Sepotong Cinta dan Senyum Rupiah

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

“APAKAH kamu bosan hidup, anakku?” getar suara Biru Langit tahu kesedihan putranya. Dia datang tiba-tiba entah menerobos dari pintu sebelah mana.

“Tidak, Ibu. Bagiku justru sebaliknya, hidup musti bertaruh udara bersih dan air jernih. Emosi cuma tetenger kita tak bisa berpikir, dan itu berarti keblinger” Biru Langit mengumbar tegar.

“Saudaramukah yang kau maksudkan?” ibunya terpecik Biru Langit.

“Bu, telah kukatakan kebebasan itu musti memeras otak dan pikiranan, bukan emosi. Apa hendak dikata bila saudaraku tak menyerap isi ucapanku. Dari ucarannya ‘kalau begitu caramu aku kalah’ itu cukup bagiku merangkum simpul dia ingin menang sendiri. Mau unggul tanpa peduli bagaimana cara dan jalan mana. Dia tidak bicara soal kebenaran. Dia bicara tentang kepentingan sendiri. Berkali-kali ibu dengar saudaraku penganut antiintimidasi, tapi di sisi lain justru telah dia kukuhkan cara,” Biru Langit kian pedih.

Dia terpaksa mengeryitkan dahi karena ini masalah terpelik yang dihadapi—menyoal warisan saat ibundanya masih segar bugar. Kenyataan, bayangan, fakta dan ilusi saling menumbuk

“Lantas bagaimana karep-mu?”
“Kuakui aku miskin, tidak berduit, Ibu. Sisa-sia duit terpenting keluargaku sudah raib. Tapi janganlah lalu ibu menzalimi aku, mengaturku tanpa sudi kehendakku. Terus enteng saja menuntut aku untuk pasrah, nurut. Aku tidak rela. Maaf jika aku tersinggung—sesuatu yang tak boleh, tetapi masih saja ada karena Tuhan melengkapi manusia itu makhluk berhati, berjiwa dengan rasa itu, juga kecewa,” Biru Langit bulat berpegang sesuatu yang diperjuangkan.

“Ya. Tapi ibu yang punya mau kamu cepat terima warisan.”
“Justru karena perintah ibu—orang yang lebih tua, lebih lama hidup di zaman ini, zaman pagi tempe sore dele. Mustinya ibu sampaikan sesuatu yang benar. Ibunda sudah betul, tapi harusnya memahamiku, pendapatku juga sebuah kebenaran.”
“Apa maksud kamu, Biru Langit?” ibundanya mulai tak tahan gempuran emosi.

“Ibunda memaksakan kehendak padaku. Di satu sisi ibu membuka jalan bagi orang susah seperti aku, tapi di sisi lain ibu mengatur aku dengan membagi sisa warisan agar aku melunasi hutang-hutangku. Hutangku, juga terhadap saudara adalah sepenuhnya tanggungjawabku. Biar ibu cukup tahu itu. Aku harus bayar dengan tanganku sendiri, dengan uang dari manapun itu aku dapatkan, termasuk biarpun dari warisan ibu.”

Mendengar ini ibunda tak bisa berkata jelas. Kalimatnya patah-patah. Matanya merah. Lalu meleleh—sesuatu yang sebenarnya bukan keahlian dia.

“Ibu kasihan padamu, Biru Langit. Karena itu ibu carikan jalan keluar, duit ini untukmu.”
“Itulah kesalahan ibu. Bohong semata demi belas kasih. Lalu tanpa seizinku ibu memotong uang itu untuk membayar hutangku pada saudara. Ini tidak adil, tidak benar dan tidak fair.”

“Maksudmu?”
“Ada yang memanfaatkan kesusahanku. Aku susah. Tapi mencoreng mukaku tentu tak kurelakan.”

Cepat ibunda masuk kamar. Pertahanannya jebol. Tak sempat dia mendengar gemuruh dada putranya yang memecah karena menyemburkan api di mukanya. Di kamar isaknya mengiris-iris tabiat ibunda, seolah sebilah sembilu mletik dan ujungnya menusuk-nusuk tanpa ampun. Tabiat ibunda diserbunya dan memampatkan arus jalan nafas dari lubang hidungnya. Isak tangis ibunda benar-benar terserak.

