Langsung ke konten utama

PUISI-PUISI MIMBAR LAWEN NEWAL

Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Lawen Newal yang kiprah kepenyairannya juga dikenal dengan nama Junewal Muchtar adalah salah seorang penyair penting Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Meski begitu, kiprah kepenyairannya telah memantapkan dirinya, bahwa sosok Lawen Newal adalah penyair yang di kawasan Riau, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, mempunyai tempat tersendiri yang kokoh—kuat. Dua karya sebelumnya, Batu Api (1999) dan Perjalanan Darah ke Kota (2003) memperlihatkan kegelisahannya dalam tarik-menarik masa lalu puak Melayu yang ditaburi puisi-puisi tradisional yang tiada henti terus mengalirkan tradisi, di satu sisi, dan perubahan sosial dalam arus perkembangan zaman pada sisi yang lain. Jadi, semangatnya kulturalnya adalah: satu kaki berada dalam ibu budaya yang melahirkan dan membesarkannya, dan satu kaki lainnya gamang menginjak Indonesia yang dalam pandangannya, mencemaskan.

Dalam serangkaian pembacaan puisinya, Lawen kerap tampil menderapkan spontanitas, kecepatan berpikir, dan improvisasi, sebagaimana yang menjadi semangat dasar berpantun, dan mabuk ekspresif sebagai representasi segala rasa dalam memandang situasi sosial di sekitarnya. Mungkin ia bermaksud memberontak, mencemooh, menyampaikan kritik sosial, mencoba memberi penyadaran atau mengungkap kecintaan. Segalanya dapat menghambur begitu saja, dengan atau tanpa kendali. Dan puisi bagi Lawen adalah ekspresi kreatif yang boleh memainkan improvisasi ketika itu dianggap menjadi tuntutan situasi.

Cara pengucapan Lawen Newal tentu saja tidak sendirian. Masih ada deretan panjang nama yang juga mempunyai kegelisahan yang sama, pengucapan yang sama atau obsesi yang sama. Tetapi, dalam sejumlah kesamaan tematik, pengucapan dan ekspresi itu, selalu ada kekhasan, unikum yang menciptakan keberbedaan. Di situlah posisi kepenyairan Lawen Newal ikut mewarnai lanskap peta perjalanan puisi Indonesia yang dalam kenyataannya memang tidak dapat menghindar dari kultur ibu, kecamuk kegelisahan batin, dan pemaknaan atas situasi sosial zamannya. Lawen dengan kesadaran kepenyairannya, sangat memahami jalan bergelombang yang menjadi pilihannya.

Dalam kumpulan puisi Topeng Makyong –Batu Api Dua— (Pustaka Panggung Melayu, 2008), pengucapan Lawen tampak lebih reflektif, simbolik—sebagaimana yang dapat kita tangkap pada dua antologi sebelumnya—metaforis, meski dalam beberapa puisinya, cara membungkus kesadaran keindonesiaannya kerap mencelat begitu saja dan menyebar dalam sejumlah pengucapan yang menggugah emosi. Permainan makna dalam balutan metafora, cukup cantik tidak sekadar sebagai ekspresi kegelisahan batin an sich, melainkan juga sebagai pantulan kesadaran diri pada alam yang sesungguhnya cermin bagi kehidupan manusia; pada negeri yang kian tak bersahabat dengan nilai-nilai kemanusiaan. Lawen coba memaknai dengan latar kultur ibu yang berada di belakangnya dan segala harapan yang berada di depannya. Maka, segala benda yang diakrabinya, seperti laut—gelombang—perahu, kerap menjadi latar material yang berfungsi mendukung tema yang hendak disampaikannya. Di situlah eksotisme kultur etnik memperoleh pencerahan ketika ia digunakan sebagai upaya memaknai dan menerjemahkan situasi sosial perkembangan zaman.

