ESTETIKA WAYANG CERPEN AHMADUN Y HERFANDA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Ketika berbagai saluran komunikasi terhalang tembok besi kekuasaan, sementara segala aspirasi dan harapan mampat di tengah jalan, kesenian –khasnya sastra— kerap digunakan sebagai alternatif. Di sana, dalam balutan estetika, sastra coba bermain dan mempermainkan saluran yang mampat itu. Tembok besi kekuasaan dan pandangan orang terhadapnya, dapat disulap menjadi lelucon atau kisah-kisah yang terjadi di dunia entah-berantah. Jadi, sastra berpeluang memasuki wilayah apa saja, tanpa harus dibayangi kecemasan menghadapi kegagalan mencapai sasaran.

Sastra tak berpretensi mengubah tatanan sosial secara revolusioner. Ia dihadirkan dengan kesadaran menggoda rasa kemanusiaan, menyentuh secara halus, dan diam-diam menggerayangi hati nurani kita. Sastra coba menguak dan kemudian menyodorkannya kepada kita dengan cara yang khas. Dalam hal ini, sastra mencoba menyajikan dan memaknainya dengan caranya sendiri. Ia mungkin berbentuk kisah tentang kehidupan di dunia entah-berantah atau menyerupai potret sosial.

Dalam pada itu, jangan lupa. Di sana ada sesuatu yang berkaitan dengan nilai estetik. Tanpa itu, ia sangat mungkin akan menjadi sebuah dakwah agama, pamflet propaganda, atau serangkaian nasihat nenek nyinyir. Nilai-nilai estetik itulah yang menjadikan sastra dapat menyelusup jauh lebih dalam sampai ke ujung hati nurani; sampai ke dasar rasa kemanusiaan. Maka, ketika kita berhadapan dengan karya sastra, ada sebuah kenikmatan estetik yang bisa tiba-tiba menyergap kita. Ada sesuatu yang terasa menyenangkan—menikmatkan. Tanpa sadar, sesuatu itu secara diam-diam melepaskan kepedihan, keprihatinan, dan kedongkolan dalam memandang realitas sosial yang ngawur dan brengsek, dan kemudian membentuk sikap untuk juga terlibat dalam perlawanan terhadap kengawuran dan kebrengsekan itu.

Dalam tataran itu, sastra menempatkan fungsinya untuk menyentuh kepekaan kita atas problem kemanusiaan, atau bahkan menggugat apa pun yang tidak sejalan dengan jiwa dan hakikat keberadaan manusia.
***

Antologi cerpen Sebutir Kepala dan Seekor Kucing (Jakarta: Bening Publishing, 2004, 233 halaman) karya Ahmadun Yosi Herfanda ini pun tentu saja tidak terlepas dari persoalan itu. Antologi ini memperlihatkan kesadaran pengarangnya dalam menyikapi fenomena sosial yang terjadi di negeri ini. Dan Ahmadun dengan caranya sendiri menyampaikan pesan-pesan kemanusiaannya melalui kemasan estetika wayang. Sebuah cara yang mungkin lahir dari kesadaran atau ketidaksadaran kultur yang membentuknya. Ia menjadi tata nilai yang telah lama mengendap dalam ingatan individual atau ingatan kolektif masyarakatnya.

Dengan cara itu, Ahmadun telah melakukan pilihan yang aman—terkendali, sebagaimana yang juga dilakukan Putu Wijaya atau Danarto, meski dengan gaya dan style tang berbeda. Kritik social dan pesan kemanusiaan yang disampaikannya pada akhirnya tetap tersembunyi berada di balik peristiwa yang digambarkannya, meski ia berhadapan dengan tembok besi kekuasaan Orde Baru atau dengan kebebasan yang banyak dimanfaatkan sastrawan kontemporer kita dewasa ini. Lihatlah, dari 15 cerpen yang terhimpun dalam antologi ini, hanya dua yang dihasilkannya pasca-Orde Baru, yaitu cerpen “Perempuan yang Menghunus Pisau” dan “Masjid Terakhir”. Jadi, dalam hal ini, tarikh penulisan dapat kita gunakan sebagai salah satu sarana mencermati potret yang hendak ditampilkannya berikut caranya memasang potret itu. Secara sosiologis ia penting untuk melihat fenomena sosial masyarakat dan semangat zaman. Tarikh menjadi signifikan dalam membangun potret zaman dan fenomena sosial.