Suasana diam. Saling menyumbat untuk mendebat. Terlihat lubang hidung Biru Langit kembang kempis nyaris pula nangis hanyut oleh sesengguk ibundanya. “Kalau begitu baiklah. Aku terima permintaan ibunda. Aku pasrah berapapun jumlahnya,” ucap Biru Langit tunjukkan kebesaran jiwanya.

“Ikhlas?” ujar saudara perempuan yang hendak mengganti uang Biru Langit. “Begini, saran ibu. Kamu masih terima duit satu setengah juta dari sisa keseluruhan warisan peninggalan ibu. Duit itu aku bayar lantaran aku yang menguangkan harta peninggalan ibu pada saudara-saudaramu. Tapi setelah dihitung, kamu punya hutang tujuhratus ribu pada saudara laki-laki sebagaimana permintaan ibu. Kamu harus bayar lunas. Mengerti?”
“Itu artinya karena aku sudah tak percaya lagi padamu,” sergah saudara laki-laki.
“Oh, jadi itu masalahnya. Ada yang tak percaya. Baiklah.”
Uang diterima Biru Langit Rp. 800.000,-

“Sisanya?”
“Diamlah. Itu sudah urusanku,” tegas saudara perempuan. “Yang penting kamu sudah tak punya hutang.”
“Tidak bisa. Ini soal kepercayaan. Aku juga bisa tak lagi percaya pada saudara.”
Biru Langit giliran menyerang saudara laki-laki. “Kapan kamu butuh duit?”

“Sekarang,” jawabnya.
“Kalau begitu aku bayar. Ini soal kepercayaan. Tujuh ratus ribu. Lunas.”
Biru Langit menyodorkan sejumlah itu dari uang Rp. 800.000,- yang diserahkan saudara perempuan. Ibu sudah bisa menguasai diri. Tidak jelas perwajahannya. Dia hanya memandang Biru Langit lebih lama.

“Jadi kamu cuma seratus ribu?”
“Ini sudah seperti maksudku. Dari tanganku sendiri.”
Ibunda Biru Langit heran. Barangkali terpukul tindakan dan caraku. Sesuatu yang semula dikiranya sepele ternyata rumit, berbelit, berputar dan hasilnya itu-itu juga. Jumlahnya itu-itu saja.

“Kini sudah clear, biarpun saat ini aku cuma kebagian seratus ribu rupiah, begitu bukan?”
“Ya, clear.”
“Tapi dengan kamu belum,” Biru Langit khusus bicara pada saudara perempuannya. “Kamu musti bayar aku sisanya, tujuhratus ribu itu.”

Esoknya, sebelum meninggalkan rumah, pulang ke kontrakannya, Biru Langit meninggalkan nomor rekening Zahra—istrinya. Dia tekan tombol telepon dan berpesan agar saudara perempuannya hari itu segera mentransfer uangnya. Persis jumlahnya Rp. 700.000,-. Tentu saja hitungan itu tidak persis betul. Biru Langit harus potong biaya transfer, ongkos telepon.

“Tak mengapa. Ini harga diri. Bukan seharga pulsa telepon atau karcis bis.”
Satu-satunya yang di benaknya adalah Zahra dan putranya.
“Zahra, kuberikan uang ini padamu, jangan kau minta senyuman yang penuh misteri,” gumam Biru Langit.
***

MENGINGAT istrinya—Zahra, perasaan iba sungguh terbit di benak Biru Langit menyalip kemampuannya sebagai suami. Biru Langit memang gampang iba pada siapa saja, perempuan, anak-anak, orang tua, anak yatim, orang miskin, penderita, orang kaya yang miskin jiwa, atau orang berjiwa besar yang kerdil nasibnya. Tetapi iba pada Zahra kali ini sontak membuyarkan segala isi perasaannya. Hilang sirna semua rasa, naluri, indera bahkan pikirannya, hanya lantaran cerita sepele perihal Zahra belaka.

