CERPEN SEBAGAI POTRET SOSIAL ZAMANNYA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sastra –di dalamnya tentu saja termasuk juga cerpen— bukanlah sekadar karya fiksional –menyulap fakta menjadi fiksi—tetapi juga catatan sebuah kesaksian atas satu atau serangkaian peristiwa yang terjadi pada saat dan zaman tertentu. Sebagai sebuah kesaksian, sastra boleh jadi sekadar mencatat segala peristiwa itu tanpa pretensi. Atau, mungkin juga ia mencoba melakukan pemaknaan atas hakikat di balik peristiwa itu. Bahkan, tidak jarang pula sastra menjadi alat bagi pengarang untuk menyelusupkan ideologinya, menawarkan misi budaya, memprovokasi untuk melakukan pemihakan, atau meledek hal atau pihak tertentu secara tersembunyi. Itulah sebabnya, dari karya sastra, kita (: pembaca) kerap menemukan berbagai hal yang baik atau buruk; yang tersirat atau tersurat; ledekan atau pengagungan. Jadi, sebagai catatan sebuah kesaksian, sastra menghasilkan rekaman situasi sosial pada zamannya. Ia menampilkan semacam potret sosial. Dari sana, terungkap situasi sosial, di dalamnya sekaligus tersembunyi semangat zaman.

Mengingat catatan dan rekaman itu kadangkala dihasilkan dari sebuah tafsir dan evaluasi tentang satu atau berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan dan sastrawan mencoba memberi makna terhadapnya, maka tidak sedikit pula karya sastra yang mengisyaratkan tanda-tanda, petunjuk, prakiraan, atau sekadar potret saja yang di masa-masa berikutnya, ia menjadi semacam catatan sejarah; menjadi fakta historis subjektivitas pengarangnya. Ia mencatat dan merekam situasi sosial pada zaman tertentu dan kemudian mencoba pula memaknainya bagi kehidupan ini, sekalian juga mengisyaratkan berbagai kemungkinan akibat-akibatnya sebagai buah dari peristiwa itu. Jika kondisi sosial pada zamannya dimaknai sebagai sebuah isyarat, lalu apa yang bakal terjadi di masa hadapan atas masyarakat yang bersangkutan: kebahagiaan atau kehancuran? Dalam hal ini, sastra sering juga diperlakukan sebagai ramalan tentang perkembangan zaman dan tanda-tanda yang akan dihadapi di masa depan. Apakah ramalannya itu benar-benar terjadi atau tidak, tidaklah penting. Ia hanya bertugas memberi tanda-tanda, mengisyaratkan tentang sebuah peristiwa yang (mungkin) akan terjadi dan melanda masyarakatnya kelak.

Cerpen “Gerombolan” karya Ayatrohaedi ini ternyata tidaklah berindikasi sebagai sebuah “ramalan atau isyarat.” Dan tampaknya, ia memang tidak berpretensi ke arah sana. Ayatrohaedi sekadar memotret apa yang dirasakan dan dilihatnya. Jika ia tidak memberi isyarat atau tanda-tanda zaman yang akan datang, lalu apa maknanya bagi kehidupan masyarakat sekarang? Apakah karya itu kemudian tak bermakna sama sekali dan kita (: pembaca) tega melemparkannya ke keranjang sampah. Jika begitu, percuma juga kita menempatkan karya sastra sebagai potret sosial yang mengungkapkan semangat zamannya. Inilah contoh kasus, bagaimana karya sastra yang ditulis hampir setengah abad yang lalu, masih memancarkan tidak hanya menyangkut pesona estetikanya, tetapi juga fakta-fakta masa lalu sebagai sebuah potret sosial. Mari kita periksa.
***

Cerita yang diangkat Ayatrohaedi dalam cerpen “Gerombolan” sesungguhnya bukanlah sebuah kisah yang mengungkapkan peristiwa besar. Terkesan ia sekadar bercerita begitu saja seperti seorang pendongeng dalam tradisi lisan. Maka, gaya bertuturnya terasa mengalir enteng, tanpa kelak-kelok, tanpa niat berfilsafat, dan tak berkehendak membawa pembacanya berkerut kening. Justru dari situlah pesona estetik cerpen ini memancar dan menampakkan dirinya.

Dikisahkan, seorang penduduk desa, Mang Kentang, berhasil menangkap seorang gerombolan. Tentu saja penangkapan itu sebagai prestasi luar biasa bagi pelakunya. Berita penangkapan itu pun menyebar. Belakangan diketahui, bahwa yang ditangkap itu bukanlah gerombolan, melainkan seorang gila. Maka, tak ada alasan untuk tidak membebaskannya. Itulah ikhtisar cerpen yang pernah dimuat majalah Tjerita, No. 3, Th. II, Maret 1958.

