Langsung ke konten utama

Ketika Sebuah Konde Berkisah

Judul : Konde Penyair Han
Penulis : Hanna Fransisca
Penerbit : KataKita, Depok
Cetakan : 1, April 2010
Tebal : 141 halaman
Peresensi : Karkono S.S.,M.A
http://www.malang-post.com/

Jika kita jeli mencermati kehidupan, terlihat bagaimana kecanggihan teknologi berdampak luar biasa pada semua lini kehidupan. Berkat kecanggihan teknologi, dunia seakan dibuat bergejolak setiap saat. Televisi sebagai contoh sederhana. Dari televisi kita bisa melihat betapa penuh warnanya peristiwa yang terjadi di muka bumi.

Peristiwa yang mengharukan, menggelikan, menyenangkan, menyesakkan dada, sampai yang tidak dapat dipercaya oleh logika semua ada. Banyak peristiwa nyata yang lebih fiktif dari karya fiksi tersaji hampir setiap hari di televisi, peristiwa yang sejatinya luar biasa pada akhirnya menjadi biasa di telinga kita karena kelewat sering terdengar.

Kecanggihan kotak ajaib yang bernama televisi hanya salah satu contoh. Belum lagi kalau kita bicara tentang Hand Phone (HP) dan internet. Melalui piranti HP dan internet yang canggih, banyak kebutuhan hidup manusia tersaji dengan cepat, instan.

Dari fakta tersebut, barangkali akan muncul pertanyaan, “masih tersisakah tempat bagi karya fiksi di jaman sekarang ini?”Banyak orang akan merasa seakan tidak membutuhkan karya fiksi karena yang didengar dan dilihat setiap saat rasanya melebihi fiksi.

Namun, fenomena ini sesungguhnya tantangan tersendiri bagi para penulis karya fiksi di era sekarang. Ada celah lain yang luput ditangkap kecanggihan teknologi yang bisa dimanfaatkan para penulis fiksi. Banyak fakta yang terjadi yang justru sengaja ditutup-tutupi dengan alasan tertentu. Televisi dan media lain terkadang tak cukup lihai menyajikannya di hadapan masyarakat karena beragam kepentingan. Namun, dengan bingkai karya fiksi semua fakta itu bisa saja diungkap dengan leluasa, bahkan lebih jujur.

Salah satu genre karya fiksi adalah puisi. Dan, salah satu kumpulan puisi yang cukup merepresentasikan apa yang sudah diulas di atas adalah pada buku kumpulan puisi Konde Penyair Han (Selanjutnya disingkat KPH) karya Hanna Fransisca (selanjutnya disingkat HF).

Puisi tidak sekadar deretan kata indah atau ‘tidak biasa’ yang berisi curahan hati penulisnya. Melalui puisi, seseorang dapat menuangkan segala resah dan kritik terhadap fenomena yang dihadapi. Melalui KPH, HF mampu merekam segala resah dan ketidaknyamanannya terhadap fenomena kehidupan yang dilaluinya.

Membaca karya-karya HF, kita akan berjumpa dengan fakta-fakta mengejutkan yang barangkali selama ini setengah-setengah saja kita pahami karena bisa jadi media kurang tuntas membahasnya. Dalam titik ini, HF telah berhasil menjadikan puisi sebagai media ‘pemberontakannya’ pada keadaan.

Mampu mengungkap fakta-fakta yang selama ini dianggap tidak ada atau sengaja ditutup-tutupi. Bagaimana liku-liku kehidupannya saat di Singkawang, hingga ‘penderitaannya’ untuk bertahan di Jakarta. Dalam puisi ‘Di Sudut Bibirmu Ada Sebutir Nasi’, HF dengan leluasa bercerita bagaimana perasaannya menjadi kaum minoritas (etnis Tionghoa) di tengah samudera pribumi.

