Langsung ke konten utama

Estetika Islam dalam Sastra Melayu

Lewat buku tebal ini, Braginsky menuliskan pentingnya karya penulis Melayu dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara.

Yang Indah, Berfaedah, dan Kamal: Sejarah Sastra Melayu dalam Abad 7-19
Penulis : Vladimir I. Braginsky
Penerbit : INIS Jakarta, 1998, 695 halaman
Peresensi :Abdul Hadi W.M.
http://majalah.tempointeraktif.com/

V.I. BRAGINSKY tidaklah asing bagi peneliti sastra Melayu. Sarjana prolifik kelahiran Moskow ini banyak mengungkapkan hal penting yang sering disembunyikan sarjana Eropa tentang arti serta relevansi sastra Melayu. Berbeda dengan sarjana Eropa seperti Winstedt, Overbeck, dan Drewes, yang meremehkan arti penting karya penulis Melayu dan sumbangan Islam bagi perkembangan kebudayaan Indonesia, Braginsky bersikap sebaliknya.

Karya-karya penulis Melayu menjadi penting bukan saja karena ikut menentukan bentuk perkembangan sastra Indonesia dan Malaysia modern, tapi juga karena merupakan fondasi utama kebudayaan Melayu Islam dan berperan dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Karena itu, karya Hamzah Fansuri, Syamsudin Sumatrani, Tun Sri Lanang, Bukhari Jauhari, Nuruddin Raniri, dan Raja Ali Haji tak dapat diabaikan dalam kajian Islam dan kebudayaan.

Buku ini disusun menjadi tiga bagian yang dibagi lagi menjadi delapan bab. Bagian I tentang perkembangan sastra Melayu Kuno yang direkonstruksi berdasarkan gambar relief di candi-candi Jawa, teks-teks Jawa Kuno, dan teks-teks zaman Hindu Buddha yang disalin kembali pada zaman Islam. Bab II tentang sistem genre dan karya-karya zaman Islam awal, yang umumnya anonim dan berupa saduran karya Arab-Persia atau Indo-Persia.

Bagian III merupakan bagian terpenting karena di bagian inilah konsep dan teori yang akan diterapkan penulis menemukan sasaran tepat. Inti terpenting bagian ini ialah pembicaraan tentang pentingnya kesadaran diri dan individualitas sebagai asas penciptaan sastra. Adalah penulis Melayu Islam yang pertama memperkenalkan arti penting kesadaran diri dalam penulisan sastra. Untuk itu, penulis Melayu biasa menggunakan istilah dagang dan faqir, yaitu pribadi yang bebas dari selain Allah tapi selalu terpaut kepada-Nya. Dengan itu, kesadaran diri yang dimaksud ialah “diri insan” sebagai khalifah Allah di atas bumi dan hamba-Nya.

Pokok bahasan penting buku ini ialah pemaparan hubungan estetika Melayu dengan kosmologi Islam, serta tradisi hikmah dan ta’wil (hermeneutika) sufi. Tatanan batin sastra Melayu, yaitu wawasan estetik dan pandangan dunianya, sering dilupakan. Para sarjana umumnya melihat perkembangan sastra Melayu berdasarkan faktor luar, yaitu pengaruh sastra Arab dan Persia. Padahal, karya penulis Melayu adalah hasil endapan dan penghayatan serta hasil pentransformasian yang mendalam terhadap karya Islam Arab dan Persia yang mempengaruhinya.

Agar bisa menyingkap tatanan batin, Braginsky memakai metode hermeneutika historis, yaitu penafsiran spiritual terhadap makna simbolis teks dengan melihat wawasan estetik. Karena estetika Melayu didasarkan pada kosmologi Islam, khususnya ajaran tatanan makrokosmos (al-’alam al-kabir) dan mikrokosmos (al-’alam al-saghir), pemahaman terhadap kosmologi Islam penting. Kosmologi ini didasarkan pada ayat-ayat Alquran, yaitu tanda-tanda yang membawa manusia kepada pemahaman akan keberadaan-Nya.

Berdasarkan pandangan ini, dalam estetika Melayu Islam dikatakan bahwa yang zahir (di luar) merupakan tangga naik menuju yang batin. Maka, ungkapan estetik dalam sastra hadir bukan demi tujuan estetik, melainkan untuk membawa pembaca menuju yang ada di dalam, yaitu ma’na.

Braginsky menggolongkan sastra Melayu Klasik berdasarkan corak estetik yang akan ditampilkan. Ada tiga golongan: (1) Karya-karya yang menggarap estetika zahir atau sfera hiburan. Termasuk di dalamnya Hikayat Isma Yatim, Hikayat Syah Mardan, dan Hikayat Bayan Budiman. Tujuan penulisan pelipur lara ialah menyerasikan kesan-kesan kejiwaan yang kacau karena kobaran nafsu melalui keindahan estetik sastra; (2) Karya-karya yang menggarap estetika hikmah, termasuk hikayat Nabi, adab, serta karya sejarah dan didaktis; (3) Karya-karya yang menggarap estetika batin atau sfera kamal (kesempurnaan). Karya-karya ini menggambarkan upaya manusia mencapai pengetahuan tertinggi, misalnya syair-syair sufi Hamzah Fansuri.

Lewat buku ini, kita makin menyadari besarnya sumbangan penulis sufi dan ahli tasawuf terhadap perkembangan Islam di Nusantara. Kata Braginsky, “Sementara cabang-cabang ilmu Islam seperti fikih, kalam, dan usuluddin sering dipandang sebagai ‘tubuh’ tradisi Islam, tasawuf dapat disebut sebagai roh yang memberikan kehidupan kepada tubuh itu. Berkat tasawuf, Islam dapat diasimilasi ke alam pikiran Melayu, sedangkan sastra sufinya memegang peranan penting dalam pembentukan sastra dan kesadaran diri…” (halaman 278).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.