Langsung ke konten utama

Pak Poniman

Ahmad Zaini*
http://sastra-indonesia.com/

Selama bertahun-tahun aku mengabdi di sekolah swasta. Jika dihitung sejak pertama aku berseragam safari, sudah hampir dua puluh lima tahun lamanya. Berkali-kali pula aku mengadu nasib mengikuti tes penerimaan pegawa negeri. Namun, berkali-kali pula kegagalan yang kudapatkan.

Sebagai guru swasta yang berhonor kecil, aku tetap melaksanakan tugas dengan ikhlas tanpa mengiri kepada para guru yang statusnya lebih mentereng. Setiap pagi aku selalu datang paling awal di sekolah yang berdinding kusam itu. Setiap pagi pula tangan anak-anak menjabat dan mencium tanganku lebih dahulu sebelum menjabat tangan guru-guru yang lain. Aku ikhlas ini adalah sebuah pengabdianku untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa ini.

Usiaku sudah berkepala lima. Kata Pak Qosim, kepala sekolahku, aku sudah memasuki usia seksi. Aku kaget saat Pak Qosim mengatakan demikian.

”Apa maksud usia seksi?” tanyaku penasaran.

”Usia seksi itu, ya, usia seket siji !” sahutnya dengan enteng.

Kontan saja aku dan teman-teman tertawa karena plesetan ala Pak Qosim itu.

Harapanku menjadi pegawai negeri sudah tertutup. Karena usiaku saat ini sudah 51 tahun. Berarti itu usia yang sudah kedaluwarsa. Tapi semangatku untuk melaksanakan tugas tak surut. Aku tetap masuk mengajar dengan semangat pengabdian yang tinggi. Aku tak mau kalah dengan guru-guru muda yang baru saja bertugas di sekolah ini. Bahkan sebagai guru tua, aku harus bisa memberi contoh kepada mereka.

Tak pernah sedikit pun aku menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat apa dan bagaimana kinerja teman-teman seperjuangan. Aku tak pernah mengiri kepada guru-guru muda yang baru lulus kuliah kemudian langsung diangkat menjadi PNS. Aku tak pernah menegur atau menyindir mereka karena sering datang terlambat. Aku juga tidak pernah protes kepada kepala sekolah karena guru-guru muda yang statusnya sudah negeri itu mempunyai jam mengajar lebih sedikit daripada jumlah jam megajarku.

”Yang penting aku berusaha melaksanakan tugas yang diberikan kepadaku dengan sebaik-baiknya,” kataku dalam hati.

Pada siang hari saat jam istirahat, Pak Qosim memanggilku ke ruangannya. Aku tak tahu apa yang ingin disampaikan kepadaku. Demi rasa hormat aku memenuhi panggilannya.

”Ada apa Pak?”

”Silakan duduk dulu! Begini Pak Poniman, ini ada surat dari kantor tentang peluang guru usia lima puluh tahun ke atas untuk mengikuti program guru sertifikasi. Nah, di sekolah ini tinggal Bapak saja yang memenuhi kriteria itu. Pada hari Kamis lusa, ada undangan untuk mengikuti pengarahan pembuatan portofolio di kantor dinas. Bapak wajib datang, lho!”

”Alhamdulillah, Terima kasih Pak!” jawabku dengan riang.

”Ya, Pak. Sama-sama,”

Saya langsung keluar dari ruangan Pak Qosim dengan perasaan haru. Ternyata buah dari pengabdianku selama ini datang juga kepadaku. Aku mendapatkan kesempatan mengikuti program guru sertifikasi.

Usai menerima informasi dari kepala sekolah tentang peluang mengikuti program guru sertifikasi, yang terbayang dalam benakku adalah saya akan mendapatkan tunjangan guru profesional yang jumlahya setara dengan gaji pokok pegawai negeri.
***

Kini kumulai menata berkas instrumen portofolio yang harus kusetorkan ke dinas pada minggu depan. Beberapa piagam, SK, dan surat tugas yang berkitan dengan komponen-komponen yang ada dalam portofolio telah kupersiapkan.

Untuk menata berkas-berkas yang diperlukan itu, aku harus lembur hingga lima hari. Setelah itu, berkas yang tersusun rapi sesuai dengan petunjuk yang telah kudapatkan dari dinas, lantas kugandakan sebanyak lima bendel. Empat bendel kusetorkan kepada panitia dan yang satu kugunakan sebagai arsip.

