Langsung ke konten utama

Sampek Tuek Jadi Penyair Pembebas

Triyanto Triwikromo
http://www.suaramerdeka.com/

DARMANTO JATMAN barangkali layak disebut sebagai orang yang sampek tuek berjuang terus menciptakan sejarah dan pergolakan bahasa dalam puisi. Tentu dia memulai dari yang tertib sebagaimana tampak dalam sajak-sajak awal yang ditulis ketika sekolah di SMA III B Padmaba Yogyakarta hingga sekitar 1971. Sajak-sajak yang belum teramat nakal itu muncul dalam antologi Sadjak-sadjak Putih (bersama Jajak MD, 1965), Sadjak Ungu (bersama A Makmur Makka, 1965), dan Sang Darmanto.

Saat tinggal di Honolulu, penyair kelahiran Jakarta, 16 Agustus 1942, ini mengalami semacam crossing borders: lintasan-lintasan kebudayaan dari Jawa, Indonesia, dan katakanlah Barat berbenturan. Dan pengalaman itu, termasuk tabrakan berbahasa (Jawa, Indonesia, dan Inggris) mendesak-desak untuk dinyatakan sebagai monumen ekspresi. Bukan hanya itu. Bangunan pengalaman keagamaan juga minta dikonstruksikan kembali. Dalam situasi chaos dan sarat krisis itu, sejarah baru pun lahir. Darmanto mulai mengekspresikan pergolakan kreatif itu dengan multilingualisme. Ada serpihan-serpihan bahasa Jawa, Inggris, Indonesia, dan bahasa-bahasa "unik" - kadang-kadang sulit dimaknai- yang melenting-lenting menembus batas-batas kelaziman berbahasa. Dengan demikian, sebagaimana diungkapkan Octavio Paz, puisi-puisi Darmanto pun akhirnya mampu merujukkan sejarah dan puisi demi kepentingan puisi. Dan Bangsat, kumpulan puisi yang tak mungkin diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, menjadi semacam puncak kenakalan kreatif yang menjulangkan nama Darmanto sebagai penyair unik. Di dalam teks-teks itu, dia merayakan pesta bahasa sekaligus menguarkan luka-luka benturan sejarah yang tak terhindarkan itu. "Masa-masa itu memang kritis ketika saya mesti bekerja, berkeluarga, beranak, dan mengalami krisis identitas," ujar dia.

Krisis itu kemudian menandai ketergantungan puisi-puisi Darmanto dengan pahit getir, sunyi yang riuh, riuh yang sunyi, penyangkalan, pengukuhan, penghancuran pemaknaan yang tak hendak dimonumenkan sebagai pesta bahasa. Namun, karena sang penyair bersedia menjadi korban, lakon, musuh, kekasih, penjahat -kadang-kadang hanya sekadar jadi kecoa- dalam tabrakan kebudayaan yang dahsyat, era kumpulan Bangsat bergerak sebagai dinamit yang meledakkan puisi-puisi Darmanto berikutnya. Inilah masa gelombang dahsyat dalam sejarah kreatif penyair yang kerap diidentikkan oleh rekan-rekannya sebagai sang Arjuna, lelananging jagad itu.

Pada 1977-1978 penyair yang dulu berambut kribo itu menetap di London, Inggris. Di negeri itu suami Muryati itu menulis banyak sajak berupa perpaduan makna Jawa-Indonesia di hadapan budaya "dunia". "Di sinilah lahir sajak 'Istri', 'Anak', 'Rumah', dan lain-lain."

Konstruksi dan esensi sajak "Istri" dan yang sejenis sangat berbeda dari segala sajak yang termuat dalam Bangsat. Memandang Jawa dari London, rupa-rupanya justru mencuatkan keheningan, kebijakan, suwung yang ngelangut, dan kebeningan yang gaib.

Sajak-sajak semacam itu tak lagi meledak-ledak. Bahasanya kembali agak tertib karena konstruksi pengalaman yang hendak didamaikan dengan sejarah memang bukan ledakan-ledakan kebudayaan yang menghebohkan dunia, namun lebih merupakan harta karun filosofi Jawa yang digali dari perspektif Eropa.

"Istri" memang kemudian melahirkan kontroversi. Para feminis "mengamuk" karena menganggap sang penyair merendahkan harkat perempuan.

Sajak-sajak yang kemudian dibukukan sebagai Ki Blakasuta Bla Bla itu antara lain dibacakan di Poetry Reading Rotterdam dan Adelaide Festival of Arts sekitar 80-an.

Rupa-rupanya ada juga masa istirah. Pergolakan kreatif pun mengalami era tapa. Pada saat semacam itu Darmanto melahirkan sajak-sajak yang kemudian dibukukan dalam Karto Iya Bilang Mboten.

Tak kunjung berhenti berkarya, pada 1994, sang penyair melahirkan Golf untuk Rakyat - teks-teks yang diterbitkan oleh Bentang Budaya itu memuat hampir semua sajak, kecuali "sajak-sajak putih" dan "sajak ungu", serta sajak-sajak 1995-1996.

Barulah, pada 1997, terbitlah Isteri (Grasindo), sebuah selected poems berjumlah 99 sajak yang membuat Darmanto Jatman berhak mendapatkan SEA Write September 2002.

Menjelang usia 60, penyair gaek ini tetap tak mau berhenti melahirkan sejarah. Dan kini giliran Limpad menerbitkan sajak-sajak lengkap bertajuk Sori Gusti. Tak hanya menulis puisi, Darmanto juga melahirkan Sastra, Psikologi dan Masyarakat (1985), Sekitar Masalah Kebudayaan (1986), Komunikasi Manusia (1994), Solah Tingkah Orang Indonesia (1995), Perilaku Kelas Menengah Indonesia (1996), Psikologi Jawa (1997), dan lain-lain. Dia juga menulis cerpen, meski bisa dihitung dengan jari.

Apakah teks ini bisa menjelaskan sosok ayah Omi Intan Naomi, Abigael Wohing Ati, Bunga Jeruk, Aryo, dan Sami ini? Mungkin tidak. "Ia sebaiknya dimaknai sebagai penyair pembebas,'' kata Direktris LIMPAD, Ani S Soemantri.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com