Langsung ke konten utama

Potret Buram Libido yang Menyimpang

Maman S. Mahayana
http://kompas-cetak/

Sebuah novel metaforis dengan tokoh yang juga metaforis: Sendalu karya Chavchay Syaifullah. Sendalu “kencang” yang dalam konteks novel itu meski dimaknai sebagai “pengaruh (buruk) yang cepat menyebar; wabah, epidemi macam penyakit kusta, AIDS, atau flu burung”.

Tokoh utama, Lumang, diposisikan sebagai “anak terapit bangkai” karena kakak dan adiknya meninggal prematur. Lumang sendiri bermakna ’lumpur, noda’. Jadilah tokoh Lumang digambarkan hidup lebih nista dari lumpur, pencipta teror, penebar noda bagi manusia, jawara keparat bagi wanita.

Dikisahkan, Lumang sebagai sosok introver, tertutup, penyendiri. Ia asyik-masyuk membangun dunianya berdasarkan pikiran-pikirannya sendiri yang liar dan mesum. Tinggal di rumah yang tak punya privasi memaksanya terbiasa menangkap adegan ranjang ayah-ibunya.

Pengalaman menikmati desah-napas, rintih-erang, tekan-goyang, meronta-mendekap yang dilakukan kedua orangtuanya itu membentuknya menjadi anak yang punya kekayaan melihat, tetapi sama sekali tidak punya pengalaman melakukan. Jadilah kehidupannya di tengah keluarga dan masa kecil di sekolah dipandang sebagai dua dunia yang asing. Dalam dua dunia itu, ia berada dalam posisi marjinal, pecundang. Maka, pencarian jati diri adalah kesia-siaan, keterpurukan, dan kerap menghasilkan sejumlah pertanyaan tak berjawab.

Perubahan terjadi ketika orangtuanya pindah ke Jakarta. Tinggal di deretan rumah kontrakan yang sempit juga tidak memberinya privasi. Pikiran mesum yang telah terbentuk sejak kecil makin subur memperkaya daya khayalnya manakala ia melihat adegan pengantin baru, Lastri dan Burhan.

Prinsip kenikmatan (pleasure) yang terbentur realitas—dalam kerangka psikoanalisis Sigmund Freud—makin mencampakkan dirinya sebagai pecundang sejati. Hiduplah sebuah persaingan imajiner. Burhan, suami Lastri; dan belakangan juga ayah, adalah pesaing utama yang harus dikalahkan. Ia tak mau lagi menjadi pecundang. Ia harus menerabas prinsip realitas.

Sampai di situ, Chavchay melalui tokoh Lumang seperti membentangkan sebuah penampang psikoanalisis Freud tentang prinsip kenikmatan, prinsip realitas, dan represi psikis yang dalam bahasa Van Peursen mengganggu keseluruhan roh, tubuh, dan jiwanya. Di situ pula cantelan pada tiga instansi—id-ego-superego—relevan dalam memahami problem psikis tokoh Lumang.

Pembentukan karakter Lumang memasuki fase sindrom kelelahan kronis, yang dalam pandangan Michel Foucault terbawa kegilaan seks yang suram. Itulah sebabnya, ketika ada kesempatan, ia melakukan aksinya pada Lastri dan kemudian pada ibunya sendiri sebagai bentuk perlawanan dalam persaingan imajinernya.

Lumang gagal menahan desakan libido. Seperti saluran air yang mampat, ia mendesak terus, menciptakan rembesan yang menyimpang, sampai pada saat tertentu, tanggul itu jebol. Muncratlah arus air itu ke mana-mana, liar tak terkendali. Itulah yang terjadi pada Lumang. Seketika itu pula ia merasa jadi pemenang. Untuk mengukuhkan kemenangannya, ia harus melakukannya lagi pada orang lain. Korban pun berjatuhan.

Lumang menggelandang makin gila. Ketika tragedi Mei mewartakan terjadinya pemerkosaan massal, ia menyadari ada sesuatu yang tak beres. Eksistensinya pecah. Perayaan kemenangannya adalah derita, aib, dan penistaan bagi orang lain. Maka, untuk tidak memperpanjang deretan korban, tidak dapat lain, ia harus menghancurkan kejantanannya. Itulah akhir petualangan Lumang, tokoh metaforis, si raja tega, penebar noda.