Sepanjang hari kumenanti hasil penilain portofolio dengan rasa optimis yang tinggi. Dengan pengabdian yang cukup lama dan didukung dengan berkas-berkas yang banyak, aku menyongsong hasil penilaian portofolioku dengan memuaskan. Aku yakin pasti lulus tanpa mengikuti PLPG (Pendidikan dan pelatihan profesi guru).

Pagi hari saat aku membariskan anak-anak di halaman sekolah untuk persiapan pelaksanaan upacara bendera, Pak Qosim datang. Ia membawa tas warna hitam yang sarat dengan isinya. Aku melihat ia berisyarat memanggilku. Tangan kanannya melambai-lambai ke arahku. Agar jelas siapa yang ia maksud, aku menunjuk dadaku dengan jari telunjuk. Pak Qosim mengangguk. Kemudian aku bergegas mendekatinya. Ia mengajakku masuk ke kantor.

”Selamat, Pak! Bapak lulus portofolio. Sekarang Bapak telah masuk sebagai guru sertifikasi dan berhak mendapatkan tunjangan senilai gaji pokok pegawai negeri.,” ucap Pak Qosim dengan senyum gembira atas keberhasilanku dalam penilai portofolio.

”Benarkah yang Bapak sampaikan?” tanyaku penasaran.

”Jika Pak Pon tidak percaya, lihat selembar kertas pengumuman yang kubawa ini!” sahut Pak Qosim dengan mengeluarkan kertas pengumuman dari dalam tas hitamnya.

”Poniman,” bunyi tulisan dalam pengumuan tersebut. Aku lihat nomor pesertanya juga cocok dengan nomor pesertaku. Aku lantas bersujud syukur di hadapan Pak Qosim sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas karunia yang baru saja diberikan kepadaku.
***

Setahun lamanya aku menunggu kabar tentang tunjangan guru profesional. Namun selama itu juga belum ada kabar yang jelas dari kepala sekolah. Aku mencoba bertanya kepada guru yang seangkatan dengaku. Namun, ia juga belum mengetahui kapan tunjangan itu cair. Sebagai guru swasta dengan pangkat rendahan seperti saya ini hanya bisa pasrah menunggu dan menunggu pencairan tunjangan yang kumimpi-mimpikan.

Pada suatu hari aku bertemu dengan Pak Solihin. Dia juga guru berusia seksi yang mendapatkan kesempatan mengikuti program sertifikasi seperti aku. Dia juga lulus portofolio. Dia memberi kabar bahwa tunjangan itu akan cair dalam minggu ini. Menurut ceritanya, dia mendapatkan kabar ini dari pegawai dinas yang mengurusi nasib guru swasta yang berusia seksi.

“Kita akan merapel tunjangan tersebut selama dua belas bulan,” katanya.

”Alhamdulillah…!” sahutku.

Tapi berapa besarnya dia tidak cerita dan saya juga tak menanyakan itu kepadanya. Saya bisa lolos sertifikasi saja sudah untung-untungan. Berapa pun nanti yang akan saya terima, semua akan kuanggap sebagai karunia yang luar biasa dan wajib kusyukuri.

Apa yang disampaikan oleh Pak Solikin ternyata benar. Kepala sekolah mendapat instruksi dari atasannya bahwa guru sertifikasi yang telah lulus portofolio dapat mencairkan tunjangannya lewat bank yang telah ditunjuk oleh dinas yang terkait. Maka keesokan harinya saya pergi ke bank tersebut dan mencairkan tunjangan sertifikasi yang ternyata baru keluar enam bulan.

”Enam bulan berikutnya akan dicairkan pada minggu terkahir bulan ini,” kata petugas bank.

Saya sempat meneteskan air mata saat menerima uang dari bank itu. Aku terharu dengan tunjangan yang baru saja aku terima.

”Usai menerima tunjangan ini, aku harus melaksanakan tugas mengajar dengan lebih baik daripada sebelumnya,” Kata hati kecilku.

Tapi, bukan berarti aku harus berada di sekolah selama dua puluh empat jam dalam sehari. Itu keterlauan namanya. Saya kan juga punya keluarga di rumah yang juga membutuhkan perhatianku.

”Yang dimaksud dua puluh empat jam itu dalam satu minggu, bukan sehari,” jelas Pak Solikin yang juga ikut mengantre di bank saat itu.

