Langsung ke konten utama

Ada Apa dengan Para Sastrawan Lampung?

Dahta Gautama*
http://www.lampungpost.com/

PERKEMBANGAN dunia sastra di Lampung memasuki tahun 2000 hingga 2005 begitu gegap gempita. Setidaknya, ada 8 penyair dan cerpenis yang lahir pada rentang waktu itu. Untuk sekadar menyebut beberapa nama antara lain Jimmy Maruli Alfian, Inggit Putria Marga, M. Arman. AZ, Dyah Indra Mertawirana, Ardiansyah dan Alex R. Nainggolan. Memasuki tahun 2004 tiba-tiba ‘menohok’ seorang Lupita Lukman. Penyair perempuan ini begitu tiba-tiba langsung ‘bermain’ di koran nasional. Ada juga Y. Wobowo penyair asal Yogya yang kembali ke kampung halaman (Lampung) dan konsisten menyajikan suasana lokal dalam sajak-sajaknya.

Para sastrawan Lampung terkini itu lahir setelah era Iswadi Pratama, Ahmad Julden Erwin, Panji Utama, Budi P. Hatees, dan Udo Z. Karzi. Sempat ada kevakuman setelah era Iswadi dkk. Kevakuman itu sempat menjadi semacam kekhawatiran para pelaku sastra sebelum era Iswadi. Rentang tahun 1992–1996 Iswadi dkk begitu produktif menulis dan mempublikasikan karya-karyanya baik di media lokal maupun media pusat. Setelah itu pada 1997–1999, tak ada penyair maupun cerpenis regenerasi.

Namun, saya kira bukan semacam kelatahan bila mendadak memasuki tahun 2000 bermunculan nama-nama baru di belantara sastra ranah Lampung. Perkembangan kesusastraan modern di Lampung saat ini bisa dikatakan sebagai hal yang sangat fenomenal. Betapa tidak, hampir setiap minggu karya-karya sastrawan Lampung muncul di koran-koran pusat (nasional) dan Lampung sebagai lumbung sastra nasional juga diakui oleh pengamat dan pelaku budaya Nirwan Dewanto. Dengan terpublikasinya karya-karya para sastrawan era 2000 itu, notabene karena penilaian obyektif para redaktur budaya koran nasional, yaitu: mutu!.

Namun ada apa sebenarnya dengan para sastrawan Lampung? Mundur ke belakang, saya akan sedikit bercerita. Saya masuk Lampung pada 1997, sebab pada 1991 hingga 1997 saya bermukim di Bengkulu. Namun, dari teman-teman di Lampung dan ketika saya bermukim di Bengkulu, Lampung Post Minggu juga masuk Bengkulu, lalu saya menjadi tahu peta kesusastraan di Lampung. Sehingga meskipun tidak bermukim di Lampung dengan sangat akrab saya mengenal nama-nama: Iswadi Pratama, Gunawan Parikesit, Budi P. Hatees, dll.

Cerita pribadi saya tersebut sebagai instrumentalia pengetahuan saya akan peta sastra di Lampung sesungguhnya cukup lengkap. Mulai dari sastrawan A. Malik Zulqornain hingga Lupita Lukman, cukup saya kenal walaupun hanya sebatas ‘kenal’ pada karya-karyanya saja.

Mengenal rekan-rekan sastrawan dari berbagai generasi tersebut saya menjadi tahu bahwa kalau ada semacam ‘kubu’ di dunia kesustraan modern di Lampung. Pengetahuan saya tentang ‘kubu’ sastra di Lampung ini saya peroleh dari polemik-polemik yang kerap muncul di media massa. Yaitu antara sastrawan Budi P. Hatees dan sastrawan Isbedy Stiawan ZS (Budi P. Hatees adalah sastrawan yang bekerja di Harian Lampung Post sebagai wartawan dan redaktur budaya).

Pada tahun 2002 semacam ‘kabar burung’ bahwa penyair Budi P. Hatees memiliki basis penyair-penyair muda seperti Alex. R Nainggolan dan Dina Oktaviani (mungkin ada beberapa nama lainnya). Pada saat itu polemik mengenai usul ‘pensiun’ bagi sastrawan angkatan tua harus segera dimulai. Dalam sebuah Diskusi Sastra di DKL Dina Oktaviani meminta agar para sastrawan tua yang tidak produktif atau setengah produktif sebaiknya pensiun saja dari ranah sastra. Kemudian opini tersebut menjadi polemik yang cukup dahsyat, saat Alex R. Nainggolan juga mendukung usulan Dina tersebut dalam esai sastranya yang dimuat di Lampung Post. Polemik-polemik tersebut, terkesan memanah Penyair Isbedy Stiawan ZS, sehingga Isbedy mesti menjawab tantangan para pengkritiknya dalam sebuah tulisan di media massa.

Sementara dari kubu Isbedy ada penyair Jimmy Maruli Alfian, Ari Pahala Hutabarat, M. Arman AZ dan sebagian sastrawan-sastrawan muda lainnya. Sekali lagi ini cuma kabar burung, kebenarannya tidak otentik.

