Seorang Iwan Dan Timur Itu

Iwan Nurdaya Djafar (Penyair-Budayawan)
Pewawancara: Rahmat Sudirman, Zulkarnain Zubairi
http://www.lampungpost.com/

WACANA sastra Timur mengalir begitu saja dari mulut Iwan Nurdaya Djafar. Keseriusan mendalami sastra-sastra oriental ini sangat terasa. Bukan saja dari banyaknya literatur sastra Timur yang dia miliki, yang menumpuk di lemari buku di ruang tamunya; keseriusan ini terasa dari jernihnya wacana yang menyeruak dari pikiran Iwan dan bernasnya apresiasi yang mengalir dalam pembicaraan Selasa (6-12) malam itu di kediamannya di Jalan Endro Suratmin, Sukarame, Bandar Lampung.

“Saya ingin mengingatkan masyarakat kalau sesungguhnya Timur ini sangat kaya. Begitu juga sastra tasawufnya. Khazanah kebudayaan Timur juga demikian. Makanya saya masuk Dalai Lama, Rabindranath Tagore, puisi-puisi klasik Jepang, dan sebagainya. Genre ini banyak melahirkan sastrawan, khususnya penyair. Inikan sangat menarik,” kata Iwan kepada wartawan Lampung Post Rahmat Sudirman dan Zulkarnain Zubairi malam itu.

Puisi-puisi Iwan yang muncul era 80-an memang kental rasa sufistiknya. Dalam antologi Seratus Sajak, misalnya, Iwan seperti menumpahkan kerinduan, pencarian sekaligus kegelisahan seorang hamba–yang adalah jagat cilik–tentang kehidupan yang profan ini. Iwan juga sadar akan “Sesuatu” (dengan huruf besar) yang tremendum fascinatum, hingga ia bersaksi dalam syairnya: Silakan sensor syair-syairku, ya allah/Biar butir butir dzikir/Ngalir dari sungai syairku/Tumpah ke lautan hati sesama (Doa Kepenyairan).

Dalam “Syahadat”, Iwan mengelana lebih jauh, seperti mendedah zat yang namanya tuhan (dengan “z” kecil). Ia pun bersyair: Allah, Allah, Allah!/sembahanku Allah bukan tuhan/berkali-kali mati di tangan pikiran/berkali-kali hidup di tangan pikiran/hidup mati tuhan tergantung pikiran/sedang dalam hati yang berserah/yang tunggal dan kekal hanya Allah/hanya Allah/…la ilaha ‘ill-Allah/betapa ingin kudzikirkan selalu/la ilah…pada setiap tarikan nafasku/’ill-Allah pada setiap hembusan nafasku/…sembahanku bbukan tuhan melainkan Allah/sembahanku dulu tuhan/kini Allah/Allah!

Bukan lantaran karya-karyanya berlatar sufistik lantas ia sampai sekarang mendalami sastra Timur. Bagi Iwan, ini adalah pilihan. “Saya juga baca Nietszche, Bertrand Russel, Karl Jasper, Sastre, Kiekegard, dan segalanya. Ya, semua itu kita kritisi aja,” ujar Iwan, saat ditanya pemikir-pemikir Barat yang memenuhi wacana pemikiran kontekstual di Tanah Air.

“Saya juga ada refleksi tentang Nietszche, saya kasih judul ‘Mengapa (Tidak) Kembali’. Yang terjadi pada Nietszche kan tidak kembali. Di puncak renungannya, dia tidak kembali. Malah kebablasan. Kalau Karl Jasper kan tidak, dia kembali ke pengakuan-Nya,” kata Iwan.

Soal kepenyairan–lebih luas lagi soal menulis–ia tidak pernah main-main, sekalipun jabatan taruhannya. “Saya enggak ada urusan dengan segala tekanan. Saya enggak ada urusan. Saya berani kok dicopot dari jabatan kalau memang konsekuensinya harus begitu. Target saya kan jadi diri sendiri. Iyalah, mesti begitu,” ujar dengan mimik serius.

Iwan memang hidup di “dua dunia”: sastra dan birokrasi. Sebagai penyair, ia suntuk melacak khazanah sastra-kebudayaan Timur. Iwan juga seorang pejabat; pernah menduduki posisi sebagai kepala kantor Catatan Sipil Pemkab Lampung Timur. Kini, ia menjabat kepala Bagian TU Dinas Pengairan Pemkab Lamtim.

