PENGARUH SUREALISME DAN PUISI TERKINI

Indra Tjahyadi
http://terpelanting.wordpress.com/

Membaca puisi-puisi karya W. Haryanto, Mashuri, H.U. Mardi Luhung, Muhammad Aris dan Zaki Jubaidi terasa sekali betapa kuatnya pengaruh wacana Surealisme di dalamnya. Pengaruh tersebut terlihat dari betapa banyaknya puisi-puisi mereka menggunakan ledakan-ledakan imaji yang sifatnya spontan dan tidak logis sekali.

Seperti pada puisi karya W. Haryanto yang berjudul “Karnaval Hantu”. Pada puisi karya W. Haryanto tersebut, ledakan imaji yang begitu spontan menciptakan analogi-analogi yang tidak logis dalam kalimat-kalimat puisinya. Hal tersebut dapat dilihat pada kalimat: Aku memanggilmu dengan setetes kata yang segar./ seperti mata—/. Pada kutipan tersebut dapatlah dilihat, betapa W. Haryanto menggunakan ledakan imajinya yang spontan sehingga menciptakan suatu perbandingan yang terkesan tidak logis, yaitu: memanggilmu dan mata.

Memanggilmu yang lebih merupakan sesuatu yang berpusar pada bunyi diperbandingkan dengan benda mata yang fungsinya untuk melihat. Hal tersebut tidak akan terjadi apabila W. Haryanto dalam fakta penciptaannya tidak menggunakan, yang oleh kaum surealis disebut Otomatisme. Seperti telah diketahui bersama, bahwa Otomatisme adalah suatu tehnik penciptaan kreatif yang menempatkan diri pada ledakan bawah sadar yang didasarkan pada kesadaran.

Dalam Otomatisme, segala hal dalam kesadaran direnggut dan diledakkan oleh bawah sadar untuk kemudian dikembalikan lagi pada kesadaran. Dan hal tersebut sedikit berbeda dengan tehnik penciptaan kaum Absurd. Sebab pada wacana kaum Absurd yang ada hanya ledakan bawah sadar yang disertai penolakan dan pengingkaran pada kesadaran.

Lain dari puisi-puisi karya W. Haryanto, pada puisi-puisi karya Mashuri keterpengaruhan akan wacana surealis juga besar, meskipun tidak sebesar pada puisi-puisi karya W. Haryanto. Pada puisi-puisi karya Mashuri, pengaruh wacana surealis juga terlihat pada bagaimana ia melakukan ledakan imajinya yang demikian spontan sehingga menciptakan analogi-analogi yang terkesan tidak logis. Seperti pada puisinya yang berjudul “Sajak-sajak Maut”.

Pada puisinya tersebut gejolak dari ledakan imaji yang spontan dapat dilihat pada kalimat puisinya yang berbunyi: / Anak-anak menunggu di beranda/ Dan kau berkata tentang kata/ Suaramu halilintar. Gelas dan rambut bergetar//. Penyamaan gelas dan rambut yang sebenarnya keduanya berbeda secara keberadaan fungsi dan ujudnya, bahkan kemampuannya, membuat puisi karya Mashuri tersebut terkesan agak tidak logis. Akan tetapi, hal tersebut bukanlah hadir tanpa sebab.
Penggunaan bawah sadar yang secara besar dalam penguraian logika pada puisi-puisi yang diciptakan oleh Mashuri membuat ketidaklogisan tersebut menjadi sah dan tidak dapat dielakkan adanya. Penggunaan gejolak dari ledakan imaji yang spontan membuat segala sesuatunya seakan-akan hadir tanpa pertimbangan yang jelas. Meskipun demikian, ia mempunyai semangat ekspresi yang kuat.

Selain itu, pengaruh surealisme pada puisi-puisi karya Mashuri dapat dilihat dari seringnya ia menggunakan tema-tema kematian pada puisi-puisi yang diciptakannya. Bukanlah sebuah rahasia lagi, bahwa kaum surealis , sebenarnya, adalah mereka yang gemar sekali menggunakan tema-tema kematian dalam setiap karya yang diciptakannya. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa mereka yang menggunakan tema kematian pada puisinya dapat dikatakan bahwa ia atau mereka adalah surealis. Atau mereka yang tidak menggunakan tema kematian pada karya yang diciptakannya adalah bukan surealis atau tidak terkena pengaruh dari wacana surealis. Dan hal tersebut dapatlah dilihat pada puisi-puisi karya H.U. Mardi Luhung.

