Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2009

Potret Buram Libido yang Menyimpang

Maman S. Mahayana
http://kompas-cetak/

Sebuah novel metaforis dengan tokoh yang juga metaforis: Sendalu karya Chavchay Syaifullah. Sendalu “kencang” yang dalam konteks novel itu meski dimaknai sebagai “pengaruh (buruk) yang cepat menyebar; wabah, epidemi macam penyakit kusta, AIDS, atau flu burung”.

Tokoh utama, Lumang, diposisikan sebagai “anak terapit bangkai” karena kakak dan adiknya meninggal prematur. Lumang sendiri bermakna ’lumpur, noda’. Jadilah tokoh Lumang digambarkan hidup lebih nista dari lumpur, pencipta teror, penebar noda bagi manusia, jawara keparat bagi wanita.

Dikisahkan, Lumang sebagai sosok introver, tertutup, penyendiri. Ia asyik-masyuk membangun dunianya berdasarkan pikiran-pikirannya sendiri yang liar dan mesum. Tinggal di rumah yang tak punya privasi memaksanya terbiasa menangkap adegan ranjang ayah-ibunya.

Pengalaman menikmati desah-napas, rintih-erang, tekan-goyang, meronta-mendekap yang dilakukan kedua orangtuanya itu membentuknya menjadi anak yang punya kekayaan…

Seni, Imajinasi, dan Kampanye Pencitraan

M. Shoim Anwar
http://www.jawapos.com/

HARI-HARI ini di sekitar kita benar-benar dipenuhi oleh suasana dan media kampanye dengan simbol-simbol politik. Poster, baliho, spanduk, foto, selebaran, dan sejenisnya tumbuh seperti rumput liar di pinggir-pinggir jalan. Radio yang kita dengar, televisi yang kita tonton, serta koran yang kita baca telah dikepung oleh nuansa politik. Persuasi yang dimunculkan simbol-simbol itu terus berulang, mengalami repetisi dari waktu ke waktu untuk merogoh simpati kita. Ibarat menu, semua itu disajikan secara bersama-sama dan kita dipaksa untuk melahapnya. Atas nama pesta, awalnya kita memang sangat bernafsu melahapnya, tapi lama-lama kita pun muntah dibuatnya.

Kita memang selalu belajar dari sejarah. Masa lampau, hari ini, dan masa mendatang adalah ruang gerak perjalanan sejarah. Ironisnya, politik dan kekuasaan hampir selalu memberi sejarah ketidakpastian dalam kenyataan hidup. Berbagai isi media politik yang ada di sekeliling kita bukanlah kenyataan sebenar…

Geliat Sastra Melayu di Penyengat

Maryati
http://www.suarakarya-online.com/

Pada awal abad ke-19 kesenian dan budaya Melayu berkembang pesat di Pulau Penyengat, daratan kaya bauksit seluas 240 hektare yang terletak di seberang di bagian Barat Pulau Bintan, Riau.

Ketika itu kegiatan tulis menulis dipandang sebagai pekerjaan mulia yang bisa dilakukan oleh siapa saja sehingga sastra Melayu berkembang pesat dan buku-buku banyak diterbitkan.

“Semua orang yang tinggal di Penyengat sangat aktif berkarya. Tidak hanya sastrawan saja yang menulis dan menerbitkan karya-karyanya tetapi rakyat jelata, nelayan dan kaum perempuan pun membuat aneka tulisan,” kata Ketua Pusat Maklumat Kebudayaan Melayu Riau Pulau Penyengat, Raja Malik Hafrizal.

Dia mencontohkan sebuah buku Perkawinan Penduduk Penyengat dikarang oleh seorang nelayan bernama Encik Abdullah pada tahun 1902 sedangkan buku berjudul Kumpulan Gunawan ditulis oleh seorang perempuan bernama Khatijah Terung. Pesatnya perkembangan sastra Melayu kala itu tidak lepas dari peran kerajaa…

Pramoedya

Ahmad Sahal
http://majalah.tempointeraktif.com/

Setiap kali membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer, saya selalu merasa kagum, tapi juga sekaligus terganggu. Saya mengagumi karya-karyanya, yang secara persisten melantunkan humanisme. Pram mengakui berguru kepada Multatuli, pengarang Max Havelaar, yang mengatakan bahwa tugas manusia adalah menjadi manusia. Dalam karyanya, Pram selalu menampilkan revolutionary hero yang menentang pelbagai situasi tidak manusiawi yang datang dari tradisi, seperti feodalisme priayi Jawa, maupun dari pihak asing, seperti kolonialisme dan imperialisme.

Betapa tidak manusiawi-nya feodalisme bisa dibaca dalam Bumi Manusia, yakni ketika Minke, anak Bupati yang telah belajar pengetahuan Eropa, merasa terhina sekali waktu bertemu ayahnya: “harus merangkak, berengsot seperti keong, dan menyembah seorang raja kecil yang, barangkali, buta huruf pula….” Kolonialisme juga tidak manusiawi karena, di samping sistem itu sendiri menindas dan mengisap, ia membentuk orang s…

Korupsi Dalam Novel-novel Indonesia

Deddy Arsya*
http://www.padangekspres.co.id/

AA Navis pernah ingin jadi menteri. Entah, entah ingin jadi menteri apa. Setidak-tidaknya ia pernah bercita-cita. Andai ia diberi pilihan antara sebagai alat kekuasaan, menulis, dan berbicara, yang dia pilih adalah kekuasaan. Kenapa? Katanya, ia mau menyikat semua koruptor. Navis pesimis tentang kekuatan pena untuk memberantas korupsi.

Membicarakan korupsi, setidak-tidaknya praktek ini sudah dimulai sejak manusia ada dan hidup berkelompok. Dalam riyawat Israilian dikatakan, Kabil dan Habil yang bekerja pada lapangan yang berbeda, yang satu bekerja bercocok tanam yang lain beternak atau mengembala, diminta untuk menyerahkan “qurban” kepada Tuhan. Habil mengurbankan ternaknya yang gemuk-gemuk dan sehat seperti yang dianjurkan, sementara Kabil berlaku curang dengan menyerahkan buah-buahan atau hasil pertanian yang busuk.

Sejak saat itu, prilaku korupsi terus-menerus berkembang seiring meluasnya bumi. Dengan coraknya yang beraneka, dengan beragam-r…

Perpuisian Yogyakarta di Era Transisi

Abdul Wachid B.S.
http://www.mathorisliterature.blogspot.com/

1. Pengantar : Persada Studi Klub, Era Transisi, Perpuisian Yogya 1980-an

Pengertian “di era transisi” sangatlah sosiologis, yakni masa peralihan, pancaroba. Namun, peralihan dari apa ke apa, dan dalam konteks apa? Dalam konteks kebudayaan pengertian “transisi” sangatlah kompleks. Dalam konteks politik, boleh jadi, hal itu dikaitkan dengan pergantian rejim dari Soeharto ke B.J. Habibie, dan berakhir dengan Pemilu yang di sepanjang sejarah Indonesia paling demokratis yaitu dengan terpilihnya K.H. Abdurrahman Wahid sebagai presiden RI ke-4.

“Transisi” dalam konteks kesusastraan dapat dibaca sebagai berikut:

(1) Suatu masa di mana sastra “terus mencoba budaya tanding”, [1] baik melalui pengungkapan yang paling keras yaitu berposisi berhadapan langsung dengan negara, maupun menjelmakan “budaya tanding” itu melalui estetisme, dan semua ini berlangsung sebelum Reformasi Mei 1998. Yang pertama, berakhir dengan pembredelan dan pencekala…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com