Ini terlihat dalam cuplikan berikut; Satu hal pasti: sejak disapa guru pribumi jadi noni, ia lantas berhenti membaca negeri. (Di bawah puisinya, HF memberi catatan bahwa noni adalah metafora untuk menyebut amoi/perempuan keturunan Tionghoa).
Jika dicermati dari sisi pilihan kata, secara umum kata-kata yang digunakan HF bisa dikatakan berhasil melintasi dua fase pembacaan sekaligus: hermeneutik dan heuristik. Tidak saja indah dan renyah dari rima dan rangkaian kata, tetapi juga terlihat betul bagaimana usaha HF untuk menyiratkan makna yang dalam.

Antara keindahan bahasa dan kedalaman makna berkolaborasi menciptakan sebuah totalitas yang patut diapresiasi. Sebagai contoh dalam puisi yang berjudul ‘Puisi Kupu Kupu’, HF mengawali pusinya seperti ini: Kau pastilah telah tahu, nafas kelabang biru/Merayap dengan kaki seribu, menyatakan rindu/dengan menghisap kekuatanmu. Racikan kata yang penuh metafor dan mempertimbangkan resonansi jika dibaca secara hermeneutik dan meskipun tidak sulit untuk membaca makna di balik kata-kata itu, tetapi kata-kata itu tetap memerlukan pembacaan secara heuristik untuk mendapatkan tafsiran makna yang tersirat.

Hanya, dalam beberapa puisi HF kurang konsisten dengan kepiawaiannya mengolah kata tersebut karena hasrat untuk menumpahkan realita kehidupannya terkadang melebihi kesadarannya untuk memilih kata-kata yang indah, renyah, dan bernas.

Ada juga sedikit hal yang layak dibicarakan, yang ini bisa saja merupakan sebuah kelebihan, tetapi juga bisa sebaliknya: kelemahan yang akan mengurangi kesakralan puisi-puisi tersebut. Dalam beberapa puisi, HF turut melampirkan kata-kata ‘pembantu’ di bawah judulnya. Misalnya, ada Abdurrahman Wahid di bawah pusi ‘Air Mata Tanah Air’, ‘Lilin Negeri, 2’, dan ‘Sang Naga’.

Di beberapa puisi lain, HF juga menyertakan kata-kata ‘pembantu’ tersebut. Barangkali, dengan kata-kata bantuan tersebut, sebagai pembaca kita akan mudah memahami arah pembicaraan puisi, tetapi hal ini bisa juga membatasi ruang gerak interpretasi kita.

Dalam catatan pengantarnya yang dia beri judul ‘Konde dan Rambut Saya yang Jelita’, HF memberi konfirmasi mengapa dia memakai kata konde(bisa diartikan juga sebagai sanggul) untuk memberi judul kumpulan puisi tersebut. Pada paragraf terakhir, HF menulis: Inilah Konde: metafora tentang benda sederhana yang selama ini mampu membuat rambut keindonesiaan kita yang indah permai ini tidak lepas tergerai dan terserai berai.

Sebuah pilihan metafora yang cerdas dan sepanjang pembacaan saya cukup orisinal. Dari konfirmasi ini, tentu kita tahu maksud HF memberi judul kumpulan puisinya KPH. Sebuah ketulusan untuk menciptakan Indonesia yang permai dan mengedepankan kebersamaan di tengah keberagaman.

Buku yang dikemas cukup elagan ini layak kita baca untuk memperkaya khasanah bacaan kita, terutama puisi. Dengan dominasi warna merah menyala, lampion, dan foto HF yang mengenakan busana bangsawan Dinasti Han di Cina, akan terlihat kekentalan warna Tionghoa, dan ini tentu memberi keunikan tersendiri.

Buku ini semakin lengkap karena ditutup dengan sebuah epilog yang ditulis oleh Sapardi Djoko Damono. Dengan kapasitas seorang Sapardi Djoko Damono yang tidak saja praktisi di bidang puisi, tetapi juga akademisi, akan memberikan wawasan kepada kita bagaimana Sapardi Djoko Damono melakukan pembacaan terhadap kumpulan puisi KPH ini. Wallahu’alam.

04 September 2010
*) Karkono S.S.,M.A, Dosen di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM) dan Pengajar di LBB Neutron Yogyakarta Cabang Malang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.