Langsung ke konten utama

Krisis Kepenyairan Kita

Ribut Wijoto
http://www.sastra-indonesia.com/

Dalam rentang sepuluh tahun terakhir, telah terjadi krisis kepenyairan di tanah air kita. Banyak sekali bentuk-bentuk puisi yang sebelumnya pernah berkembang, kini, mengalami kemacetan. Padahal bila dikembangkan, bentuk-bentuk puisi itu akan menemukan kemantangannya yang baru.

Pertama, bentuk puisi balada seperti yang dikembangkan WS Rendra. Kedua, bentuk puisi mantra seperti yang dikembangkan Sutardji Calzoum Bachri. Ketiga, bentuk puisi lugas tetapi mengandung filosofi mendalam seperti yang dikembangkan Subagio Sastrowardoyo. Keempat, bentuk puisi kosmopolitan seperti yang dikembangkan Afrizal Malna. Kelima, bentuk sufi seperti yang dikembangkan Abdul Hadi WM. Keenam, bentuk puisi protes sosial seperti yang dikembangkan Wiji Thukul. Ketujuh, bentuk puisi mbeling seperti yang dikembangkan Remy Sylado. Sungguh disayangkan, tidak ada penyair tanah air kita yang secara intens mengembangkan ketujuh bentuk puisi itu.

Kita semua tahu, bentuk puisi bukanlah sekadar permainan wujud puisi alias otak-atik bahasa. Bentuk puisi juga merepresentasikan penilaian atas realitas dan sikap kepenyairan. Lebih jelas lagi, bentuk puisi mengemban adanya tradisi. Masing-masing bentuk puisi memiliki kesejaharannya tersendiri. Memiliki kewenangan dan tugas yang tidak terakomodasi oleh bentuk puisi lain. Lebih jauh lagi, masing-masing bentuk puisi memiliki “kitab-kitab” yang berseberangan.

Penyair WS Rendra ketika mengungkapkan greget kepenyairannya melalui bentuk puisi balada, dia belajar pada penyair Spanyol Federico Garcia Lorca (1898-1936). Upaya ini sangat rasional, bentuk puisi balada memang pernah memuncak pada puisi Lorca. Justru tanpa belajar pada Lorca, Rendra bisa dituduh tidak berpijak pada tradisi puisi balada. Atas proses kreatif ini, Subagio Sasrowardoyo secara apik menuliskannya dalam esai “Kerancuan Pribadi Rendra-Lorca” (1974).

Rendra tidak hanya meniru puisi, dia sampai menapak-tilasi gaya hidup bohemian Lorca. Tradisi dari Lorca ini dipadukan dengan kepiawaian Rendra mengolah kisah-kisah tokoh fenomenal dari babad maupun serat Jawa. Kadang-kadang dipadukan pula dengan tokoh dalam foklor atau cerita rakyat. Hasilnya sangat mengagumkan. Kepada masyarakat Indonesia, Rendra mampu mempersembahkan puisi-puisi yang tersaji dalam kumpulan Ballada Orang-Orang Tertjinta (1957), Blues untuk Bonnie (1971), dan Sadjak-sadjak Sepatu Tua (1972).

Berpijak pada ranah yang berbeda, Sutardi Calzoum Bachri mengusung bentuk puisi mantra. Untuk kematangan bentuk puisinya, Sutardji mengaku belajar tradisi puisi Arthur Rimbaud dari Prancis. Lebih dari itu, tokoh yang kerap menyebut dirinya “presiden penyair Indonesia” ini juga meneguk daya magis mantra-mantra kuno yang melimpah ruah di bumi Nusantara.

Pilihan bentuk puisi penyair berdarah Melayu Riau ini ditegaskan melalui kredo, “Menulis puisi bagi saya ialah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata. Dan Kata Pertama adalah Mantra. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantra”. Kredo ini mengalir deras melalui puisi-puisi yang terkumpul dalam O (1973) dan Amuk (1977).

Sutardji tidak hanya mengusung mantra dalam puisi. Dia juga belajar membaca puisi dengan gaya pawang. Hasilnya Sutardji mampu memukau penonton melalui pembacaan yang penuh daya magis. Begitulah, Sutadji secara total memperjuangkan bentuk mantra dalam kazanah kepenyairan di tanah air. Sebuah perjuangan yang terancam sia-sia karena tidak dikembangkan para penyair terkini.

