Langsung ke konten utama

Habis Prahara Terbitlah Khuruj Fi Sabillilah

Judul : Seribu Sujud Seribu Masjid
Penulis : Tandi Skober
Editor : Aminah Mustari
Penerbit : Salsabila Kautsar Utama
Cetakan : I, November 2010
Tebal : 275 hlm
Peresensi : Tantri Pranashinta, Tanzil Hernadi
http://www.lampungpost.com/

MEMPERHATIKAN pertarungan global di ranah publik dunia antara fundamentalis agama dan kelompok sekularisme liberal mengingatkan saya akan tulisam Eric Kaufmann dalam buku Shall the Religious Inherit the Earth? (London, 2010). Kaufmann berpendapat bahwa lingkungan komunitas pendukung paham fundamentalisme agama mengalami kenaikan yang signifikan dibandingkan komunitas sekuler. Hal ini memungkinkan kelak sebelum tahun 2050 kekuatan agama akan mendominasi percaturan politik dunia.

Benarkah fundamentalisme agama terkesan liar? Pertanyaan dapat dikesampingkan pada saat membaca novel Seribu Sujud Seribu Masjid karya Tandi Skober. Jika membaca judulnya Seribu Sujud Seribu Masjid tentunya kita akan langsung menduga bahwa ini adalah novel bernuansa religi. Betul, tapi tak hanya itu saja karena dalam novel ini pembaca juga akan diajak masuk dalam nuansa politik, intrik, romantisme, dan humor yang dikemas sedemikian rupa, sehingga menghasilkan sebuah novel religi yang tak hanya berisi dakwah, tetapi juga memiliki latar kisah yang menarik untuk disimak hingga lembar terakhir novel ini.

Inilah kisah religi yang mengajak pembaca berselancar dalam makna istikamah tanpa terkesan menggurui. Gaya satire Tandi penuh dengan simbol-simbol cerdas yang dikemas dalam sense of humor yang baik. Gaya bahasanya yang lincah memudahkan pembaca memvisualisasikan plot-plot cerita dalam kepala, persis seperti film yang bergerak sendiri.

Perjalanan Kiara mencari cinta saat mudik Lebaran September 2009 menjadi prolog novel ini. Kiara tidak menemukan cinta di Indramayu, tetapi ia temukan sejarah muram ketika Sekober tahun 1965 dilanda prahara politik. Dikisahkan Kasdi dan Zum dibesarkan di daerah pesisir Sekober, Indramayu. Zum adalah anak gundik Bah Ceh Nong, tokoh PKI di Sekober. Kasdi adalah anak seorang seniman Tarling yang bernama Camang. Kedua anak itu bersahabat dengan akrab.

Ketika prahara politik merembet hingga ke wilayah Sekober, nasib dua bocah itu berubah drastis. Bah Ceh Nong ditemukan mati mengambang di Sungai Cimanuk. Sedangkan Camang yang bekerja sebagai pembantu di rumah Bah Ceh Nong dicurigai sebagai salah satu antek PKI. Walaupun Kasdi mengatakan pada tentara bahwa ayahnya itu adalah muslim dan sudah disunat, Camang tak luput dari hukuman mati. Saat hendak dieksekusi, Camang selamat, melarikan diri, menggelandang dari masjid ke masjid. Anak-anak Bah Ceh Nong dan Camang bertahan dalam menjalani kerasnya kehidupan. Zum dan Kasdi menjadi pencopet cilik di bawah kekuasaan Zaki. Sementara Zum dan Zaki masih berada dalam dunia hitam, Kasdi pensiun menjadi copet.

Ia berjualan bandros seraya mengurus surau peninggalan kakeknya. Kasdi percaya bahwa suatu saat ayahnya akan pulang dan sujud di surau itu.

Di surau itulah Kasdi bertemu dengan lelaki tua bernama Pardi yang mengajarkan amalan-amalan soleh di masjid. Mereka berdua tak pernah berhenti berdakwah mengajak orang-orang yang melewati surau tersebut untuk menepi dan salat. Tak banyak yang tertarik pada ajakan mereka berdua kecuali bocah cerdas bernama Kana dan Citro, mantan pejabat dan pengusaha kaya yang bertobat dan menyerahkan sisa hartanya sebesar Rp100 juta. Uang itu sebagai uang biaya hidup di surau sekaligus biaya penguburannya jika ia meninggal dunia nanti.

Kasdi, Kana, dan Citro menjadi tiga sekawan yang menempuh jalan Allah, mereka tinggal bersama di surau sambil mempertebal iman dan berdakwah secara sederhana di bawah bimbingan Pardi. Walaupun Kasdi telah mengantongi uang sebesar 100 juta, kehidupan mereka bertiga tetap bersahaja dan damai. Hingga akhirnya Zaki, kawan lama Kasdi yang kini telah menjadi konglomerat, berniat membeli tanah surau tersebut.

Melalui Zum yang sebenarnya mencintai Kasdi, Zaki mencoba membujuk Kasdi untuk menjual surau tersebut. Zaki berani membeli surau tersebut seharga Rp500 juta untuk dijadikan mal dan stasiun televisi global. Kasdi menolak. Di sinilah konflik terjadi. Gagal dengan iming-iming uang, Zaki dan Zum bersekongkol mencari cara lain yang diperkirakan ampuh meluluhkan Kasdi untuk menjual surau tersebut. Kasdi memerintahkan Zum untuk berpura-pura menjadi wanita muslimah yang soleh agar Kasdi jatuh cinta pada Zum dan merelakan surau peninggalan kakeknya jatuh ke tangan Zaki.

Bagian paling menarik di novel ini adalah di bab-bab awal saat kisah bergulir di tahun 1965 ketika huru-hara politik melanda wilayah Sekober. Ketika itu sebuah pilihan politik menjadi raja dan merasa bisa menjadi Tuhan sehingga berhak mengambil nyawa siapa saja yang diinginkan. Sebuah gambaran kekuasaan dan perbedaan pilihan politik di suatu era yang merenggangkan bulu kuduk. Ada korban dan tentu saja ada generasi terbuang.

Di bagian ini pembaca diajak melihat bagaimana dan apa yang dirasakan rakyat kecil akibat kekisruhan yang dilakukan para elite politik negeri ini.

Selain itu, terungkap juga bagaimana kelamnya suasana saat itu, terlebih saat Camang ditangkap dan hendak dieksekusi para tentara. Bagi saya bagian ini merupakan bagian yang sulit terlupakan. Sebagai novel religi tentunya novel ini mengandung banyak sekali dengan pesan-pesan keagamaan tapi penulis mengemasnya dalam dialog-dialog yang segar dan lucu sehingga pembaca tak merasa digurui penulisnya.

Nilai-nilai religi islami yang tertuang dalam novel ini sangat universal dan bisa dipahami dan dimaknai oleh semua pembaca tanpa harus terbatasi oleh sekat-sekat agama.

Selesai membaca buku ini, saya seperti meneguk air segar. Ada sesuatu yang meleleh di pojok hati. Mungkin ini yang dimaksud Franz Kafka, seorang novelis Jerman, bahwa A Book must be an ice-axe to break the seas frozen inside our soul.

Tantri Pranashinta dan Tanzil Hernadi, pembaca sastra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.