Istri Pergi ke Saudi

Muhammad Amin
Seputar Indonesia 11/21/2010

Sewaktu saya sedang membolak-balik koran terbitan hari Minggu, mencari-cari lowongan pekerjaan yang cocok, tiba-tiba istri saya sudah berada di hadapan saya. Saya melongo padanya. Sepertinya ada sesuatu hal penting yang ingin ia sampaikan. Sejenak saya coba menerka-nerka. Mungkin tagihan air dan listrik yang nunggak. Saya rasa bukan, karena saya masih ingat kemarin baru membayarnya, meskipun itu uang tabungan terakhir kami. Atau masalah sekolah anak kami, Siska Paramitha, yang sekarang duduk di bangku SMA mulai tersendat masalah biaya. Dan semua hal dugaan saya berkaitan dengan masalah uang. Karena semenjak saya di-PHK perekonomian keluarga terasa carut-marut.

Saya masih menunggu apa yang ingin ia sampaikan. Namun tampaknya ia sangat ragu-ragu untuk menyampaikannya. Lalu dengan sangat hati-hati akhirnya istri saya buka mulut juga.

“Bang, aku mau minta izin.” katanya masih diliputi keraguan.

“Mau ke mana?” tanya saya, tak bisa menduga sebelumnya.

“Aku mau ikut Umaroh bekerja ke luar negeri.”

Terus terang, saya kaget mendengarnya. Saya tercenung sesaat. Saya masih bergeming dan tak memberi respon atas perkataan istri saya.

“Bagaimana?” tanyanya meminta kepastian. ”Apakah Abang setuju?”

Saya masih diam. Itu saya lakukan karena saya bermaksud tak memberi izin. Saya urung membaca koran untuk mencari lowongan. Saya beranjak meninggalkannya sendirian.

* * *

Terus terang saya orang yang tak mudah tersinggung apalagi marah. Saya seorang yang suka humor. Tapi saya sungguh kaget mendengar perkataan istri saya dan kehilangan bermacam selera. Dia ingin bekerja di luar negeri, padahal selama ini, saat saya masih bekerja, kehidupan kami selalu berkecukupan. Hanya sekarang saja setelah saya di-PHK keadaannya carut-marut.

Dan saya tak bisa berpikir jernih sewaktu ia mengatakan ingin bekerja di luar negeri, ke Arab Saudi, menjadi babu di negeri orang. Padahal saya tahu, baik melalui televisi maupun omong-omong tetangga, sudah terlalu sering mendengar berita tentang TKW yang bernasib malang. Itu menyakiti hati saya. Membuat saya merasa sebagai lelaki yang tak berguna, membiarkan istri menjadi hamba-sahaya.

Saya memang tak mudah tersinggung dan sakit hati. Tapi entah tiba-tiba saya sakit hati dan tersinggung. Apakah yang membuat istri saya ingin menghambakan diri di negeri orang bila saya masih mampu memberinya makan? Apakah yang membuatnya ingin meninggalkan saya bila saya masih mampu memberi nafkah? Meski saya mengakui memang susah mencari pekerjaan, tetapi saya tetap berusaha. Dan apakah yang akan dikatakan oleh tetangga nanti bila saya membiarkan istri saya bekerja menjadi babu di Timur Tengah sana? Di mana akan saya letakkan harga diri saya sebagai lelaki yang masih mampu bekerja dan berusaha?

Saya memang telah bersepakat dengan diri sendiri, tak akan saya memberi izin istri saya bekerja di luar negeri. Itu akan membuat saya tersiksa lahir batin. Tak ada yang mengurusi saya dan anak saya. Dan tak mungkin saya tahan mendengar gunjingan para tetangga.

Tadi malam kami saling diam. Bahkan tidur pun saling memunggungi. Aku ingin bicara dengannya, namun tidak saya lakukan. Paginya dia dengan sangat dipaksakan menyanyakan kepada saya pertanyaan yang sama. Kali ini saya sudah menyiapkan jawaban: Tidak. Saya tak akan pernah mengizinkannya.

“Apakah Abang mengizinkan aku kerja di Arab Saudi?”

“Kenapa kamu ingin bekerja ke luar negeri padahal aku, suamimu, masih mampu bekerja dan memberikan nafkah?”

“Terpaksa Bang. Siska sebentar lagi lulus SMA, ia ingin kuliah dan butuh biaya banyak. Selama sebulan ini kita tak punya pemasukan, malah pengeluaran yang banyak. Sementara aku malu pada tetangga. Aku ingin punya perabotan tapi tak punya uang.”

