Cinta dan Rasa Kemanusiaan

http://cawanaksara.blogspot.com/
Judul Buku : Rumah Cinta
Penulis : Mustofa W Hasyim
Penerbit : Arti Bumi Intaran, Yogyakarta
Edisi : I, Mei 2008
Tebal : xi + 263 halaman
Peresensi: Sungatno*

CINTA memang buta (love is blind). Kehadirannya mampu melebur sekat-sekat ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, bahkan agama. Lihat saja kisah cinta yang diperagakan para pahlawan nasional terhadap Tanah Air mereka, Kaisar Hirohito terhadap Jepang, Mahatma Gandhi terhadap India, Nabi Muhammad, Nabi Isa, dan nabi-nabi lainnya terhadap Tuhan dan umat mereka.

Spirit cinta yang universal itulah yang diadopsi Mustofa W Hasyim sebagai tema besar dalam novel Rumah Cinta ini. Dengan menggunakan Yogyakarta sebagai setting tempat, novel ini seakan benar-benar terangkat dari ranah berkumpulnya masyarakat yang majemuk (pluralis). Sebab, selain dikenal sebagai kota budaya, pelajar, dan pariwisata, Yogyakarta termasuk miniatur Nusantara. Beragam masyarakat yang berlatar belakang daerah berbeda tampak mewarnai Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam novel 263 halaman ini, Mustofa menyajikan ceritanya dari kehidupan sosial yang berlangsung di Yogyakarta. Daerah penghasil gerabah dari tanah liat ternama di Yogyakarta merupakan menu pertama yang membuka jalannya cerita. Dari daerah yang realitanya disandang Kasongan, Bantul, sepasang suami istri produsen vas bunga dari tanah liat mengemuka menjadi tokoh utama. Sepasang kakek-nenek yang ndeso (desa) itu masih setia menyambung cinta kasih. Rutinitas sehari-hari mereka memproduksi dan menjual vas bunga.

Dalam perjalanannya mengais rezeki, sang kakek sering bertemu dengan masyarakat Yogya yang memiliki watak dan karakter yang sangat berbeda dengan masyarakat di desa. Semisal, konsumtif, individualistis, egois, mencampuradukkan bahasa dan budaya yang berbeda, serta mulai mengabaikan tata krama yang selama ini dijunjung tinggi masyarakat Yogyakarta.

Sebatas ini, Mustofa sudah mulai memasukkan kritik sosial yang tajam terhadap orang-orang Yogyakarta yang menjauhi nilai-nilai luhur keyogyaannya sendiri. Meskipun begitu, melalui tokoh si kakek ini, Mustofa tampak tak kuasa menyangkal kehadiran warna-warni budaya dan bahasa asing yang hadir sebagai konsekuensi dari globalisasi.

*) Pegiat di Skriptorium Lintang Sastra Yogyakarta dan anggota Tim Riset Kronik Kebangsaan Indonesia (1908-2008).

Sumber: Media Indonesia,21Juni2008.

Komentar