Langsung ke konten utama

Satu Wajah, Dua Muka…

Damhuri Muhammad*
http://cetak.kompas.com/

Pekanbaru, Riau, 1954. Menteri Pendidikan dan Perkembangan Kebudayaan Mohammad Yamin berpidato. Tak lama selepas pidato itu, seorang lelaki naik panggung. Tanpa sungkan, ia menyanggah bahwa dalam urusan pendidikan, masyarakat Riau dianggap ”anak tiri” oleh pemerintah pusat. Buktinya, di Riau belum ada SMA negeri. Yamin tersinggung. Tergesa ia kembali ke Jakarta, tanpa sepatah kata pun. Beberapa hari kemudian, ia menyurati Gubernur Sumatera Tengah Marah Ruslan, sebagai pegawai pemerintah, tidak semestinya orang itu menggunakan istilah ’anak tiri’. Yamin meminta Marah Ruslan menyampaikan teguran itu.

Orang yang telah membuat Menteri Pendidikan (kabinet Ali Sastroamidjojo, 1953-1955) itu marah adalah Soeman Hs (1904-1999), pengarang dua roman penting; Kasih Tak Terlerai (1930) dan Mencari Pencuri Anak Perawan (1932). Tak banyak yang tahu, novelis kelahiran Tapanuli Selatan (kemudian menetap di Riau) itu juga pejuang pendidikan yang gigih. Di Riau, ia mendirikan SMA Setia Dharma, sekolah menengah atas pertama, sebelum SMA negeri berdiri di sana. Tak hanya itu, pada tahun 1961 ia mendirikan Universitas Islam Riau (UIR), perguruan tinggi pertama di Riau.

Di ranah sastra, penelitian terbaru tentang karya-karya Soeman Hs dilakukan oleh Eko Sugiarto—dibukukan dengan tajuk Melayu di Mata Soeman Hs (Yogyakarta, Adicita, 2007)—membuka jalan untuk lebih jauh membincang roman-roman karya Soeman Hs yang telah menikam jejak selama puluhan tahun. Eko melakukan pembacaan sintagmatik-paradigmatik terhadap roman Kasih Tak Terlerai (KTT) guna melacak jejak perlawanan Soeman Hs terhadap eksklusivisme adat melayu yang pada masanya dianggap kolot. Eko berhasil menggambarkan masa pancaroba budaya melayu di awal persinggungannya dengan budaya Arab-Islam di kawasan pesisir Riau yang dipasang sebagai latar roman ini. Menurut dia, roman itu, lewat karakter tokoh-tokohnya, berhasil mendedahkan kiasan perihal jurang pemisah antara ”orang asli” dan ”orang di pinggang” dalam konstelasi adat melayu masa itu, juga membangun pengamsalan perihal bangsa ”loyang” yang mustahil bersekutu dengan bangsa ”emas”. Tapi, sesederhana itukah pencapaian estetis roman itu?

Semula Eko telah meneruka jalan untuk menguliti perwatakan si Taram, Nurhaida, Encik Abbas, dan Syekh Wahab dengan mencincang roman itu menjadi beberapa fase penceritaan. Tapi, lantaran dibebani oleh tantangan pengujian hipotesis (apakah KTT benar-benar kritis terhadap adat melayu?), hal-ihwal yang kompleks dalam struktur roman itu terabaikan sehingga hasil penelitian itu terjebak pada legitimasi akademik bahwa upaya kreatif Soeman Hs dalam KTT itu masih dalam laku ”menyalin rupa” realitas. Padahal, KTT mendobrak realitas kebekuan adat, dan lewat perwatakan si Taram yang bersusah payah menghadang kekolotan, Soeman sedang menawarkan sebuah kemungkinan baru dalam menegakkan etos egalitarianisme dalam situasi yang seterkungkung apa pun.