“Itu bukan alasan, Dik. Semestinya kamu harus bersyukur dengan keadaan kita sekarang, masih bisa makan dan punya tempat tinggal. Aku masih akan berusaha untuk menutupi semua kebutuhan kita.”

“Tapi Bang…”

“Apakah kamu sudah dirayu-rayu oleh Bi Mirah agen TKW itu?”

“Memang Bi Mirah mengusulkan agar aku bekerja jadi TKW ke Arab Saudi. Dan kupikir ada benarnya juga. Di sana gajinya lumayan. Uangnya bisa untuk memperbaiki rumah dan membeli perabotan yang bagus. Juga buat biaya sekolah Siska.”

“Aku sudah menduga, pasti kamu dipengaruhi sama si Mirah. Kan kalau dia berhasil membujuk kamu dia akan dapat uang banyak. Makin banyak orang yang terbujuk makin banyak uang yang didapat. Lihatlah dia kaya raya sekarang dengan usahanya jadi agen TKW. Tapi setiap kali orang yang dibawanya ke luar negeri hilang, dibunuh, disiksa majikan, dia tak mau bertanggungjawab.”

“Tapi kan itu salah mereka yng tak bisa menjaga diri. Kalau aku bisa menjaga diri dan mudah-mudahan dapat majikan baik.”

“Masih saja kamu membela si Mirah. Mata dan nurani kamu telah dibutakan oleh uang dan rayuannya.”

Istri saya diam. Selama menikah kami tak pernah sekali pun bertengkar. Hanya kali ini kami sedikit bersitegang lantaran ia ingin menghambakan-diri kepada orang lain. Karena ia menyakiti perasaan saya sebagai lelaki.

Namun istri saya tak mau menyerah membujuk agar saya memberikan izin. Lalu saya tanyakan padanya.

“Apa kamu tidak main-main?”

“Aku serius. Aku benar-benar ingin bekerja di luar negeri supaya bisa mewujudkan keinginanku yang selama ini belum Abang penuhi. Aku ingin punya uang dan perabotan bagus seperti tetangga-tetangga kita.”

“Kalau kamu benar-benar ingin bekerja ke luar negeri, nanti saya akan kawin lagi.” Kata saya mengancam, tentu dengan menekankan bahwa saya sama sekali tak memberikan izin. Sebenarnya saya tak sungguh-sungguh, hanya bergurau saja.

Tapi istri saya rupanya salah mengerti. Ia memang tak punya selera humor. Dia menangkap perkataan saya tersebut secara serius. Padahal saya cuma main-main mengatakannya untuk menakut-nakuti supaya dia mengurungkan niat. Tapi terlanjur istri saya tidak menangkap maksud saya yang sebenarnya, ia malah salah sangka.

“Silakan Abang kawin lagi, saya juga bisa melakukannya.”

Saya benar-benar kaget mendengar jawabannya. Tak biasanya istri saya begitu. Seolah saya tak mengenal lagi istri saya yang dulu.

* * *

Siska anak kami tak berkeberatan jika ibunya bekerja di luar negeri. Saya benar-benar tak menyangka. Pasalnya, ia ingin dibelikan hp baru yang tercanggih. Juga motor Mio supaya jika berangkat sekolah tak berdesak-desakan lagi di dalam angkot yang sumpek. Dengan motor itu pula ia bisa plesiran ke mana-mana.

“Jangan banyak bermimpi.” Kata saya pada anak saya, Siska.

“Banyak bermimpi gimana, Yah? Orang kerja di luar negeri kan uangnya banyak. Aku lihat si Mira dibelikan motor baru oleh ibunya yang kerja di luar negeri. Si Inggrid punya laptop dan bisa internetan setiap hari. Itu juga dibelikan ibunya yang kerja jadi TKW di Arab.” Kata Siska panjang lebar, tak mau kalah denganku.

“Pokoknya Ayah tak setuju Ibumu berangkat kerja ke luar negeri.”

“Memangnya kenapa, Yah? Ayah nggak mau kalau ibu punya uang banyak dan membelikan aku hp dan motor baru?”

“Kalau kamu masih saja menyuruh ibumu jadi TKW nanti ayah kawin lagi. Apa kamu mau punya ibu tiri?” ancam saya kepada Siska, anak saya yang sejak kecil dimanjakan ibunya.

“Ibu tiri? Nggak banget deh.” katanya santai. Kemudian ia berlalu.

Aku cuma bisa geleng-geleng kepala. Tak mengerti saya dengan pikiran ibu-anak itu. Mereka telah dibutakan ambisi mendapat banyak uang. Tidak pernahkah mereka mendengar berita-berita mengerikan di televisi seputar TKW? Banyak hanya namanya saja yang pulang. Atau kembali dengan membawa benih di perut, diperkosa dan disiksa majikan? Atau yang diberitakan melompat bunuh diri dari lantai 23, padahal majikannya yang mendorongnya dari belakang? Ah, saya benar-banar tak sanggup membayangkan itu.

