Langsung ke konten utama

KESETIAAN ITU BERNAMA PUISI

Hadi Napster
http://sastra-indonesia.com/

PUISI–sebuah kata yang lahir dari persetubuhan tiga huruf vokal dan dua huruf konsonan ini, sejatinya memang serupa misteri. Ya, misteri yang tak pernah lelah menyusuri peradaban, membelah lautan-daratan, menghitung dusta pun kebajikan. Misteri yang tidak saja merasuki nurani dan majemuknya pikiran para ilmuwan serta pakar ternama, melainkan juga menusuk relung kaum awam yang cukup bangga memiliki otak sederhana. Misteri yang tidak hanya dibicarakan secara lisan atau tertulis dalam buku yang tak terhitung lagi jumlahnya, tetapi lebih dari itu, puisi ialah pencatat abadi setiap lekuk-bentuk kehidupan–hingga kematian.

PUISI–yang oleh berbagai pendapat dikatakan berasal dari bahasa Yunani (poietes, poieo, poio, poeo) dan bahasa Latin (poeta), yang artinya: pembangun, pembentuk, pembuat; membangun, menyebabkan, menimbulkan; menyair. Yang oleh pendapat lainnya dikatakan berasal dari bahasa Gerik (poet), yang berarti: orang yang mencipta melalui imajinasinya; orang yang hampir menyerupai dewa-dewa atau orang yang amat suka kepada dewa-dewa; orang suci; negarawan; filsuf; guru; orang yang mempunyai penglihatan tajam; orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi.

PUISI–yang dalam berbagai pengertian tradisional, wujudnya dikatakan sebagai ragam sastra jenis karangan atau gubahan bahasa yang merupakan hasil pemilahan dan pemilihan secara hemat-cermat-tepat. Yang ditentukan dengan seksama masalah rima, irama, matra, kata-kata kiasan, serta segala tata-puitika di dalamnya. Yang dimaksudkan untuk mempertajam alam pikir serta renungan batiniah penyair dan pembacanya, sehingga setelah melalui penghayatan terhadap nilai-nilai sirat maknanya, seseorang akan menemukan aura kebaharuan dalam bentuk sinergi positif sebagai bagian dari tujuannya.

PUISI–demikianlah misteri atas namanya. Yang meski hanya berdiri dalam satu kata dengan pilar lima aksara, namun telah digolongkan dan dikelompokkan beragam-bermacam jenis dan rupanya. Pula anggapan, tanggapan, persetujuan hingga sanggahan terhadapnya, tak akan terbilang lagi banyaknya. Karena puisi tak pernah diam, tak sekali pun padam, apalagi terbenam. Puisi selalu hidup, bergerak dan berjalan, mengikuti arus yang membawanya. Sehingga tidaklah menjadi masalah jika orang-orang menuliskannya dengan apa, seperti apa, dan bagaimana. Lantaran puisi hakikatnya serupa bayu, mendesau, mendatangi segala penjuru yang memanggil-melambai hembusnya. Namun puisi hakikatnya juga adalah air, menggenang, meriak, mengalir dengan pasti, menuju muara yang satu-padu.

PUISI–dalam kelahirannya selalu mempersyaratkan proses kreatif. Ya, proses di mana kepiawaian seorang penyair akan diuji oleh sekelumit persoalan teknis dan non teknis. Proses yang kelak menjadi penentu layak atau tidaknya sebuah puisi disebut “puisi”. Proses yang akan menjejali segala bentuk masalah menyangkut pilihan diksi, imaji, gaya bahasa, berikut rima dan irama. Proses peleburan aspek semantik-estetik di mana kata ditata, makna dibina, keindahan dilukiskan, serta merdu bunyi nyanyikan. Proses yang juga menjadi tempat menumpahkan segala tawa-tangis, rindu-dendam, gurau-risau, hingga hidup-mati.

PUISI–khazanah sastra yang senantiasa menuntut janji untuk menjaga, membina, mengharumkan, dan melestarikannya. Karena puisi adalah salah satu sajian ternikmat di atas panggung kesenian. Dengan berjuta nuansa, dengan rupa-rupa lakuan, dalam kemanunggalan, dalam kolaborasi, mulai dari atmosfer gelap-lindap hingga pijar terang-cemerlang, puisi telah menjadi aruh kerinduan yang menunggu khidmat kehadiran. Dengan segala dinamikanya, puisi selalu bermain, berlari, berbicara tak henti, bercerita dari hati ke hati, dengan sepenuh hati, dengan sangat hati-hati, mendatangi hati siapa saja yang memiliki hati. Puisi akan terus bersorak, berjingkrak, mengajak jejak-jejak ke alam damai-permai yang lelap-nyenyak.

