Langsung ke konten utama

Ode Kampung Tolak Sastra ‘Ngeseks’ dan Imperialis Budaya

Ahmadun Yosi Herfanda
http://www.infoanda.com/Republika

Acara sastra tahunan, Ode Kampung, makin gegap gempita. Tahun ini, iven yang digelar di Rumah Dunia, Hegar Alam, Serang, Banten, itu tidak hanya jadi ajang temu karya dan sastrawan, tapi juga gerakan untuk menolak sastra ‘ngeseks’ dan imperialisme budaya.

Acara yang dikemas sebagai Pertemuan Penggiat Komunitas Sastra se-Nusantara itu telah berlangsung sukses selama tiga hari (20-22 Juli 2007). Dihadiri lebih dari 200 sastrawan dan penggiat komunitas sastra dari berbagai daerah di Indonesia, Ode Kampung 2007 menyuguhkan pertunjukan tari tradisi Banten, pemutaran video cerpen Yanusa Nugraha, pemutaran film pendek Padi Memerah Rumah Dunia, musikalisasi puisi Tasbih IAIN Serang, serta pembacaan puisi dan cerpen para peserta.

Pertemuan ini menarik karena diskusi panas yang membicarakan karya-karya komunitas sekaligus merespons polemik sastra mutakhir. Diskusi menjadi lebih seru, karena perbedaan pendapat yang cukup tajam di antara pembicara. Puncaknya, Minggu 22 Juli 2007, diterbitkan Pernyataan Sikap Sastrawan Ode Kampung yang didukung lebih dari 150 sastrawan serta penggiat komunitas sastra.

Pernyataan sikap itu berisi tiga poin penting. Pertama, menolak dominasi dan arogansi sebuah komunitas sastra atas komunitas sastra lainnya. Kedua, menolak eksploitasi seksual sebagai standar estetika. Dan, ketiga, menolak bantuan asing yang memperalat keindonesiaan kebudayaan kita.

Pada bagian lain pernyataan sikap itu tegas mengeritik ketakpedulian pemerintah terhadap musibah-musibah yang disebabkan baik oleh perusahaan, individu, maupun kebijakan pemerintah yang menyengsarakan rakyat. Secara khusus dalam hal ini disebut musibah Lapindo di Porong Sidoarjo yang jelas-jelas membuat rakyat tak berdosa menderita.

“Pernyataan sikap ini menggembirakan. Ternyata bangsa ini memiliki sastrawan dan penggiat sastra yang peduli terhadap persoalan rakyat, di tengah segelintir ’sastrawan’ yang berkoar tentang kebebasan sambil mengemis dana bantuan asing,” ujar Wowok Hesti Prabowo, salah seorang pembicara.

Bagi Wowok, sastrawan Ode Kampung bukan hanya menolak dan menentang tiga hal di atas, melainkan mengajak sastrawan dan penggiat sastra untuk peduli pada berbagai musibah dan kebobrokan moral melalui karya sastra. “Mereka (sastrawan) yang memuja-muja kebebasan ternyata hanyalah memuja hal-hal di seputar seks, kebebasan melakukan dominasi, dan kebebasan menerima dana asing atas nama keindonesiaan kita. Mereka tidak bertanggung jawab terhadap masyarakat, bangsa, dan kesusastraan kita,” katanya.

Wowok menyebut Komunitas Utan Kayu (KUK) sebagai lokomotif pemuja kebebasan seputar seks dan berupaya menyeragamkan estetika sastra dan kebudayaan. Pembicara lain, Saut Situmorang, menunjukkan bagaimana KUK berafiliasi dengan lembaga-lembaga asing menyelenggarakan atau mendukung sejumlah festival internasional dengan standar estetika yang mereka asaskan.

Menurut Saut, banyak sastrawan kita yang tidak jelas ideologinya dan tidak memiliki visi kemana sastra dan kebudayaan Indonesia akan dibawa, selain mengekor pandangan-pandangan pemikir luar lalu mencangkokannya secara serampangan ke dalam sastra Indonesia. Ia mencontohkan beberapa pengarang perempuan yang sibuk bicara atas nama “tubuhnya” dan menelan mentah-mentah pemikiran feminisme Eropa, sementara secara kontekstual “tubuh perempuan” Indonesia berbeda dari mereka.

Saut juga mengkritisi pandangan Hudan Hidayat, pembicara lainnya di Ode Kampung, yang menyatakan setuju dengan “ideologi” KUK, tetapi tidak setuju dengan tindak-tanduk mereka yang menurut Hudan sendiri membunuh keberagaman di luar KUK.