Iwan memang tidak pernah main-main dengan hidup, dengan sastra, kepenyairan, dan segala yang berbau serius. Suatu saat, ia ingin mendirikan penerbit yang concern pada seni, sastra, budaya, dan filsafat seperti yang banyak berkembang di Yogyakarta. Ia juga terus menerjemahkan literatur-literatur sastra Timur. Suatu saat, Iwan ingin menerbitkan anotasi puisi-puisi Ayatullah Khomeini, pemimpin dan tokoh spiritual Iran itu.

Kenapa Timur yang dipilih?

Timur itu sangat besar. Kalau ditanya kenapa enggak Barat, ya karena orang yang mendalami dan menerjemahkan sastra Barat sudah banyak. Kalau tidak, Timur nanti bisa ditingalkan.

Saya juga terbata-bata menerjemahkan karya-karya sastra Timur ini. Tidak cukup satu atau dua kamus, harus ada kamus-kamus lain yang khusus.

Anda merasakan ada kekhasan dalam sastra-sastra Timur?

Kalau kita lihat substansinya, sastra Timur itu menerapkan pendekatan kalbu. Nah, cara ini ternyata juga diambil Barat, baik terang-terangan maupun diam-diam. Misalnya, kayak Dante Allegeri yang nyomot karya Al Maari. Shakespeare juga begitu, dia terilhami sastra Timur. Kenapa di Jerman pada abad ke-19 muncul gerakan ketimuran, oriental itu? Ternyata, penyair Jerman juga terpengaruh karya penyair tasawuf seperti Kabir (penyair sufi India abad ke-15, 1440–1518, red). Goethe misalnya, ternyata penyair ini pernah menulis satu karya berjudul “Diwan Timur Barat”. Inikan menarik. Goethe yang nonmuslim ternyata menulis puisi dalam bentuk diwan–satu genre puisi Persia yang sering dipakai para penyair sufi seperti Jalaluddin Rumi dan M. Iqbal. Goethe juga paham benar tarik Nabi Muhammad. Inikan dalam maknanya.

Goethe juga pernah mau bikin satu drama, “Muhamed”, tapi enggak jadi. Akhirnya Goethe buat puisi, judulnya “Muhamed the Song”. Abdul Hadi W.M. pernah menerjemahkannya. Saya juga ada teks aslinya, sudah saya terjemahkan juga.

Inikan menarik, Timur-Barat itu ada saling pengaruh.

Artinya, bicara sastra dan orisinalitas karya itu enggak mesti barat?

Ya, enggak mesti begitu. Omar Kayam, misalnya. Dia itu penyair, sufi, pakar astronomi, dia juga penemu aljabar. Dia juga ahli strategi. Ini lagi, yang kita kenal dengan “segitiga Pascal” itu, ternyata punya Omar Kayam. Artinya apa…Barat itukan hanya papan gema.

Rumi juga pernah menulis puisi evolusi. Ini kalau kita lihat-lihat, teorinya Darwin itu mirip dengan gagasan Rumi. Dari sel tunggal sampai manusia, ini jelas mirip teori spesiesnya Darwin.

Kemudian Einstein juga, teorinya itu, big bang. Ledakan raksasa terjadinya bumi yang muncul abad ke-19. Pada abad ke-6, ini sudah dibicarakan dalam puisinya Al Hallaj.

Jadi, kalau sekarang kita bicara orisinalitas, yang mana itu? Tentu tidak mustahil Einstein pernah membaca karya Al Hallaj ini.

Tetapi, sekarang Barat begitu menguasai, begitu juga dengan teori-teorinya seperti post-modernisme. Bagaimana ini? Apakah sastra Timur memang kurang diminati?

Dulu pada era 80-an, berkembang sastra sufistik, sastra transendental semasa Kuntowijoyo. Ini juga bisa dilihat pada karya-karya Abdul Hadi W.M., Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabar, Emha Ainun Nadjib, Danarto, lalu Fudoli Zaini. Sastra sufi itu cukup kuat. Memang sekarang agak terputus, apalagi sekarang muncul genre teenlit, yang banyak diterjemahkan Gramedia. Kita masuk toko buku, teenlit-nya segunung itu.

