Langsung ke konten utama

Barka

Siti Sa’adah
http://sastra-indonesia.com/

Jika hatimu pernah dipalu godam oleh seseorang, dengan beringas dan dia sama sekali tidak peduli kondisimu saat itu apakah kamu tidak akan merintih perih? Kemudian dengan susah payah kau lap air mata yang tak berkesudahan dan akhirnya lelah. Lelah merasa merana. Lantas hanya tekad yang mencuat: tidak akan ada lagi tentang lelaki itu dihidupmu.
***

Dia kembali setelah menebas habis segala rasa bahagia dihatiku. Menyeretnya dengan kasar kemudian menimbunnya ke dalam bumi masa lalu seperti mengubur bangkai anjing, menginjak-injak dengan jijik. Setelah puas dia enyah di pelabuhan harapan yang entah.

Kawan-kawanku menjelma ranting yang berusaha menjeratku kembali dengannya. Rupanya mereka menyayangkan kisah yang punah. Dan ingin menemaniku bermesrah lagi, tentu saja dengan lelaki itu. Lelaki yang membongkar percintaan yang lanjur dikremasi. Dia merajuk mengusung bangkai kemesrahan, gunungan sesal dan memintaku untuk menerimanya. Bagaimana jadinya, luangan yang tersisa sekarang hanyalah lorong tanpa namanya. Bagaimana pula aku kuat membawa gunungan yang jadi bara itu?! Tolong bawakan pecahan laut saja kawan-kawanku, biar luruh api ini.

Dia mematung bermaksud mengerami telur-telur penyesalannya, berharap aku akan menetaskan kemudian lebur aku membuka pelukan. Tubuhnya tidak sehangat dulu pasti. Aku yakin benar dia adalah gumpalan bara yang bisa menjadikanku arang. Tidak, aku tidak rela. Aku masih punya mimpi keindahan.

Kuharap mulutnya bungkam, namun terus saja dia meluberkan ratap setelah melumat hatiku. Sekarang dia menirukan tangisanku yang dulu saat dia pergi dan acuh kepadaku. Tangisku yang meraung perih seperti angsa hidup yang dicabuti bulu di sekujur badannya. Ahai, begitu rapuh lelaki ini.

Rupanya aku menikmati posisi dimintai.
Dia telah binasa oleh harapan mencari penggantiku. Dia kalah. Sungguh mati aku tidak peduli. Biarkan kuberanjak dari kubang tangisan.

“Kau seperti mengerat nyawaku, Nila.” Tatapannya mengunciku.
“Apakah kau ingin mati sekalian?” Aku menantang kekalutannya. Aku tidak boleh luluh.

“Katamu dulu jika kita mulai membenci, ingatlah saat berkasih.” Dia berusaha mengumpanku dengan masa lalu. Tatapan matanya menyiratkan keinginan untuk menguasaiku.

“Bukan mulai, tetapi benciku sudah mengerak Barka!” Kubanting kenyataan.

Sungguh jahanam. Dia menyodorkan rekam perkasihan dulu. Dimunculkannya slide-slide hangat dekapan, panas ciuman dan kobar percintaan. Semua itu terakit dan melingkar mengepungku.

“Sejak kapan kau tuli Barka!” Aku lelah dan malu mengenang itu semua.

“Pesonamu yang menulikanku.” Datar dan dingin, matanya seperti lubang yang memintaku merasuk kedalamnya. Hampa.

“Ha ha ha…” Hanya tawa getir yang keluar dari mulutku, selanjutnya menjelma ngungu.
***

Maghrib berteriak dari micropon mushola. Menyeret gelap kemudian menyelimuti kengerian yang serentak menikamku. Senja masih tersisa, saat dia berkabar hendak menjalin tali yang terberai. Hendak menggenggam hatiku yang telah laju.

