Langsung ke konten utama

Butet Kertaredjasa dan Tanda-tanda Jaman

Rakhmat Giryadi*
http://teaterapakah.blogspot.com/

Dalam konsep drama tragedi terdapat monolog, soliloque, dan aside. Masing-masing memiliki peran dan fungsi yang berbeda-beda. Monolog merupakan perenungan terhadap peristiwa yang sedang menimpa sang tokoh. Dalam drama tragedi misalnya, sang tokoh biasanya berujar sendiri terhadap nasib yang menimpanya. Seperti Hamlet ketika berbicara sendiri setelah mendapat bisikan dari roh bapaknya, yang ternyata dibunuh oleh pamannya.

Dalam drama tragedi, monolog muncul disaat tokoh sedang mengalami krisis. Dalam hal ini sang tokoh berusaha menemukan kembali (discovery) kenyataan-kenyataan yang dia hadapi. Disaat penemuan kembali itulah nasibnya dipertaruhkan (peripetia). Sang tokoh menemukan titik baliknya, apakah akan menuju tragedi atau katarsis, hanya nasiblah yang tahu.

Kemunculan Butet Kertaredjasa, ketika puncak kekuasaan Orde Baru berada dalam krisis adalah sangat tepat. Pada saat itu, kehidupan sosial politik mengalami ketegangan. Dalam struktur drama tragedi disebut peripetia (titik balik) tadi. Dalam konsep itu terkandung pengertian, terjadi karena adanya penemuan kembali (discovery) dari avidya menjadi vidya, dari cinta menjadi benci, atau dari beruntung ke nasib buruk. (Bakdi Sumanto : 2001: 245).

Namun Butet Kertaredjasa bukanlah tokoh utama. Dia tokoh yang berada dipinggir panggung kekuasaan yang bersama ratusan juta rakyat Indonesia mengalami nasib yang sama. Dimana kehidupan demokrasi dikekang. Disaat seperti itu, ia muncul dengan tepat lewat naskah Lidah Pingsan (Agus Noor dan Indra Tranggono, 1997).

Sebagai bagian dari drama tragedi, monolog Butet melibatkan orang-orang dalam istana kekuasaan. Melalui tokoh-tokoh besar itulah drama tragedi bisa berlangsung. Monolog Butet merupakan ketegangan antara rakyat dan kekuatan kekuasaan.

Dalam ketegangan itulah, harapan dan kecemasan saling bersinggungan. Karena pada saat itu jarak antara hidup dan mati, antara nasib baik dan buruk, menjadi sangat nisbi. Antara kebenaran dan keburukan juga sangat rentan. Kemunculan Butet menjadi penanda irama tragika itu sedang menuju yang dinamakan peripetia tadi.

Dengan sangat cerdik, kemudian Agus Noor dan Indra Tranggono mencobakan kembali naskah monolognya, pada tahun 1998, ketika masa ketegangan itu mencapai puncaknya. Lidah Masih Pingsan (1998) menjadi pertunjukan yang satiris sekaligus tragis untuk mencari sebuah katarsis.

Namun sebagaimana alur drama tragedi, penemuan kembali (discovery) dan titik balik (peripetia) akan menjadi tidak berdaya, ketika nasib berbicara lain. Dan nasib itu bisa terbaca saat musim reformasi berlangsung. Saat itu penguasa dengan menggunakan kekuatan militernya mampu ‘memukul’ kekuatan rakyat. Inilah sumber konflik batin, yang menampilkan seorang tokoh besar menjadi megah sekaligus jalan menuju kehancurannya. Dan kita sudah melihat sendiri, korban politik berjatuhan.

Dalam konseb drama tragedi situasi semacam ini dinamakan harmatia (salah pilih). Sumber harmatia adalajh free will, yaitu kemerdekaan melakukan sesuatu (Bakdi Sumanto: 2001:254). Seperti diketahui penguasa memilih represif pada kekuatan rakyat. Mereka memilih membunuh, menghilangkan, dan menculik kaum reformis. Inilah masa akhir drama tragedi itu. Agus Noor dan Indra Tranggono menandainya dengan pentas monolog Butet, Mayat Terhormat (1999).

