Peter Zilahy Novelis Multibakat

Sjifa Amori
http://jurnalnasional.com/

Menulis dengan gambar dan menggambar dengan tulisan. Begitu kira-kira Peter Zilahy menceritakan proses pembuatan novelnya yang terkenal The Last Window Giraffe. Novel yang sudah diterjemahkan dalam 20 bahasa ini unik karena ditulis seperti kamus dan memuat gambar serta foto yang ia buat sendiri. Buku yang dapat penghargaan The Book of The Year Prize Ukraina ini menceritakan mengenai demonstrasi di bawah kepimpinan diktator ketika Peter masih kecil. Saking suksesnya, The Last Window Giraffe, kabarnya, sampai menginspirasi aktivis di negara lain untuk melakukan revolusi. Hal ini terungkap pada bedah buku dalam rangkaian kedatangan Peter ke Indonesia dalam rangka Ubud Festival. Berikut obrolan dengan Peter di Toko Buku MP Book Point, Jakarta, Jumat (24/10).

1.Bisa jelaskan mengenai novel dengan format kamus ini?

Itu adalah format alfabetik. Ditulis secara Ablak-Zsiraff (buku anak-anak Hongaria di awal belajar membaca). Ablak untuk A bermakna jendela (window) dan Zsiraff untuk Z artinya adalah jerapah (giraffe). Saya tidak takut menggunakan format alfabet ini karena bagi saya tidak akan ada masalah dalam penerjemahan. Semua kamus bahasa pasti punya alfabet yang sudah tersusun dengan sendirinya. Jadi dengan sendirinya sudah tercipta koneksi antara alfabet yang satu dengan yang selanjutnya. Jadi cerita ini akan berdiri sendiri sebagaimana melogikakannya sebagai sebuah jerapah yang baru lahir dan kemudian akan belajar berjalan dengan sendirinya dengan perlahan. Seperti orang yang membaca dari A sampai Z.

2.Bagaimana dengan gambarnya?

Gambar dalam buku bukan hal baru dalam dunia penerbitan. Sejak awal, buku sudah punya gambar di dalamnya. Termasuk juga pada abad 19-an. Jadi saya hanya kembali pada tradisi. Entah kenapa sekarang buku jarang sekali ada gambarnya. Jadi buku saya ini tergolong perkembangan yang relatif baru. Apalagi gambar pada bukunya bukan sebuah ilustrasi, melainkan saling melengkapi dengan teksnya. Saya membuat gambarnya sendiri. Saya memotret sendiri, atau mengumpulkan dari kamus anak, dari protes-protes yang berlangsung.

Saya menulis buku ini bersamaan dengan mengerjakan gambarnya. Jadi mirip seperti ilustrasi, tapi bukan. Karena menciptakan beberapa gambar untuk teks dan menulis beberapa teks untuk gambarnya. Keduanya bekerja bersamaan. Kata-kata saya memang memuat banyak gambar dan gambar saya juga memuat banyak gagasan.

3.Ini semacam medium baru untuk bercerita?

Dimulai dengan A sampai Z. Semuanya menceritakan bagaimana tertekannya hidup di bawah kediktatoran. Ini tentang masa kecil saya. Menceritakan tentang demonstrasi di Belgrade pada 1996 hingga 1997. Dan kisah lain yang melatarinya. Tentang revolusi di Eropa. Buku ini tentang kebebasan dan delusi kebebasan dan pengalaman orang ketika berdemostrasi. Revolusi adalah untuk memilih kebebasan.

Poin seluruhnya adalah untuk belajar tentang sejarah. Karena kalau kita tidak belajar tentang masa lalu, kita akan masuk dalam lingkaran kesalahan yang sama. Semua akan terulang lagi. Dan saya mengombinasikan gambar dan teks dalam buku ini untuk menceritakan itu.

4.Hingga akhirnya menjadi hand book bagi Orange Revolution?

Awalnya saya juga tak percaya ketika ini dituliskan dalam sebuah surat kabar. Sampai saya menerima surat dari seorang mahasiswa doctoral, post graduate student Oxford. Tesisnya adalah tentang revolusi. Dan katanya para aktivis revolusi di Ukrania benar-benar menggunakan buku saya untuk mendapat ide inspirasi bagaimana melaksanakan revolusi, bagaiamana melangsungkan protes atau untuk tidak memprotes, bagaiman supaya bisa berlindung dari polisi dan menghindari bahaya fisik. Dan juga bagaimana untuk membuat humor atau menyindir tentang sebuah kekuasaan. Ini rasanya seperti saya telah menuliskan sejarah. Sangat mengejutkan saya.