Mula-mula oleh karena keinginan Zahra untuk pergi ke sebuah WC umum. Waktu itu malam hari. Dia hendak buang hajat, sepulang kerja lemburnya, Zahra minta Biru Langit mengantar hingga pintu WC. Sambil meremasi perutnya yang nyaris ambrol saja seluruh isi ususnya. Biru Langit pun membalap langkahnya, sebab justru Zahra terbukti dalam keadaan demikian tak lebih cepat dari merangkak. Kakinya tersendat-sendat.

Perangainya ditarik-tarik melukiskan perut melilit. Jarak pintu rumah kontrakannya dengan WC umum kurang lebih 20 meter dan harus melintasi pojok gang jorok biasa ditongkrongi anak-anak muda kampung yang pangangguran. Seperti malam itu juga, di pojok gang itu kasak-kusuk, bicara kasar mereka, derum raungan sepeda motor membuat Zahra mengurungkan niatnya untuk buang hajat. “Nggak jadi!!” katanya. Lantas ia balik kucing dan menyisakan keheranan dan tanya Biru Langit. Keheranan dan tanya yang tak pernah terjawab sampai keduanya bertengkar tanpa sebab, kecuali oleh perkara yang amat pribadi—buang hajad di WC umum itu tadi.

Biru Langit hanya menduga-duga. Bagaimana bisa Zahra cepat mengurungkan niatnya, seolah ada yang menyumbat lubang pintu keluarnya hajat hanya karena anak-anak muda yang kurang kerjaan itu? Padahal ada Biru Langit, suaminya yang siap berjaga di pintu WC dengan beberapa ember air telah dibawanya.

Lain waktu, Zahra mohon Biru Langit mendampinginya pergi menemui salah seorang kliennya, yang belum pernah sama sekali ia kunjungi. Karena itu Zahra butuh bantuan suaminya menemukan alamat yang sudah ia catat dalam buku hariannya. Sebagai suami, Biru Langit tak keberatan biarpun berkendara umum. Naik bis, naik mikrolet, becak, jalan kaki. Suatu peristiwa tak diduga terjadi.

Sepanjang perjalanan di angkatan, keduanya sama sekali tak saling bicara. Berujung Biru Langit kehilangan Zahra. Atau lebih tepatnya Zahra kehilangan jejak suaminya. Ternyata Biru Langit berjalan terlampau cepat dan terlalu jauh dari Zahra. Ketika di kendaraan umum, Biru Langit menoleh, meraba serta mendengar sekelilingnya ternyata di situ sudah tak dijumpai Zahra. Sesampai di rumah, keduanya pun kembali bertengkar. Zahra menyumpahi Biru Langit bermacam-macam. Tangannya memukul dan kakinya menendang. Dia mulai berani menghajar Biru Langit. Benar-benar Zahra berani pada suaminya.

Pasangan Zahra dan Biru Langit menikah dua tahun sesudah rezim Soeharto tumbang—hanya selisih beberapa minggu semenjak kisah airmata di muka kasir supermarket.

Waktu itu ketika pacaran Zahra mengajaknya untuk berbelanja. Sebagai calon suami, biarpun harus pura-pura bergaya belanja di supermarket, di plasa-plasa, laki-laki Biru Langitlah yang harus bayar semua kebutuhan Zahra, mulai dari pasta gigi, pembalut wanita, kue, permen, rok mini hingga supermi. Apalagi Biru Langit memang sudah bekerja. Di depan kasir, Zahra mencermati selembar uang yang hendak dibayarkan Biru Langit. Selembar limapuluh ribuan edisi khusus bergambar Soeharto senyum. Uang itu masih gres dan bukan cuma Zahra yang terpikat tapi juga kasir itu tertarik pada keindahan desain uang kertas itu dan bermaksud memilikinya.

Pada uang kertas itu ada lubang transparan yang seolah-olah bukan terbuat dari kertas atau plastik tapi dari emas. Zahra tidak rela uang itu dibayarkan. Karena itu satu-satunya yang tersisa, maka dibayarkan juga oleh Biru Langit biarpun ia bersedih hati dan membiarkan kekasihnya itu menangisi kertas Soeharto senyum itu. Zahra baru berhenti sesenggukan sesudah dikatakan Biru Langit padanya, “Sudahlah, aku masih menyimpan dua lembar lagi di rumah.” Zahra bisa menghapus airmatanya sekalipun agak ragu lantaran takut Biru Langit berbohong padanya. Begitu turun dari tangga Zahra sudah sudi menggandeng tangan kekasihnya dan bahkan menggamit pinggang calon suaminya itu.

