Saatnya Penulis Muslim Menggebrak

Harie Insani Putra
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Banyak orang ingin menulis tapi tidak tahu cara memulainya. Mereka bilang menulis itu susah, sekalipun kenyataannya memang demikian. Tapi menulis juga adalah disiplin ilmu yang bisa dipelajari. Jika dilakukan terus-menerus ditambah kemauan belajar yang tinggi semua orang pasti bisa melakukannya.

Umumnya belajar menulis bisa dilakukan dengan dua cara, belajar langsung kepada para penulis atau belajar dari buku-buku panduan menulis. Untuk pilihan kedua, saya ingin membicarakan buku berjudul “Saatnya Penulis Muslim Menggebrak (SPMM)”, ditulis oleh Aliansyah Jumbawuya, terbitan Tahura Media.

Seperti anjuran banyak para penulis lainnya, Aliansyah turut menganjurkan bahwa membaca adalah langkah awal jadi penulis. Pertanyaannya adalah, membaca yang bagaimana agar membantu lancarnya proses penulisan?

Dalam Teori Kendi yang ditulis Aliansyah, seseorang yang hobi membaca, Insya Allah dia tidak akan terlalu kesulitan mencari ide dan mengembangkan isi tulisannya. Kok bisa begitu?

Kerja otak manusia itu ternyata luar biasa sekali. Saat membaca, tanpa disadari bahan bacaan akan tersimpan ke dalam memori otak seseorang. Disinilah rahasianya, pada saat kita sedang menulis, bahan yang tersimpan di dalam memori tadi akan muncul dengan sendirinya. “Rekaman itu memang tak pernah hilang, melainkan sekadar tersembunyi di alam bawah sadar,” tulis Aliansyah dalam SPMM.

Sekadar menambahkan selain apa yang ditulis Aliansyah, ada cara khusus belajar menulis dari teknik membaca yang bisa anda coba. Saya menyebutnya “Teknik Membaca Tanda”. Tanda di sini bisa berarti Tanda Baca, Tanda Kata dan Tanda Kalimat. Masalah utama calon penulis ada dalam ketiga tanda tersebut.

Lupakan isi tulisan yang sedang anda baca. Seperti masakan, anda tidak sedang memakannya, tapi mencari tahu bahan-bahan masakan tersebut. Kok bisa enak? Baca bagaimana si penulis membubuhkan tanda baca. Baca bagaimana si penulis memilih kata, dan baca baik-baik bagaimana si penulis merangkali kalimat.

Kenapa Kita Harus Menulis?

Pertanyaan ini sekali waktu bisa muncul dalam diri masing-masing individu. Kenapa saya harus menulis? Sekali waktu pula bisa menjadi pertanyaan banyak orang? Kenapa kami harus menulis. Untuk menjawab pertanyaan di atas, jawabannya bisa beragam, tergantung siapa yang menjawabnya. Tapi bagaimana jika pertanyaan itu dijawab Aliansyah Jumbawuya?

Dalam SPMM, Aliansyah menyebutkan bahwa menulis itu bisa dimaknai sebagai sarana ibadah, Menulis itu juga ternyata dapat menentramkan jiwa, menulis itu juga bisa dijadikan profesi alternatif, dan menulis itu bisa dijadikan juga sebagai sarana dakwah. Wow, banyak sekali manfaat dan tujuan dalam menulis ternyata. Saya tidak akan mengupas satu-persatu jawaban yang diberikan Aliansyah. Saya pikir anda perlu membacanya sendiri untuk mendapatkan pemahaman yang luar biasa.

Buku Tipis yang ‘Tebal’ Pengetahuan

Di luar sana banyak buku motivasi penulisan. Ada yang tipis juga tebal. Untuk yang tipis, salah satunya adalah SPMM. Tidak berlebihan jika saya tuliskan bahwa sekalipun buku SPMM lumayan tipis (96 halaman) namun di dalamnya tebal pengetahuan.

Tanpa mengurangi nilai buku lain, yang terpenting adalah buku motivasi menulis mudah dipahami, tidak bertele-tele, dan menunjukkan bagaimana caranya menghadapi problematika tulisan secara teknis. Buku SPMM memang ditujukan untuk anda yang baru belajar menulis. Tolong bantu saya agar bisa lancar menulis, itu yang sesungguhnya diharapkan. Di dalam buku SPMM, semua yang saya maksud tadi terpenuhi. Bagaimana cara memelihara kontinuitas menulis, cara cerdas mengikat ilmu, kiat menembus media massa, tips menulis saat sibuk dan lain sebagainya. Jika itu yang anda butuhkan, SPMM bisa menjadi referensi yang tak kalah hebatnya dengan buku tebal di luar sana.

Kenapa harus muslim, Pak?

Pertanyaan di atas sesuai dengan judul buku SPMM. Kenapa harus ada muslim (nya)? Dan memangnya ada apa dengan para muslim sekarang hingga judulnya terdapat kalimat “Saatnya Penulis Muslim..”. Terlepas dari teknis penulisan, buku SPMM tampaknya juga menitipkan pesan yang dapat dijadikan bahan perenungan.

Sekadar menyegarkan ingatan, sesuai yang ditulis Dr. Mujiburrahman, MA dalam kata pengantar SPMM disebutkan bahwa dulu dunia mengakui bahwa peradaban Islam adalah pusat peradaban dunia yang dikagumi. Bukan saja sebagai pusat perdagangan, tapi juga ilmu pengetahuan tentunya. Barangkali inilah yang dimaksudkan Aliansyah Jumbaiya sehingga ia memberi judul bukunya “Saatnya Penulis Muslim Menggebrak”.

Menulis bukan sekadar untuk menunjukkan eksistensi, tapi juga belajar kembali pada sejarah Islam terdahulu. Bahwa para cendekiawan muslim pernah dan sudah memanfaatkan tulisan sebagai media dakwah. Upaya baik kiranya jika hal ini kemudian dilanjutkan bagi muslim saat ini. Selain terdokumentasi dengan baik, tulisan juga mampu menembus batas waktu. Penulisnya boleh tiada, tapi tulisannya tetap bisa dibaca. Sebagai penutup singkat, ijinkan saya mengutip kata Pramoedya Ananta Toer, Sastrawan Indonesia.

“Kau, Nak, paling sedikit kau harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis, suara takan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari….orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” (Pramoedya Ananta Toer).

Banjarbaru, 29/09/2010

Komentar