5.Harapan Anda dengan datang ke Ubud Writers and Readers Festival juga supaya orang bisa mendapat inspirasi dari novel ini?

Saya kira belum ada buku seperti ini. This is completely new. Dan bisa menginspirasi banyak orang di berbagai negeri. Jadi saya sangat penasaran dengan apa yang akan terjadi nanti.

6.Tapi sebelumnya Anda juga pernah ke Indonesia?

Saya pernah ke Indonesia 3 tahun lalu. The Indonesian International Poetry Festival di Jakarta dan Palembang. Saya kenal sekitar 300 bahasa Indonesia. Sangat menarik. Saya ingin belajar lagi. Tapi saya tidak mau membicarakan soal novel di Indonesia. Karena saya di sini untuk bekerja, mempromosikan buku saya. Ha-ha-ha. Saya ke festival untuk promosi buku saya karena setelahnya saya akan segera kembali menulis dan menyelesaikan buku-buku saya.

7.Selanjutnya Anda akan menulis buku dengan format ini lagi?

Ini novel saya yang pertama. Sebelumnya saya sering menulis beberapa buku puisi, menulis untuk teater, esai. Tapi saya tidak mengulang apa yang sudah saya lakukan. Saya akan mencoba format baru dan ini akan jadi kejutan.

8.Kabarnya Anda juga pemain sepak bola handal ya?

Saya bermain sepak bola bahkan sebelum saya mulai menulis. Saya adalah anak normal yang biasanya suka berlari-lari. Saya justru agak aneh sekarang ini. Kami bermain dalam sebuah tim sepak bola para penulis. Sampai saat ini saya tergabung dalam tim sepak bola Hungaria. Posisi saya sebagai striker masih sebagai top scorer.

Kalau di Eropa, setiap negara punya tim sepak bola penulis. Dan tahun ini kami mengadakan perlombaan besar di seluruh Eropa.

9.Apa perbedaan signifikan yang Anda rasakan saat bermain sepak bola dan menulis?

Sangat menyenangkan untuk main bola. Karena dalam menulis, kita hanya sendirian. Dan kadang saya ingin keluar dari situasi itu. Alasan lain kenapa penulis bisa jadi pesepak bola adalah karena ada keseimbangan. Di mana kita harus bermain bersama orang lain dan sepak bola adalah pilihannya.

Kami memulai tim sepak bola penulis ini tahun 2005. Awalnya ada pemain tim negara lain yang masih membawa sifat indivualistis penulisnya. Mereka tidak mau mengoper bolanya dan gemar memperlihatkan kecanggihannya dalam bermain bola. Tapi ini tidak terjadi pada tim Hongaria karena kahirnya kami faham bahwa bermain bola harus bekerja sama.
-------------------

Nama: Peter Zilahy
Tempat Tanggal Lahir: Budapest, 8 November 1970
Pendidikan: -Jurusan Filosofi dan Antropologi ELTE University Budapest

Karya:
-Buku puisi Lepel Alatt Ugrasra Kesz Szobor (1993)
-His book of poems Statue Under White Sheet, Ready to Jump (terbit 1993)
-The Last Window Giraffe was published in (1998)
-Drei(dan banyak lagi)

Karir dan Pengalaman:
-Dosen di New York University (2001)
-Pimred Link Budapest, majalah internet untuk sastra kontemporer berbahasa Inggris dan Hongari (1997-1999).
-Pimred The World Literature Seriese (sejak 1998: pada Jak Books dan kemudian pada Gondolat Publishers)
-Menulis esai secara regular di Frankfurter Allgemeine Zeitung
-Karya terpilihnya dipamerkan di Ludwig Museum Budapest held
-Pameran di Akademie Schloss Solitude di Jerman
-Kapten Tim Sepak Bola Penulis Hongaria

Prestasi:
-Kumpulan puisinya, Statue Under a White Sheet Ready to Jump, memenangkan Móricz Zsigmond Prize.
- The Last Window Giraffe meraih banyak penghargaan, salah satunya adalah The Book of the Year Prize

Komentar