Pernikahan antar keduanya memang dibilang tak terlalu rumit. Pacaran tak terlalu lama karena keduanya sama-sama menganggap sebagai sesuatu yang kurang penting. “Yang penting adalah cinta dan kesetiaann,” demikian ikrarnya beberapa hari menjelang pernikahan. Di pinggiran kota kecil Lamongan selatan, di kampung calon mertuanya itu, yang namanya pernikahan itu pihak laki-laki dituntut banyak keluarkan uang dalam jumlah besar untuk meminang si perempuan sebagai maskawin. Ini beberapa kali dilihat sendiri oleh Biru Langit ada dua truk yang berbaris saat ada pinangan. Kedua truk itu penuh hasil panenan dengan seekor kerbau jantan dewasa untuk calon istrinya. Memang ada pula yang cukup dengan perhiasan emas berpuluh-puluh gram. Ada juga yang sekadar maskawin berupa seperangkat alat sholat dan kita suci Al-Quran. Bahkan ada yang Cuma beberapa puluh ribu uang, itupun masih berutang. Zahra minta dinikahi cukup dengan meminta maskawin uang Rp.100.000,-. “Asalkan maskawin itu Mas bayar dengan dua lembar uang limapuluh ribuan edisi khusus bergambar Soeharto senyum yang kapan hari Mas janjikan,” pintanya.

Suatu syarat yang sama sekali tidak berat, karena dua lembar uang yang dimaksudkan itu memang masih tersimpan rapat-rapat oleh Biru Langit. Keduanya menikah sederhana. Serba sederhana. Foto-foto tidak ada, pesta juga tidak. Cuma yang istimewa soal Soeharto senyum itu tadi, biarpun tak dihadiri oleh yang terhormat beliau yang bersangkutan. Namun namanya pernikahan tetap saja disaksikan banyak orang. Seperti tontonan. Biru Langit membaca ikrar akad nikah begitu keras dan mantap menyerupai deklamasi sebuah puisi. Bedanya tidak ada tepuk tangan.

Benih pertengkaran sesungguhnya sudah dirasa Biru Langit semenjak dua peristiwa. Kali pertama, Biru Langit telah dipesan orangtuanya bahwa perempuan bertubuh pendek, seperti Zahra, apalagi yang punya weton ahad kliwon itu banyak bicara dan cepat naik darah. Berikutnya ketika malam pertama, demikian bahagianya Zahra lupa menyimpan ‘Senyum Soeharto’ itu di tempat yang aman setelah sekian lama mengaguminya. Sementara Biru Langit juga lupa menyiapkan tissue sebelum sanggama. Sampai akhirnya entah bagaimana kejadiannya uang kertas itu tersembur ceceran sperma tepat di bagian yang paling misterius—senyumnya. Itulah kali pertama dalam keluarga terjadi amarah dan perang di hari yang justru seharusnya penuh berkah.

Usai tumbangnya rezim Soeharto, uang kertas yang ramah itu jadi barang antik yang diburu banyak orang kaya, yang barangkali sudah dapat diduga sebelumnya oleh Zahra. Tapi tidak oleh Biru Langit. Saat keluarga itu kesulitan uang, seorang kolektor hendak menawar selembar senyum edisi khusus itu seharga Rp. 5.000.000,- sebelum akhirnya menaikkan senilai Rp. 6.000.000,-. Zahra menolak. “Ditawar berapapun tak bakal aku terima!” Lalu di pun menyimpannya lebih rapat di tempat yang tak seorang pun mengetahuinya, bahkan oleh Biru Langit, suaminya. “Apalagi yang ini nomor serinya berurutan. Tak seorang pun yang berhak selain aku,” tukas Zahra makin membuat ngiler Biru Langit akan jutaan uang itu.

