Gincu Merah Sastra Pesantren

Binhad Nurrohmat
http://www.suarakarya-online.com/

Banyak pihak yang "ringan kata" menyebut istilah "Sastra Pesantren" tanpa menjelaskannya - seperti menyebut istilah baku. Bahkan ada yang cerewet mengabarkan adanya genre sastra pesantren, kanon sastra pesantren, ledakan sastra pesantren, maupun industri sastra pesantren seakan-akan sastra pesantren sudah menjadi tradisi yang kukuh dan dahsyat kiprahnya. Padahal istilah sastra pesantren pun belum pernah jelas pengertiannya secara kesusastraan, tapi kadung dirayakan sebagai istilah eksotis yang seolah sudah beres secara terminologis.

Munculnya istilah sastra pesantren masih sebatas mempropagandakan "identitas kesastrawanan" mereka yang dianggap sebagai pengarang sastra pesantren. Propaganda itu tak menyuguhkan hasil kajian yang becus membuktikan adanya unsur "kualitas sastra" ataupun adanya kecenderungan "bentuk sastra" dari apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu. Sehingga, istilah sastra pesantren menjadi klaim yang mirip gincu merah mencolok mata yang dioleskan berlebihan dan semena-mena ke sejumlah karya sastra.

Propaganda itu upaya "politik identitas" untuk mengobarkan adanya genre atau kanon sastra pesantren dengan menihilkan unsur-unsur kesusastraan yang mendasar. Apakah perbedaan sastra Indonesia pada umumnya dengan apa yang disebut sebagai sastra pesantren selain sebatas kecenderungan perbedaan temanya? Ingat, tema bukanlah ukuran mutu atau pembentuk genre sastra.

Pada jamaknya, istilah sastra pesantren dipakai secara latah untuk menyebut karya sastra bertema keislaman, kesantrian, dan kepesantrenan. Sastra pesantren selama ini diidentifikasi sebagai karya sastra yang berurusan dengan nilai keislaman, karya sastra para pengarang yang punya pengalaman kehidupan pesantren atau masih trah kiai pesantren, dan karya sastra yang mencerminkan kehidupan santri dan pesantren. Identifikasi itu berisi unsur-unsur non-sastra.

Kelatahan identifikasi itu menjauhkan apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu dari unsur-unsur kesusastraan yang sesungguhnya. Maka tak aneh bila yang disebut sebagai sastra pesantren adalah karya pengarang berbahasa Indonesia yang bermuatan tema keislaman, kesantrian, atau kepesantrenan; maupun pengarang yang punya hubungan sejarah atau silsilah dengan pesantren. Penyair X dijuluki sebagai pengarang sastra pesantren karena statusnya sebagai kiai atau anak kiai pemilik pesantren yang menulis puisi sufistik dan juga karena pengarang Y pernah belajar di pesantren maka novelnya yang berlatar kehidupan pesantren disebut sebagai sastra pesantren.

Identifikasi pada apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu sebatas berurusan dengan aktualisasi tema atau latar belakang pengarangnya yang berhubungan dengan keislaman, kesantrian, dan kepesantrenan; dan bukan berdasarkan unsur-unsur atau kecenderungan "bentuk" kesusastraan yang khas dimiliki oleh apa yang disebut sebagai sastra pesantren itu.

Istilah sastra pesantren mengemuka dalam isu kesusastraan mutakhir dan sekaligus terjebak ke dalam jurang kekacauan termonologis yang bermasalah secara diskursif dan literer. Apakah keterjebakan itu bakal membuat para propagandis dan pengarang sastra pesantren berjibaku merumuskan dan menciptakan sastra pesantren dengan melek unsur-unsur kesusastraan yang sesungguhnya, bukan sekadar menekankan unsur tema atau latar belakang pengarangnya?

Ludah Surga

Ada buku berjudul Antologi Cerpen Pesantren: Ludah Surga (2006) yang berisi cerpen para santri muda yang bertema kehidupan santri dan pesantren. Gagasan cerita dalam buku ini banyak yang unik, misalnya urusan mistik atau keajaiban supranatural dan fenomena perkembangan dunia santri dan pesantren terkini yang belum banyak diketahui umum. Sejumlah cerpen dalam buku ini mengingatkan pada cerpen-cerpen A. Mustofa Bisri dalam buku Lukisan Kaligrafi (2003).

Struktur cerpen-cerpen dalam Ludah Surga itu seperti kecenderungan umum struktur cerpen Indonesia, bahkan banyak yang tertinggal jauh dari perkembangannya sastra mutakhir. Kritikus Faruk tak keliru menyatakan sastra pesantren memberikan "kualitas" dokumentasi dunia santri dan pesantren yang tersembunyi (novel Mairil, misalnya), tapi belum memberikan kualitas sastra.

Karya sastra bertema kehidupan santri dan pesantren masih cenderung menampilkan dunia pesantren sebagai latar, tanpa deskripsi yang rinci dan hidup, dan menjelmakan nilai keislaman secara formalistik serupa khotbah. Selain itu, juga cenderung minim realitas kejiwaan dan teknik berceritanya konvensionil. Akibatnya, dunia santri dan pesantren dalam karya sastra hadir tak utuh dan tanpa gema. Karya sastra yang mengolah dunia santri dan pesantren cenderung memukau karena urusan tabu yang diangkatnya, misalnya seksualitas di pesantren. Kecenderungan-kecenderungan itu merupakan masalah yang menuntut upaya kesusastraan yang serius.

Sebenarnya modal besar para pengarang yang punya ikatan dengan pesantren adalah kekayaaan tradisi pesantren yang belum banyak muncul dalam realitas yang tertulis. Dengan modal itu, para pengarang itu berpotensi sebagai "lidah" pertama yang menyuarakan khazanah dunia santri dan pesantren. Tapi bila mengandalkan kekayaan tradisi sebagai bahan penciptaan tanpa menyelenggarakan upaya kesusastraan yang sesungguhnya, para pengarang itu hanya menghasilkan risalah sosial, antropologi, atau tasawuf dunia santri dan pesantren yang tak berkutik menghadapi risalah penelitian para sosiolog, antropolog, dan peneliti mistik Islam yang menekuni urusan dunia yang serupa.

Upaya kesusastraan itu bisa dipelajari dari khazanah sastra Indonesia maupun sastra dunia yang menggumuli realitas atau tema tertentu dengan tetap meninggikan mutu sastra. Bukan untuk meniru, melainkan untuk mengambil atau mengembangkan metodenya maupun mencari pijakan untuk "menemukan" ilham metode sastra yang anyar. Bukankah para pemikir besar Muslim awal juga mengembangkan sejumlah warisan budaya Yunani kuno?

Dengan upaya kesusastraan yang mendasar atau yang sesungguhnya, karya sastra bertema dunia santri dan pesantren bisa tegak berdiri penuh harga diri di mimbar besar kesusastraan. Para pengarang yang mengolah kehidupan santri dan pesantren itu sebaiknya memikirkan mutu sastra di kesunyian kamar kerjanya dan belajar mengucapkan selamat tinggal pada tetek-bengek bingar propaganda yang sekadar hendak merebut lebel sastra pesantren belaka itu. ***

*) Penyair, pernah belajar di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta

Komentar