Sastra Perlawanan

Ribut Wijoto
http://www.sinarharapan.co.id/

Sejarah sastra, entah Tanah Air atau pun Barat, tidak dapat berdiri jauh dari rangka sejarah umum, terutama sejarah kekuasaan. Di Jawa, konon karya sastra terlahir dari para pujangga keraton dan pujangga liar, yang keduanya berkubang dalam tema pemerintahan para raja. Pujangga keraton dengan pengagungannya terhadap raja. Misalnya Serat Centini atau Serat Kalatida. Pujangga liar dengan karya yang mengkritisi pelaksanaan pemerintahan raja. Misalnya Serat Darmogandul karya Kalamwadi (penulis yakin ini bukan nama sebenarnya, kalam berarti ”berita” dan wadi berarti ”rahasia”).

Atas fakta sejarah itulah, kiranya berbagai tulisan mencari singgungan yang pas antara sastra dan kekuasaan. Penulis beranggapan, tulisan-tulisan tersebut dicipta bukan sebagai kebenaran paten. Artinya, telah dibuka undangan untuk bertukar pikir dan argumentasi tentang sastra, dengan pijakan karya sastra tentunya.

Tradisi karya sastra punya keterkaitan dengan tradisi kekuasaan, itu tidak dapat disanggah. Karya sastra berkualitas banyak yang menyinggung persoalan politik, juga bukan tesis yang kosong kebenaran. Hanya saja, ada beberapa kebenaran lain yang masih perlu diperdebat-tanyakan. Apakah tema perlawanan menentukan kualitas karya sastra? Apakah makna perlawanan dalam kerangka estetika karya sastra?

Perlawanan dalam Tema
Pada sebuah ingar bingar demonstrasi, seorang mahasiswa membacakan puisi ciptaannya sendiri. Sebuah puisi tentang; penghujatan pada pemerintahan yang menyengsarakan rakyat, pejabat yang korup, politikus yang tidak lebih buruk dari kadal, tuntutan untuk perubahan, dan dirinya yang tersiksa.

Tetapi, kiranya sang mahasiswa terlalu gegabah dalam kaidah-kaidah puisi, atau mungkin tidak paham sejarah puisi. Metafor tidak tajam, ilustrasi nyaris nol, imajinasi tidak terbangun, dan yang lebih parah ”puisi mahasiswa itu tidak menggoda untuk berpikir”. Yang tersisa, kata-kata penuh seruan dan hujatan.

Beberapa waktu lalu, telah terbit terjemahan novel Milan Kundera, Kitab Lupa dan Gelak Tawa. Tema perlawanan tumpah ruah di sini, dan berhasil.

Kisah perilaku politik Ceko diangkat, dipertautkan dengan otobiografi Kundera. Tiap bab novel ada di-gandholi dengan kisah-kisah cinta (baca: sensualitas dan seksualitas). Tentang cinta tokoh Mirek pada Zdena dan terpenggal sebab perbedaan sikap politik, tentang Tamina yang digelibati kenangan terhadap suaminya yang mati dalam pelarian, tentang mahasiswa yang uring-uringan sebab berenang lebih lambat dibanding gadisnya, atau tentang penyair Lermontov yang menjadi sinis dan uring-uringan sebab tidak kebagian bokong. Jadilah novel tersebut sebagai jalinan sejarah Ceko, otobiografi, dan seksualitas.

Pembaca seakan diajak tamasya dalam macam-macam pusaran konflik. Pusaran dunia lebar, yaitu pemerintahan. Pusaran dunia diri, yaitu traumatik dan seksualitas. Pusaran otobiografi, yaitu kisah petualangan hidup Milan Kundera.

Ketiga pusaran tersebut menjadi menarik karena ilustrasi-ilustrasi yang disajikan bersifat subjektif, sublim, dan cerdas. Misalnya, politik Ceko cukup diwakilkan kisah tentang topi ketua partai politik. Atau diskomunikasi seksualitas yang digambarkan melalui persetubuhan Hugo dengan Tamina. Saat terjadi persetubuhan, Hugo sangat giat menusuk-nusuk tubuh pasrah Tamina, sedangkan Tamina giat mengumpulkan kenangannya pada sang suami di antara basah kuyup keringat Hugo. Atau kisah Milan Kundera yang dicekal menulis di media massa. Alternatif yang diambil, ia menulis dengan nama samaran, itupun tidak pada kolom politik tapi pada kolom perbintangan. Dasar tulisan orang kritis, analisis perbintangan pun menjadi bermuatan politis, dan mengundang kecurigaan partai, naga-naganya ia pun dapat dikenali oleh para pejabat partai.

Pramoedya Ananta Toer dalam novelnya yang terkenal Bumi Manusia juga tidak melulu berkutat dalam perilaku politik. Ada kisah cinta yang intens dan terpenggal antara Annelis dengan Minke. Sebuah cinta tragik, menggoda, dan melankoli. Penulis curiga, justru lantaran kisah cinta inilah yang membuat novel Bumi Manusia menjadi manis dan sukses.

Tetapi, kiranya banyak novel berhasil yang bertema perlawanan seakan jauh dari peristiwa politik. Misalnya novel Gustav Fleubert yang berjudul Madame Bovary. Novel ini hanya berkisah tentang kehidupan Nonya Bovary (tentu saja dengan sedikit bumbu perilaku seksualitas) tetapi dari kisah itu dapat mengungkap (baca: kritik) bagi kelanjutan demokrasi Prancis yang ternayata mulai tampak terobsesi dengan kehidupan orang Inggris. Padahal, Inggris sangat kental dengan kehidupan yang bernuansa aristokratik.

