Langsung ke konten utama

TKW di Antara Dua Hati

Judul: Sumi; Jejak Cinta Perempuan Gila
Penulis: Maria Bo Niok
Penerbit: Arti Bumi Intaran, Yogyakarta
Tahun: 2008
Tebal: 200 halaman
Peresensi: Sungatno*
http://cawanaksara.blogspot.com/

Penulis yang memiliki nama asli Siti Mariam Ghozali ini, mengangkat cerita-cerita yang bertema kehidupan para tenaga kerja wanita (TKW) Indonesia yang mengais rejeki di negeri seberang. Dalam novel ini, penulis bercerita tentang tokoh utama Sumi; perempuan desa yang miskin, lugu, sopan-santun, dan cekatan bekerja, hingga menjadi perempuan yang menaikkan status sosial keluarganya. Dengan modal tabungan harta kekayaan dan postur fisiknya yang lebih cantik daripada sebelumnya, Sumi dan keluarganya akhirnya disegani masyarakat sekitar.

Sumi dari sebuah keluarga miskin di sebuah desa yang mayoritas generasi mudanya tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Sumi sendiri, hanya mampu sekolah hingga akhir sekolah menengah pertama. Sebagai ganti sekolah, Sumi membantu keluarga memproduksi bahan bakar arang.

Keluarganya menginginkan Sumi mendapatkan pekerjaan lain. Parto, sang ayah, meminta adiknya -Yati- yang sukses di Jakarta; untuk mencarikan pekerjaan yang cocok untuk Sumi. Yati pun tidak menolak. Dengan segala keterbatasannya, Yati hanya mampu menyalurkan Sumi manjadi TKW melalui PJTKI di Jakarta. Sumi yang belum tahu tentang dunia pekerjaan di luar negeri, girang kesenangan. Dalam kegirangannya itu, saat disuruh memilih negara tujuan, ia memilih semuanya. Namun, karena disuruh memilih salah satu, akhirnya Sumi memilih ke Hong Kong.

Berawal dari sinilah, Bo Niok meramu ceritanya dengan segenap belantika kehidupan yang ada, termasuk cinta Sumi terhadap Kino, pemuda se desa, sebelum ia menjadi TKW. Dua tahun berlalu, Sumi mengambil cuti pulang ke kampung halaman. Dua minggu di tempat kelahirannya itu, Sumi berangkat kembali ke rumah majikannya untuk menyepakati kontrak kerja yang kedua. Namun, saat keberangkatannya, Kino yang sudah dengan susah payah menahan rasa kangennya, tak bisa pulang dari tempat kerjanya di luar kota. Meskipun tidak bisa jumpa Sumi selama dua tahun, Kino merasa lega karena berbagai kabar baik tentang Sumi telah didengarnya. Dia juga mendengar kabar bahwa orang tua Sumi dan orang tuanya, sepakat dan berjanji akan menjodohkan Sumi dengan Kino.

Sedangkan Sumi, yang sedang menjalani kontrak kerjanya yang kedua itu, tidak sengaja meyentuh dan mengambil hati tuan mudanya, Rusyho. Tanpa sepengetahuan orang tua dan teman-temannya, akhirnya Sumi mau menerima cinta dan rela dinikahi Rusyho. Sedikit yang disesalkan Sumi, selain tidak meminta doa restu dari orangtuanya di desa, ternyata Rusyho mengidap penyakit kelainan seks, mado mashokism.

Walau gelisah dan tak bahagia, Sumi tetap mengirimkan berjuta-juta uang kepada keluarganya di Indonesia, bersamaan itu pula Sumi tetap rapi dalam rahasia pernikahannya. Rahasia itu terkuak ketika Rusyho mengalami kecelakaan hingga maut merenggut nyawanya. Sumi yang mengalami shock berat dan mengalami gangguan, akhirnya dipulangkan ke keluarganya di Indonesia.

Rahasia Sumi hanya bocor di telinga Kino, yang berbahasa Inggris pas-pasan. Kino yang sebelumnya berhasil menamatkan pendidikannya lebih tinggi daripada masyarakat di sekitarnya, dengan sengaja menyembunyikan informasi yang diperoleh dari keluarga Rusyho. Informasi itu disembunyikan dan dikemas rapi oleh Kino, hingga tidak seorang pun di desa itu yang tahu. Cintanya kepada Sumi, membuat Kino rela menikahi Sumi ketika sembuh dari penyakit yang diderita. Keduanya sepakat untuk tidak membocorkan rahasia Sumi, kepada siapa pun termasuk keluarga sendiri.

Sungguh unik cerita yang diangkat Bo Niok ini. Dengan bahasanya yang sederhana dan tidak sungkan-sungkan menyelipkan istilah-istilah dari bahasa ibu -Jawa, menjadikan novel ini lebih akrab dengan kehidupan orang desa (wong ndeso) di Jawa.

Banyak stereotip negatif terlihat bahwa wong ndeso identik dengan keterbelakangan, miskin, paradigma berpikirnya instan dan picik, dan Bo Niok juga melayangkan pesan tersiratnya bahwa pendidikan di Indonesia belum merata, masih adanya kesenjangan ekonomi yang curam di berbagai daerah, masih banyaknya para TKI-TKW yang belum sepenuhnya memiliki bekal yang cukup dalam bekerja, dan rentan kalah dalam berkompetisi.

*) Pengelola perpustakaan Angon's cabang Hasyim Asy'ari Yogyakarta.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com