Dari sudut itu, Ahmadun menyajikan potret itu dalam dua warna yang secara laten terkesan paradoksal. Ia menampilkan dua sisi karakter manusia yang saling berlawanan, dan keduanya bersemayam dalam satu jiwa. Maka, kita akan berhadapan dengan tokoh-tokoh yang mengeluarkan dan sekaligus juga menyembunyikan sesuatu. Bagaimana dalam satu jiwa muncul dua karakter yang saling menentang, kontradiktif, dan paradoksal. Uniknya, bipolarisasi itu tak hadir dalam konteks saling melengkapi dan komplementer, melainkan saling menyembunyikan. Keberpihakan pada tokoh tertentu, misalnya, sekaligus berarti ketidakberpihakan; sebagai bentuk perlawanan atau penentangan.

Contoh lain dapat pula dikemukakan. Bagaimana misalnya, kesucian berselimut kekotoran atau sebaliknya (“Pertobatan Aryati”). Bagaimana pula nilai-nilai kepahlawanan memendam pengkhianatan (“Ombak Berdansa di Liquisa”), solidaritas menyatu dengan egoisitas (“Perempuan yang Menghunus Pisau”). Selalu ada dua sisi; positif—negatif, kekayaan—kemiskinan, atau kelemahan—keunggulan. Semuanya menyatu dalam satu jiwa. Yang dihadirkan bukanlah tokoh hitam—putih, melainkan hitam dan putih sekaligus.

Bagaimana pula harapan—kecemasan, teror dan pengayoman dapat hadir secara bersamaan, serempak—sekaligus. Seperti sebuah senyum ketika tertimpa derita atau tertawa saat menghadap maut. Hampir semua tokoh yang digambarkan Ahmadun dalam antologi cerpen ini memperlihatkan karakter yang bipolar seperti itu. Niscaya penghadiran dua kutub karakter yang berlawanan yang mendiami satu tokoh itu, tidak berarti inkonsistensi dalam membangun karakter tokoh. Justru lewat cara itulah, ia telah menyerap estetika wayang dan coba mengangkatnya dalam bentuk cerpen.

Bipolarisasi itu tentu saja menuntut kita menyediakan perangkatnya yang sesuai dan tepat. Tanpa itu, sangat mungkin kita akan menuju pemaknaan yang sesat. Oleh karena itu, tidak dapat lain, antologi ini mesti didekati melalui perspektif estetika wayang. Lihatlah tokoh-tokoh wayang yang mencitrakan prototipe karakter tertentu. Tokoh Bima, misalnya, selalu akan tampil dengan sosok tubuhnya yang tinggi besar, gagah, dan berangasan. Menghadapi musuh-musuhnya, Bima akan bertindak telengas dan cenderung kejam. Tetapi, ia juga bisa menjadi tokoh yang penurut, loyal, setia, jujur, dan lemah manakala ia menghadapi siapa pun yang tindakan dan tutur sapanya halus, penuh dengan tipu muslihat, dan bujuk rayu. Bima bisa menjadi sosok yang menjunjung tinggi solidaritas dan kesetiakawanan yang kadangkala berlebihan, tetapi juga bisa menjadi tokoh yang sangat pragmatis dan tidak taktis.

Demikian juga tokoh Durna, misalnya, yang kerap dicitrakan sebagai sosok pengadu domba, licik, dan culas, pada saat yang sama, bisa pula menjadi tokoh yang arif bijaksana dan berjiwa besar ketika tokoh lain tak mampu melahirkan gagasan-gagasan cemerlang dan tidak ada yang mau berkorban. Lihat juga para tokoh punakawan yang muncul dalam goro-goro. Mereka menghadapi dan menyikapi apa pun dengan cara santai, guyon, banyol, dan penuh kelakar. Seolah-olah hidup ini tidak perlu disikapi dengan cara berkerut kening, kaku, dan penuh perhitungan kalkulasi untung—rugi. Sesungguhnya, di balik itu, ketika negara dipandang berada dalam bahaya, mereka akan tampil dengan berbagai taktiknya yang cerdas, serius, dan penuh perhitungan yang matang. Bentuk fisik para punakawan yang jelek dan lucu itu, sama sekali tidak mencerminkan jiwanya. Dalam hal ini, tubuh tidak identik dengan jiwa atau sebaliknya, mereka yang gagah-ganteng, belum tentu berjiwa gagah dan ksatria.

