Langsung ke konten utama

Erasure: Penulis dan Pengharapan Pembacanya

Wawan Eko Yulianto
http://sastra-indonesia.com/

Sebagian penulis harus mati dulu sebelum karyanya dibaca orang. Sebagian lagi harus nulis beberapa buku dulu sebelum akhirnya karyanya menarik perhatian orang. Percival Everett adalah salah satu di antara penulis dari golongan kedua itu. Setelah sekitar lebih dari 18 tahun menekuni dunia gores pena) , menerbitkan beberapa judul buku, akhirnya bukunya yang berjudul Erasure berhasil menjaring pembaca secara signifikan. Unik, buku yang secara struktur sangat tidak wajar dan melayangkan kritik keras terhadap dunia penerbitan dan elit sastra ini malah yang akhirnya menyukseskannya.

Erasure adalah novel yang bentuknya semacam entri jurnal, sebagaimana diakui sang tokoh sejak awal. Thelonius Ellison adalah seorang profesor di bidang creative writing dan sekaligus novelis idealis. Sebagai seorang kulit hitam, Ellison memiliki minat yang bisa dibilang jauh dari lazimnya orang kulit hitam. Novel-novel dan tulisan akademiknya menekuni teori-teori sosial, filsafat, dan seni mutakhir dan cenderung menceburkan diri dalam diskusi pemikiran global, di luar pengharapan orang dari seorang cendekiawan afro-amerika, yaitu membahas hak sipil, ras, atau politik identitas secara umum. Hal itu menjadikannya dicap “kurang hitam.”

Ellison sebal dengan yang seperti itu, karena kehidupannya sendiri memang bukan termasuk “khas” afro-amerika. Kakeknya dokter, bapaknya dokter, kakak-kakaknya juga dokter, hidupnya berkecukupan di Washington, bukan di pedesaan Selatan Amerika, tempat lazimnya persoalan rasisme muncul. Karena itu, menulis atau menekuni politik identitas atau konflik terkait ras bisa jadi seperti berbohong. Selain itu, dia juga sebal dengan novelis-novelis eksperimental yang tidak jelas juntrungannya dan menurutnya hanya penulis tanpa bakat dan bisanya hanya saling bantu sesamanya dalam urusan penerbitan tulisan atau buku sehingga, kalau mereka profesor, bisa segera diangkat menjadi dosen tetap di kampus masing-masing.

Ellison semakin marah ketika melihat sebuah buku tentang kehidupan kulit hitam, dengan bahasa Inggris Afro-Amerika (atau bahasa Ebonics) muncul dan mengundang perhatian banyak orang dan membuat penulisnya kaya mendadak. Dia menganggap buku itu sangat murahan dan terlalu blaxploitatif dan sama sekali tidak nyeni. Di saat yang sama, keluarganya diterba musibah beruntun. Ibunya mulai pikun dan tinggalan dari ayahnya mulai menipis dan mbaknya yang dokter khusus perempuan miskin kota dan biasa menjaga ibunya tewas dibunuh kelompok anti-aborsi dan masnya yang jadi dokter di kota lain juga cerai karena akhirnya mengaku kepada istrinya bahwa dia gay dan pada akhirnya juga kehilangan hampir semua pasiennya. Demi menjaga ibunya dia pun cuti dari mengajar untuk tinggal bersama ibunya, dan itu artinya juga tertutupnya sumber penghidupannya, sementara novel terakhirnya sudah 17 kali ditolak penerbit karena bukan jenis novel yang dimaui pasar, nyeni tapi berat, dan pasarnya tidak jelas. Akhirnya, dengan diserang kesebalan dari berbagai sisi ini, dia pun menulis novel “murahan,” sebagai sindiran atas novel-novel blaxploitatif yang disukai banyak orang. Novel pun selesai dalam waktu sekitar seminggu.

Karena tuntutan dari novelnya itu, dia pun memberi nama samaran buat dirinya sendiri. Persoalan keluarganya tak juga selesai sementara novelnya pun memiliki tuntutan tersendiri demikian pula perannya sebagai seorang yang masih terbilang dihargai di kalangan elit sastrawan. Permasalahan yang berlapis-lapis ini membawa cerita kepada jalinan kompleks kisah yang mau tak mau membahas berbagai persoalan, antara lain identitas, kritik estetika yang menyentuh para jawara sastra dunia sekelas Joyce maupun para jagoan sastra Afro-Amerika semacam Richard Wright, James Baldwin, Ralph Ellison dsb, permasalahan dunia penerbitan, dan (yang mungkin akan menggairahkan buat para penulis Indonesia yang cenderung curiga pada penulis Jakarta) politik di balik penjurian sayembara sastra.

Sesuai dengan semangat novel yang kompleks, “bentuk” novel ini juga tidak lazim, setidaknya tidak lazim jika dijajarkan dengan novel-novel Afrika-Amerika kontemporer. Sebagian besar isinya memang entri jurnal, dan sebagaimana layaknya entri jurnal, isinya tidak linier berkisah seperti novel standar. Di antara narasi atas kejadian yang tengah berlangsung saat ini, tiba-tiba muncul entri tentang masa kecilnya, hobi waktu senggang (yakni memancing), dan juga catatan tentang pertukangan (Ellison punya kegemaran senggang membuat-buat perabot kayu). Ada juga makalah rumit (yang saya sendiri njungkel-njungkel mencoba memahami maksudnya) tentang buku Barthes S/Z yang dia sajikan di sebuah konferensi. Bahkan, mulai halaman 63 sampai 131 pembaca bisa menemukan novel blaxploitatif bikinan Ellison. Ada juga dialog-dialog pendek tentang estetika yang tokohnya berkisah dari filsuf Yunani sampai Hitler dan Derrida. Tak lupa, di awal paruh kedua buku ini juga ada sebuah cerita pendek bikinan Ellison. Sungguh tidak sepantasnya kalau saya mencoba menarik garis merah antara pecahan-pecahan tulisan ini dalam postingan sependek ini.

Dengan kompleksitas tema dan kekayaan cara ungkap ini, Erasure benar-benar menjadi undangan kepada para pembacanya untuk melakukan pembacaan dari berbagai sudut. Tapi, kalau mengingat keberhasilan Percival Everett menjaring pembaca bukunya hanya setelah penerbitan Erasure ini, seperti halnya Thelonius Ellison baru mendapatkan pembacanya setelah menulis novel “murahan”nya, bukankah ini berarti bahwa khalayak pembaca masih memiliki pengharapan-pengharapan tersendiri atas para penulis berdasarkan latar belakangnya? Atau apakah mungkin ada pembacaan yang lain atas hal ini? Ataukah memang wajar dan lebih pas jika penulis afro-amerika menulis “for the cause” of kaumnya alih-alih meleburkan diri dalam diskusi wacana global? Wallahu a’lam bissawaab.

April 13th, 2010
Sumber: http://berbagi-mimpi.info/2010/04/13/erasure-penulis-dan-pengharapan-pembacanya/

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com