Langsung ke konten utama

Empat Merapal Sajak

Ismi Wahid
http://www.korantempo.com/

Empat penyair terkemuka Indonesia membacakan sajak ciptaan mereka dalam sebuah pentas puisi di Teater Salihara.

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya, mati di kayu salib tanpa celana. Dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang ke kubur anaknya itu, membawa celana yang dijahitnya sendiri. “Paskah?” tanya Maria. “Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira. Mengenakan celana buatan ibunya, Yesus naik ke surga.

Begitulah penyair Joko Pinurbo melukiskan saat-saat naiknya Yesus ke surga. Ia menuangkan peristiwa religius itu dengan sangat manusiawi dalam sajaknya yang bertajuk Celana Ibu. “Agama bukan sesuatu yang angker. Agama itu nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari,” katanya.

Jokpin, begitu panggilan akrab sang penyair, sedang merayakan pesta puisi di Teater Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis malam pekan lalu. Jokpin tampil bersama tiga penyair terkemuka Indonesia lainnya–Remy Sylado, Acep Zamzam Noor, dan D. Zawawi Imron–dalam perhelatan Mendaras Puisi. Para penyair ini menyuguhkan karya mereka yang dekat dengan tradisi keagamaan di sekitar tempat mereka lahir dan tumbuh.

Boleh dibilang, pentas puisi malam itu cukup istimewa, karena pengarangnya sendiri yang membacakan karya-karyanya. Seperti diketahui, belakangan ini acara pembacaan puisi lebih kerap dibawakan oleh kalangan artis dan selebritas. Tak mengherankan jika ruang Teater Salihara penuh sesak dipadati oleh pendengar dan penikmat sastra. Sampai-sampai, banyak di antara yang hadir terpaksa berdiri atau duduk di undakan.

Celana Ibu, yang dibacakan Jokpin, mendapat sambutan sangat meriah. Tepuk tangan penonton yang bercampur gelak tawa terdengar riuh menyambut penampilan Jokpin. Artikulasi Jokpin yang sangat datar dengan logat Jawa yang begitu kental justru menimbulkan suasana berbeda. Terkesan nyeleneh dengan permainan logika yang unik.

Jokpin pernah mengenyam pendidikan calon pastor di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah. Karya-karyanya banyak menghadirkan suasana keagamaan yang dekat dengan wilayah domestik. Tak jarang ia juga menyuguhkan sebuah ironi dalam sajak-sajaknya.

Meski banyak karya Jokpin yang sudah dialihbahasakan, itu tidak berlaku untuk Celana Ibu. Masalahnya, idiom yang dipakai sebagai kata kunci tak lagi sesuai dengan ide cerita jika dialihbahasakan. Dalam prosesnya, Jokpin sering menemukan kata-kata kunci. Dari situlah ia kemudian membuat narasi untuk mendukung alur ceritanya.

Lain halnya dengan penyair serba bisa, Remy Sylado. Malam itu, Remy membawakan sajaknya yang berjudul Enam Puluh Lima Tahun yang Astaga. Penyair berambut keperakan ini masih saja menampilkan puisi mbeling-nya, sebuah label yang selama ini melekat pada karya-karyanya. Sajak-sajaknya penuh sindiran dan slenthingan pedas terhadap negeri yang, menurut Remy, sudah morat-marit.

Remy adalah pelopor puisi mbeling pada 1970-an. Puisinya sarat dengan pemberontakan terhadap kaidah estetika. Disertai empat penari yang membawa rebana sebagai alat musik, Remy membawakan karyanya dengan nuansa lain. “Kalau sudah di depan panggung, puisi menjadi sebuah pertunjukan,” katanya. Karya tersebut khusus dibuat Remy untuk acara ini.

Yang tak kalah menarik adalah penampilan Zawawi Imron. Ia tampil sangat ekspresif. Sesekali ia bercerita bebas tentang pengalamannya yang tak jarang mengundang tawa penonton. Zawawi pernah nyantri di Pesantren Lambicabbi, Sumenep, Madura, Jawa Timur. Maka tak aneh jika puisinya sarat dengan religiositas Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya tak kehilangan unsur humor khas Zawawi. Kumpulan sajaknya, Bulan Tertusuk Ilalang, pernah mengilhami sutradara Garin Nugroho untuk membuat film dengan judul yang sama.

Dan malam itu, penyair romantis sepertinya cocok diberikan untuk Acep Zamzam Noor ketika ia membacakan karyanya yang berjudul Sepotong Senja. Tak hanya itu, Acep juga menyuguhkan kelincahannya memainkan tema-tema urban dan pesantren serta religius yang dibenturkan dengan sekularisme. Lalu, melalui Sajak Nakal-nya yang sangat pendek, Acep memperlihatkan kenakalan imajinasinya.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com