Langsung ke konten utama

Lebaran di dalam Buku

Haris Priyatna
http://www.infoanda.com/Republika

Lebaran adalah drama. Sebuah drama yang kolosal. Betapa tidak? Saat Lebaran, orang-orang berusaha bersenang-senang dengan pakaian baru warna-warni dan hidangan aneka rupa. Tiba-tiba saja semua orang menjadi ramah dan saling meminta maaf.

Mereka pun berduyun-duyun meninggalkan kota-kota dalam arak-arakan panjang menuju kampung halaman agar bisa merayakan Lebaran bersama sanak famili. Di balik keriuhan ini, biasanya tersimpan kisah-kisah menarik dan tak jarang mengharukan. Barangkali inilah sebabnya almarhum Umar Kayam kerap menulis cerita berlatar Lebaran.

Umar Kayam — yang terkenal akan buku-bukunya seperti Mangan Ora Mangan Kumpul dan Para Priyayi — bahkan telah menghasilkan sebuah buku kumpulan cerpen yang seluruhnya bertema Lebaran. Cerpen-cerpen Lebaran ini umumnya memotret kepiluan-kepiluan pada hari-hari sebelum dan sesudah Lebaran.

Dalam cerpen Menjelang Lebaran, misalnya, Umar Kayam bercerita tentang suami-istri Kamil dan Sri yang akibat sang suami terkena PHK tidak jadi mudik Lebaran. Mereka juga terpaksa memberhentikan pembantu mereka yang sudah dianggap keluarga sendiri. Cerpen ini dimuat dalam buku kumpulan cerpen Derabat (1999).

Dalam cerpen Lebaran Ini, Saya Harus Pulang, Umar Kayam mengisahkan seorang pembantu yang mendambakan pulang mudik Lebaran. Nem, sang pembantu, bagaikan laron menerjang nyala pelita, ia tahu kepulangannya ke kampung sama sekali tak menjanjikan kesentosaan pada masa tua, dan bahkan kemiskinan dan kenistaan disadarinya akan menghadang karena harta bendanya sudah habis dijual maupun dijarah, toh ia tetap bersikukuh pulang. Cerpen ini terdapat dalam buku kumpulan cerpen Dua Tengkorak Kepala (2000).

Dalam cerpen Lebaran di Karet, di Karet …, tokoh Is adalah mantan diplomat yang hidup sendirian setelah istrinya meninggal dunia dan anak-anaknya hidup di negeri-negeri utara. Lebaran bagi Is hanya tinggal kenangan dan kesendirian. Ketika tiba hari Lebaran, Is kesepian. Dia lalu mengeluarkan mobilnya dan mengarah ke … pekuburan Karet. Cerpen ini juga termuat dalam buku kumpulan cerpen Mata yang Indah (2001).

Selain Umar Kayam, masih dalam suasana lebaran ini, saya teringat Emha Ainun Nadjib. Ada satu buku Cak Nun yang memuat tulisan-tulisannya seputar Lebaran. Buku kumpulan esai itu berjudul Tuhan pun Berpuasa. Dalam pengantar penerbitnya, dijelaskan bahwa buku ini memang khusus berisi topik-topik puasa dan Idul Fitri. Di dalamnya, ada satu bagian khusus yang membahas Lebaran berjudul Seandainya Allah pun Berlebaran.

Emha adalah salah satu penulis yang saya sukai. Saya mengoleksi banyak bukunya, dari Markesot Bertutur sampai Doa Mohon Kutukan. Menurut Kuntowijoyo, karya-karya sastra Emha dilandasi kesadaran keagamaannya. Tulisan-tulisannya kerap berbicara dengan metafora. Kalaupun Cak Nun membuat analisis-analisis tentang realitas kehidupan yang ada sekarang, dia melakukannya melalui metafora-metafora. Ini justru yang membuat menarik. Sebab, tulisan-tulisan yang hanya menggunakan analisis ilmiah akan terasa kering.

Dalam esai berjudul Ultra Lebaran, Mega Idul Fitri, Giga Takbir, Cak Nun menggambarkan betapa banyak orang sesungguhnya tengah melupakan Allah saat mereka sedang merayakan Lebaran, bahkan saat sedang menyelenggarakan pawai takbiran. Kata Emha, mereka menyembunyikan Allah di balik punggung mereka masing-masing. Mereka sangat sibuk dengan keindahan suara mereka sendiri, mereka sangat asyik dengan kesenian Lebaran mereka sendiri.

Cak Nun lalu mengungkapkan fenomena penyelenggaraan Takbir Akbar yang justru untuk soal-soal selain Allahu Akbar, umpamanya untuk rangkaian rekruitmen politik, lobi bisnis, atau pengagungan eksistensi diri sendiri. Tidak ada buktinya bahwa mereka sungguh-sungguh ber-Allahu Akbar. Tidak ada indikator budayanya, tanda ekonomi dan politiknya, serta perwujudan hukumnya. Mereka menyangka bahwa Allah sedemikian remehnya sehingga cukup dirayu dengan ucapan, lagu, gendang, dan lampu gemerlap.

Cak Nun juga menyoroti orang-orang yang pada saat Ramadhan dan Lebaran mengenakan pakaian yang sehari-hari hampir tak pernah mereka kenakan. Mereka melantunkan syair-syair yang tidak menjadi pedoman kehidupan mereka. Mereka menyongsong Idul Fitri dengan berpakaian ketidakaslian, sehingga yang berlaku jangan-jangan adalah justru Tarkul Fitri [tark al-fitr]: meninggalkan keaslian. Memang, ujar Emha, kita patut merasa bersyukur karena masih untung mereka tampil seperti itu. Tapi, menurutnya, itu seperti mensyukuri kemunafikan.

Dalam esai yang berjudul Halal dan Kemuliaan Mempersatukan Fitri Kita, Emha dengan keras menyindir para pemimpin. Dia menyatakan bahwa semestinya, di hari-hari Idul Fitri, seorang pemimpin tidak duduk di kursi dan menunggu ummat atau rakyat (dan bawahan) datang sowan untuk menyampaikan permohonan maaf. Karena, berdasarkan logika yang paling elementer pun seharusnya sang pemimpin yang beranjak, berdiri, berjalan menghampiri mereka untuk merintih-rintih minta maaf.

Menurut Emha, dalam kedudukan sebagai pemimpin, peluang untuk bersalah berjuta-juta kali lipat dibanding orang-orang yang dipimpin. Sebagai pemimpin, ia memanggul beban, amanat, dan kepercayaan yang berton-ton lebih berat dibanding beban orang kebanyakan.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com