Tapi mimpi buruk itu selalu saja menyinggahi tidur saya. Semenjak istri saya berangkat meski tanpa izin dari saya. Sejak itu saya jadi kehilangan banyak selera: selera makan, selera tidur, termasuk selera humor. Jika dulu tetangga yang selalu datang mengobrol ke rumah saya dan kami bisa tertawa sampai larut malam, kini saya menanggapinya dengan dingin. Apalagi bila ada tetangga yang menanyakan perihal istri saya, atau membicarakan masalah TKW, saya langsung marah. Padahal itu bukanlah sifat saya selama ini. Sudah saya katakan, saya seorang yang tak gampang tersinggung apalagi marah. Namun semenjak istri saya berangkat ke Saudi, tabiat saya mulai berubah.

Setelah saya mendapatkan sebuah pekerjaan yang cukup baik, menjadi seorang Staf di perusahaan berskala nasional, saya mulai bisa melupakan istri saya. Saya tidak merasa tak perlu lagi tersinggung bila mereka membicaran masalah TKW atau bertanya mengenai istri saya. Saya akan menjawab dengan santai, tentu saja diselipi sedikit guyonan. Saya menemukan kembali sifat saya yang asli.

Pekrjaan saya di kantor tak pernah ada masalah yang berarti. Pendapatan saya melebihi cukup buat memenuhi kebutuhan saya dan anak saya. Bahkan saya mulai menabung untuk membeli motor baru yang bisa saya pakai ke kantor dan mengantar Siska sekolah. Saya juga sempat membelikan sebuah Blackberry untuk Siska. Dan tampaknya ia sangat bahagia mendapat hadiah dari saya.

Perlahan-lahan kami mulai terbiasa hidup tanpa istri saya. Kadang Siska mengatakan kepada saya bahwa ia rindu dan ingin menelepon ibu. Tetapi kami tak punya informasi sedikit pun tentang dia. Apalagi si Mirah sudah pindah dari kota kami dan usahanya jadi agen TKW terpaksa ditutup. Saya tak terlalu tahu apa sebabnya.

Pernah pula ketika kami sedang duduk santai di depan televisi, Siska menanyakan kepada saya, kenapa saya tak kawin lagi.

“Ayah memang tak pernah berminat ingin kawin lagi. Bagi ayah beristri satu kali seumur hidup, itu sudah cukup.”

“Tapi waktu itu Ayah bilang ingin kawin lagi jika ibu tetap bersikeras ingin bekerja ke luar negeri?”

“Ayah cuma main-main sewaktu mengatakannya supaya ibumu tak jadi berangkat ke Saudi.”

* * *

Setelah Siska lulus SMA, saya melanjutkannya ke Perguruan Tinggi cukup ternama di kota kami. Saya pun tak perlu repot dalam urusan biaya. Lagipula kampus Siska tak terlalu jauh dari rumah.

Sebagai seorang suami, saya tak benar-benar bisa melupakan istri saya. Bagaimanapun ia tetap bagian dari hidup saya. Saya masih mencari informasi dengan mendatangi agen yang membawa istri saya. Tapi hasilnya nihil. Saya juga kerap bertanya kesana-kemari mengenai keberadaan Mirah. Tapi tak ada yang mengetahui dimana dia sekarang.

Kadang saya menonton berita di televisi. Atau membaca di koran. Apabila ada berita mengenai TKW, saya mulai merasa was-was. Setelah mengetahui nama korban penganiayaan atau yang divonis hukuman mati itu bukan istri saya, saya merasa lega. Namun masih saja tersimpan rasa cemas.

Suatu hari saya tak menyangka, setelah hampir dua tahun bekerja di luar negeri, istri saya kembali. Tapi saya tak melihat kopor besar dan oleh-oleh yang banyak. Saya lihat ia hanya membawa tas kecil dan perutnya yang membelendung. Benih siapa itu yang ada di dalam janinnya? Dia menangis dan memeluk saya. Berkali-kali ia meminta maaf. Ketika saya bertanya anak siapa yang di dalam kandungnya.

Dengan berat hati ia menjawab. ”Ini anak majikan saya.”

Kepala saya pening. Tiba-tiba saya kembali kehilangan selera humor untuk sekadar menaggapinya sambil tertawa.

Kotaagung, Oktober-November 2010
Sumber: http://www.facebook.com/notes/muhammad-amin/istri-pergi-ke-saudi/188218184549335

Komentar