PUISI–apapun bentuk dan jenisnya, merupakan kesaksian abadi penyairnya. Lewat ungkapan yang singkat, padat, padu, efektif, intensif, dan sugestif, puisi adalah catatan perjalanan hidup yang tidak hanya senang berseni, bernyanyi, dan menari. Tetapi puisi adalah perjuangan untuk kebenaran, keadilan, kemaslahatan, dan kemuliaan, yang bermula dari bilik kamar hingga ke atas mimbar. Puisi bukan sekedar pipa untuk menyalurkan makna dari tiap kata yang ada dalam tubuhnya, lebih dari itu puisi adalah potret, refleksi, rekaman detail-detail penuh arti, serta museum bagi norma-norma dan tradisi.

PUISI–adalah kesempurnaan segala rasa yang tertuang dari jiwa dan logika. Sebab puisi merupakan indera ke-enam dari seorang manusia, yang mana indera tersebut adalah hasil peleburan dari lima indera yang telah ada. Lantas, masih adakah yang bertanya; mengapa dan untuk apa menulis puisi? Atau masih adakah yang akan menganggap bahwa puisi hanya kerjaan orang-orang yang gemar berkhayal, berangan-angan, berimajinasi, atau berilusi? Jika masih ada, maka akhirnya harus ditegaskan bahwa puisi adalah panggilan hati untuk hidup dan kehidupan. Puisi akan terus tegak berdiri, mendenyutkan nadi, mendetakkan jantung, menghela nafas, membangun peradaban. Puisi akan tetap menjadi telaga, tempat menyauk makna kala dahaga, menjadi cerlang dalam perjalanan berkabut-asap, serta menjadi temali kasih antar manusia dengan manusia, juga manusia dengan pencipta. Demikianlah, puisi adalah sempurnanya sebuah kesetiaan, sebagaimana bumi yang tak pernah bosan mengitari matahari.

Yogyakarta, Oktober 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN MULUT ORANG SAMIN

http://majalah.tempointeraktif.com/

KABUT melayang-layang rendah menyelimuti dusun. Tipis, putih, bagaikan tabir transparan. Rumah, kebun, dan pepohonan hanya tampak samar-samar. Lelapnya malam, kini menggeliat bangun. Tercium bau pagi, sudah. Bunyi jangkrik, yang semalaman menggelitik telinga, mulai menyurut, entah ke mana. Sebagai gantinya, kokok ayam bersahut-sahutan. Tekukur dan gagak, adu keras suara di pucuk-pucuk kelapa. Lalu terdengar lenguh lembu, dan bunyi kelinting manakala lembu-lembu itu digiring ke sawah.

Muncul pula iring-iringan wanita menggendong bakul, tanpa suara. Hanya suara gesekan kain mereka menjadi musik pagi mengiringi langkah menuju pasar. Seorang bocah jongkok njedodot di muka pintu, mengusir kantuk yang belum sepenuhnya hilang. Dan asap pun mengepul-ngepul di atap-atap rumah, muncul dari sela-sela genting, pertanda para wanita mulai sibuk menlerang air menanak nasi.

Tak berbeda dengan suasana pagi di desa-desa Jawa umumnya, demikianlah dusun ini. Ya, bentuk ru…

SASTRAWAN INDONESIA PASCA-ANGKATAN 66

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

BAGIAN I

Masalah angkatan dalam pelajaran kesusastraan Indonesia di sekolah-sekolah sering kali merepotkan para guru. Apakah setelah Angkatan 66, tidak ada lagi angkatan yang lahir kemudian? Jika ada, angkatan apakah namanya? Siapa pula yang termasuk angkatan ini dan apa saja karya yang telah dihasilkannya? Apa pula ciri-ciri yang menonjol yang diperlihatkan Angkatan pasca-66, sehingga ia berbeda dengan Angkatan 66?

Begitulah, sejumlah pertanyaan itu --yang diajukan siswa-- kerap membuat para guru sastra “gelagapan”. Persoalannya bukan karena ketidakmampuan para guru untuk menjawab pertanyaan itu, melainkan lebih disebabkan oleh kekhawatiran mereka jika jawabannya salah. Lebih jauh lagi, kekhawatairan, bagaimana jika kemudian pertanyaan sejenis itu, muncul dalam soal-soal Ebtanas (Evaluasi Belajar Tingkat Nasional/Ujian). Lalu, bagaimanakah para guru harus bersikap atau mencoba menerangkan duduk persoalannya?

Dalam kaitannya dengan masalah te…

Sandekala Mei 1998

Adi Marsiela
__Suara Pembaruan, 27 Mei 2008

“SANDEKALA memiliki beragam arti. Setidaknya itu yang saya ketahui. Semasa kecil, saya mengenalnya sebagai sosok raksasa akan datang mengambil anak nakal. Itu kata orang-orang di sekitar rumah saya.”

Namun, buat Wawan Sofwan, seorang sutradara teater, sandekala bukan lagi berarti sosok raksasa. Sebuah buku untuk anak-anak mencantumkan sandekala sebagai gejala alam akibat perubahan waktu yang terjadi dari siang ke malam, ditandai oleh adanya lembayung. Cuaca pada saat itu sangat tidak baik untuk kesehatan.