Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Widi Wastuti

http://www.suarakarya-online.com/
P E M A K A M A N

keranda telah disiapkan
di tengah ruang tanpa bunyi
senyap menyayat
kerna airmata mengering
tangis tergelantung di langit kelabu
taburkan wangi melati di sekujur jasad
cinta kan segera kumakamkan
raiblah bersama debu dan ngilu
biarkan ruang duka ini kian senyap
mari, segera laksanakan prosesi ini
bukankah keranda telah disiapkan?
rebahkan jasad di atas hamparan bunga
agar wanginya luruhkan semua luka
Ya, lihatlah!
keranda telah disiapkan, sayang
saatnya kini cinta harus kumakamkan

* 13/06/2008



DALAM SEGELAS ES TELER

jutaan kenangan berenang dalam
segelas es teler
di meja perjamuan makan malamku
"Hari ini adalah ulang tahun kita,"
katamu malam itu
matamu mendebarkan jantungku
sendok kita tak henti saling beradu
dentingkan cinta dan resahku
tangan kita pun bergandeng
menyusuri remang kakilima Cililitan
yang berasap dan berdebu
jutaan kenangan menghitam dalam
segelas es teler
di meja perjamuan makan malamku
"Dengan apa harus kubuktikan cintaku?"
katamu selalu waktu itu
jemarimu meluluhkan jantungku
bulan pun menjadi muram
kerja jutaan dusta dan luka
berjatuhan dalam segelas es teler
di meja perjamuan makan malamku
sepanjang waktu

* 16/06/2008



UBAN DI KEPALAKU

seperti tebaran abu
uban kian menggeriap di kepalaku
belum juga kusiapkan bening telaga
bersumber mata air suci
agar bisa 'ku keramas tiap hari
luruhkan kerak dan debu di ubun-ubunku
yang menyelubungi cahaya usia akhirku
usia kini tinggal sehelai rambut hitam
yang siap gugur dan tercabut
tanpa persetujuan uban di kepalaku
maka meski kusiapkan sekarang
telaga beningku
agar bisa 'ku keramas tiap hari
luruhkan jelaga di ubun-ubunku
tanpa kehilangan bijakku

* 05/07/2008



MATA LAMURKU

lamur sepasang mataku
kian menjerat langkahku
perjamuan kan selesai
belum juga kusiapkan ruang damai senyap
tuk lafalkan istighfar dan tasbih
di usia akhirku
usia kini tinggal sejengkal jarak pandang
lamur mataku
menggigil seluruh tubuh
ketika mataku kian melepuh
tak lagi dapat kutangkap
bias cahaya dan senyummu
perjamuan pun kan segera usai
tinggal murung langit
yang tak henti mengusap lamurku :
"Bukankah ada mata hati
yang tak pernah lamur dan mati?"
maka mesti kusiapkan sekarang
ruang damai dan senyapku
tempat kulafalkan getar istighfar dan tasbihku
agar tetap bisa kutangkap
bias cahaya dan senyummu
dengan mata hatiku

* 05/07/2008

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com