Biru Langit membenarkan perkataan Zahra karena menurut ajaran agama, seorang suami jelas tak berhak untuk mempengaruhi apalagi bernafsu memiliki kembali maskawin yang telah diberikan pada istrinya, jika tak mau dicap laki-laki pendosa. “Aku tidak tahu sepenuhnya isi hati Zahra. Kalau aku sih, apalagi dalam kondisi serba kekurangan dan kesulitan uang, dapat menduga. Satu-satunya yang meragukan isi hatiku hanyalah dosa itu tadi. Ya, kalau bicara dosa, semua manusia pasti berdosa. Biarpun seorang presiden yang tersenyum dan gambarnya dipasang di lembaran uang itu, juga berdosa. Bahkan apakah tidak mungkin, dia lebih berdosa lagi karena itu, sebab telah beribu-ribu bahkan berjuta-juta rakyat dibuatnya berdosa lantaran uang yang ada gambar dirinya itu? Eh!!” pikirnya.

Krisis ekonomi yang berkepanjangan membuat keluarga itu sama-sama kehilangan keseimbangan. Keduanya, Zahra dan Biru Langit telah kehilangan pekerjaan. Fatalnya, malapetaka itu justru datang pada waktu Zahra sudah punya adik alias anak. Hingga tidak ada alasan (dan rasanya jikapun ada tak perlu diceritakan di sini) untuk terus menyimpan dua lembar senyum penuh misteri itu. Biru Langit pun sudah lupa bagaimana dan bagian mana saat Zahra bisa melupakan uang itu untuk kepentingan menyambung hidup. Yang dia ingat adalah saat Zahra berdoa, agar senyum di lembar kertas itu tetap apa adanya supaya laku dijual untuk kebutuhannya. Syukurlah masih ada senyum biarpun semisteri apapun. Tidak dalam rupa-rupa berjuta-juta, uang itu masih harus dipotong Rp. 2.000,- untuk ongkos jasa tukar. Nilai kotornya tinggal Rp. 88.000,- Nilai bersihnya habis untuk keperluan asap dapur. Sejenak dapat menarik nafas lega, tapi ini bukan akhir dari kesulitan, tapi awal dari kehancuran keluarga. Kehancuran yang memilukan.
***

“…SEBENARNYA aku malas untuk menulis ini, tapi aku harus melakukannya agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Aku ingin kau tahu, meski mungkin beberapa bagian sudah sering kau dengar. Hingga saat ini, aku masih tidak bisa berpikir apa-apa tentang pernikahan kita selanjutnya. Beberapa hari sudah kita mencoba untuk tak bertemu. Ini kita lakukan mungkin dengan demikian keadaan menjadi lebih baik. Aku tidak yakin.

Sebab dalam kesendirianku, di saat malam menjelang tidur atau saat aku tiba-tiba terbangun, aku tidak bisa menahan tangisku. Ada rasa sakit di dadaku setiapkali mengingat perlakuanmu. Aku tidak pernah menyangka kau tega berbuat seperti itu. Kau dengan mudah melempar kesalahan kepadaku. Aku menyesal baru mengetahuinya justru di saat kita punya adik. Setiap kali aku ingat, setiap kali itu pula hatiku mengatakan, TIDAK BISA! Aku tidak bisa hidup bersamamu lagi. Seharusnya kau tahu setelah kita menikah, kau satu-satunya orang yang menjadi tempatku bersandar. Tapi sekarang setiap kali kau di dekatku, aku merasakan sakit yang teramat sangat.

Dulu aku mencintaimu karena kau orang baik. Jika saat ini kebaikan itu tak kudapati lagi, apakah kau harus bertahan? Kau sering bilang kau sangat menyayangi aku (juga adik) tapi apa bukti dari perkataanmu? Jika kau sudah merasa melakukan yang terbaik untuk keluarga, mengapa keadaannya seperti ini? Jika kau menjadi pemimpin keluarga yang baik, mengapa kau tidak bisa mengatasi semua masalah ini? Aku hanya ingin jagan kau sia-siakan apa yang kau miliki. Anak dan istri adalah harta tak ternilai yang kau miliki. Seharusnya kau mencintai dan menyayanginya. Jika sampai terlepas tidak mudah bagimu untuk meraihnya lagi. Zahra.”

