Langsung ke konten utama

Aceh di Mata Sastra

Herman Rn*
http://sosbud.kompasiana.com/

Jika ada yang menyebutkan “Aceh dan Islam” adalah ibarat dua sisi mata uang, yang apabila satu di antaranya tidak ada maka tak berfungsi mata uang tersebut, di sini saya hendak menisbatkan Aceh di mata sastra. Dalam hemat saya, “Aceh dan sastra adalah ibarat keniscayaan zat ngon sifeut, kulet ngon asoe, agam ngon inong, langet ngon bumo“.

Mungkin jargon ini memang terlalu berlebihan. Namun, inilah Aceh dan sastra. Terlepas dari ada atau tidaknya kesetujuan orang terhadap nisbat tersebut, hemat saya demikian adanya. Mereka yang memberi gelar pada Aceh sebagai Seuramoe Makkah, Tanoh Rincong, Nanggroe Iskandar Muda, Daerah Modal, Daerah Istimewa, hingga terakhir sebagai Negeri Syariat Islam, tentunya memiliki alibi masing-masing. Maka saya menisbatkan Aceh dan sastra sebagai zat ngon sifeut, juga berdasarkan asumsi yang saya miliki.

Menurut saya, kejayaan dan kemasgulan Aceh tak lepas dari peran sastra dan sastrawannya yang membuat nama daerah ini dikenal hingga ke bangsa luar, bansigom donya. Kendati demikian, tentu pula tak terlepas dari peran pejuang-pejuang Aceh di masa silam yang menjadikan sejumlah ulama Aceh berani lahir sebagai sastrawan, yang kemudian pada akhirnya mengukir Aceh di mata dunia, bahkan di hati bangsa-bangsa yang pernah menjajah wilayah Aceh. Sungguh, dengan demikian, ulama Aceh pada masa silam adalah sastrawan.

Kita sebut saja dengan nama Nuruddin Ar-Raniry dan Syekh Abdul Rauf As-Singkili, dua ulama Aceh ini juga tercatat dalam ensiklopedi atas nama sastrawan. Sangking masyhurnya, Prof. Dr. Hamka menyatakan bahwa menyebut nama dua ulama besar (Nuruddin Ar-Raniry dan Abdul Rauf As-Singkili) itu, sama halnya dengan menyebut 1000 bahkan 2000 orang Aceh lainnya. Mengapa bisa? Karya sastralah yang membuat mereka bisa seperti itu.

Sebut saja salah satu karya sastra dimaksud kitab tafsir Turjuman Al-Mastafiid, satu dari sekian karya Abdul Rauf As-Singkili yang bernama lengkap Syekh Aminuddin Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Tsumal Fansuri As-Singkili. Turjuman Al-Mastafiid merupakan sebuah kitab tafsir pertama terhadap seluruh isi kandungan Al-Quran, mulai dari Surah Al-Fatihah sampai dengan Surah An-Nash. Sampai hari ini, kitab tafsir tersebut masih diakui sebagai karya sastra fenomenal yang belum ada tandingannya sebagai sebuah karya tafsir terhadap wahyu Allah swt. Sayangnya, masyarakat Aceh, sekalipun dia meyebut diri sebagai sastrawan, masih jarang kenal terhadap kitab tersebut. Kalaupun ada yang tahu pasti tentang Turjuman Al-Mastafiid, hanya sekelompok orang. Padahal, di luar sana, karya tersebut sangat dikagumi dan bernilai sehingga meskipun sudah berlangsung belasan abad, Turjuman Al-Mastafiid masih terus dicetak ulang. Pencetakan ulang secara kontinyu terhadap kitab tersebut dilakoni oleh penulis terkenal di Mesir, Syaikh Mustafa al-Babi al-Halabi. Disebutkan pula bahwa kitab tafsir tersebut masih dibaca tekun oleh Muslim di Negeri Syiam, Kamboja, Malaysia, Banjar, dan mungkin sejumlah wilayah lainnya. Turjuman Al-Mastafiid adalah satu dari sekian karya Abdul Rauf yang telah membawa nama Aceh dikenal gagah oleh bangsa-bangsa luar.

Selanjutnya, yang membawa nama Aceh dikenal di dunia karya sastra adalah Bustanussalatin. Goresan pena Nuruddin Ar-Raniry itu telah membuktikan bahwa sastra di Aceh sudah hidup dan berkembang sejak zaman kejayaan Iskandar Muda.

Tersebut pula Hikayat Prang Sabi karangan Teuku Chik Pante Kulu. Sangking dikenalnya sastra berbentuk hikayat itu, Belanda secara khusus mengirim Snouck Hurgronje untuk meneliti sastra tersebut. Snouck yang terkenal punya banyak ide dan licik itu menyimpulkan bahwa Hikayat Prang Sabi berbahaya bagi orang asing yang masuk ke Aceh, terutama bangsa non-Islam seperti Belanda. Hal ini karena dalam hikayat tersebut dikatakan bahwa perang melawan kaphé Beulanda adalah suci dengan imbalan surga. Karenanya pula, sastra satu ini berhasil membawa nama Aceh sepanjang abad untuk dikenal dan disegani oleh bangsa luar, terlepas masa sekarang perubahan terhadap apa yang ditakutkan itu tidak lagi berterima.