Periksalah puisinya yang bertajuk “Topeng Makyong.” Meski kritiknya atas situasi kehidupan kenegaraan dan kebangsaan ini jelas dialamatkan ke mana, posisi topeng makyong dalam teks itu memaksa kita menelusuri makna topeng dalam tari makyong, sebuah tradisi berkesenian dalam kebudayaan Melayu yang makin terpinggirkan. Lawen memang mengungkap kegelisahannya pada situasi sosial zaman ini, tetapi sekaligus membawa misi kulturalnya ketika tradisi kesenian makyong dalam kebudayaan Melayu, tidak lagi mendapat apresiasi masyarakat. Dan topeng, sebagai properti penting dalam kesenian itu ditempatkan sebagai salah satu ikonnya.

Periksa juga puisinya yang berjudul “Dialog Ikan dan Para Pemancing” yang mengawali buku kumpulan puisi ini. Bukankah itu merupakan sebuah isyarat yang mewartakan dua makhluk dengan dua kepentingan? Para pemancing yang bertindak sebagai pemburu, dan ikan sebagai simbolisasi makhluk tak berdaya yang kerap dijerat tipu daya, iming-iming, janji palsu, dan omong kosong. Sebuah paradoks yang menggambarkan kuasa para penguasa—penipu dan keteraniayaan makhluk (baca: rakyat) tak berdaya. Bukankah kehidupan kemasyarakatan kita dewasa ini laksana paradoks pemancing dan ikan. Umpan pemancing adalah jerat yang membawa ikan pada kematian. Maka ketika ikan-ikan itu terbang dibawa camar, dan barangkali juga pergi menghadap tuhannya, kesadaran aku liris adalah mengembalikan kehidupan pada habibatnya; pada sunatullah, pada hukum alam yang jujur dan tak menipu. Lawen coba memberi penyadaran, betapa busuk kehidupan yang ditaburi tipu-daya dan kemufaikan.

Puisi “Rig dari Natuna” –yang mengingatkan saya pada puisi Rendra, “Rick dari Corona” jelas mewartakan kedukaan tentang kekayaan alam yang dikuras, sementara masyarakat di sekeliling tidak mendapatkan apa pun dari tanahnya sendiri, padahal tanah itu adalah warisan leluhurnya yang tetap menunjukkan jejak nenek moyang. Itulah model suara penyair (Melayu) yang kerap digemakan. Lawel bagai hendak merepresentasikan gugatan itu. Ia tak mengungkap suasana hati atau suasana peristiwa. Ia mewartakan sebuah narasi kepedihan. Gaya pengucapan ini akan mengundang efek puitik yang menggugah dan penuh pesona manakala ia disampaikan secara teaterikal dengan vokal yang menyihir. Lawen agaknya sangat menyadari kualitasnya sebagai penyair dan pembaca puisi yang piawai. Maka, sejumlah puisinya yang lain, tampak dikemas dengan kesadaran itu. Lihat juga puisinya yang berjudul “Orang-Orang Perahu,” “Perih,” atau “Orang-Orang Terbuang” dan sejumlah besar puisinya yang lain.

Dalam konteks itu, saya melihat, Lawen makin matang dalam memainkan peran kepenyairannya yang menempatkan bahasa dan pengucapan sebagai dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Dan secara keseluruhan, puisi-puisi dalam antologi ini adalah pengucapan kegelisahan penyair yang tidak dapat meninggallupakan tradisi kelisanannya, dan sekaligus menyadari bahwa bahasa adalah sarananya. Di sini pula keunikan—kekhasan puisi-puisi Lawen memperlihatkan eksotismenya; bagaimana ia memadukan kelisanan dan keberaksaraan dalam wujud puisi. Maka, napas yang mendominasi semangat puisi-puisi Lawen berkenaan dengan ibu budaya yang melahirkannya, bukanlah pada mantera atau pada hikayat, melainkan pada pantun dan gurindam. Pada pantun kita melihat spontanitasnya, dan bukan pada bentuk sampiran dan isinya; dan pada gurindam ada kandungan tentang fatwanya yang coba memberi penyadaran.