Eksplorasi pola sintaktik puisi tidak “aneh-aneh” dikembangkan oleh penyair Subagio Sastrowardoyo. Bentuk puisinya sangat lugas. Di balik kelugasannya, ada kedalaman muatan filosofi. Subagio seperti menunjukkan kepada khalayak riuh, menulis puisi tidak harus dengan jungkir-balik bahasa. Puisi justru berharga dengan kesederhaannya. Penyair kelahiran 1924 ini memang berhasil menurunkan beragam kerumitan pemikiran filsafat ke dalam ilustrasi keseharian. Sekali lagi, puisi dengan memakai bahasa keseharian.

Subagio secara sabar memungut tema-tema, pralambang, motif-motif, maupun ajaran filosofi Jawa. Memadukannya dengan beragam wacana lain. Semisal wacana Islam, Kristen, Hindu, Budha, sampai pada filsafat Barat. Kesemuanya diperas dan disaring untuk membicarakan kesepian, cinta jasmaniah, teka-teki kematian, nasib yang tidak menentu.

Bentuk puisi lugas dengan filosofi mendalam, sekarang ini, tampaknya benar-benar kesepian di tengah gegap gempita puisi yang mengedepankan kerumitan metafor. Padahal, kebersahajaan puisilah yang merawat harmonisasi antara bahasa puisi dengan bahasa masyarakat. Artinya, penyair mengkerutkan dahi dan menguras keringat dingin agar mampu mencipta bahasa sederhana.

Tapi memang, pengungkapan sederhana bukan satu-satunya kebenaran dalam puisi. Awal tahun 1980-an, tradisi puisi Indonesia seperti mendapat “tabrakan” keras dari Afrizal Malna. Secara total, penyair yang juga menulis naskah untuk pementasan Teater SAE ini mengabarkan wacara antroposentrisme berbelah. Sebuah penilaian bahwa modernisasi telah melontarkan manusia dalam krisis identitas. Manusia tidak lagi mampu menguasai jati dirinya. Identitas manusia tergantikan dengan jati diri benda-benda hasil ciptaannya sendiri. Afizal berhasil mengadopsi beragam pemikiran postmoderisme ke dalam puisi Indonesia.

Kontribusi Afrizal sangat kentara. Berbagai diksi (pilihan kata) yang semula “seakan” haram masuk puisi Indonesia tiba-tiba bebas “bersliweran”. Misalnya diksi semacam radio, televisi, supermarket, Mc Donald, kolonialisme, dan lain-lain. Kesemuanya memuncak dalam kumpulan puisinya Arsitektur Hujan (1995). Sebuah gerakan puisi yang menghasilkan bejibun “Afrizalian”. Tapi sayang, Afrizal kini kesepian dengan bentuk puisi kosmopolitannya. Sekian banyak penyair yang meniru bentuk puisinya sedikit demi sedikit berguguran. Afrizal memang masih meneruskan tradisi puisinya, hanya saja, pencapaiannya pun menunjukkan grafik menurun. Bandingkan saja pencapaian puisi-puisi Arsitektur Hujan dengan kumpulan puisi Kalung dari Teman (1998), Dalam Rahim Ibu Tak Ada Anjing (2003), dan Teman-Temanku dari Atap Bahasa (2008).

Tradisi puisi sufi Indonesia berutang jasa kepada penyair Abdul Hadi WM. Dialah gambaran penyair yang memiliki ketekunan luar biasa untuk menjabarkan pemikiran teologi para penyair sufi. Baik dari penyair tanah air maupun penyair luar negeri. Melalui seruan “kembali ke akar”, penyair berdarah Cina-Madura kelahiran Sumenep 1946 ini mengajak penyair terkini untuk mengaji lagi warisan dan spirit sastra lama di Nusantara. Khususnya yang bermuatan teologi. Tidak hanya mendedahkan wacana, Abdul Hadi juga menghasilan ribuan karya puisi bertema kesufian.

Saat ini, masih banyak penyair yang menulis puisi bertema sufi. Utamanya penyair berlatarbelakang sekolah agama atau pesantren. Sayangnya, perkembangan puisi sufi tidak memperlihatkan gejala yang menggembirakan. Puisi sufi seperti menghuni wilayah pinggiran. Tidak berani menunjukkan diri sebagai satu entitas penting dalam kazanah kepenyairan di tanah air. Sebetulnya, ada dua penyair yang berpotensi menghasilkan kematangan eksplorasi puisi sufi, yakni Jamad D Rahman dan Acep Zamzam Noor. Keduanya lahir dan besar dengan latarbelakang pesantren. Awal-awal puisinya pun berwatak kesufian. Hanya saja, lama kelamaan, puisi kedua penyair ini lebih mengarah pada pemikiran humanisme daripada pemikiran teologi.

