Membedah Perlawanan Wong Sikep

Ahmad Rafiq
http://www.korantempo.com/

Kelompok Tonil Kloearga Sedjahtera menggelar kisah perlawanan masyarakat Samin.

Siapa yang ngotot menolak gelontoran investasi pabrik Semen Gresik Rp 4,5 triliun di Pegunungan Kendeng, Pati, Jawa Tengah? Jawabnya adalah Sedulur Sikep. Sedulur Sikep merupakan kelompok masyarakat Samin dengan stereotipe yang melekat pada mereka sejak zaman penjajahan Belanda: polos dan lugu, tapi semaunya serta cenderung konyol. Mereka membuat investor PT Semen Gresik kabur karena tak kerasan akibat berlarut-larut menghadapi perlawanan penduduk Sukolilo yang menentang dibangunnya pabrik semen dan penambangan kapur di tanah mereka.

Watak masyarakat Samin di Sukolilo melawan penjajah Belanda tetap tak berubah ketika kini menghadapi kekuatan ekonomi yang dikhawatirkan merusak lingkungan hidup mereka. Perlawanan itu diwujudkan dalam perbantahan berupa permainan kata yang terlihat bodoh, pasif, tidak keras, tapi membuat kolonial kerepotan menghadapinya.

Kini kelompok Tonil Kloearga Sedjahtera memotret watak perlawanan masyarakat Samin itu lewat pentas drama bertajuk Sikep di Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta kemarin malam. Panggung dibiarkan kosong dan hanya dipenuhi cahaya lampu yang menerangi enam orang aktor yang duduk saling berhadapan. Di dekat mereka ada gagang cangkul dengan secarik kain putih.

Pentas berdurasi satu jam lebih ini menceritakan perlawanan masyarakat Samin terhadap keputusan pemerintah Hindia-Belanda yang mereka rasa memberatkan masyarakat. Kala itu penjajah menarik pajak yang sangat tinggi, melarang masyarakat mengambil kayu di hutan, dan membatasi penggunaan air.

Perlawanan masyarakat Samin dilakukan dengan menggunakan “senjata” bersikap dungu dan memainkan argumen yang tidak masuk akal. Mereka juga menarik diri dari masyarakat umum. Bentuk perlawanan ini yang semula hanya muncul di Pati dan Blora, kemudian menular hingga ke Jawa Timur.

Dengan hanya diperankan enam aktor, para pemain berganti-ganti peran. Suatu ketika memerankan penduduk Samin, saat lain berperan sebagai mandor hutan, pamong desa, atau bahkan pejabat pemerintah kolonial. “Seorang pemain dapat memerankan empat karakter,” kata sutradara sekaligus penulis naskah, Sosiawan Leak. Peran multikarakter itu menuntut kemampuan perwatakan.

Penyusunan naskah Sikep membutuhkan waktu untuk mengobservasi kehidupan masyarakat Samin, dan lewat kajian literatur. “Kita dapatkan melalui interaksi bersama mereka,” kata Leak, alumnus FISIP Universitas Sebelas Maret.

Komentar