Begitulah, karakter tokoh-tokoh dalam antologi cerpen ini tidak dapat dengan mudah dipilah-pilah secara tegas sebagai tokoh baik atau buruk, putih atau hitam. Selalu ada dimensi lain yang melatarbelakangi atau yang melatardepaninya. Pola ini jelas menyerupai tokoh-tokoh dalam dunia pewayangan. Periksa misalnya para tokoh yang berperang dalam epos Mahabharata. Perang Baratayudha sebagai puncak epos Mahabharata itu menampilkan begitu banyak tokoh yang baik—jahat, benar—salah, bersemayam dalam satu jiwa. Lihatlah tokoh Karna, misalnya. Ia kakak seibu dengan Arjuna. Namun, karena Suyudana, Raja Kurawa, memberi kerajaan Awangga, Karna merasa berutang budi. Salahkah kemudian jika Karna membela Kurawa sebagai bentuk balas budi kepada Suyudana yang telah memberinya kerajaan? Salahkah loyalitas dan kesetiaan Karna yang ingin membalas budi?

Di samping itu, dilihat dari cara penyajian struktur ceritanya, Ahmadun seperti mengambil salah satu bagian dari struktur cerita wayang. Dalam hal ini, sindiran yang diangkat, kritik yang disampaikan, dan tokoh-tokoh yang dimainkannya mengingatkan kita pada apa yang disebut sebagai goro-goro. Salah satu bagian dalam struktur cerita wayang yang sering dimanfaatkan dalang untuk mengangkat berbagai persoalan aktual.

Kadangkala, dialog-dialog dalam goro-goro tak ada kaitannya dengan struktur utama cerita wayang yang bersangkutan. Tetapi justru pada bagian inilah seorang dalang akan menunjukkan kualitas dan kompetensinya. Oleh karena itu, bagian ini sering dimanfaatkan dalang untuk menyampaikan apa saja, mengkritik siapa saja atau ikut masuk dan mencoba terlibat memberi solusi atas berbagai persoalan aktual yang berkembang di masyarakat. Di dalam goro-goro, semua tokoh yang muncul di sana bisa dengan bebas menanggalkan karakter aslinya. Maka, seorang Bima, Arjuna, Yudistira, Cakil, atau Rahwana sekalipun, bisa menjadi bahan ledekan dan bisa pula saling membanyol. Mengingat dalam goro-goro, peranan para punakawan diberi ruang yang begitu bebas, maka mereka bisa saling mengejek, berkelakar, berbantah, atau berbuat apa saja –termasuk mengkritik siapa saja—dengan maksud memancing penonton untuk bersenang-senang dan tertawa. Di belakang tawa itulah sesungguhnya tersimpan pesan ideologis si dalang.

Sebagian besar cerpen dalam antologi ini, cenderung menyerupai bentuk goro-goro dengan tokoh-tokohnya yang menampilkan karakter tokoh dunia pewayangan. Cermati semua cerpen dalam antologi ini. Nyaris tak ada deskripsi awal. Ahmadun kerap memulainya langsung dengan pokok persoalan. Tiba-tiba saja, pembaca dihadapkan pada persoalan inti. Dari situlah kemudian rangkaian peristiwa dikembangkan, konflik-konflik antartokoh dihadirkan, dan tegangan demi tegangan dikelindankan silih berganti. Sebuah teknik yang banyak digunakan dalam cerita-cerita detektif, tetapi Ahmadun cenderung mengambil pola goro-goro yang mungkin, tanpa sadar, telah mengendap lama dalam ingatan individualnya. Oleh karena itu, perbincangannya juga mesti melalui perspektif itu: estetika wayang!

*) Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok.

Komentar