Langsung ke konten utama

Citra Manusia dan Dilema Zaman

Tjahjono Widijanto
http://www.suarakarya-online.com/

Ya marma lunga ngikis ing wengi
angulati sarahsaning tunggal
sampurnaning langkah kabeh
sing pandhita sunduning
angulati sarining urip
wekasing jati wenang
suruping raditya wulan
reming netra kalawan suruping pati
wekasing "ana-ora"
("Suluk Wujil": Sunan Bonang)

Cuplikan Suluk Wujil karya Sunan Bonang di atas menyiratkan tujuan sebuah teks sastra diciptakan. Sastra masa itu berusaha meletakkan manusia dalam bingkai religius-transedental, meletakkan manusia sebagai miro kosmos dan alam sebagai makro kosmos dalam hubungan yang seimbang.

Jika diparafrasekan dalam bahasa Indonesia arti cuplikan itu seperti berikut: Sesungguhnya diam-diam hamba pergi menyusuri malam. Berusaha untuk mencari rahasia tentang Yang Tunggal, untuk menemukan kesempurnaan segala tata laku. Para pendeta telah hamba kunjungi untuk mencari hakekat hidup. Mencari akhir kuasa sejati,.mencari akhir utara-selatan, akhir bilamana matahari dan bulan terbenam, akhir bilamana mata terkatup dan akhir bilamana maut menjeput. Akhir tentang ada-tiada.

Karya-karya klasik seperti Suluk Wujil, Wedhatama, Tripama, dan Serat Hidayat Jati dalam sastra Jawa atau Syair perahu, Bustanus Salatina,dan Tajus Salatina dalam sastra Melayu memang sejak awal "diniatkan" untuk merefleksikan pandang7an dan ajaran hidup yang profetik dan yang mulia. Juga di Yunani purba seorang penyair adalah seorang yang dianggap berkewajiban untuk menyatakan kebenaran profetik.

Teks sastra tumbuh dari adanya kebutuhan kodrati manusia yang berusaha mencapai paling tidak tiga nilai: nilai kebenaran, nilai nilai keindahan dan nilai kebaikan. Akibatnya terdapatlah obyek pemikiran yang abadi dalam teks sastra, yakni manusia, kehidupan dan kebenaran. Dari pangkal mula ini teks sastra yang baik senantiasa menyiratkan kebenaran dan memperluas cakrawala kehidupan peminatnya, karena itu ada cerita bahwa Sigmund Freud merasa berhutang budi kepada Fydor Dostolovsky dan Herman Melville setelah membaca karya-karya mereka.

Demikian juga Hamlet karya legendaris Shakespeare dengan teriakannya yang mahsyur: " To be or not to be!" telah berhasil memunculkan sosok manusia yang lengkap dengan segala konflik batinnya, proses dan perubahan-perubahan struktur kejiwaannya. Shakespeare melalui teks sastranya berhasil mengangkat dirinya sebagai orang yang mampu memahami jiwa manusia lebih dari seorang psikolog. Sampai-sampai seorang anggota parlemen Inggris bernama John Ruskin jauh-jauh hari sebelum India lepas dari koloni Inggris berkata, "Shakespeare bagi Inggris jauh lebih penting dari India. Inggris tanpa India tetap Inggris, tapi Inggris tanpa Shakespeare, Inggris akan kehilangan citranya".

Timbulnya kapitalisme membuat bergesernya citra manusia sebagai pelaku sosial dan budaya yang dapat mengubah orientasi budaya sebuah bangsa. Pada jaman sebelum kapitalis, cita manusia lebih ditonjolkan sebagai sosok mahluk Tuhan dengan nilai-nilai ideal yang cenderung religius-transedental perlahan-lahan berubah ke sosok yang lekat pada unsur material dan fisikal.

Hubungannya dengan bergesernya citra manusia itu, teks sastra mencoba menghadirkan kisah dan berita tentang realitas secara lebih dialogis-transformatif melalui imajinasi dan konkretisasi. Kisah dan berita yang merupakan representasi realitas ini pada dasarnya merupakan kontruksi sosial budaya sebagai hasil kegiatan mental dan intelektual sastrawan yang hidup dan menjalani proses kehidupan yang tak pernah final.

Teks sastra masa kini hadir sebagai sebuah wacana yang menjadi sejarah mentalitas dalam kerangka episteme tertentu . Sebagai sejarah mentalitas ia menampilkan hayatan, renungan, gagasan, pandangan, bahkan 'perlawanan'. Realitas budaya dalam teks sastra menjadi tidak hanya sekedar replica dan "copy" realitas, melainkan realitas yang telah dikisahkan, --atau meminjam istilah A. Teeuw, realitas dalam teks sastra adalah realitas hilir bukan realitas hulu.

Berhadapan dengan perubahan yang terjadi pada zaman ini, teks sastra kita lebih cenderung berbicara tentang krisis identitas dan kemelut hidup di mana nilai-nilai berubah pada goyahnya kepercayaan kepada takdir. Teks sastra kini kebanyakan lebih condong meletakkan persoalan manusia tidak lagi pada perspektif metafisis-spiritual tetapi lebih cenderung meletakkan diri pada perspektif sosial-humanistik. Hal ini disebabkan begitu kerasnya himpitan material dan tuntutan untuk berpikir secara rasional.

Teks sastra kita kini lebih cenderung bercerita mengenai usaha-usaha pencarian nilai-nilai humanistik yang tergradasi di mana terdapat perjuangan untuk membangun kembali suatu totalitas atas dunia yang sudah menjadi fargmentaris. Teks sastra kita kini menempatkan manusia (kita) lepas dari semesta, dan tergambarlah sebuah citra manusia yang teralienasi, terkapar dan terperdaya oleh zamannya sendiri.

Salah satu tema sentral dari sastra kita masa kini adalah pergulatan manusia tentang identitas dirinya, ketegangan antara irasional dan rasional, serta tokoh-tokoh yang kalah dan dikalahkan. Prosa-prosa dalam sastra kita, mulai dari era Tirai menurun (N.H Dini), Burung-burung Rantau (Mangun Wijaya), Bumi Manusia (Pramoedya) hingga yang lebih gres semacam Super Nova (Dewi Lestari), Saman, Larung (Ayu Utami), Sagra (Oka Rusmini), Dadisme, cerpen-cerpen Djenar Maesa Ayu, dan Fira Basuki, cenderung berbicara masalah konflik sosial budaya yang langsung berkaitan dengan carut marut kapitalisme. Hanya novel Cala Ibi (Nukila Amal) novel kita terkini yang berani tetap memilih berkutat dengan persoalan sufistik-filosofis tradisional.

Novel-novel tersebut memang telah berhasil menunjukkan bahwa teks satra masa kini secara efektif dapat dipakai untuk membentuk sosok atau citra manusia Indonesia yang mungkin berbeda dengan manusia Indonesia masa lampau. Namun patut pula diperhatikan apa yang pernah ditengarai dan diingatkan oleh sastrawa besar Ionesco: "sastra modern karena kelewat humanistik dan kehilangan perspektif metafisik, maka cakrawalanya hanya akan sampai pada batas lingkungan bumi dan tidak mampu memberikan cahaya serta menyampaikan pencerahan sebagai tugas paling penting bagi seorang sastrawan!" ***

* Penulis adalah penyair dan esais. Tinggal di Ngawi, Jawa Timur.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com