Lalu, di manakah estetika cerpen yang tampak begitu sederhana itu? Secara tematis, jelas bahwa cerpen itu mengangkat peristiwa aktual pada zamannya. Tentang situasi kacau akibat konflik tentara dengan lasykar DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia). Karena layskar DI/TII sering melakukan penyerbuan secara bergerombol, tidak dilakukan seorang diri, tentara kemudian menyebutnya sebagai gerombolan DI/TII. Akhirnya, melekatlah kata gerombolan sebagai identik dengan lasykar DI/TII. Itulah etimologinya. Maka, bagi masyarakat Jawa Barat, yang dimaksud gerombolan itu adalah lasykar DI/TII. Jadi, seorang gerombolan tidak lain adalah seorang lasykar DI/TII. Dalam hal ini, terjadi pergeseran makna: gerombolan sebagai kelompok orang yang lebih dari dua orang menjadi lasykar DI/TII.

Pada awal kemerdekaan sampai pertengahan tahun 1950-an, kekacauan yang terjadi di wilayah Jawa Barat semata-mata disebabkan oleh konflik antara tentara dan pasukan DI/TII. Tentu saja yang menjadi korbannya adalah rakyat. Tentara kemudian membentuk apa yang disebut sebagai “Pagar Betis” yang artinya pertahanan dengan melibatkan kekuatan rakyat. Jika di dalam cerpen itu diceritakan perihal keterlibatan rakyat dalam menjaga keamanan wilayahnya, hal tersebut dilakukan dalam kerangka pembentukan “Pagar Betis” itu.

Selain itu, gambaran yang diperlihatkan tokoh aku tentang ketakutannya pada serbuan gerombolan, kecemasan beberapa penduduk yang ngukurung dan hendak pulang ke kampungnya, dan munculnya istilah main rebab, menunjukkan situasi yang sangat mencekam. Penyerbuan pihak gerombolan ke perkampungan penduduk yang sering diikuti dengan pembunuhan –penggorokan-penyembelihan— atau pihak tentara yang juga melakukan hal yang sama kepada pihak gerombolan, ketika itu sudah bukan hal yang aneh lagi. Cerita penduduk tentang orang-orang yang direbab, juga sudah menjadi bahan obrolan sehari-hari.

Perhatikan kutipan berikut:

“Mang, selama masih ada di dalam kampung kami, kami masih bertanggung jawab atas keselamatan Emang semua. Cuma keluar dari kampung kami, kami tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ini jika Emang memaksa juga mau pulang. Baiklah saya mintakan izin pada Pak Mayor nanti.”

Dan mereka terlihat sangat gembira aku sanggupi demikian. Mereka meneruskan perjalanan mereka setelah aku berkata-kata sebentar dengan Pak Mayor. Dan ucapan terima kasihnya pun keluar berderai-derai dari mulutnya, tak bisa kuhitung lagi berapa kali mereka ucapkan.

Tampak dalam kutipan itu, bahwa keselamatan diri merupakan barang yang amat berharga. Maka, ketika penduduk yang habis ngukurung itu diizinkan Pak Mayor (: tentara) untuk melanjutkan perjalanannya pulang, mereka berulang-ulang mengucapkan terima kasih kepada si tokoh aku. “…tak bisa kuhitung lagi berapa kali mereka ucapkan.” Buat penduduk yang habis ngukurung itu, izin seorang aparat keamanan boleh dikatakan merupakan tiket keselamatan untuk sampai tujuan. Jadi, jika penduduk itu berulang kali mengucapkan terima kasihnya, hal tersebut sebagai ekspresi yang wajar, karena ada jaminan keselamatan untuk jiwa dan raganya.

Demikianlah, di balik tema yang diangkatnya, cerpen ini sesungguhnya menyembunyikan tragedi kemanusiaan yang dahsyat. Munculnya istilah-istilah direbab (disembelih; digorok seperti orang sedang menggesek biola atau rebab), didorhos (dijedor dan hos nyawanya melayang: ditembak) menunjukkan betapa nyawa manusia diperlakukan seperti alat permainan, tak punya harga.

Meskipun demikian, kita juga dapat melihat, betapa semangat berguyon dan berkelakar, kerap juga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Sunda. Di balik tragedi kemanusiaan itu, si tokoh aku dan teman-temannya, masih sempat mempermainkan mereka, penduduk yang ngukurung itu. Demikian juga, salah tangkap orang gila yang dikira gerombolan, meski banyak terjadi dalam situasi darurat perang masa itu, bisa menjadi bahan obrolan yang berakhir dengan gelak tawa. Begitu pula jawaban-jawaban kacau si Gila berikut tingkah lakunya ketika ditanya Mang Kentang, justru mendatangkan kelucuan, dan bukan ketegangan sebagaimana seorang tahanan diancam akan disiksa dan ditempak.

