Tawur

M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/

Luruh Indon memerah ketika tersulut kobaran amarah purba. Orang-orang sibuk mengamati. Menunggu sepasukan bala gempur dikeluarkan dari barak kelurahan. Para orang tua memandang udara dengan mengambang. Mereka masih ingat bagaimana dulu panji-panji dikeluarkan. Diarak-arak ke alun-alun untuk mendengarkan semangat tutur Lurah pertama yang diangkat sebagai raja pertama.

Di tengah ramainya kemarahan itu, Dhimas Gathuk menemukan Kakangnya di halaman belakang sedang membelah bambu kering. Dhimas Gathuk tersenyum lalu secepatnya datang membantu. Dia teringat untuk membenahi pagar rumah yang lapuk. Seringkali, dia menemukan tetangga lewat pagar rapuh itu. Dhimas Gathuk betapa jengkelnya, saat si tetangga yang lewat sering tanpa aturan sampai merusakkan mawar yang di dekat sana. Kini, Kangmas Gothak membelahi bambu. Membuat hati Dhimas Gathuk senang.

Berlajur-lajur bambu Dhimas Gathuk angkati dari kebun sebelah. Kebun Dalem Gothak-Gathuk yang lain. Kangmas Gothak tertawa melihat kedatangan adiknya yang membawa bambu kering di atas pundak.

“Ah, kamu pengertian, Dhi!” Kangmas Gothak tertawa renyah dan adiknya hanya tersenyum kecil sambil menahan berat.

“Hehehehehe.. semua demi kepentingan bersama, Kang!” Dhimas Gathuk melemparkan bambu-bambu kering dari bahunya, “Musti bersama-sama. Biar ringan.”

Kangmas Gothak menganggukkan kepala. Pandangannya terpaku pada adiknya yang telah berbalik untuk mengambil bambu lagi.

“Dua cukup!” teriak Kangmas Gothak yang melesat.

Dhimas Gathuk tersenyum sendirian. Terus melanglah dan menggeleng saja, “Dua cukup. Hehehehe mah iklan KB, Kang, Kang!”

Tidak lama, Dhimas Gathuk sudah kembali memanggul dua bambu panjang. Melemparkan kembali lalu duduk. Kelelahan sambil menyaksikan Kakangnya membelah bambu-bambu itu. Betapa Dhimas Gathuk kaget, menemukan bambu terbelah kecil. Langsing, kurang dari satu meter.

“Lho, Lho.. Kang, Lha ini mau dibuat apa?” Dhimas Gathuk mengangkat beberapa yang terbelah.

Kangmas Gothak melongo. Adiknya menunjukkan bambu itu ke mukanya.

“Ini buat apa, Kang? Masak iya, pagarnya mau dihias juga?”

Kangmas Gothak masih melongo. Dia tidak tahu masalah pagar. Apalagi hiasan pagar.

“Lha, pagar apa, Dhi?”

“Pagar samping itu, Kang. Aku jengkel. Mentang-mentang pagarnya rusak mah dijadikan jalan. Eh, lewatnya gak pakai aturan. Seenaknya sendiri.”

“Siapa yang mau buat pagar, Dhi?”

“Kakang?”

Tawa Kangmas Gothak pecah. Membelah heningnya halaman yang luas. Sampai daun-daunan pohon pisang dan rambutan bergetar.

“Walah, Dhi, Dhi. Siapa tho, yang mau buat pagar.”

“Lha, Kakang mau buat apa?” Dhimas Gathuk mengambil yang lain yang berukuran lebih panjang dan besar.

“Hehehehehe,, bukan pagar, Dhi. Apa kamu tidak tahu kalau kita sedang dalam bahaya?”

“Hah?”

“Desa kita ini ditantang tawuran sama kelurahan sebelah. Ini buat jaga-jaga saja. Mau buat panah. Buat siap-siap kalau tawuran meletus.”

Dhimas Gathuk masih diam. Memandangi Kakangnya yang disibukkan dengan bambu.

“Idealnya musti dibuat dari kayu, Dhi. Tapi daripada repot-repot mending pakai ini saja. Toh, tidak ada rotan, akar pun jadi. Bener to?”

Dhimas Gathuk masih saja tidak mengerti. Dia pikir, Kakangnya sudah gila. Kalau memang benar meletus tawuran masal itu, sudah tidak zamannya lagi pakai panah.

“Yang ini buat tombak, Dhi!” ucap Kangmas Gothak bangga sambil mengangkat yang lain.

“Hahahahahaha….” Dhimas Gathuk tertawa.

Tawa itu meledak menembusi langit yang muram karena sedikit mendung. Lalu angin bertiup sedikit nakal. Menggoda dua manusia yang saling bertatapan.

“Kenapa, Dhi?”

“Kang, kok aneh tho?? Sekarang itu zaman nuklir, kok Kakang buat tombak sama panah. Hahahahaha……”

“Lha, kamu tidak ngerti, Dhi. Makanya tertawa. Masalah yang sebenarnya itu kompleks. Sangat kompleks.” Kangmas Gothak terdiam beberapa saat lalu mengangkat pandangan pada adiknya. “Kita ini kelurahan besar, sedangkan Kelurahan Maling itu kecil. Kalau mau habis-habisan, mereka pasti kalah. Tapi, di wilayah lain, kelurahan ini dimiskinkan sampai rakyat ikut miskin. Kemarin sempat ibu-ibu bunuh diri gara-gara hutang dua puluh ribu. Bagaimana kelurahan ini akan tawuran dengan tenang?”

Dhimas Gathuk menganggukkan kepala. “Tidak lantas pakai tombak dan panah, Kang. Kita pasti kalah!”

“Walah, Dhi, kelurahan ini pernah menang dengan senjata seperti ini. Selama niat di dalam dada suci, kemenangan pasti di pihak kita. Tidak boleh gentar menghadapi musuh.”

“Lha, Pak Lurah Beye saja mah surat-suratan, Kang. Kita belum siap. Jelas tidak siap.”

“Ah, Dhi, jangan pengecut. Andaisaja semua orang cinta tanah airnya, dengan apa pun kita akan menang.”

“Sudah, Kang. Lebih baik sekarang aku buat pagar saja.” Dhimas Gathuk berdiri, “Kalau sudah dipagari rapat kan aman. Dari pencuri dan perusak. Sekarang aku harus tegas, masak tak biarkan saja halaman ku diinjak-injak orang!”

Dhimas Gathuk berlalu sementara Kangmas Gothak memandangi. Dia baru membicarakan nasib kelurahan yang mau tawur. Adiknya justru sibuk dengan pagar yang rusak. Kangmas Gothak menggelengkan kepala dibarengi buangan nafas berat.

Bantul – Studio SDS Fictionbooks, 02 September 2010

Komentar