Di dalam puisi, tema perlawanan semakin menjauh dari material perlawanan. Puisi Chairil Anwar yang dianggap menandai sikap bangsa Indonesia dalam meraih kemerdekaan tidak lebih dari berbagai kisah cinta seorang laki-laki dengan perempuan. Misalnya puisi dengan larik-larik: aku ingin bebas merdeka, juga dari Ida; bila mau kuterima kau kembali, untukku sendiri, sedang kepada cermin aku enggan berbagi; kau kawin beranak dan berbahagia, sedang aku mengembara serupa Ahasveros, disumpah kutuki eros.

Politik dalam karya sastra, merujuk karya-karya di atas, dapat dibuktikan, tidak mesti dibentuk oleh kegiatan-kegiatan seputar pemerintahan. Realitas-realitas kecil, misalnya perbincangan dua orang galau, dalam kapasitas tertentu adalah tindakan politik. Sebuah perlawanan terhadap tradisi. Misalnya, dialog-dialog sederhana dalam drama Menunggu Godot karya Samuel Becket sangat tepat untuk menggambarkan kemandekan kapitalistik. Pada tataran ini, kapasitas kepekaan pengarang dipertaruhkan.

Perlawanan dalam Estetika
Tetapi kebagusan tema perlawanan dalam karya sastra, bagaimapun juga sangat riskan bila dijadikan kriteria kebagusan karya sastra. Dataran lebih penting lagi, adalah bagaimana konsepsi estetika yang ditawarkan karya sastra.

Banyak karya sastra yang menyiratkan tema perlawanan secara bagus. Namun, hanya sedikit karya yang mengemasnya dengan tepat. Karya sastra, dalam hal ini, berkaitan dengan sejarah peradaban manusia dan sejarah estetika sastra.

Puisi-puisi liris Amir Hamzah berkualitas bagus. Ini kenyataan yang tidak mungkin dibantah. Tetapi dihadapkan pada tradisi sastra, Amir Hamzah hanya diakui sebagai pemuncak bangunan estetik yang sudah ada.

Lain halnya dengan puisi-puisi Chairil Anwar, padanya ada sinergi besar mencipta tradisi baru dalam estetika puisi. Pada akhirnya, ada dua tradisi yang berdiri sejajar. Inilah yang disebut sebagai kontribusi terhadap tradisi sastra. Nuansa perlawanan sangat kental di sana.

Sejarah sastra Barat pun dibentuk oleh serangkaian perlawanan terhadap tradisi sastra. Dan dari situ, mobilitas teks sastra terwujud. Ketika Abad Pertengahan menjadi kental dengan karya sastra bernuansa ritual mistik (klasik dan religius), dimunculkan jenis karya sastra Barok. Lalu muncul Renaisance, muncul lagi Romantik, lalu Realisme, dan Surealisme.

Aliran-aliran sastra tersebut dibentuk oleh motivasi perlawanan yang sama; perlawanan terhadap tradisi. Sesuatu yang lebih lengkap dibanding perlawanan satu pemerintahan an sich. Konsepsi estetikalah yang membedakannya.

Penulis teringat pada guyonan Asrul Sani dalam salah satu artikelnya pada tahun-tahun akhir 40-an. ”Kebenaran yang dikemukakan para sastrawan Pujangga Baru tidak akan tiba pada tujuan, sebab telah habis dalam nyanyian”. Artinya, perlawanan dalam karya sastra Pujangga Baru menjadi sia-sia disebabkan terjebak belenggu rima dan irama. Contoh paling parah adalah puisi-puisi dalam Lagu Gelombang karya Sutan Takdir Alisyahbana (STA).

Semua orang yang sedikit saja membaca sejarah, tentu tahu, STA adalah tokoh paling getol dalam gagasan mengadopsi budaya Barat untuk diberlakukan di Tanah Air. Pada puisi Lagu Gelombang, cita-cita ini juga yang diusungnya. Ia ingin sebuah masyarakat rasional. Kegelian yang muncul, puisi-puisi STA terlalu indah untuk sebuah ajakan pemberontakan. Ia lebih mirip nyanyian rindu daripada provokasi. Lebih dekat ke hati dari pada pikiran. Kesemuanya disebabkan estetika ”mendayu-dayu” dari Pujangga Baru.

Pelajaran yang dapat dipetik dari uraian di atas adalah; Pertama, karya sastra perlawanan tidak mesti dibentuk oleh material lingkungan politik praktis. Perlawanan dapat muncul dalam ilustrasi/realitas manapun, sekecil apapun.

Kedua, tidak ada nilai perlawanan dalam karya sastra yang berbau ”booming”, misalnya pada gejala karya sastra ”Reformasi” yang satu tema dan satu gaya penulisan. Apalagi yang terang-terangan mengandalkan ”satu kata lawan”.

Ketiga, kriteria perlawanan dalam karya sastra diukur melalui sejarah sastra, yaitu kebaruan estetika.

Keempat, karya sastra tidak dapat diharapkan untuk dapat secara langsung mengadakan perlawanan terhadap kekuasaan sebab karya sastra senantiasa bersifat individual (baca: sublim). Yang paling mungkin dilakukan, karya sastra memberi gagasan dan pengetahuan tentang perlawanan.

*) Penulis adalah Ketua Komunitas Sastra Epik Surabaya, alumnus Fakultas Sastra Universitas Airlangga.

Komentar