Kalaulah ada penyair yang tewas (tidak diketahui rimbanya) karena menulis puisi, kasus ini menimpa Wiji Thukul. Dia adalah bekas buruh pabrik yang memperjuangkan ketimpangan sosial dan skandal politik melalui puisi. Satu penggalan puisi Wiji Tukul, “satu kata lawan” diteriakkan ribuan mahasiswa dalam unjukrasa menggulingkan rezim Soeharto. Sampai kini, penggalan itu masih kerap menggema dalam aksi-aksi massa.

Wiji Thukul menyadari betul lingkungan puitik puisi protes sosial. Puisi protes sosial tidak bisa sekadar ditulis lantas dikirimkan ke media massa. Puisi protes sosial harus diperjuangkan secara verbal. Memperjuangkan puisi protes sosial sama artinya memperjuangkan kandungan isinya. Bersama Arief Budiman, dia mendatangi para buruh pabrik, berdiskusi dengan mahasiswa, turun ke jalan, mengepung kantor pemerintahan, dan merangsek pertahanan polisi. Memang seperti itulah tuntutan puisi protes. Tanpa aktivitas sosial politik, makna puisi protes bakal kurang greget.

Beberapa penyair sekarang memang masih menulis bentuk puisi protes sosial. Tapi sayangnya, mereka lebih banyak mengurung diri di kamar. Padahal, saat menggulirkan kumpulan puisi Potret Pembangunan dalam Puisi, Rendra pun dulu membacakannya di depan forum mahasiswa.

Nasib sedikit beruntung dialami bentuk puisi mbeling. Beberapa tahun lalu, bentuk ini dikembangkan oleh Joko Pinurbo. Melalui empat kumpulan puisinya, Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), dan Telepon Genggam (2003), Joko Pinurbo meneruskan “keusilan-keusilan kecil” seperti yang pernah digulirkan oleh Remy Sylado dan kawan-kawan pada tahun 1970-an. Kontribusi Joko Pinurbo terletak pada gaya bahasa yang lebih santun dan filosofi pemikiran yang lebih terjaga.

Sayangnya, stamina Joko Pinurbo sepertinya mulai pudar. Usai penerbitan Telepon Genggam, dia kembali lagi pada bentuk-bentuk puisi yang konvensional. Sementara di luar Joko Pinurbo, tidak ada penyair yang secara intens mengembangkan bentuk puisi mbeling.

Penulis menilai, surutnya pengembangan ketujuh bentuk puisi ini sebagai tanda krisis kepenyairan di tanah air. Padahal bila masing-masing bentuk puisi itu dikembangkan, niscaya akan menemukan kematangannya tersendiri. Kematangan bentuk puisi mantra yang berpijak dari Sutardji. Balada yang lebih matang dari puisi karya Rendra. Syaratnya hanya satu, tekun. Penyair harus tekun belajar pada tradisi. Misalkan mengembangkan puisi sufi, seperti yang dilakukan Abdul Hadi WM, penyair harus tekun mempelajari beragam pemikiran melalui bermacam kitab para sufi. Melacak pencapaian puisi sufi mulai dari zaman Raja Ali Haji, suluk para Sunan, sampai puisi hasil karya penyair luar semacam Jalaluddin Rumi.

Mengapa krisis ini sampai terjadi? Ada banyak sebab yang bisa dijadikan alasan. Tetapi jawaban utama hanya dua. Pertama, penyair tanah air telah mulai kehilangan personalitasnya. Penyair ideal adalah sosok yang memiliki personalitas tinggi, kadang justru egois. Penyair ini tidak mau menulis puisi yang sama dengan penyair lain. Dia bersikukuh menciptakan bahasa tersendiri. Sayangnya, personalitas itu kian tipis. Akibatnya, penyair tanah air terpengaruh kode bahasa estetik yang dominan. Kedua, penyair tanah air malas belajar pada sejarah puisi. Mereka merasa bahwa puisi baru saja lahir sejarah sepuluh tahun terakhir. Tidak memahami fakta sejarah; puisi juga telah ditulis sejak 30 tahun lalu, 40 tahun lalu, bahkan ribuan tahun lalu. Akibat dari kemalasan ini, penyair tanah air tidak mengetahui adanya berbagai bentuk puisi yang telah pernah ada. Pengetahuan mereka hanya sebatas puisi-puisi yang ditulis dalam 10 tahun terakhir.

_____Surabaya, 2009
Sumber: http://id-id.facebook.com/people-index/RibutWijoto

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com