Sehabis membacanya, Biru Langit melipat kembali surat terakhir yang diterimanya dari Zahra itu. Dia tak lagi menaruhnya di bawah tikar pandan. Dimasukkannya di lipatan buku tebal terindah yang semula terbuka dan menampakkan gambar-gambar warna-warninya yang memikat. Sesuatu yang sungguh aneh pelan-pelan merasuki jiwanya. Diam-diam ia iba pada Zahra, sesuatu yang selama ini lama hilang dari perasaannya pada orang lain. Dia bicara sendiri dalam hatinya. Bahwa dia masih mencintai Zahra, biarpun hal itu dia harus tunjukkan dengan perasaan iba.

“Betapa Zahra kini sedang ketakutan untuk hidup,” piker Biru Langit.

Kini kesendirian Biru Langit begitu menyiksa. Cermin besar yang terpasang dekat pintu, membuat Biru Langit berikut nasib buruknya, hidupnya, menjadi ganda. Bila melewati sisi pintu atau sedang memikirkan sesuatu, tubuh Biru Langit menjadi dua.

Selanjutnya beranak-pinak dan di rumah kontrakan itu penuh sesak oleh tubuhnya. Berjubel sampai sedikit saja dia tak bisa menggerakkan tubuhnya. Persis di tempat umum—sesuatu yang amat ditakuti Zahra. Jadilah Biru Langit terpaku dan pikirannya mengembara berloncatan seperti melompat dari satu kepala ke kepala lainnya yang sungguh serasa seperti hantu itu kehadirannya. Hanya karena sepotong kaca kemarahan menjadi tersumbat. Sebab bukankah apa yang diarasakan, bicarakan, teriakkan, pikirkan tentang kekecewaan, dendam, kegelisahannya tentang dirinya sendiri belaka?

Tidak ada bayangan apapun tentang kehidupan di situ. Aquarium tua di sebelahnya diam di situ dan tiada ikan-ikan di dalamnya. Kertas-kertas bekas dan plastik, botol dan gelas malah disumpalkan di mulut aquarium. Tidak ada binatang pagi itu. Pintu terkunci menjadikan kucing tak bisa mengetuk apalagi permisi. Lalat terbang di luar. Nyamuk sembunyi dan hanya sisa-sisa bangkainya yang belepotan darah kering di atas karpet plastik dan tikar pandan sewaktu terbunuh dalam serangan Biru Langit semalam.

Buku-buku menumpuk mati dan sebagian lagi di sebelahnya runtuh dan murung. Kesunyian. Sepi. Sendiri. Susah dan kosong. Satu-satunya kawan yang senantiasa hadir di saat-saat seperti ini adalah ibunda. Dia datang tepat waktu dan tak pernah mengetuk pintu.

“Kamu bosan untuk hidup, anakku?”
“Aku hanya ingin tidur, Ibunda. Dan banyak bermimpi,” keluh Biru Langit.
“Tidak, anakku. Kamu tak perlu mimpi itu. Seperti orang-orang kaya itu juga tak butuh mimpi. Orang yang tak punya persoalan dengan duniawi akan sulit bermimpi karena hidup itu sendiri sudah seperti banyak impian, seperti impian-impian di layar TV. Tapi bukan karena itu kamu tak perlu mimpi, karena kamu bukan orang kaya. Bukankah sudah kuceritakan padamu semenjak kecil orang-orang seperti kita benar-benar tak memerlukan mimpi itu karena dia selalu hadir tidak pada tempatnya dan salah alamat?” jawab ibunda Biru Langit.

“Tapi aku betul-betul perlu tidur, Ibunda. Dan dalam tidurku mustahil tanpa mimpi. Di siang bolong sekalipun.”

