Langsung ke konten utama

Membongkar Polemik Roman Pergaoelan

Judul: Roman Pergaoelan
Penulis: Sudarmoko
Penerbit: Insist Press, Yogyakarta
Edisi: Pertama, 2008
Tebal: xvii + 189 halaman
Peresensi: M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S.
http://www.ruangbaca.com/

Perkembangan karya sastra di negeri ini kerap diiringi dengan mencuatnya polemik yang tak jarang dipaksa-tuntaskan di meja pengadilan. Semasa pemerintahan Orde Baru, misalnya, sejarah mencatat sosok Pramoedya Ananta Toer (dan para seniman Lekra) yang dijebloskan ke dalam bui, walau tanpa proses peradilan.

Sebelumnya, cerita pendek Langit Makin Mendung karya Ki Panji Kusmin (Sudihartono) dan Robohnya Surau Kami ciptaan A.A. Navis pun memicu reaksi keras lantaran dianggap melecehkan agama. Dari situ, sebagian dari kita, yakni para generasi masa kini yang kian berjarak dari catatan kelam masa lampau, dihadapkan pada narasi “pertarungan sengit” antara sastra dan kekuasaan dan dogmatisme (agama dan adat).

Maka, tak mengherankan jika kemudian muncul dikotomi antara sastra “yang pusat” dan “yang pinggiran”. Dalam kajian pascakolonial, identifikasi sastra “yang pusat” itu lebih mewakili suara kolonial, sedangkan “yang pinggiran” cenderung memberikan kesan penentangan yang lantang.

Karya sastra (sekaligus para pengarang) dari kelompok kedua itulah yang selama ini (di)hilang(kan) dari catatan sejarah, atau setidaknya jarang ditautkan sebagai bagian utuh dari wacana kesusastraan Indonesia. Salah satunya sebagaimana pernah menimpa Roman Pergaoelan, suatu divisi (genre) fiksi yang dikelola penerbit Penjiaran Ilmoe di Bukittinggi.

Koko, demikian penulis buku Roman Pergaoelan biasa disapa, menurut pembacaan saya berhasil mengurai kelindan sosiohistoris penerbitan Roman Pergaoelan. Buku yang semula merupakan tesis Koko di Universiteit Leiden, Belanda, ini secara detail melakukan penelusuran sosiologis mengenai Bukittinggi, penerbit Penjiaran Ilmoe, dan yang lebih penting lagi: polemik yang sempat menerpa beberapa karya dan pengarang Roman Pergaoelan.

Bagi Koko, terbitnya karya-karya sastra Roman Pergaoelan mesti disadari tidak dapat dilepaskan dari pembangunan kawasan Bukittinggi pada masa penjajahan Belanda. Selain Padang, pada awal abad ke-20, Bukittinggi merupakan kota terpenting di dataran tinggi Minangkabau. “Penjajah Belanda mempersiapkan kota itu sebagai pusat pemerintahan mereka untuk wilayah Padang Barat,” demikian diungkapkan Koko (hlm. 21). Pada perkembangannya, Bukittinggi yang semula hanyalah lekukan perbukitan dan ngarai itu menjelma sebagai tanah kelahiran para intelektual dan pengarang di bawah naungan usaha penerbitan “daerah”, yakni Penjiaran Ilmoe, yang mulai berdiri pada 1939.

Embel-embel “daerah” di sini penting diberi ruang perbincangan khusus. Jauh pada periode sebelum kemerdekaan, barometer perjalanan sastra Indonesia selalu tertunjuk pada karya-karya terbitan Balai Pustaka dan Pujangga Baru. Patut diselidiki bahwa kedudukan kedua penerbitan itu adalah Batavia (Jakarta). Sehingga, menurut Koko, cara melihat dan menerima karya sastra yang berada di luar pusat (baca: di luar Jakarta) –termasuk terhadap karya-karya Roman Pergaoelan -—yakni dengan logika “pusat melihat pinggiran (periphery)”.

Terkait perdebatan itu, Umar Junus dengan jelas telah menunjukkan di mana kedudukan Roman Pergaoelan, sebagaimana dituliskannya pada halaman pengantar (ix-xiii). Di situ dia melihat bahwa Roman Pergaoelan juga dinilai (orang) sebagai karya pinggiran, diremehkan oleh orang yang hanya memandang karya yang dianggap pusat. “Karya yang pusat, tak pinggiran, terhasil di Jakarta, sedang yang pinggiran terhasil di daerah. Roman Pergaoelan terhasil di Bukittinggi -—hakikat ini meluas pada keseluruhan roman picisan yang umumnya terbit di daerah: Medan, Padang, Solo, dan Surabaya,” tinjaunya.

Dengan menguraikan polemik seputar Roman Pergaoelan dalam buku ini, Koko agaknya bermaksud menghadirkan suatu perimbangan wacana, dalam hal ini guna menyikapi dominasi wacana yang Balai Pustaka-centrist, yang telah sekian lama menjangkiti kajian kesusastraan kita.

Untuk itu, mula-mula Koko menyertakan sinopsis empat karya Roman Pergaoelan, yakni, Angkatan Baroe karya Hamka, Joerni-Joesri karya Merayu Sukma, Rahasia Pembongkaran karya Surapati, dan Kamang Affair karya Martha. Koko tak secara argumentatif menyebutkan mengapa ia memilih empat roman ini. Hanya, mungkin keempat roman ini dirasa cukup mewakili empat tema sentral Roman Pergaoelan: sejarah, politik, detektif, dan sosial.

Selain sebagai variasi tema, pembagian jenis ke dalam empat kelompok itu sekaligus menunjukkan pandangan ideologis editor Roman Pergaoelan.