Matinya Toekang Kritik (Agus Noor, 2006) adalah masa jeda yang panjang setelah musim reformasi yang tak menemukan jawabannya. Selama masa jeda itu agenda reformasi hanya diisi dengan ‘debat kusir’ yang tak ada ujung pangkalnya. Banyak politisi karbitan. Banyak kritikus gadungan. Dan banyak pula penguasa-pengusa dadakan yang diuntungkan oleh nasib baik. Maka selama jeda panjang ini yang terjadi adalah sebuah rekayasa demokrasi, untuk melanggengkan kekuasaan.

Saya mencatat, Matinya Toekang Kritik adalah babak akhir –kalau boleh saya sebut- dari tetralogi monolog yang dibuat Agus Noor dan Indra Tranggono (Lidah Pingsan (1997), Lidah Masih Pingsan (1998), Mayat Terhormat (1999)) yang diperankan oleh Butet tersebut.

Bisa jadi, bagian akhir ini juga menandai berakhirnya sebuah harapan tentang demokrasi yang sehat. Matinya Toekang Kritik bukan mencerminkan sebuah kekuasaan yang telah berlaku adil dan tanpa celah untuk kritik, namun justru menggambarkan situasi membuncahnya kritik yang tanpa didasari oleh semangat demokratisasi.

Dalam hal ini saya teringat dengan cerpen Budi Darma, Kritikus Adinan, dan juga Pengarang Rasman. Kritik yang baik dan benar, telah terkubur hidup-hidup oleh kekuatan ‘rezim anti kritik.’ Kalau tukang kritik sudah mati (dibunuh), apa yang akan terjadi? Apakah mereka (kita) menyerah?

Ternyata Agus Noor dan Indra Tranggono tidak kehabisan (akal) energi. Mereka malanjutkan dengan naskah monolog Sarimin (2007) yang telah dipentaskan pada Art Summit (Jakarta 17-19 November), Purna Budaya (Yogjakarta, 26-27 November), dan di gedung Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur (14-15 Desember).

Saya kira Sarimin bagian dari akibat salah pilih (membunuh kritik). Hukum tidak ditegakkan. Yang benar diganjar (dihukum), yang salah disembah. Logika menjadi terbolak-balik, tergantung kepentingannya. Karena itu dialog yang sangat menarik dan patut direnungkan dalam Sarimin, adalah ‘Karena benar, maka kamu salah.’

Begitulah, ketika kritik buntu, kejujuran menjadi sesuatu yang sangat mahal. Agus Noor, Indra Tranggono, Butet Kertaredjasa, mengajak kita untuk merenung di tengah hukum yang carut marut. Monolog-monolognya menjadi penanda, sekaligus renungan kala kekuasaan (hukum) tidak berlaku adil.

Penanda itu semakin jelas, ketika seorang petinggi kepolisian di Surabaya, mengancam monolog Butet akan dicekal karena terlalu kritis mengkritik intitusinya. Meski tidak jadi dicekal, kenyataan ini menegaskan bahwa tengara ‘empat jagoan’ (Agus Noor, Indra Tranggono, Butet Kertaredjasa, dan Jaduk Ferianto) menemukan jawabannya, bahwa yang benar (jujur) bisa menjadi ajur (salah) ketika kekuasaan (hukum) berkata salah.

Maka akhir drama tragedi bangsa ini tergantung dari hasil negoisasi antara kekuasaan dan rakyat. Tragedi ini akan berakhir indah, jika demokrasi ditegakan. Demokrasi bisa tegak kalau hukum berlaku adil. Jika tidak, maka negeri ini menjadi negeri Sarimin. Negeri komedi kera. Rakyat hanya dikeluh (diperintah) kesana-kemari, jungkir balik (berakrobat) demi nasib sang majikan. Dengan cerdik, kita telah ditunjukan oleh ‘empat jagoan’ dari Jogjakarta, bahwa kita tidak lebih baik dari kera, eh Sarimin.

*) Pekerja teater tinggal di Sidoarjo.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com