Lelaku penceritaan Soeman berada di luar langgam roman-roman Balai Pustaka yang sarat keberpihakan pada kepentingan kolonial di satu sisi, dan sinis pada perlawanan kaum terjajah di sisi lain, sebagaimana tergambar dalam Adab dan Sengsara ((1920), Siti Nurbaya (1922). KTT memang tidak mengembuskan denyut perlawanan terhadap kaum penjajah, tapi menghadang kebobrokan dan pembusukan yang berlangsung dalam ranah adat melayu masa itu. Berkisah tentang si Taram, anak angkat seorang batin (pemangku adat) yang jatuh hati kepada Nurhaida, anak orang terpandang, Encik Abbas. Lamaran ditolak karena si Taram hanya anak pungut, derajatnya sebatas ”orang di pinggang”, orang datang, yang tak tumbuh dan berakar dalam struktur adat setempat. Pada suatu kesempatan, si Taram dan Nurhaida melarikan diri, berlayar ke Singapura, menikah di sana. Sementara itu, keluarga Encik Abbas terus melacak jejak si Taram yang telah berani melarikan anak gadisnya itu. Utusan Encik Abbas berhasil membujuk, lalu memboyong Nurhaida kembali pulang. Kepergian Nurhaida tidak diketahui si Taram, suaminya, karena pada waktu itu ia sedang bepergian ke Johor.

Sampai di sini, kisah seolah-olah bersudah, tapi ternyata pengarang memulai kisah baru. Diceritakan tentang sebuah kapal dagang yang merapat di pantai, kampung Nurhaida. Syekh Wahab nama nakhodanya. Lelaki berperawakan Arab, jenggotnya lebat, lengkap dengan jubah dan sorban. Selama kapalnya merapat, beberapa kali Syekh Wahab tampil sebagai khatib Jumat di masjid kampung itu, bahkan sampai diangkat menjadi guru mengaji. Tak hanya itu, saking mulianya orang Arab di mata penduduk kampung itu, lamaran Syekh Wahab untuk mempersunting janda kembang, Nurhaida, pun diterima dengan senang hati. Orangtua si Taram (yang dulu pernah melarikan Nurhaida) paling banyak menyumbang dalam kenduri pernikahan Syekh Wahab dan Nurhaida.

Dua penggal kisah ini seperti tiada berhubungan, apalagi ketika pengarang menyudahi cerita perihal perkawinan agung itu dengan berlayarnya pasangan pengantin menuju Singapura. Kalaupun ada, itu hanya soal pelayaran Nurhaida yang kedua ke tanah seberang itu. Bila dulu kepergian Nurhaida dan si Taram dicerca-dimaki orang sekampung, pada pelayaran ini ia dilepas dengan doa dan sukaria. Ia digandeng suami yang sah. Orang Arab, guru mengaji, saudagar kaya, pula. Pembaca lagi-lagi mengira roman ini sudah khatam. Tapi, Soeman masih menyisakan sepenggal kisah lagi. Diceritakan perihal kepulangan Syekh Wahab dan istrinya pada Lebaran Idul Fitri. Syekh Wahab didaulat menjadi khatib pada shalat id. Inilah puncak pengisahannya. Pada khotbah kali ini, Syekh Wahab digambarkan begitu berbeda dari biasanya. Jenggotnya dicukur gundul, sorbannya dilepas, ia tidak seperti orang Arab lagi sebab Syekh Wahab yang selama ini dipuja-puja orang sekampung tak lain adalah si Taram yang sedang menyamar, untuk kembali mendapatkan Nurhaida. Orang-orang terperangah, ternyata si Taram yang telah mereka campakkan adalah orang yang dalam sekali pengetahuan ilmu agamanya, dan telah berjasa membuat anak- anak di kampung itu pandai mengaji.

Double casting ala Soeman Hs ibarat perbedaan ”loyang” dan ”emas”. Satu muka mencerminkan sosok pembangkang, muka yang lain harus menampilkan sosok lelaki santun, lemah lembut, dan karena ia mubalig tentu harus cermat menjaga tindak-tanduk. Soeman tidak lengah ketika dua muka pada satu wajah itu menjadi protagonis sekaligus antagonis. Memang ada beberapa kejanggalan, misalnya ciri fisik Syekh Wahab yang tidak lagi dirinci sebagaimana rincinya penggambaran fisik si Taram yang bertampang melayu. Bagaimana mungkin Nurhaida bisa lupa pada ciri fisik dan kebiasaan suaminya? Fisik boleh berubah, tapi bagaimana dengan perasaan seorang istri kepada suami? Begitu pula kejanggalan pada orangtua angkat si Taram yang bulat-bulat tertipu oleh penyamaran itu. Anehnya, kejanggalan-kejanggalan itu kiat mempertajam pencitraan betapa memukaunya sosok Syekh Wahab, yang Arab, padahal, setiap yang bulat belum tentu telur, meski setiap telur sudah barang tentu bulat….

*) Cerpenis, Bermukim di Jakarta.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com