Nah, usai membaca sinopsis sebagaimana tertuang dalam bagian “Roman Pergaoelan: Dunia Pergerakan dan Nasionalisme Menurut Anak Muda”, Koko ternyata coba menyarikan dan menonjolkan kesan perlawanan dari keempat roman itu. Jadi, meski belum memeriksa keempat roman secara langsung, kita akan tetap merekam satu kesan bahwa keempatnya bercerita tentang pergerakan sosial politik yang dialami masing-masing tokoh -—sekalipun keempat judul itu sebenarnya berada pada kelompok yang berbeda.

“Mereka (baca: tokoh-tokoh dalam roman) menghadapi masalah yang dihadapi sebagian besar masyarakat pada masa itu, yaitu penjajahan dan pandangan yang tertanam dalam adat,” demikian menurut Koko.

Pada konteks ini, sepertinya kita mesti lebih meneguhkan satu pandangan bahwa beragam bentuk perlawanan terhadap kolonialisasi di Indonesia memang selalu dipercikkan mula-mula oleh kalangan terdidik. Para pengarang dan redaksi Roman Pergaoelan sendiri merupakan orang-orang terdidik yang banyak terlibat dalam organisasi politik maupun keagamaan.

Secara instrinsik, pandangan idoelogis itu dapat terbaca dari laporan konferensi roman yang digelar di Medan pada 1939, “Roman, berfaedah oentoek memperhaloes bahasa menagihkan oerang membatja, dan tendenz (isi)nja senantiasa bersifat PROPAGANDA, MEANDJOERKAN, DAN MENGKERITIK. Maka roman sematjam jang banjak terbit sekarang, besar faedahnja bagi masjarakat Indonesia jang masih dalam fase permoelaan ini.”

Berangkat dari ideologi perlawanan itulah polemik seputar Roman Pergaoelan bermula. Dalam Bab 4 yang berjudul “Polemik Roman Pergaoelan: Bertahan dalam Zaman yang Berubah”, secara panjang lebar Koko memaparkan polemik yang menimpa Hamka dengan Angkatan Baroe-nya dan Oestaz A. Ma’sjoek-nya Martha. Di titik ini, pembaca barangkali bakal tak mengerti mengapa Koko malah tak menyajikan sinopsis Oestaz A. Ma’sjoek. Walaupun secara pribadi kita dapat menelusuri sendiri roman tersebut, namun tetap terasa tak berimbang lantaran sebelumnya telah disertakan sinopsis Angkatan Baroe.

Martha, yang bernama asli Maisir Thaib, tampaknya merupakan penulis Roman Pergaoelan yang paling kontroversial. Tercatat ada tiga romannya yang melahirkan konflik. Yakni, Kesehatan Diri yang menimbulkan polemik dengan Dr. Aboe Hanifah, Oestaz A. Ma’sjoek yang memantik reaksi keras di kalangan ulama Perti, dan Leider Mr. Semangat yang dibredel polisi.

Dari polemik yang terakhir disebut itulah, Martha kemudian mesti rela diusung ke penjara Sukamiskin, Jawa Barat, selama setahun enam bulan. Ini pukulan terberat bagi Penjiaran Ilmoe sebagai penerbit karya-karya Roman Pergaoelan. Penjiaran Ilmoe, setelah sejak 1938 produktif menerbitkan Roman Pergaoelan, pada 1940 memutuskan untuk mendirikan penerbit “cadangan”, Bintang Kedjora, dengan divisi fiksi Perjoeangan Hidoep; suatu antisipasi jika Penjiaran Ilmoe digulung pemerintah kolonial.

Lagi-lagi, sosok Martha kembali mencuri perhatian saya usai memeriksa sebuah artikel yang ditulis Koko di sebuah harian lokal Padang, 9 November 2008. Sesuai pengakuan Koko, sebenarnya ada satu informasi yang belum diolah terkait sosok Martha. Yakni, sebuah biografi berjudul Pengalaman Seorang Perintis Kemerdekaan Generasi Terakhir Menempuh Tujuh Penjara. Biografi ini mengandung banyak informasi tekait pengalaman Martha sekolah di Normal Islam dan Islamic College, berkarier di dunia pendidikan di Kalimantan, aktivitas di PERMI, serta seputar proses kreatifnya mengarang.

Informasi itu, menurut Koko, tampaknya dapat digunakan untuk menelusuri kembali sejarah pendidikan di Padang dan dunia kemahasiswaan pada masa penjajahan.

Lepas dari itu semua, menurut saya, studi Koko ini nyaris tak membahas segi kebahasaan Roman Pergaoelan. Padahal, pemakaian bahasa Melayu

Rendah -—sebagaimana digunakan umumnya sastra pribumi (daerah) -—merupakan salah satu identitas kultural yang mengandung unsur-unsur ideologis dan estetis di dalamnya. Jadi, tak sekadar untuk menjangkau publik yang luas alias memenuhi tuntutan pasar.

Untungnya, hal itu masih dapat kita mafhumkan, karena toh Koko banyak menampilkan kutipan dari redaksi Roman Pergaoelan sekaligus publikasi penerbit atau resensi karya-karya Roman Pergaoelan. Boleh jadi, Koko memang tak perlu “mengatakan”, karena ia sejatinya telah “menunjukkan” bagaimana Roman Pergaoelan menggunakan ragam bahasa yang mudah diterima oleh khalaya pembacanya: “oleh masjarakat Indonesia jang masih dalam fase permoelaan ini”.

*) Pemimpin Redaksi BPPM Balairung UGM Yogyakarta.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com