Pada puisi-puisi karya H.U. Mardi Luhung pengaruh wacana surealis juga terkesan besar dan kuat, meskipun dalam puisi-puisinya amatlah jarang ditemukan tema-tema kematian dalam puisinya. Meskipun demikian, pengaruh wacana surealis masih juga terlihat, khusunya pada puisi “Kapal Selam”.
Pada puisinya tersebut, gejolak dari ledakan imaji H.U. Mardi Luhung yang spontan dapat dilihat dari pembandingan yang digunakannya. Keberadaan kapal selam dengan Nuh adalah dua hal yang berjauhan secara sejarah dan fungsi atas keberadaannya. Akan tetapi, hal tersebut tidaklah menghentikan dirinya untuk melakukan pembandingan dan penyamaan akan kedua hal tersebut. Sebab, bagaimanapun juga, Otomatisme dalam penciptaan setiap karya puisinya tetap menemukan porsi yang penting dan substansial, meskipun terkadang hal tersebut diacuhkan oleh penciptanya.

Akan tetapi, pengaruh wacana surealis yang besar terlihat pada puisi-puisi karya Muhammad Aris. Pada puisi-puisi karya Muhammad Aris keterpengaruhan wacana surealis terlihat demikian pekat dan kuat. Dan hal tersebut bukan saja pada tehnik Otomatisme, atau penggunaan tema kematian dalam setiap puisinya. Akan tetapi, pengaruh surealisme terlihat di berbagai seginya. Seperti pada puisinya “Ombak Selatan”.

Pada puisinya tersebut, terkasan kuat pengaruh wacana surealis di dalamnya. Dan hal tersebut dapat dulihat pada baris-baris puisinya: terang adalah kekosongan/ badai matahari yang merangkai lesut angin/ tak habis-habis berpusingan/ seperti kibaran merah karang/ airmata//. Pada kutipan puisinya tersebut dapatlah dilihat pengaruh wacana surealis yang demikian kuatnya sehingga segala yang hadir terkesan muram dan tidak logis. Seperti pada kalimat kibaran merah karang. Di mana kalimat tersebut, mengandaikan bahwa karang adalah tak ubahnya bendera yang dapat berkibar.

Hal tersebut adalah jelas suatu wujud spontan dari gejolak ledakan imaji Muhammad Aris sebagai penciptanya. Karena perbandingan yang demikian tidaklah dapat hadir apabila si penciptanya menggunakan kesadaran mutlak, dan tidak berpangkal tolak pada Otomatisme kaum surealis. Sebab tanpa Otomatisme, setiap ledakan imaji yang lahir hanya merupakan penghadiran kembali segala sesuatu yang berada dalam kesadaran dan bukannya bawah sadar.

Pada puisi-puisi Zaki Jubaidi, pengaruh wacana surealis juga besar, meskipun tidaklah terkesan seekstrem W. Haryanto, atau Muhammad Aris. Akan tetapi, hal tersebut tidaklah mngurangi nilai keterpengaruhannya terhadap wacana surealis. Seperti pada puisinya yang berjudul “Dua Perempuan dan Bau Sperma”.

Pada puisinya tersebut, keterpengaruhan Zaki terhadap wacana surealis juga dari ekspresi puisinya yang berpangkal tolak pada Otomatisme yang disebabkan ledakan imajibnya yang spontan. Dan hal tersebut dapat dilihat pada kutipan kalimat puisinya, yaitu: // Lenganmu menembus lipatan-lipatan rasa sakit./ dan menjelma kupu-kupu dengan sayap dari/ runtuhan salju/. Pada kutipan tersebut, dapatlah dilihat betapa Otomatisme yang digunakan oleh Zaki dalam tehnik penulisan dan penciptaan puisinya membuat setiap analogi yang hadir terkesan tidaklah logis.

Pada akhirnya, disadari atau tidak, pengaruh surealisme pada lapangan perpuisian kita terkini demikianlah besar. Terutama pada tehnik Otomatisme yang dimiliki oleh kaum surealisme dalam setiap penciptaan karyanya. Dan kelima penyair di atas adalah contoh dari sekian banyak penyair kita kini yang juga terpengaruh oleh wacana surealis dalam setiap karyanya, seperti Acep Zamzam Noor, Wahyu Prasetya, Kriapur, Nirwan Dewanto, Arief B. Prasetyo, Deny Tri Aryanti, dsb.

Komentar