Soekarno, Bahasa, dan Lidahnya

Djoko Pitono
http://www.jawapos.co.id/

Sebuah buku baru terbit belum lama ini, judulnya In Our Time: The Speeches That Shaped The Modern World. Buku karya Hywell Williams itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan Penerbit Esensi pada 2010: In Our Time: Pidato-Pidato yang Membentuk Dunia Modern.

Buku itu menampilkan 40 pidato terkenal dari para pemimpin terkemuka sejak 1945, termasuk diktator, tokoh demokrat, liberal, tokoh konservatif, nasionalis maupun internasional, tentara, pejuang perdamaian, negarawan, dan pengusaha. Tokoh-tokoh tersebut, antara lain, Charles de Gaulle, John. F. Kennedy, Fidel Castro, Nikita Khrushchev, Martin Luther King Jr, Nelson Mandela, Ronald Reagan, dan Barack Obama.

Sebuah buku yang menarik memang. Selain sangat penting bagi politisi, buku itu sangat bermanfaat bagi para peminat bahasa, pengarang, jurnalis, ataupun pengajar bahasa. Sebuah buku yang efektif untuk membantu pengajaran komunikasi.

Namun sayang sekali, di antara 40 tokoh tersebut, nama Soekarno (Bung Karno) tidak termasuk. Tetapi, sebenarnya juga tidak aneh. Penyebabnya bisa terkait dengan penyebaran akses media yang terbatas atau pengetahuan penulisnya sendiri yang memang ”sempit” tentang Indonesia. Toh, Hywell Williams tidak sendirian. Tidak sedikit pengarang dan penulis buku Barat yang tidak begitu kenal proklamator RI tersebut. Namun, mereka sering sok tahu.

Saya juga menduga, Hywell Williams tidak membaca majalah Time edisi akhir Agustus 1999 yang menampilkan 100 tokoh terkemuka abad ke-20. Dalam edisi itu, Time menurunkan tulisan menarik tentang Soekarno.

Tulisan itu, antara lain, menyebutkan, betapa Soekarno menggunakan bakat bahasa dan pidatonya untuk mempersatukan negerinya. Media tersebut juga memberikan kilas balik sejarah tentang mentor politik Soekarno, H.O.S Tjokroaminoto, yang memungkinkannya belajar berbicara di depan umum.

Media internasional itu menyatakan, Soekarno mempersatukan negerinya dan memerdekakannya. Dia membebaskan rakyatnya dari perasaan rendah diri dan membuatnya merasa bangga jadi orang Indonesia -bukan prestasi kecil, yang terjadi setelah 350 tahun penjajahan Belanda dan tiga setengah tahun pendudukan Jepang.

Apa yang dilakukan Soekarno pada 17 Agustus 1945 tidak berbeda dengan apa yang dilakukan Thomas Jefferson untuk rakyat Amerika pada 4 Juli 1776. ”Mungkin bahkan lebih: Soekarno adalah satu-satunya pemimpin Asia di era modern yang mampu mempersatukan rakyatnya yang memiliki latar belakang etnis, budaya, dan agama begitu beragam tanpa menumpahkan setetes darah…,” tulis majalah itu.

Williams rasanya belum membaca buku Indonesia: The Possible Dream (1971) karya Howard Palfrey Jones, Duta Besar Amerika Serikat di Indonesia dari akhir 1950-an hingga pertengahan 1960-an. Dalam bukunya itu, diplomat tersebut memuji setinggi langit kehebatan orasi Bung Karno. Dia juga menyebut otak Bung Karno sebagai ”Otak Gajah” karena kemampuannya menghafal kata-kata banyak tokoh dunia hingga detail dalam bahasa aslinya.

”…He was, in brief, a dinamic, magnetic leader, a self-profeseed egotist, and effervescent extrovert. His amazing energy and vitality were the talk of the diplomatic corps. After a day in which he addressed mass meeting for hours – on one occasion I heard him make three two-hour speeches within a eight – hour period – he wolf down an enormous dinner and the dance until after midnight, enjoying every moment,” tulis Palfrey Jones.

Bahwa Soekarno adalah seorang orator ulung (dan tentu saja juga jago menulis), manusia sejagat boleh dikatakan sudah tahu. Apa yang belum disadari banyak orang, Soekarno adalah seorang ahli bahasa. Dia tidak hanya pintar berpidato dengan bahasa Indonesia, tetapi juga sejumlah bahasa lain. Berapa sebenarnya bahasa yang dikuasai Soekarno?

Almarhum Prof Dr Sudjoko, pengamat bahasa dan guru besar Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, menulis di sebuah harian nasional edisi 20 Mei 1987 : ”….. Lalu muncul ahli bahasa yang bernama Ir Soekarno. Bahasa-bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Sunda, Jawa, dan tentu saja bahasa Indonesia menyembur dari lidahnya dan penanya secara meyakinkan. Bahasa latin, Sansekerta, dan Arab diketahuinya ala kadarnya …”

Siapa pun boleh heran, kemampuan orasi dan kemultibahasaan (poliglotisme) Soekarno seperti itu tidak banyak ditulis sebagai bahan kajian. Entah skripsi, tesis, maupun disertasi. Persoalannya mungkin terkait dengan politik. Sejak dikudeta ”secara merangkak” pada pertengahan 1960-an hingga akhir dekade 1990-an, nama Soekarno dikecilkan oleh rezim penggantinya. Banyak orang yang takut membicarakan, termasuk di perguruan tinggi. Masuk akal kalau tidak ada mahasiswa atau dosen yang membuat kajian mengenai ketokohan Soekarno. Tak peduli kajiannya bersifat ilmiah.

Barulah setelah era reformasi, muncul sejumlah kajian. Di antaranya, Soekarno: His Mannerism and Method of Communication (2000) yang ditulis Justin Wejak, dosen Universitas Kristen Petra Surabaya, saat yang bersangkutan mengajar di Australia. Dalam tulisannya itu, Justin Wejak, antara lain, menyebutkan bahwa tidak ada tokoh lain yang bisa menginspirasi massa seperti Soekarno. Tidak diragukan lagi bahwa Soekarno adalah salah seorang negarawan paling karismatik di dunia.

Di universitas lain, seperti Universitas Sebelas Maret Solo, Heru Purwanto menulis tesis Analisis Diksi dan Gaya Bahasa terhadap Pidato Soekarno Tanggal 1 Juni 1945 (2010). Penelitian tersebut dimaksudkan untuk memahami dan mendiskripsikan wujud dan karakteristik diksi dan gaya bahasa yang digunakan Soekarno pada 1 Juni 1945 serta alasan-alasan yang mendasari penggunaan diksi dan gaya bahasa tersebut.

Dua contoh kajian tersebut sungguh membesarkan hati. Saya berpandangan, pidato-pidato Soekarno memang sangat menarik untuk terus dikaji. Pidato ”Lahirnya Pancasila” 1 Juni 1945 boleh disebut sebagai salah satu pidato terbaik Soekarno. Saya membayangkan akan muncul kajian-kajian lain dalam bentuk disertasi terkait dengan pidato yang dahsyat itu.

Ketika republik ini merayakan 65 tahun kemerdekaan, kita rasanya makin sadar tentang ketajaman lidah Soekarno. Seorang pemimpin yang mampu mengangkat harkat dan kehormatan bangsa, mempersatukan rakyat hanya dengan lidahnya. Tanpa kekerasan. Tanpa darah yang menetes. (*)

*) Jurnalis dan editor buku

Komentar