Langsung ke konten utama

Tradisi Pesantren dalam Sastra Sunda

Rameli Agam
http://regional.kompas.com/

Kedudukan pesantren dalam kehidupan masyarakat Sunda mempunyai posisi yang cukup penting. Pesantren tradisional (salafiyah) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dan melengkapi keberadaan suatu dusun atau kampung yang tersebar di pelosok Tatar Parahyangan. Sebagai lembaga pendidikan agama (Islam), pesantren sangatlah akrab dengan budaya masyarakat tradisional di Jabar.

Di lingkungan pesantren, ajaran nilai-nilai agama diajarkan dengan penuh kegembiraan. Para santri dilatih melaksanakan ibadah seperti shalat dan puasa dengan cara membiasakan diri sesuai kemampuan. Menghafal rukun iman dan rukun Islam, mengutip ajaran yang bersumber dari kitab kuning, menghafal nama-nama nabi, dan puji-pujian terhadap Nabi Muhammad SAW kerap dilakukan melalui metode kidung nadoman.

Dengan cara seperti itu, tanpa terasa ajaran agama merasuk ke dalam jiwa para santri dan mengalir alamiah. Kisah para nabi dan cerita-cerita lainnya merupakan metode pengajaran di pesantren. Tak sedikit kiai yang memanfaatkan cerita-cerita tersebut sebagai media dakwah. Dari kalangan pesantren telah lahir pula cerita yang bersumber dari budaya lokal. Sekadar menyebut contoh, cerita tentang Si Kabayan Jadi Lebe dan Si Kabayan jeung Santri Kalong. Kisah Si Kabayan itu merupakan cerita yang cukup dikenal dan digemari masyarakat Sunda, termasuk di lingkungan pesantren.

Catatan penelitian Endang Supriatna dalam Jurnal Patanjala BPSNT Bandung (September 2009) mengungkapkan, dalam karya-karya sastra Sunda klasik banyak dijumpai unsur-unsur dakwah yang bersifat langsung. Pesan-pesannya selain bersifat formal, seperti uraian tentang fikih, akhlak, tasawuf, dan sejarah, juga berisi ungkapan simbolis, di antaranya kisah-kisah para wali dan hikayat-hikayat berbau mistis. Dalam karya sastra modern di masa sebelum kemerdekaan, unsur-unsur dakwah disajikan dengan lebih halus dan tersamar. Yang menonjol justru berbagai persoalan keseharian masyarakat Sunda.

Dari sejumlah pengarang Sunda, terdapat beberapa nama kawentar yang kerap mengambil tradisi kehidupan pesantren sebagai inti tema cerita. Mereka di antaranya Moh Amri, Samsoedi, Tjaraka, Ki Umbara, Ahmad Bakri, Rahmatulloh Ading Afandi (RAF), dan Usep Romli HM. Tokoh-tokoh seperti kiai, haji, santri, pemuda kampung, penghulu, lurah, dan dukun merupakan tokoh-tokoh yang umum ditemui dalam karya mereka.

Santai

Ki Umbara yang piawai menggambarkan suasana batin masyarakat Sunda, bersama SA Hikmat, menulis roman Pahlawan-Pahlawan Ti Pasantren. Dia pun banyak menulis cerita saduran dari khazanah pesantren, seperti yang terkumpul dalam Nu Tareuneung dan Hamzah Singa Allah. Kisah-kisah perjuangan mempertahankan tauhid tersaji dalam karya Sempalan Tina Tareh.

Di tangan para pengarang Sunda, tema-tema keagamaan, termasuk penggambaran kultur tradisi kehidupan pesantren, sering ditampilkan secara santai, bahkan terkesan main-main. Ahmad Bakri adalah pengarang Sunda yang sangat digemari, selain produktivitasnya, juga karena keterampilannya dalam melukiskan kahirupan masyarakat kecil dengan begitu hidup, renyah, dan segar. Pengarang yang semasa mudanya pernah tolab elmu di pesantren ini tidak hanya menulis cerita pendek, tetapi juga cerita anak-anak dan beberapa roman atau novelet.