Buat saya, ini pendangkalan. Memang, orang enggak mau capek, mau baca yang menghibur-hibur saja. Tetapi, nanti bisa-bisa yang terjadi hanya pendangkalan. Jangan-jangan nanti remaja perempuan kita terbiasa berpikir lembek terus. Wah….

Kalau bicara pendalaman, saya kira hanya terjadi pada buku. Ya, kalau anak-anak muda kita hanya menonton TV dan baca yang ringan-ringan, lalu mau ke mana nanti. Kan gitu pertanyaannya.

Inikan bisa membuat orang suka baca sastra?

Iya, kalau teenlit├┐20ini hanya sasaran antara menuju yang serius. Kalau muter-muter di situ juga, ya repot. Kalau kita tidak punya fondasi yang kuat, fondasinya dibangun dengan teenlit, repot kan.

Sekarang soal perkembangan perpuisian Lampung, bagaimana menurut Anda?

Saya gembira. Puisi dan cerpen sekarang ini luar biasa. Generasi setelah saya sekarang inikan banyak muncul, misalnya Jimmy, Alex R., Inggit, dan Diah. Ini bagus. Lampung ternyata punya kekuatan sastra yang luar biasa.

Saya kira ini tidak terlepas dari budaya membaca. Mereka terbiasa membaca karya-karya serius. Sekarang kan banyak karya terjemahan dan karya penulis Indonesia di toko-toko buku.

Kalau dulu, puisi itu dunia kesepian. Pada era 80-an masih seperti itu. Dulu, saya pulang ke Lampung ketemu Isbedy, dunia sastra itu masih kesepian.

Sayangnya, seniman itu, populasi seniman, tidak begitu banyak. Sehingga, mereka mendiskusikan karya-karya sastra masih di lingkungan sendiri. Mau kita kan, karya-karya ini dilempar ke publik, ke masyarakat. Ini yang juga mesti dilakukan. Jadi, karya itu tidak berhenti sebagai wacana di lingkaran seniman. Misalnya, memanggungkan sastra, dicari bentuk-bentuk lain. Lihat, misalnya, baru-baru ini Sutardji memadukan sastra “Aku”-nya Khairil Anwar dengan blues. Inikan bagus. Kebetulan, Tardji memang pintar nyanyi. Ha ha ha…

Kenapa sastra di Lampung begitu kuat? Padahal, toko buku dikepung teenlit, tapi mereka bisa menelurkan karya serius dan berkualitas?

Ya, saya kira ini kita anggap berkah untuk Lampung. Mereka itu besar “di jalan”, di luar lembaga formal. Sekarang ini bacaan bermutu mudah di dapat, iyakan.

Anda seperti percaya benar dengan “membaca”; seakan ide itu akan muncul kalau kita membaca. Apakah suatu karya berkualitas sulit muncul tanpa rangsangan bacaan?

Ya, saya kira salah satu bahannya pasti buku. Tetapi, jangan sampai bergantung pada buku. Jadikan kita ini buku itu sendiri. Pengamatan, intuisi, ketajaman juga merangsang proses berkarya. Semuanya tidak terpisah.

,Saya Bertanggung Jawab dengan Pilihan ini’

TUJUH tahun sebelum keluar UU 32/2004, Iwan pernah menulis tentang pemilihan langsung di harian ini. Saat itu, ia staf di Kanwil Penerangan Provinsi Lampung.

“Saat itu, kakanwil saya marah benar. Saya dipanggil, ditanya kenapa nulis begini. Kata kakanwil, tulisan saya tidak sejalan dengan kebijakan Departemen Penerangan,” ujar Iwan, menceritakan kejadian yang membekas di benaknya itu.

“Saya bilang sama kakanwil. Sebagai penulis, saya tidak ada atasan. Kakanwil bukan atasan saya. Sebagai penulis, saya pemikir bebas. Saya tidak bisa didikte atau diarahkan,” kata Iwan mengungkapkan keseriusannya pada dunia tulis-menulis.

Ya, begitulah Iwan. “Saya kan tidak bisa jadi orang lain, saya mesti jadi diri sendiri,” kata dia menjelaskan keberadaannya di dunia sastra dan birokrasi–sebuah kondisi yang memiliki dunia berbeda.