Tokoh paradoksal

Sendalu jelas merupakan novel Indonesia pertama yang mengusung tema pengumbaran libido begitu sadis dan memerindingkan. Hudan Hidayat, sastrawan yang juga terkenal dengan karya-karyanya yang sadis dan berani, dalam catatannya tentang novel itu mengatakan: “Inilah novel Indonesia yang paling gila dan paling seram….” Sebuah pernyataan hiperbolis yang dari sudut pandang penafsiran dan argumen yang mendasarinya, sangat dapat diterima dan rasional.

Chavchay Syaifullah seperti sengaja mengangkat ketokohan Lumang secara paradoksal. Ia korban pembentukan karakter yang menyimpang. Maka, ia pun harus melakukan penyimpangan dan membangun kerajaannya dengan menciptakan korban baru. Terhamparlah sebuah tragedi kemanusiaan yang sesungguhnya berada di sekitar kita. Chavchay coba memberi penyadaran, betapa dahsyat pengaruh seks yang tak terkendali. Di sinilah pentingnya seks ditempatkan dalam ruang privat secara benar. Sebuah wilayah yang seyogianya dimasuki orang-orang tertentu yang diizinkan etika, norma, dan kedewasaan dalam memperlakukannya secara benar.

Secara tematis, Sendalu menggiring kita untuk melakukan permusuhan massal pada pemerkosaan. Dengan sangat meyakinkan, Chavchay menggambarkan latar belakang pembentukan karakter tokoh Lumang sebagai awal terjadinya tragedi kemanusiaan itu. Dengan begitu, novel ini seolah-olah sengaja menyodorkan potret kehidupan masyarakat kita yang tanpa sadar telah ikut menciptakan karakter macam Lumang. Fiksionalitas Lumang jadinya faktual ketika kita coba menariknya dalam konteks kehidupan masyarakat. Pelarangan dan undang-undang atau apa pun jadinya tetap akan sia-sia ketika kita sendiri menyuburkan kegilaan seks yang suram itu.

Memusuhi dan menciptakan

Kita memusuhi pemerkosaan, tetapi di balik itu, tanpa sadar kita menciptakan benihnya. Sebagai sebuah novel yang terkesan memberi penyadaran itu, Chavchay berhasil membangun ketokohan Lumang melalui latar belakang pembentukan karakternya yang mengarah pada “sindrom kelelahan kronis”. Jadi, ideologi pengarang, sebagaimana tersurat dalam Testimoni yang ditempatkan sebagai pembuka novel itu, menyelusup dan menjiwai karakterisasi tokoh Lumang.

Meski begitu, kecenderungan mengusung tema tanpa punya kesabaran dan tak tergoda pada ketergesaan juga kerap mengundang bahaya. Itulah yang terjadi selepas peristiwa jebolnya tanggul libido Lumang. Laksana sebuah lagu dengan nada andante atau maestoso, tiba-tiba kita berhadapan dengan nada allegretto atau tempo di marcia.

Irama narasi yang semula disajikan perlahan dengan trik-trik psikologisnya serempak berganti jadi begitu cepat, selintasan, dan tanpa proses perubahan karakter. Maka, pertobatan Lumang tidak cukup beralasan hanya lantaran kematian Bono, ketika sahabatnya itu disodomi. Bukankah hubungan emosional dengan ibu jauh lebih punya akar psikologis dibandingkan dengan Bono yang baru dikenalnya.

Begitu pula penempatan Lumang sebagai pelaku pemerkosaan, tidak cukup kuat mengajak pembaca bermusuhan dengan tindak pemerkosaan ketika para korban diabaikan. Akan jauh lebih dahsyat jika Chavchay memberi ruang yang luas dan mendalam pada dampak psikologis para korban pemerkosaan atau tindak kekerasan terhadap perempuan. Nawal el-Saadawi dalam Perempuan di Titik Nol telah mewartakan itu dengan sangat bagus. Bukankah trauma yang dialami para korban akan nemplok terus seumur hidup. Jika itu dieksploitasi, boleh jadi pembaca terjerat melakukan pemihakan pada para korban.

Sebagai novelis generasi terkini, Chavchay Syaifullah lewat Sendalu menunjukkan pengharapan yang menjanjikan. Novel pertamanya, Payudara (2004), telah mengundang polemik yang seru. Kini, Sendalu sangat mungkin menciptakan polemik yang lebih seru lagi. Maka, sebelum novel ini dibaca berbagai kalangan, mesti ada semacam peringatan. Paling tidak, bagi para penganut konservatisme yang punya gejala penyakit jantung, sebaiknya tidak nekat membaca novel ini.

*) Pengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com