas Indonesia yang berjudul Daun Kering di Titik Api yang diselenggarakan di Gedung Kesenian Jakarta pada 2007. Pada adegan satire, sekelompok orang yang mengenakan kemeja bertuliskan, 'Sumpah!! Ini bukan Kuning di Punggungnya' berdiri membelakangi penonton dan asyik berdemo.

Naskah lain yang bernada perlawanan, tapi bukan satire yang baru-baru ini dibawakan Teater UI adalah naskah adaptasi berjudul Perempuan di Persimpangan Abad. Pementasan yang ditulis dan disutradarai Asep Sambodja tersebut merupakan geliat ketidaknyamanan sang sutradara mengenai perempuan-perempuan yang dituduh sebagai Gerwani pascaperistiwa berdarah Gerakan 30 September 1965.

Pertunjukan-pertunjukan Teater UI merupakan bentuk keinginan untuk melawan. Karya sastra, khususnya teater, telah menjadi media pilihan yang digunakan Teater UI dengan penuh kesadaran sebagai sarana melawan dan berpendapat. Gustave Flaubert menggambarkan keadaan seperti itu dengan keperluan mengungsi ke dunia lain saat kita menemukan dunia yang kita tinggali ternyata terlalu buruk. Melalui dunia lain itulah Multatuli, Alice Walker, dan Teater UI berupaya membongkar dan mendekonstruksi pemikiran baru akan dunia yang lebih baik. Mereka memegang teguh keyakinan bahwa sastra dapat menjadi senjata perlawanan sosialis-politis tanpa mengacuhkan aspek-aspek estetika sebuah karya seni.

Komentar