Langsung ke konten utama

Mengangkat Kembali Sastra Marjinal

JUDUL: Sastra-Pra Antologi Indonesia Tempo Doeloe
PENULIS: F Wiggers, G Francis, Tio Ie Soei, FDJ Pengemanann, H Kommer
PENYUSUN: Pramoedya Ananta Toer
PENERBIT: Lentera Dipantara, Februari 2003
TEBAL: 411 ha.
PERESENSI:Alia Swastika
http://www2.kompas.com/

MENCERMATI buku pelajaran bahasa Indonesia yang digunakan sebagai pedoman dalam pengajaran sastra di sekolah-sekolah, tampak bagaimana pengaruh politik dalam perkembangan sastra kita. Selama 32 tahun, murid-murid sekolah ini belajar tentang sastra Indonesia dalam versi yang sudah diakui oleh penguasa (baca: pemerintah Orde Baru), yakni sastra yang termasuk dalam kategori sastra tinggi (yang dengan sendirinya memakai bahasa tinggi), dan ditulis oleh pengarang-pengarang yang haluan politiknya sejalan dengan penguasa.

KARENA itu, yang paling diingat dari sejarah sastra pada akhirnya hanyalah nama-nama, karya-karya, atau juga ingatan yang sepenggal tentang Balai Pustaka. Dalam buku pelajaran bahasa dan sastra Indonesia, sejarah (sastra) menja- di tidak kontekstual dan nir-makna.

Politik sastra telah meminggirkan pengarang-pengarang, menimbun karya-karya mereka dalam gudang arsip dan menguning dimakan zaman, serta meneguhkan dominasi satu genre atas genre yang lain. Dengan begitu, lenyaplah “sastrawan marjinal” ini dalam lipatan sejarah. Mereka hanya disimpan oleh orang-orang yang menganggap semua catatan dan karya selalu berarti, dan menjadi rekaman kritis terhadap kondisi sosial politik pada suatu zaman.

Buku “Tempo Doeloe” yang disusun oleh Pramoedya ini bisa menjadi usaha untuk mengurai kembali-secara tidak langsung-politik sastra di masa lalu. Pramoedya memunculkan kembali nama-nama penulis yang sekarang ini terlupakan dan tak tercatat dalam sejarah sastra.

Ada beberapa penulis yang menyumbangkan karyanya dalam buku ini. Mereka adalah F Wiggers, yang menulis kisah “Soerapati Hakim Pengadilan (Bagian keenam dari: Dari Boedak Sampe Djadi Radja”), Tio Ie Soei dengan karyanya “Pieter Elberveld” (Satoe Kedjadian jang Betoel di Betawi), FDJ Pengemanann yang menulis dua cerita, yaitu “Tjerita Rossina” dan “Tjerita Si Tjonat”, G Francis dengan kisahnya yang terkenal “Tjerita Njai Dasima”, serta H Kommer dengan “Tjerita Kong Hong Nio” dan “Tjerita Nji Paina”. Semuanya berkarya di awal abad ke-20.

MENURUT Pramoedya, terhapusnya nama-nama ini-juga karya- karya mereka, kecuali Nyai Dasima yang masih populer hingga sekarang-disebabkan oleh beberapa faktor. Yang pertama, karena pada waktu itu buku belumlah menjadi komoditas, sehingga tidak ada proses cetak ulang terhadap karya-karya yang telah dipublikasikan.

Kedua, karena pada waktu itu kebudayaan Islam sedang mengalami masa keemasan (sebagai pengaruh dari kemenangan pasukan Turki di bawah pimpinan Kemal Pasya), maka ada kecenderungan cerita-cerita yang berbau Eropa agak dilupakan orang, dan berganti dengan cerita- cerita yang penuh nuansa Islami. Dalam hal ini, Pramoedya mengajukan contoh pergeseran cerita dalam komedi Stambul.

Kemudian, faktor ketiga adalah karena penggunaan bahasa Melayu-baik Melayu Pasar maupun Melayu Tinggi-dalam karya-karya ini. Karya dengan bahasa Melayu, terutama Melayu Pasar, oleh pemerintah tak dimasukkan dalam kategori sastra Indonesia.