“Ya, yang diperlukan orang miskin macam kita hanya tidur. Tidur yang sebenar-benarnya tidur. Berapapun lamanya. Semenit, sepuluh menit, satu jam, sepuluh jam? Tidur yang terbebas dari mimpi, igauan, pikiran, terror kebutuhan hidup, mati, dunia, akherat, keseharian masa lalu dan hari depan. Bahkan Tuhan. Dan memang sian dan malam bukan hal yang penting, sebab ini hanya perkara apakah matahari menyaksikan kita atau tidak, toh dia juga punya rasa bosan untuk tujuannya itu. Ketika bumi 12 jam di pelupuk matanya, lalu ia pergi ke belahan lainnya untuk memata-matai orang—mungkin seperti kita yang tidak mempedulikannya. Apakah artinya matahari atau bulan bila kita tak benar-benar mempedulikannya? Bukankah kamu juga bisa mempedulikannya pada saat tidur dengan membuat karangan tentangnya lalu kau ceritakan pada waktu bangun?” Ibunya mengajak bicara Biru Langit tanpa kenal waktu seperti menari-nari di angkasa.

“Yang menggelisahkan aku, Zahra takut pada malam, Ibunda. Lebih parah lagi bagiku siang dan malam sama-sama menakutkan.”

“Itulah kesalahanmu. Ibu tidak setuju jika orang berkata ketakutan adalah pertanda adanya kehidupan. Yang benar adalah ketakutan itu bukan tanda-tanda ada apa-apa. Bukan kehidupan bukan pula kematian. Ketakutan adalah pertanda hidup setengah mati.

Hidup tapi mati atau mati tapi hidup. Sesuatu yang sama sekali tak punya arti bagi tatanan kehidupan kosmos. Untuk apa kamu hidup tapi penuh ketakutan, atau untuk apa mati kalau menakutkan? Hidup itu hanya beda sedikit dengan mati, sebab rupanya hanya beda waktu, tempat dan alamat. Kesalahanmu berikutnya, kamu hanya diperkenalkan matahari pada siang dan malam. Itu perasaanmu. Dan tidak diperkenalkan pada kehidupan. Sesungguhnya, Tuhanlah yang memperkenalkanmu tidak saja pada ketakutan tapi juga keberanian dan celakanya di matamu Dia selalu datang pada malam hari.

Barangkali itu karena kamu lahir pada waktu malam hari dan hari-hari berikutnya kamu sering jumpai Dia dengan rupa-rupa bentuknya.* Terkadang berseragam yang membunuh orang dengan senapan dan meriam. Kadang pula Dia jadi orang biasa yang membawa klewang dan harus berurusan dengan orang berseragam. Seringkali pula Dia rela menjadikan dirinya teroris dan membawa bom ke sana-kemari meledakkan hotel-hotel, night club, pub, masjid, gereja, tempat-tempat rekreasi para pencari hidup. Tapi kamu lupa Tuhan juga pernah hadir dengan ramah, berbaik hati dan penuh senyuman, berseragam putih bersih sembari mengucapkan ‘maafkan saya, saya sudah berusaha sebisa mungkin’ kepada orangtua yang anaknya mengakhiri hidupnya di rumah sakit. Tidakkah kamu menyadari bahwa sesungguhnya di mata ibunda, anak itu adalah kamu yang sekarang menjadi hantu?”

Biru Langit tak bisa berkata-kata. Satu-satunya yang bisa dikerjakan adalah memegang kulitnya. Lalu menyungging senyum. Begitu membuka matanya, dia tak lagi menemukan bayangannya di cermin.[]

------------
Catatan:
*) Di sini sama sekali pengarang tidak bermaksud apalagi mempertegas diri sebagai penganut paham pantheisme. Islam sama sekali tidak mengenal ajaran itu, meskipun bukan berarti tidak memberi peluang di dalamnya sebagaimana tersebut dalam ayat Al-Quran yang tersohor, “Kau lebih dekat padanya dari pada urat nadinya sendiri.” Usaha pengarang hanyalah menunjukkan adanya tokoh-tokoh yang tidak mustahil menyakini lain dari ayat itu dan secara sadar atau tidak menyebarkan ajaran ke dalam tindakan nyata dalam kehidupan masyarakat. Buktinya, makin banyak manusia yang mengkorup kekuasaan Tuhan ke dalam tangannya yang bukan haknya. Diantaranya membunuh, menggunakan kekuasaannya untuk merusak tatanan kehidupan kosmos, perang, merusak lingkungan, mendatangkan bencana dan lain sebagainya.

Komentar