Buku: Komoditas atau Karya?

Muhammad Al-Fayyadl*
http://www.jawapos.com/

Setiap pameran, laiknya, menjanjikan suatu hal yang layak untuk diperlihatkan, sesuatu yang berharga dan membuat pengunjungnya merasa mendapat kehormatan dengan berkunjung ke dalamnya. Namun, jika Tuan berkunjung ke pameran buku Super Book Fair Yogyakarta di awal 2009 ini, cepat-cepat hapuslah lamunan indah itu dari pikiran Tuan.

Yang akan Tuan lihat di sana bukan suatu perhelatan akbar seperti yang tergambar dari judulnya. Yang ada hanyalah sebuah suasana yang lebih mirip dengan pasar malam daripada sebuah pameran buku. Sebab, seperti Tuan lihat sendiri, dari tiga kompleks area yang biasa dipakai pameran, hanya satu yang dimanfaatkan; dan selebihnya, Tuan tidak akan menemukan apa-apa kecuali kios-kios yang menjual aneka macam pakaian, makanan, CD, serta berbagai aksesori yang tak ada kaitannya dengan dunia buku.

Itulah sebagian dari pemandangan dunia perbukuan kami di negeri ini. Selama kami menetap di Jogja, sudah puluhan kali pameran buku diselenggarakan di kota pelajar ini. Tuan tahu, Jogja mungkin satu-satunya kota (selain Jakarta) di negeri ini yang rutin mengadakan pameran buku setiap tahun. Maka, orang pun bilang bahwa Jogja menjadi ''barometer'' perbukuan nasional. Jogja bukan cuma rutin mengadakan pameran buku, namun kota ini juga dikenal sebagai sarang penerbit, kota dengan segudang rental bacaan, segudang perguruan tinggi, dan kaum terpelajar.

Ada kebanggaan jika mengingat kata-kata orang tentang kota ini. Namun, tentu saja kami sedih bila semua kebanggaan itu hanya reputasi semu di atas kertas. Apa yang disuguhkan dalam pameran buku itu menyadarkan bahwa kami masih belajar menghargai ''arti'' sebuah buku.

Memang, Tuan, sebuah pameran buku bukan segala-galanya dalam mengukur keberhasilan dunia perbukuan. Yang lebih penting bahwa buku-buku kami semakin berkualitas dari hari ke hari. Penerbit semakin diakui eksistensinya, penulis semakin termotivasi untuk berkarya dan menyiarkan tulisannya, penerjemah dan editor semakin dihargai profesinya, dan pembaca semakin senang membaca buku dan berpikir kritis terhadap bacaannya. Namun, pameran juga menunjukkan seberapa berkualitas perlakuan kami terhadap buku. Seberapa berkualitas perlakuan penerbit terhadap terbitannya, juga seberapa berkualitas pembaca menghargai buku-buku yang terpampang di sana.

Tentang hal terakhir ini, Tuan, kami layak malu, sebab pameran awal tahun ini tampaknya merupakan menu pembuka yang buruk bagi selera bacaan kami. Baiklah, pameran itu memang menghadirkan beberapa toko buku yang boleh dibilang cukup (walaupun tak banyak-banyak amat). Banyak buku dengan beragam tema ditampilkan (walaupun didominasi buku-buku agama Islam). Dan terakhir, banyak juga pengunjung yang datang (walaupun kami tak tahu, mereka datang untuk melihat-lihat buku atau berbelanja barang yang lain). Namun, meski hadir dengan sejumlah ''kelebihan'' tersebut, penyelenggaraan pameran kali ini tetap tak dapat meredakan sedikit kegelisahan kami.

Tuan bisa melihat bagaimana buku diperlakukan dalam pameran itu. Berkelilinglah sejenak mengitari seluruh area pameran, maka Tuan akan menemukan bagaimana buku lebih ditampilkan sebagai komoditas daripada sebuah karya, sama seperti barang-barang dagangan lainnya. Lihatlah pada klasifikasi buku, bagaimana buku-buku diperlakukan tergantung pada harganya. Tuan bisa melihat, buku yang murah dan dibandrol dengan diskon tinggi, akan ada di bawah, bertumpuk kisut-kusut dengan sesama buku murah lainnya. Sebuah agen buku bahkan menghamburkan buku-buku diskonnya begitu saja di atas lantai seperti tak ubahnya debu. Buku-buku itu bahkan tak diklasifikasikan sesuai tema, bercampur-marut satu sama lain dan kadang dilempar begitu saja jika tak berkenan di mata pembelinya. Jika nasib sedang mujur, buku-buku itu akan terbeli. Namun jika tak mujur, buku itu akan dibandrol lebih murah lagi dan tetap di bawah, sejajar dengan sandal dan sepatu para pengunjung pameran. Inikah potret ideal sebuah pameran buku di kota yang konon menghargai buku?

Tuan, jika kami boleh membandingkan, kami terkadang iri dengan pameran seni rupa yang juga sering digelar di kota ini. Di sebuah pameran seni rupa, kami bisa melihat para perupa dihargai dengan terpajangnya karya-karya mereka secara elegan di hadapan pengunjung. Karya-karya seni rupa itu memang komoditas yang bernilai, tapi mereka tampak lebih dihargai sebagai karya estetik yang bermutu tinggi.

Dari pameran-pameran seni itu kami ingin belajar lagi menghargai arti sebuah buku. Menghargai bukan sekadar melabeli dengan harga, tapi menghargai dengan memperlakukan buku sebagai monumen kerja keras dari seorang penulis yang mau berbagi ide dan wawasan dengan pembacanya. Sebab, pada akhirnya kami mengerti, Tuan, di balik setiap lembar halaman buku, ada keringat penulis di sana, yang berjuang menghidupi kebudayaan dengan kata-katanya. Tak layakkah bila penerbit dan pelaku dunia buku menghargai hal itu dengan mengadakan pameran yang jauh lebih elegan dan bermutu? (*)

*) Editor dan penulis buku, tinggal di Jogjakarta

Komentar