Cara bertutur yang diperlihat Ayatrohaedi dalam cerpennya itu boleh jadi merupakan representasi masyarakat Sunda dalam memandang dan menempatkan persoalan. Dalam beberapa hal, ia bisa menyikapi persoalan itu dengan sangat serius –seperti kabar tertangkapnya seorang gerombolan yang sangat mungkin malah mendatangkan bencana sebagaimana yang terjadi di beberapa desa di Jawa Barat. Pada waktu itu, jika ada perkampungan yang diserbu oleh pihak gerombolan atau oleh pihak tentara yang menganggap perkampungan itu sebagai sarang gerombolan, maka yang tersisa dari kampung itu ada puing-puing bekas pembakaran rumah. Dan cerita penduduk kemudian menyangkut nama-nama yang menjadi korban. Oleh karena itu, berita penangkapan seorang gerombolan, harus disikapi secara serius.

Meskipun demikian, dalam waktu yang sama, berita tentang penangkapan gerombolan itu juga bisa disikapi dengan kelakar, guyon. Jadi, di antara kisah-kisah pembumihangusan sebuah perkampungan, pembantaian penduduk tak berdosa, masyarakat masih menjadikan berita dan kisah-kisah itu sebagai bahan lelucon. Sebagai sebuah peristiwa yang tak perlu diperlakukan secara berlebihan, seolah-olah semuanya bisa mendatangkan kiamat. Atau setidak-tidaknya, peristiwa dan berita yang mengerikan itu bisa ditempatkan sebagai sebuah komedi.
***

Yang juga menarik dari cerpen ini adalah derasnya keinginan pengarang untuk memasukkan sejumlah kosakata bahasa Sunda. Sangat mungkin itu disebabkan oleh ketidakmampuan bahasa Indonesia mewakili ekspresi pengarangnya yang disadarinya sendiri tidak dapat melepaskan diri dari kultur masyarakatnya. Oleh karena itu, menjadi sangat beralasan ketika kita melihat begitu banyak kosakata bahasa Sunda bertebaran di sana. Kata-kata ngukurung, keletos, babet, beser dan sejumlah kosakata Sunda lainnya, memang khas yang tak ada pandanannya dalam bahasa Indonesia. Sebutlah misalnya kata kaprot, yaitu menampar dengan punggung tangan. Ia berbeda dengan tampiling (menampar), yaitu menampar dengan telapan tangan.

Dalam konteks warna lokal, tentu saja Ayatrohaedi sudah mendahului apa yang dilakukan banyak pengarang Indonesia dalam memanfaatkan kosakata daerah dan kultur etnik. Dalam banyak cerpen Ayatrohaedi, seperti “Yang Terjepit” (Tjerita, No. 4, Th. II, April 1958), “Djarak Makin Djauh” (Tjerita, No. 8, Th. II, Agustus 1958), “Seorang Wartawan” (Mimbar Indonesia, No. 32, Th. XII, 9 Agustus 1958), “Kereta tak Djadi Lewat” (Mimbar Indonesia, No. 17, Th. XIIm 26 April 1958), dan beberapa cerpen lainnya, tampak benar kesadaran memanfaatkan kosakata bahasa Sunda, bukan sekadar hendak memaksakan masuknya kosakata daerah, melainkan untuk kepentingan yang lebih mewakili ekspresi kreatifnya.
***

Jika dikatakan –seperti disebutkan di awal tulisan ini—sastra merupakan potret sosial yang juga mengungkapkan semangat zamannya, cerpen “Gerombolan” jelas dapat dijadikan contoh kasus. Kata-kata gerombolan (DI/TII), SOB (Staat van Oorlog en Beleg: keadaan darurat perang), BODM (Bintara Order Distrik Militer. Kini, Koramil ‘Komando Rayon Militer’), ngukurung (buruh tani yang bekerja jauh dari rumah tempat tinggalnya, sehingga terpaksa harus menginap atau tinggal di tempat kerja selama beberapa hari atau beberapa minggu bergantung pada tuntutan pekerjaannya) adalah kosa kata yang muncul pada tahun 1950-an itu. Oleh karena itu, estetika cerpen ini tidak hanya menyangkut tema sederhana yang justru di sebaliknya tersembunyi tragedi kemanusiaan akibat perang saudara, tetapi juga usaha pengarang untuk menampilkan sebuah potret kehidupan pada masa itu. Dalam hal itulah, cerpen ini menjadi penting sebagai salah satu gambaran sebuah masyarakat (Sunda) masa lalu (dasawarsa tahun 1950-an) ketika bangsa ini masih dilanda huru-hara.

Demikianlah, cerpen yang tampaknya sederhana itu, ternyata menyimpan banyak hal. Sebuah kajian sosiologis terhadap cerpen ini, tentu akan mengungkapkan berbagai peristiwa yang melatarbelakangi lahirnya cerpen ini. Bagaimana misalnya, keadaan masyarakat (Sunda) pada masa itu; bagaimana pula harapan-harapannya, kegelisahannya, atau juga kecemasan dan penderitaannya. Terbukti pula kini, bahwa sastra dapat ditempatkan sebagai potret sosial zamannya.

Komentar