Namun, terlepas dari ada kubu-kubuan atau blok-blokan tersebut, sebagai insan sastra saya menilai bahwa dinamika kesusastraan modern di Lampung kurang cukup kondusif. Hak jawab yang dilakukan sastrawan Isbedy Stiawan ZS di Lampung Post, 9 Juli 2005. Ketidakpuasannya atas pemberitaan di Lampung Post tentang peluncuran kumpulan cerpen Sendainya Kau Jadi Ikan di Toko Buku Gramedia, tulisan tersebut melibatkan penyair Iswadi Pratama yang ‘memang’ tak pernah berkata-kata seperti apa yang ditulis di dalam berita tersebut. Kemarahan Isbedy Stiawan dalam hak jawabnya kepada Budi P. Hatees, sungguh ‘pasti’ telah menyesakkan bagi para sastrawan lainnya yang memang tak pernah tahu sesungguhnya ada apa antara Isbedy Stiawan ZS dan Budi P. Hatees.

Namun itulah dinamika? Polemik dan ‘keributan’ kecil bukan hanya milik wilayah politik. Namun, juga merambah sastra. Mungkin ada politik di sastra?

Mohon dimaklumi, apabila saya begitu khusus membicarakan dua tokoh sastrawan ini (Isbedy Stiawan ZS dan Budi P. Hatees). Karena saya kira bukan menjadi rahasia lagi di kalangan para sastrawan muda lainnya, bahwa memang ada semacam ‘pergulatan’ halus antara mereka berdua.

Mengapa harus ada pergulatan, kebencian dan permusuhan? Bukankah kita sama-sama insan sastra? Sastrawan peraih Nobel Derek Walcott dalam pidato budaya sastranya mengatakan bahwa penyair akan tumbang dan kesepian ditinggal sajak-sajaknya apabila ia mengacaukan wilayah orang lain dalam urusan pribadinya. Itu artinya sastrawan tidak boleh jauh-jauh dari nurani, jangan berpolitisasi dan berdendam-dendam.

Ada apa dengan Isbedy Stiawan ZS dan Budi P. Hatees? Entahlah hanya mereka berdua yang tahu. Pasti ada yang masih tersisa di masa lalu dan masih ada yang tersimpan di hati hingga kini.

Sesungguhnya dua sastrawan ini memiliki kesamaan. Sajak-sajak mereka meski lain gaya, namun sama-sama profetik dan indah. Sesungguhnya kedua penyair ini telah berhasil menyuguhkan dunia madu dalam sajak-sajaknya. Ada tema kemanusiaan, Tuhan, cinta, sosial dan keadilan. Namun mengapa berseteru?

Mari kita simak sajak Budi P. Hatees: cukup sudah kehadiran ini/di sini di ruang sunyi/aku tuliskan pada dinding-dinding/kesepianku/selamat datang, malam!/kelam ini menggeliatkan pucuk-pucuk mimpi/seperti kelelawar berdiam di sana/ribut mencium/ diteteskan waktu (“Syair Persahabatan III”).

Lalu kita simak sajak Isbedy Stawan ZS: telepon saja tak memberiku waktu/untuk bersapa/denganmu/lantas apalagi yang bisa kuharapkan/ketika kau putar/haluan perahumu/ke dermaga lain/inilah musim/kau bisa datang/dan berangkat kemana suka (“Dari Sebuah Telepon”).

Dalam sajak ‘Syair Persahabatan III’ Budi P. Hatees mengharapkan kehadiran orang saat ia berada di ruang tak berpentilasi. Yang ada hanya sepi, padahal ia ingin bersapa dengan seseorang. Kemudian ia menjadi gagap ketika tak bertemu orang yang ingin ia ajak bercakap-cakap, serasa berada di klimaks mimpi.

Sajak “Dari Sebuah Telepon” Isbedy Stiawan ZS memberi waktu kepada siapa saja yang ingin menyapanya melalui telepon. Namun, tidak ada yang ia harapkan ketika orang-orang pergi ke dermaga untuk naik perahu pergi ke suatu pulau, kemudian menyendiri dan bersunyi-sunyi di sana.

Sinkron bukan, kedua isi sajak dua penyair yang sedang berseteru itu? Bila Budi P. Hatees ingin menyapa siapa saja untuk mengisi sunyinya, agar ia tak menjadi gagap ditengah gegap gempita peradaban. Bahkan pada klimaks mimpinya ia tetap ingin bercakap-cakap, tetapi ternyata tetap sunyi yang hadir.

Sementara, Isbedy Stiawan ZS selalu saja memberi waktu kepada seseorang yang ingin bercakap-cakap dengannya meski melalui telepon. Namun, orang yang ia harapkan untuk menelepon lebih memilih menyendiri dan menyusuri jalanan sunyinya.

Sajak-sajak kedua penyair ini adalah sajak yang dalam nilai moralnya. Mungkin ‘kedengaran’ sederhana namun ada kerinduan yang mendalam antara keduanya untuk saling menyapa.

Lalu ada apa dengan Isbedy Stiawan ZS dan Budi P. Hatees, mengapa tidak mencoba saling menyapa. Padahal, kebutuhan untuk saling bercakap-cakap secara moral dari lubuk hati yang paling dalam telah tersusun dalam bait-bait sajak mereka. Alangkah indahnya, apabila sajak yang telah tersusun itu mampu pula menyusun tumpukan ‘mungkin’ kebencian yang terlanjur telah ada. Demi persahabatan yang telah ditawarkan alangkah eloknya bila dimulai percakapan yang bisa dimulai melalui pesawat telepon.

*) Penyair, tinggal di Lampung

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com