Jumlah karyanya yang telah dibukukan terbilang lumayan banyak. Karyanya yang terkenal di antaranya Payung Butut, Rajapati di Pananjung, Srangenge Surup Manten, Sudagar Batik, Mayit Dina Dahan Jengkol, Jurutulis Malingping, Ki Merebot, Dina Kalangkang Panjara, dan Dukun Lepus. Tema-tema keagamaan, seperti puasa, tarawih, zakat, dan Lebaran, dihidangkan dengan cara perilaku dan jalan pikiran orang kebanyakan.

Umpamanya, bagaimana orang sekampung tidak makan sahur karena pemuda kampung memboikot untuk tidak membangunkan mereka. Juga cerita beduk yang dipindahkan dari masjid ke atas bukit, sebagai protes karena dilarang ngadulag selama bulan puasa.

Dengan caranya yang santai, Ahmad Bakri yang karya-karyanya matak pogot dibacana sejatinya banyak melakukan kritik, misalnya terhadap penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan penghulu atau aparat desa. Kritiknya juga ditujukan kepada kaum menak sombong dan serakah, haji yang merasa benar sendiri, ustaz yang gila hormat, atau lurah yang ucapannya patojaiyah dengan kelakuannya. Kritiknya mengalir santai, tetapi menggelitik dan terkadang dibumbui unsur humor.

Wajah pesantren yang akrab dengan lingkungan sekitarnya tergambar pula dalam Dongeng Enteng ti Pasantren karya RAF. Meski ditulis dalam dekade 1960-an, cerita-cerita seputar pesantren ini memiliki kekuatan tersendiri. RAF bertutur bukan dengan pandangan orang luar, melainkan sebagai orang dalam yang tinggal di pesantren. Detail tentang kehidupan santri dan suasana pesantren terungkap dengan gamblang. Bagi yang pernah mondok di pesantren tradisional, membaca karya RAF tersebut seperti mengurai kembali kenangan lama.

Istilah Arab

Pengarang lain yang juga sering menggarap tradisi pesantren sebagai tema cerita adalah Usep Romli. Karya-karya pengarang pituin Limbangan, Garut, yang telah diterbitkan ini di antaranya Jiad Ajengan, Ceurik Santri, Bentang Pasantren, Dulag Nalaktak, Angin Janari, dan Paguneman jeung Fir’aun. Gambaran kondisi pesantren sederhana yang dikelilingi sawah, kolam, gunung, dan sungai seakan menjadi ikon keberadaan pesantren-pesantren tradisional di Tatar Sunda.

Dengan gayanya yang santai dan juga terkadang serius, Usep Romli sering mengutip dalil-dalil Al Quran dan hadits. Untuk menghidupkan ceritanya, ia kerap memasukkan istilah-istilah bahasa Arab. Maklumlah, selain pengarang, Usep Romli juga dipikawanoh sebagai mubalig dan pembimbing jemaah haji.

Sebagai sebuah subkultur dari kultur-kultur yang ada, posisi pesantren memang unik. Dari satu kesempatan obrolan dengan penyair teureuh Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Acep Zamzam Noor, terungkap bahwa pesantren memiliki sistem kehidupan tersendiri yang dijalankan kiai dengan keterlibatan masyarakat sekitar. Pesantren memiliki pertautan dengan kehidupan masyarakat dan melahirkan hubungan timbal balik.

Ketokohan kiai yang menjadi panutan pun tidak lahir begitu saja, tetapi ikut terlibat dalam pengembangan komunitas sosial masyarakat. Kiai tidak hanya dimintai pendapat tentang hal keagamaan, tetapi juga dalam soal tatanen, kesehatan, kesenian, ekonomi, dan sebagainya. Beragam keunikan, ciri kemandirian, dan kultur pesantren itu telah melahirkan berbagai karya sastra Sunda yang mengisahkan tradisi kehidupan pesantren dan memperkaya khazanah jagat sastra Sunda.

RAMELI AGAM Bergiat di Komunitas Celah Celah Langit, Kota Bandung.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com