Sastra Panggung

Selain dalam bentuk sastra tulis atau sastra tutur, Aceh juga dikenal dengan sastra panggungnya. Salah satu sastra tersebut adalah seudati. Para pakar kolonialis Belanda sepakat bahwa dalam gerak seudati terkandung nilai-nilai karakteristik keacehan yang sangat tinggi. Melalui gerak tarian seudati disimpulkan oleh para peniliti Belanda bahwa Aceh memiliki sifat ke-aku-an yang sangat memuncak, egois, dan arogan. Tuduhan itu disematkan dari gerak seudati yang berulang kali menepuk dada, memukul perut, dan menelisip “licik” dari kelincahan keramaian lewat variasi gerak yang beragam. Keindahan gerak itu ditamsilkan awak Belanda sebagai kelicikan ureueng Aceh dalam melakukan penyusupan ke dalam pihak musuh.

Kendati disematkan dengan nilai-nilai negatif, seudati diakui sebagai simbol sastra yang sangat tinggi, yang geraknya sulit ditiru oleh orang (bangsa) lain. Ini pulalah yang membuat Aceh semakin dikenal di mata sastra.

Sistem Pemerintahan

Sistem pemerintahan Aceh boleh jadi dikenal oleh bangsa luar lewat Iskandar Muda. Namun, masa pemerintahan tersebut mulai pudar seiring bergantinya rezim pemerintahan di Aceh atau jika boleh tidak munafik, kehilangan gemilang itu sejak Aceh termakan tipu muslihat Indonesia. Bayangkan saja, berapa besar sumbangan rakyat Aceh untuk membeli dua pesawat terbang bagi Indonesia, tetapi yang dibeli hanya satu pesawat RI-001, sedangkan uang sisa satu pesawat lagi, tak jelas. Ini baru secuil kisah memilukan Aceh dari Indonesia, belum lagi kita balik sejarah Aceh yang membiayai hidup pakar-pakar kebanggaan Indonesia seperti Dr. Sudarsono di India, L.N.Palar di Pertubuhan Bangsa-bangsa Bersatu (PBB) New York, biaya keliling Haji Agussalim, hingga Konferensi Asia di New Delhi pun dibiayai dari uang rakyat Aceh. Bukankah semua ini dapat menjadi catatan sejarah kegemilangan Aceh masa lalu?

Hal ini terkesan pudar atau sengaja dipudarkan (?). Maka sastra menjawab itu semua sehingga tak mampu dikalahkan. Nuruddin Ar-Raniry dan Abdul Rauf As-Singkili adalah salah satu dari sekian contohnya. Kemasyhuran dan kemasygulan dua sastrawan itu pula, menjadikan Aceh sangat dikenal dalam bidang agama, terutama atas nama Islam. Hal ini menunjukkan bahwa gelar Serambi Makkah itu muncul karena adanya sastrawan. Artinya, ada sastrawan dahulu, baru muncul gelar-gelar yang lain. Itu salah satu alibi saya menyebut Aceh tak dapat dilepaskan dari sastra serupa kulit dengan isi.

Sastrawan dengan karyanya memperkenalkan Aceh ke belahan dunia mana pun secara cepat, sedangkan raja, menjadi masgul hanya tatkala pemerintahannya bagus dan apik dikelola. Jika mengacu pada zaman sejarah, sang raja baru akan dikenal oleh bangsa luar tatkala menang perang dengan segala taktiknya. Sedangkan sastrawan, cukup bermodalkan sebatang pena dan kertas, baik dalam situasi kalah perang maupun menang, tetap dapat mengangkat marwah bangsa dan daerahnya. Hal ini karena sastra berbicara atas dasar estetika dan etis, yakni keindahan dengan menjunjung tinggi peradaban, bukan perlawanan yang berdarah-darah. Maka dalam warkah ini, ada gelisah yang membesar di benak saya, yakni manakala karya-karya besar dan sastrawan hebat Aceh tersebut jarang dikenal oleh dan di bangsanya sendiri, lantas di manakah peran sastrawan Aceh di masa kini dan akan datang? Haruskah kita hanya bernostalgia atas gemilang yang sudah lampau, sementara zaman terus berputar?

Sejatinya, peran pemerintah Aceh, baik di tingkat daerah maupun provinsi, sangat penting demi mendukung kemajuan sastrawan Aceh. Sebab, selama ini saya melihat yang menjadi konsumsi anak-anak Aceh hanya dongeng dari negeri seberang. Padahal, di Aceh banyak hikayat yang menjadi kecerdasan dan semangat bagi aneuk-aneuk Aceh. Namun, semua masih bertabur sehingga sering kita dengar sastrawan-sastrawan muda di Aceh kesulitan mendokumentasikan naskahnya sebagai sebuah penghargaan untuk Aceh. Saya kira pemerintah Aceh tahu yang mesti diperbuatnya terhadap sastra di Aceh, sebab sastra dengan Aceh ibarat dua sisi mata uang yang salig berkesinambungan. Atau kita kembali menerima kekalahan berikutnya dari negeri kesatuan ini?

*) Mahasiswa Pascasarjana Bahasa dan Sastra Universitas Syiah Kuala. Menulis di beberapa media lokal. Menyukai buku, terutama budaya dan sastra. Masih belajar menulis dan terus belajar serta belajar terus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.