Lalu di mana pula kelisanan itu dilesapkan Lawen? Justru di situlah kekuatan puisi-puisi Lawen memancarkan pesonanya. Simak saja secara sembarang salah satu puisinya dalam antologi ini. Maka, puisi-puisi itu akan menjadi puisi yang enak dibaca—enak didengar. Bukanlah puisi-puisi seperti ini merupakan kekhasan puisi tradisional yang sengaja dibangun untuk dibacakan di depan publik. Itulah model kelisanan yang dalam tradisi kesusastraan Melayu dalam menciptakan komunikasi antara pembaca—pendengar; aktor—audiens.

Meskipun demikian, tentu saja pilihan itu bukan tanpa risiko. Lalu di manakah Lawen–lewat puisi-puisinya itu—hendak menciptakan jalinan komunikasi dengan pembacanya? Jelas, Lawen coba menghindar permainannya dalam pemikiran filosofis yang menjadikan puisi sebagai sebuah perenungan yang asyik-masyuk sendiri, Puisi-puisi Lawen bukanlah untuk dinikmati sendiri di dalam kamar tertutup (close reading). Puisi-puisi Lawen adalah puisi mimbar yang akan memancarkan efeknya yang mempesona ketika ia berhadapan dengan publik pendengar. Simak saja puisinya yang bertajuk “Hidung tak Mancung”. Meski ia membungkus sebuah simbolisme –hidung mancung—dan topeng makyong, sasarannya jelas menegaskan perlawanannya pada kemunafikan. Topeng makyong adalah penutup wajah yang di sana, pemain akan menjalanklan karakternya sesuai dengan fisiologi topeng itu.
***

Begitulah puisi-puisi mimbar Lawen Newal tidak sekadar mewartakan serangkaian kegelisahan penyair tentang puak dan tanah moyangnya, melainkan juga pengucapan puitik yang berada dalam tarik-menarik kelisanan dan keberaksaraan. Puisi-puisi Taufiq Ismail, Rendra, atau Hamid Jabbar berada dalam semangat yang sama dengan yang dimanifestasikan Lawen Newal. Dengan demikian, puisi disadari sebagai alat ucap yang bakal menghamburkan efeknya yang dahsyat manakala penyairnya berada di tengah publik. Itulah puisi mimbar, meski ia juga tetap tak meninggalkan sarana puitikanya sebagai karya seni yang juga mengusung keindahan puitik.

Bukankah di dalam puisi-puisi mimbar itu, kita juga masih menjumpai begitu banyak metafora, simbolisme, dan derap kesamaan bunyi yang sadar atau tidak, dapat merangsang emosi pendengarnya. Jadi, meskipun puisi-puisi Lawen berada dalam tarik-menarik kelisanan dan keberaksaraan, berada dalam jalin-kelindan tradisi puisi yang diwariskan oleh ibu budaya dan perubahan sosial zamanya, ia tidak tergelincir pada bentuk pernyataan yang artifisial. Lawen sama sekali tidak hendak mengumbar propaganda tentang kisah-kisah pedih puak Melayu dan tanah moyangnya. Ia berkisah tentang kepedihan dalam peristiwa yang menimpa masyarakat di sekitarnya, luka moyangnya, dan kecemasan pada elan kebangsaannya dalam serangkaian puisi yang tetap menyimpan daya pukau. Dan daya pukau itu akan menjelma pesona jika ia berada dalam suara pembaca puisi yang piawai.

Menikmati puisi-puisi dalam antologi ini, sungguh saya merasa berada di atas pentas yang tangkas. Dan Lawen Newal punya kualitas itu.

Lawen Newal telah melakukan pilihan atas jalur yang hendak ditempuhnya. Kekuatan itu niscaya akan menjadi monumen, jika ia punya banyak kesempatan memamerkan kualitasnya itu.
Tahniah, syabas, selamat!

Bojonggede, 27 Mei 2008

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com