Bukan untukmu lagi, tetapi mengapa kau menghantui? Wujudmu benar-benar hantu yang aku tak mau berjajar. Muak aku sudah. Enyah kau dari hidupku. Harapan kemarin sudah jadi remah dari bingkai kaca yang indah, kau yang lantakkan! Dan kini tanganmu hendak menggenggam untuk mengutuhkannya kembali? Kau mau bersamaku dengan cara terus mengejar dan menikam dengan luka masa lalu? Aku harus memakai bahasa apa untuk mengungkapkan aku sudah tidak mau. Mengertilah. Berapa kali kita mengecap nikmat bersama. Namun itu tidak menjamin keabadian benar nyata. Bukankah kita adalah dua kayu kering yang terus bergesek dan mampu membakar hutan kemarau yang terus kita tangisi: kapan hujan rahmat sanggup dirasa?
***

Sekarang, aku harus memaklumi ketuliannya atau harus rela buta kenyataan? Tidak, aku tidak buta kenyataan. Kenyataan bahwa aku telah disakit-kulitinya. Sakit yang mencacatkan perasaan. Sakit yang mengoyak kebahagiaanku. Aku tidak buta, tetapi aku tidak sanggup lagi untuk bertahan…

Bentengku retak.
Airmatanya terus menggerus. Menggenang dan membandang. Lantak.
Dipuncak petang yang disambut terang pagi, Barka mendatangiku lagi, tidak banyak cakap,
“Bukankah kelaminku masih tertinggal di rahimmu?!”

Kalimatnya menyambar ketegaranku. Menelikung lantas dengan kuat menghujam. Kemudian dia berlalu. Barka masih sempat melihat tubuhku yang kaku dan keringat dingin yang menyumber dari kulitku.
***

Dia datang untuk mengusik dan membangunkan kisah yang kulelapkan. Mengail perasaan yang telah kularungkan. Dia mengunciku didekapnya saat ini. Dan aku tidak berdaya. Bentengku retak. Airmatanya terus menggerus. Menggenang dan membandang. Lantak.

Sekarang aku belajar untuk mengikis ingatan dengan mengerami kelaminnya yang bersemayam di rahimku. Meski aku bisa menjalaninya, aku jelas tidak bisa menikmati penyiksaan semacam ini. Aku lebih keras dari kayu, membatu. Kuturuti semua kemauan Barka namun sungguh aku tidak terima. Hari-hari bersamanya saat ini adalah pengepulan dendam. Keinginan untuk membuatnya menangis, mengemis lagi kepadaku, bahkan kalau perlu dia harus bunuh diri karena menyerah. Tetapi aku yang kalah. Dia meninggalkan kelaminnya di rahimku. Sebagai wanita aku tak sanggup mengeluarkannya…

“Barka, tolonglah lepaskan aku dari hujam cengkerammu!” di tengah payah aku meradang. “Bukankah kau dulu telah mantap untuk meninggalkanku. Biarkan aku pergi…”

Sebenarnya aku ingin meraung dan berteriak keras, tetapi tenggorokanku seperti digorok. Suaraku tercekat. “Ada penantian untukku diluar sana Barka… tolong lepaskan aku kesana…” Suaraku seperti igauan saja. Pelan dan tertelan.

Tidak kusangka, mendengar kalimatku yang terakhir dia terhenyak. Amarahnya terlibas. Darah mengumpul diwajahnya yang kasar. Dia mencengkeram bahuku, begitu kencang sampai aku tidak bisa bergerak. Aku tidak takut, kemarahannya justru menantangku.

“Ada apa Barka? Kau ingin tahu siapa lelaki yang membawa hatiku saat ini?!” dengan suara parau kupancing dia. Mulutnya tidak bergerak, hanya tatapannya yang menghujamku. Penuh amarah dan api cemburu.

“Madun, Barka.” Kusebut nama lelaki yang kerap menyita waktuku selama Barka pergi.

“Tidak mungkin! Bagaimana bisa?! Gila!” Barka menceracau. Diguncang-guncangkannya bahuku.

“Kau tidak terima?” Barka tidak menyahuti. Pelan cengkeramannya merenggang, kemudian kedua tangannya lemas terjatuh. Ini adalah kesempatan berharga bagiku untuk melumpuhkannya lagi.