Namun, Saut menghargai kehadiran Hudan dalam Ode Kampung untuk memperdebatkan perbedaan pemikiran. Dalam diskusi, Hudan memang tegas menyuarakan perlunya liberalisasi pemikiran dalam penciptaan sastra. Karena itu, ia setuju dengan apa yang selama ini digaungkan orang-orang TUK. Namun ia sendiri mengaku bukan bagian dari TUK, bahkan secara tajam menganggap TUK membunuh karya dan estetika di luar TUK.

Ode Kampung sendiri bertujuan untuk menghargai keberagaman estetika dalam sastra Indonesia. “Kami di Rumah Dunia dan kawan-kawan sastrawan serta komunitas di Banten menghargai keberagaman estetika sastra masing-masing sastrawan atau penggiat komunitas,” kata Gola Gong, pendiri Rumah Dunia yang kini gencar mempublikasikan novel-novel genre fiksi Islami.

Menanggapi eksploitasi seksual dalam sastra, novelis Forum Lingkar Pena (FLP) Asma Nadia mengatakan para sastrawan FLP menulis untuk beribadah yang tujuannya mencerahkan kemanusiaan. Karena itu, ia menolak eksploitasi seksual dalam sastra. Menurutnya, kini ada beberapa sastrawan yang jelas-jelas mengeksploitasi seks dalam karya-karya mereka tanpa mempertimbangkan perlu tidaknya unsur seks hadir dalam teks karya sastra itu.

Asma menyebut novel Ayu Utami dan Dinar Rahayu sebagai contoh. Ia mengakui permainan metafor dalam novel Ayu Utami, tetapi menurutnya apakah penting menggambarkan aspek seksual seperti tampak pada bagian akhir novel tersebut.

Ketegasan sikap FLP mendapat respons positif dari pembicara lain dan peserta Ode Kampung. Hudan Hidayat pun melontarkan pujian terhadap beberapa karya sastrawan FLP. Begitu pula Saut Situmorang yang mengapresiasi ketegasan sikap para pengarang FLP.

Pembicara lain, Kusprihyanto Namma, pun mendukung sikap Asma Nadia yang menolak eksploitasi seks dalam sastra. Dengan tegas ia mengajak untuk menghindari sastra ‘ngeseks’, karena menurutnya bertentangan dengan kultur kita sebagai orang Timur. Ia mengajak untuk menghasilkan karya sastra yang lekat dengan keseharian kita, tidak perlu mencomot-comot ide dari para pemikir Barat. n ahmadun yh, dari berbagai sumber

Mengkaji Lagi Peran Komunitas

Peran komunitas sastra juga menjadi topik diskusi yang menarik dalam Ode Kampung 2007. Kurnia Efendi, misalnya, melihat adakalanya komunitas-komunitas sastra melahirkan karya-karya yang sewarna, meski tidak berarti aspek individu tenggelam oleh kepentingan komunitas.

“Bagaimanapun menulis adalah kerja individu, yang memunculkan karakter masing-masing pengarangnya,” katanya. Ia mengakui, banyak pengarang yang sudah berkarya sebelum bergabung dengan komunitas sastra, dan tetap mempertahankan karakter pribadinya.

Pembicara lain, Kusprihyanto Namma (tokoh Revitalisasi Sastra Pedalaman — RSP), menganggap keberadaan komunitas sastra di berbagai daerah sangat penting, terutama untuk meningkatkan jumlah apresiator sastra.

Chavcay Saefullah juga menganggap komunitas penting. Interaksi antar komunitas juga perlu dikembangkan, karena akan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas karya anggotanya. Menurutnya, tiap komunitas selayaknya bisa saling menghargai karena pada dasarnya komunitas itu beragam.

Shiho Sawai, seorang peneliti dari Tokyo University, lebih banyak menunjukkan bagaimana komunitas-komunitas sastra di Indonesia tumbuh dan membangun diri sesuai keyakinan masing-masing. Ode Kampung ini dihadiri oleh beragam komunitas (sekitar 60 komunitas dan lebih dari 200 sastrawan serta penggiat komunitas) yang ada di Indonesia.

“Ode Kampung 2 digelar untuk memperkuat jaringan komunitas sastra di negeri ini, agar kita bisa bertukar pikiran, memecahkan masalah, mengembangkan kerjasama untuk kelangsungan komunitas di masa depan,” kata ketua panitia, Firman Venayaksa.n ayh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.