”Ya, saya tahu itu. Saya pernah mendengar cerita bahwa ada guru yang telah menerima tunjangan sertifikasi harus seperti itu. Katanya dia harus siap di sekolah selama dua puluh empat jam,”

”Ah, itu tidak mungkin! Kepala sekolah tidak boleh semena-mena seperti itu. Itu sama saja dengan mlokotho guru!” putusnya.

”Jangan karena guru sudah mendapat tunjangan sertifikasi, lantas kepala sekolah seenaknya saja main perintah. Itu semua ada aturan mainnya!” tambahnya. Aku terus diam sambil memegangi uang yang baru saja kuterima.

Sebongkok uang telah kugenggam sebagai hasil pengabdianku selama ini. Aku sudah berencana akan menggunakan uang tersebut untuk memperbaiki tempat tinggalku yang sudah tak layak huni.

Sesampai di sekolah, Pak Qosim memanggilku. Dia lantas menyeret tangaku masuk ke ruang kerjanya. Saya didudukkan di kursi tepat di depan meja tugasnya.

”Ada apa, Pak!”

”Sudah Bapak cairkan uang tunjangannya?”

”Sudah, Pak. Baru cair enam bulan. Yang enam bulan berikutnya katanya akan dicairkan pada minggu terkahir bulan ini,”

”Saya ikut bahagia karena Bapak telah menerima tunjangan sertifikasi. Sebagai ucapan terima kasih atas karunia yang Bapak terima, kami telah membuat catatan-catatan perihal uang tunjangan Bapak,”

”Catatan? Apa maksudnya?”

”Begini Pak Pon, guru yang menerima tunjangan sertifikasi harus menyumbang ke sekolah sebanyak satu juta rupiah. Terus untuk kepala sekolah lima ratus ribu rupiah. Jadi, jumlah yang harus Bapak setorkan kepada saya adalah satu juta lima ratus ribu rupiah. Itu belum yang lain-lainnya. Misalnya, membelikan seragam teman-teman guru. Kalau Bapak membelikan kain seragam yang kualitasnya sedang, ya, sekitar sejutalah. Tapi yang terkahir ini kalau Pak Pon ikhlas, lho!” katanya.

Aku terperangah keheranan dengan apa yang baru saja disampaikan oleh kepala sekolah. Baru saja aku pulang dari bank, uang sudah dibetheti seperti ini.

”Nanti sampai di rumah tinggal berapa? Bagaimana dengan rencanaku? Apakah ada aturan resmi seperti itu? Kalau sifatnya itu syukuran mestinya, ya, terserah saya. Jangan dibandrol seperti itu,” grundelku.

Hatiku berkecamuk antara menolak atau menerima apa yang disampaikan oleh kepala sekolah. Tapi demi keutuhan dan ketentraman di sekolah ini, aku harus menerima semua yang dikatakan oleh kepala sekolah. Saya tidak ingin dengan tunjangan seperti ini terus terjadi sikap saling bermusuhan sesama guru di sini.

“Baiklah, Pak! Ini uang satu juta lima ratus ribu untuk sekolah dan Bapak. Untuk teman-teman guru, ya, menunggu pencairan tunjangan yang berikutnya,”

“Nah, begitu. Ini namanya guru yang benar-benar profesional!” sanjungnya dengan menimang-nimang uang yang baru saja kuberikan. Setelah itu aku keluar dari ruang kepala sekolah dengan sedikit kecewa.

Perasaan dongkol tetap ada di dalam hatiku. Aku menggerutu sepanjang jalan yang kulalui.

”Pemerintah memberikan tunjangan guru senilai itu adalah demi mendongkrak semangat guru dalam melaksanakan tugasnya. Kalau kenyataannya seperti itu, jangan salahkan guru jika prestasi di sekolah tersebut tak ada perubahan setelah ada guru yang mendapatkan tunjangan profesi. Belum lagi tuntutan dari kepala sekolah yang meningkat tajam. Setiap kali ada pekerjaan untuk sekolah, sebentar-bentar guru sertifikasi, sedikit-sedkit guru sertifikasi. Guru akan semakin tertekan sehingga mereka tidak bisa mengembangkan potensi dan profesinya,” ungkap kejengkelanku yang kutumpahkan pada istriku di rumah.

Suasana rumah yang semestinya ceria berubah jadi hening berbalut kecewa lantaran uang tunjangan guru sertifikasiku dibetheti oleh kepala sekolah. Kusandarkan kepala pada dinding papan yang sudah dimakan usia. Aku mengantuk, lelah, lantas tertidur untuk menghilangkan rasa kecewa walau hanya sesaat.(*)

Desember 2009

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com