Pada saat itu yang mempunyai otoritas menentukan mutu karya sastra adalah Balai Pustaka, sebuah badan milik pemerintah, yang tugasnya memproduksi buku bacaan untuk pemeliharaan bahasa Melayu yang diajarkan di sekolah.

Pramoedya mengajak kita melihat wacana yang menjadi inspirasi penulisan sastra di masa lalu, khususnya pada awal abad ke-20. Ini memunculkan pertanyaan-pertanyaan lanjutan: tulisan-tulisan dan kisah-kisah apakah yang dibaca oleh kalangan intelektual dan masyarakat menengah pada waktu itu-karena pastilah yang bisa membaca hanya kalangan menengah-dan bagaimana karya sastra yang dihasilkan pada waktu itu memberikan gambaran yang kontekstual tentang apa yang terjadi pada suatu masa?

Delapan cerita yang ada dalam buku ini menunjukkan bahwa kolonialisme termasuk wacana penting yang mewarnai tema-tema karya sastra, meskipun kemudian hal ini tidak lantas menunjukkan keterkaitan yang langsung antara para penulis dan sikap mereka terhadap kolonialisme. Cerita “Soerapati Hakim Pengadilan”, misalnya, menunjukkan simpati mendalam dari F Wiggers terhadap tokoh Untung Soerapati yang dengan gigih terus-menerus mengobarkan perlawanan menentang penjajah Belanda.

Kepahlawanan Soerapati menjadi semakin menonjol dalam cerita ini bukan saja karena pertentangannya dengan penjajah. Melainkan juga karena ia dengan terang-terangan bersikap konfrontatif terhadap para bangsawan yang bersekongkol dengan penjajah dan merugikan rakyat jelata.

Sementara kisah-kisah yang lain menangkap sisi yang berbeda dari kolonialisme. Beberapa di antaranya mengangkat kisah percintaan antara tuan-tuan Belanda dengan perempuan pribumi. Ini adalah isu yang cukup populer pada masa itu, karena biasanya kisah nyai menjadi sumber gosip dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.

Kehidupan nyai yang diperbudak oleh tuan Belanda merepresentasikan kisah perempuan yang terampas kebebasannya-meskipun mereka mendapatkan pemenuhan materi yang cukup. Dan kisah nyai ini menjadi inspirasi bagi beberapa kisah yang ditulis sendiri oleh Pramoedya, misalnya dalam “Tetralogi Bumi Manusia” dan “Gadis Pantai”.

BUKU ini sengaja diterbitkan dengan bahasa dan ejaan aslinya. Menurut sang penerbit, pilihan untuk tetap mempertahankan ejaan dari masa sebelum ada Ejaan yang Disempurnakan (EYD) ini adalah usaha untuk melihat lebih dalam bagaimana sesungguhnya kekuatan bahasa Melayu Pasar itu dalam anomali bahasa kontemporer.

Kehadiran bahasa Indonesia sendiri adalah representasi sebuah penjelajahan bahasa dalam sejarah pembentukan bangsa. Tentang hal ini, Hilmar Farid (1994) memberikan gambaran tentang bagaimana sejarah bahasa Indonesia memiliki kaitan yang erat dengan pembentukan bangsa, termasuk di dalamnya kaitan bahasa dengan politik kelas dari masa ke masa.

Meskipun pada awal abad ke-20 bahasa Melayu Pasar atau Melayu Rendah digunakan hampir di semua surat kabar yang terbit di Hindia Belanda pada waktu itu, tetapi pada akhirnya pemerintah kolonial mengangkat bahasa Melayu Tinggi yang disusun oleh CA van Ophuijsen sebagai “bahasa yang resmi”. Dan bahasa inilah yang akhirnya berkembang terus-menurut Hilmar, nyaris tanpa hambatan-menjadi bahasa yang sekarang ini kita kenal sebagai “Bahasa Indonesia”.

Mungkin, karena kita sendiri telah terbiasa dengan ejaan yang disempurnakan, maka akan ada sedikit kesulitan untuk bisa membaca dengan cepat kisah-kisah yang termuat dalam buku ini. Namun pilihan tetap mempertahankan ejaan lama, harus diakui, adalah usaha yang cukup unik dalam usaha mendemokratisasikan bahasa agar kita keluar sejenak dari hegemoni bahasa yang terus-menerus didesakkan negara.

*) Anggota KUNCI Cultural Studies Center, Yogyakarta.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com