Walter Savage Landor (1775-1864)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=438

DAUN DEMI DAUN GUGUR
Walter Savage Landor

Daun demi daun gugur, bunga demi bunga,
Disaat dingin, disaat panas: sebarang waktunya.
Hidup-hidup ia berkembang, hidup-hidup berguguran,
Semua disambut bumi, yang beri mereka makan.
Haruskah kita, putranya lebih budiman, kecewa
Kembali kekandungannya, bila hidup henti bernyala?

Walter Savage Landor (30 January 1775 – 17 September 1864), penyair Inggris lahir di Ipsley (Inggris) meninggal di Florence (Itali). Berpendidikan universitas Oxford, muncul dengan himpunan Poems 1795, dan Gebir 1798. Tahun 1808 ikut bertempur di Spanyol melawan Napoleon. Terkenal oleh tragedi Don Julian 1818, sesudahnya di Prancis, berpindah ke Itali, mengarang Imagery Conversation of literary men and statesmen (1824 - 1829), di dalamnya mengemukakan, terpenting pada esai ialah bentuknya. Landor cenderung pada pujangga-pujangga Yunani Purba. Berpindah ke Como (Swiss) lalu ke Prancis, lantas ke Inggris, kembali ke Itali untuk hidup seterusnya, atas keadaan tersebut bisa dianggap Landor seorang berjiwa gelisah. Buahpenanya penting The examination of William Shakespeare touching deer-stealing (1834), Pericles and Aspasia (1836), Pentamaron (1837), Hellenici (1847), dan Poemeta et Inscriptiones (1847), sedangkan karangan tonilnya tidak kuat. {dari buku Puisi Dunia, jilid II, disusun M. Taslim Ali, Balai Pustaka 1953}.
***

Karena di sini puisinya pendek, maka izinkan diriku, menafsirkan baris-perbaris darinya:

I
Jiwa gelisah yang mengagumkan, sedaun-daun coklat penuh ruapan kata-kata, sealunan tembang kehidupan.

Bunga-bunga sumekar ditandainya nafas-nafas, sedari dengungan bathin meluncur tiada terasa, seperti suara brenggenggen melepas.

Ada selalu mengatup dirongga dada, merindu tak lekas sirna.

Langkah kesemangatan tegakkan diri, meski bayangan lenyap ke dasar kemarau, di tengah pencarian sejati.

Landor menyungguhkan takdirnya, selembut debu-debu menerpa kulit, direkatkan asinnya keringat.

II
Tekanan hawa dingin, pun yang terasa panas, menebalkan makna berasal rentangan peristiwa.

Menyungguhi segenap rasa, bagi rekaman tidak lekang perubahan niat.

Manakala badan bersatu hasrat kesadaran purna menjiwai tapakan.

Menggigil ngeri sedap-suntuk, menyadap hayat menjadi telempap akan harkat musabab.

Pada gilirannya ketentraman melekat dalam kodrat iradat, laksana tangkai menjalar menggayuh cahaya.

Malam-siang sebinar pandang kefahaman, akan lakon hidup dijalankan.

III
Pun usaha keras memekarkan kembang pula layu berguguran di hari kemudian. Maka sebaik kesempatan, mengisi kemungkinan.

Pergeseran nilai juga warna keadaban terasa, dimengerti bagi terus mempelajari.

Menimba sumur bathin sendiri, selepas menggali tanah-tanah keras perbedaan.

Olehnya, karya bukan sekadar meniupkan ruh, tapi juga makna menegaskan pendirian.

Antara gejolak jaman mematangkan pribadi, pada ras kemanusiaan.

IV
Ladang pencapaian pengorbanan darah semangat juang.

Tetes-tetes keringat berkesungguhan renungan, pada gerak menguliti yang bertetap.

Sambutlah kesegaran pertiwi akan direstui kelapangan maknawi.

Di sini bahasa terawat pembaca yang jenak mengunyah garam memamah pahit ideologi, diterbangkan melampaui isme-isme.

Sebebas burung-burung lepas dari sangkarnya, demi menemui keindahan lain, penyeimbang pertikaian.

V
Daun demi daun gugur tiada patut disesali, selepas disisir angin menyanyikan kabar kemenjadian.

Yang masih hidup dan telah tiada saling melengkapi, kekecewaan hanya di kamusnya pengangguran, yang merindu masa depan tanpa menghimpun kemampuan.

Satu demi satu lidi dikumpulkan ikatan, mental ditempa meradang haus, digenapi kesadaran menyunggi soal.

Dan puisi salah satu mata kunci, demi membuka lelembarannya.

VI
Landor terus pertentangkan tanya yang telah digenggam dalam hayat, tempatnya pengujian kandungan misteri.

Selalu dipahat bersegala dinaya, demi dapati siratan abadi, hembusan leliku penelusurannya.

Atas tebusan waktu-waktu pengelanaannya, dipenuhi gelisah.

Serasa dirinya ingin berbagi kepada semua, untuk mendapati yang patut disenandungkan.

Namun keterbatasan ruang-waktu, jarak kerutan-dahi pada laju usia.

Dirinya melesatkan anak panah, serta lantaran pengalaman jelajah, menjegal keraguan hingga mengena.

Komentar