“Dia yang mempertemukan kita. Membuat kita lebih dekat. Saat dia abai kau memaksaku melekat dalam dekapmu! Dan kau menghujamkan kelamin bangsatmu itu Barka! Laknat kau Barka!” Tangisku pecah mengingat guncangan kenyataan yang pernah menderaku. Kenyataan yang kukutuki sebagai pintu kemudahan untuk kerap menyesap kenikmatan yang sebenarnya amat suram. Slide-slide hangat dekapan, panas ciuman dan kobar percintaan. Semua itu terakit dan melingkar mengepungku. Berselang-seling antara Barka dan Madun.

“Bagaimanapun juga kita telah sama-sama takluk Nila.” Suaranya datar.

“Kebangsatanmu telah memangkas semua harapanku. Aku jatuh tak berani menapaki waktu dan kau dengan segala bujuk menggamitku yang kosong…” Sebenarnya aku tidak sanggup mengurai kenangan kelam. Tapi ini adalah peradilan bagiku.

“Kita sama-sama menikmati.”

“Jangan lancang kau berucap seperti itu Barka! Kau menyeretku! Kau telah membunuhku!” Aku tidak bisa menerima kelitnya. Meskipun aku berusaha menambal nganga magma dengan keberadaan Madun.

“Semua orang tahu, kau telah menyimpan kelaminku. Mau apalagi?! Marilah kita kembali bersenang-senang.”

Kurang ajar! Keberaniannya bangkit.
***

Kuseret kisahku pergi. Aku ingin mendinginkan segala bara luka. Kenyataan yang tidak ramah dan membuatku lunyah. Dosa yang kugulung terhampar lagi. Terdedah bergelimang resah. Aku tidak sanggup menamati sekedar untuk berguling di atasnya. Sesekali tubuhku hendak tertarik kedalam gulungannya, tetapi jalan lurus yang masih remang menyangkal keabadian dosa. Titik putih dalam hitam masa lalu berpendar, meski kawan-kawanku belum bisa melihatnya. Agh… mengapa harapan kugantungkan kepada mereka? Bukankah aku bisa mencari jalanku sendiri, melepas gelimang lalai.

Kuputuskan tidak untuk Barka, juga Madun. Atau lelaki lain yang hanya bisa menyesap atau bergelayut memanja. Kulenyapkan Barka yang tidak berdaya dengan cara yang belum pernah terpikirkan sebelumnya.

“Bagaimana kau sanggup mengalahkannya Nila?!” di senja yang dibalut rinai hujan, Madun bertanya kepadaku.

“Kau ingin tahu Madun?” Aku mencoba untuk menegaskan.
“Tentu saja.”

Kubiarkan beberapa waktu pertanyaannya tidak kujawab. Dia nampak begitu penasaran. Dia mendekat dan hendak menyesap, namun aku lebih sigap memalingkan muka.

“Kau benar-benar ingin tahu Madun?” Kuulangi pertanyaanku dengan tetap menjaga jarak.
“Tetapi jika tidak kau beritahu pun tidak menjadi bebanku.” Rupanya dia menyerah. Pasti dia heran dengan penolakanku atas hasratnya untuk menyesapku baru saja.

“Kelaminnya mati tanpa daya. Kusumpal jalan rahimku. Aliran kehidupan untuk kelaminnya yang seharusnya membesar di rahimku, putus.”

Madun diam. Menyadari keberadaannya yang terguncang. Tetapi kulihat dia berusaha menenangkan diri.

“Lupakan Barka. Mari merentas jalan bersamaku.”
“Ha ha ha… Mengapa kau tidak menyadari sekaratmu Madun?!” Kutantang matanya.

“Apa maksudmu?” Mimik mukanya tampak bingung.

“Tidak ada jalan lagi ke rahimku. untuk Barka, juga kau Madun. Atau lelaki lain yang hanya bisa menyesap atau bergelayut memanja.” Ku hirup nafas dalam-dalam, kupejamkan mata,
“Bahkan untuk nafsuku sendiri.”

Madun layu, kejantanan yang sering dipamerkannya dihadapanku luluh. Sejak saat itu dia pergi. Ku melesat kepada titik putih yang berpendar, meski sulit ku mencari. Meski payah tak lelah mengikuti bersamaan kelamin yang terus membusuk di dalam rahimku.
***

*) dari buku Sehimpun Cerpen Jombang “Hujan Sunyi Banaspati” Dekajo 2010.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com