Awal 1990, ia pulang ke Bandar Lampung. Delapan tahun ia kelanai dunia sastra Bandung, dengan segala kebebasan berekspresi. “Teman-teman saya sudah habis, makanya saya kembali ke sini,” ujar suami Cut Hilda Rina ini.

Apa pun namanya, seniman juga manusia. Iwan menyadari hal ini. “Saya mesti ada pegangan. Saat itu, penyair belum menjanjikan, saya harus ada pekerjaan yang bisa memberikan penghasilan, makanya saya masuk PNS,” kata Iwan soal keberadaannya kini sebagai pejabat di Pemkab Lamtim.

Pilihan Iwan menekuni dunia sastra juga bukan tanpa perlawanan. “Ayah saya keras. Saya harus meyakinkan beliau. Saya buktikan kalau sastra itu bagus,” kata Iwan.

Satu per satu, ia kirimi sertifikat juara ke orangtuanya di kawasan Enggal, Bandar Lampung. “Dengan begini, artinya kan saya bertanggung jawab dengan pilihan ini,” ujarnya.

Sebagai penyair, karya-karya Iwan memang tidak lagi terpampang di media massa atau majalan sastra. Tetapi, jangan berpikir elan kepenyairan Iwan telah mati. “Saya terus menulis puisi, tapi tidak saya publikasikan,” kata Iwan, yang tengah bersiap ke Tanah Suci ini.

Kini, Iwan menekuni dunia lain, merambah wilayah yang kerap dilakukan kritikus sastra atau akademisi. “Saya ingin membuat anotasi puisi-puisi Khomeini,” kata putra mantan bupati Lamsel, Djafar Amid ini.

Ia juga ingin menerbitkan tujuh terjemahan yang diselesaikannya selama bertugas di Pemkab Lamtim. Ada terjemahan puisi-puisi Kabir, Rabindranath Tagore, Dalai Lama II, puisi Shakespeare (“The Sonnets And A Lovers Complaint”), Jalaluddin Rumi, novel Omar Khayam juga puisi-puisi klasik Jepang. Sebelumnya, ia telah menerjemahkan karya-karya Khalil Gibran antara lain “Air Mata dan Senyuman” dan “Sang Nabi”.

“Malam hari, saya menulis. Saya sampai Jumat di Sukadana. Saya punya rumah dinas di sana. Artinya, saya punya banyak waktu juga untuk berkarya. Enggak diganggu anak-anak, enggak diganggu istri sekaligus juga enggak bisa ngegangguin istri. Ha ha ha…,” ujar Iwan menjelaskan soal dua dunia yang dilakoni.

Sampai kapan Iwan terus menulis? “Menulis itu kerjaan saya. Menulis itu sudah jadi kebutuhan. Saya menulis dari tahun 80-an, mulai dari media kampus terus merambah ke Pikiran Rakyat (koran terbitan Bandung, red). Kebetulan saya kan kuliah di Bandung,” kata Iwan, seakan meyakini energi kreatif yang mengaliri kesadaran dan tubuhnya tidak akan hilang.

“Menulis itu membahagiakan,” ujarnya RAHMAT SUDIRMAN

Biodata
Nama: Iwan Nurdaya Djafar
Tempat, Tanggal Lahir: Tanjungkarang, 14 Maret 1959
Orangtua: Djafar Amid (ayah)
Siti Kalang (ibu)
Istri: Cut Hilda Rina (menikah 7 Juli 1991)
Anak: 1) Rabia Edra Almera (14)
2) Selma Ilafi Al Zahra (8)

Pendidikan
1971 Lulus SD di Pangkal Pinang
1974 Lulus SMPN 2 Tanjungkarang
1977 Lulus SMA Xaverius
1986 Lulus S-1 Hukum Tata Negara
Universitas Parahyangan, Bandung

Pekerjaan Birokrasi
Pernah menjabat kasubdin Kebudayaan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Timur
2003 Kabaghumas Pemkab Lamtim
2003-2005 Kepala Kantor Catatan Sipil Pemkab Lamtim
2005… Kabag TU Dinas Pengairan Pemkab Lamtim

Komentar